
Malam itu pada saat Clara dan Samuel masuk ke dalam rumah, dengan seketika mereka dibuat terkjut oleh rekan-rekan yang lainnya, di mana para Bodyguard milik Tuan Julian terlihat begitu kaku sekali seraya terdiam sambil menundukan kepalanya.
Mereka terlihat begitu khawatir, namun kekhawatiran itu entah datang darimana. Lantas Samuel menanyakan hal mengapa mereka semua bisa terdiam tanpa suara seperti itu.
"Kalian semua kenapa? mengapa ruang depan dikosongkan begitu saja tanpa ada pengawasan sedikit pun, lebih baik kalian semua bekerja kembali," ucap Samuel memerintahkan semua rekannya untuk melaksanakan pekerjaannya kembali.
"Tuan Julian Same, beliau sakit parah dan sekarang beliau sedang diperiksa oleh dokter pribadinya, lebih baik anda dan nona muda melihatnya sendiri," ucap sahabat Samuel yang bernama James sembari menatap ruang kamar dari Tuan Julian yang berada di lantai kedua.
James merupakan pengawal pribadi Tuan Julian, dia memiliki nasib yang sama seperti Samuel, di mana mereka berdua merupakan anak yatim piatu.
Dulu James merupakan seorang petarung ilegal, orang-orang sering menyebutnya dengan istilah pertarung ruang bawah tanah dikarenakan arena tempat mereka bertarung memang berada di tempat tersembuyi dan kumuh.
Setelah Clara mendengar bahwa ayahnya jatuh sakit, tak lama kemudian dia pun berlari menghampiri ayahnya yang sekarang sedang terbaring lemas di dalam kamarnya.
Dokter telah selesai memeriksa keadaan Tuan Julian, dan ternyata beliau mengidap penyakit paru-paru. Dokter menyarankan Tuan Julian segera dialihkan ke rumah sakit sebelum penyakitnya bertambah buruk.
"Bagaimana keadaan suami saya dok? apakah dia baik-baik saja," tanya nyonya besar dengan tatapan dinginnya.
"Ini sangat parah! Tuan Julian mengidap penyakit paru-paru sejak lama, dan sebaiknya beliau harus segera dialihkan ke rumah sakit sebelum kodisinya bertambah buruk Bu," ucap dokter membuat nyonya besar syok.
Tak lama setelah itu, Clara pun lalu masuk ke dalam kamar ayahnya sambil memberikan reaksi terkejutnya karena dia telah mengetahui bahwa ternyata selama ini beliau menyembunyikan penyakitnya dari semua orang.
"Mengapa ayah menyembunyikan penyakit ayah? dan mengapa anda tidak memberitahukan masalah ini sebelumnya kepada kita semua Dok?" tanya Clara dengan tatapan datar yang dipenuhi oleh rasa kekecewaannya.
"Maaf nona muda, namun waktu itu ayah anda melarang saya untuk memberitahukan semua masalah ini kepada anda dan juga nyonya besar," ucap sang dokter sambil memasukan Stetoskop yang dia gunakan untuk mendeteksi kesetabilan denyut jantung dari Tuan Julian ke dalam tas miliknya itu.
"Sekali lagi saya mau minta maaf, saya harap nona dan nyonya tidak kecewa kepada saya, kalau begitu saya mohon pamit, selamat malam."
Sang dokter pun akhirnya pergi dari dalam ruangan sambil memberikan sikap kekecewaan terhadap dirinya sendiri dikarenakan selama ini dia sudah merahasiakan penyakit yang berada di dalam tubuh Tuan Julian hingga sampai separah ini.
Sementara di lantai bawah sang dokter kembali memberitahukan penyakit yang dialami oleh Tuan Julian kepada para pengawal pribadinya.
Tanpa basa-basi lagi sang dokter pun lalu menyuruh mereka untuk menyiapkan mobil agar mereka membawa Tuan Julian ke rumah sakit sesegera mungkin.
Ketika mendengar suruhan dari sang dokter, dengan sigapnya mereka pun menyiapkan mobil pribadi yang sering dipakai bepergian oleh Tuan Julian, dan mobil tersebut merupakan sebuah mobil, Limosin Cadillac Eldorado 1970.
....
Tokk, tokk, tokk ....
Samuel mengetuk pintu kamar Tuan Julian yang sudah terbuka lebar itu. Di sana Samuel pun memberitahukan bahwa mobil telah siap digunakan.
"Permisi, mohon maaf bila saya sudah mengganggu obrolan kalian semua, saya hanya ingin memberitahukan bahwa mobil anda telah siap digunakan Tuan," ucap Samuel sembari menundukan kepalanya dan berbicara dengan begitu rendahnya.
"Untuk apa? sekarang saya tidak mengambil jadwal lemburan, silahkan anda masukan kembali saja mobilnya," ucap Tuan Julian yang menolak diantarkan pergi ke rumah sakit.
"Maaf, dikarenakan kita tidak menunggu perintah dari Tuan terlebih dahulu, sebelumnya dokter menyarankan saya agar saya sesegera mungkin mengantarkan anda ke rumah sakit."
"Bilang saja kepada almarhum ayah anda bahwa saya bukan orang tua yang manja," ucap Tuan Julian dengan tawa tipisnya.
"Baik, saya akan menunggu anda di depan rumah, apakah anda perlu bantuan saya?" tanya Samuel yang sudah menyadari pemikiran Tuan Julian.
"Tidak perlu, selama saya masih bisa melihat kedua bidadari yang saya sayangi ini tersenyum, jiwa ini takan pernah melemah sedikit pun, saya yakin mereka berdua masih sanggup menopang tubuh si tua bangka ini."
"Anda terlihat tampan pada masanya Tuan."
Hingga pada akhirnya Tuan Julian pun mau mendengarkan ucapan dari Samuel ketika ia menyebutkan sosok almarhum ayahnya kepada beliau.
Mengingat Tuan Julian pernah membuat janji serta memiliki beberapa tugas mulia yang harus beliau jalani dulu bersama dengan almarhum sahabatnya, maka dari itu Samuel menyuruh beliau pergi ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat.
Seluruh Bodyguard telah disiapkan oleh Samuel walaupun pada dasarnya Tuan Julian tak mengharapkan pengawalan sebanyak itu, namun akan tetapi Samuel merasa bahwa antek-antek mafia tengah mengawasi mereka di sana.
"Apakah saya sudah mengganggu waktu istirahat kalian semua? sebaiknya kalian semua tidak perlu mengawal saya apalagi sampai seramai ini."
"Lagipula rumah sakit Blue Eyes sering dijaga ketat oleh para pengintai-pengintai yang selalu siap sedia menembak siapa saja yang berani mengganggu kenyamanan di sana."
Ucapan dari Tuan Julian hanya mereka anggap sebagai angin yang mudah berlalu. Sebenarnya Samuel sudah menyuruh mereka semua menjadi seorang pembangkang untuk sementara waktu.
Dan sekarang 50 motor Harley Davidson pun telah dikerahkan untuk mengawal Tuan Julian, sementara sisanya akan berdiam diri di tempat singgah keluarga Marga Aksara.
Jarak yang ditempuh oleh mereka memang cukup jauh, namun dengan adanya kekuatan, mau seberapa jauh tempatnya Tuan Julian akan tetap aman bilamana para Bodyguardnya ada di sampingnya.
Bila jalanan sepi mereka akan tiba di rumah sakit Blue Eyes lebih awal, dan bila jalanan ramai, maka mereka akan tiba lebih lambat dari biasanya.
Untung saja rumah sakit Blue Eyes buka 24 jam, jadi mau mereka terlambat beberapa menit pun itu tidak masalah, namun masalahnya ada pada Tuan Julian, di mana apakah beliau kuat menahan lebih lama lagi rasa sakitnya, sementara mereka semua tahu bahwa akan ada yang menghambat perjalanannya.
Entah itu dari kemacetan, ataupun itu dari para mafia yang sering membuat masalah dengan keluarga Marga Aksara.
"Sebaiknya kita jangan sampai lengah, mungkin saja para mafia sedang mengawasi kita," ucap Samuel kepada James.
Waktu itu Samuel lebih memilih ikut bersama dengan James di dalam mobil pribadi milik Tuan Julian sekaligus untuk berjaga-jaga bila ada kejahatan yang datang secara tiba-tiba.
"Benar, tapi anda tidak usah khawatir dikarenakan semua pasukan telah menggunakan rompi anti peluru, dan saya pun telah memerintahkan mereka untuk melingkari mobil Tuan Julian, jadi untuk sementara waktu ini kita dan para rekan kita akan tetap aman," ucap James membuat Samuel merasa lega.
Beberapa menit kemudian ....
Hingga pada akhirnya mereka semua telah tiba di depan halaman rumah sakit Blue Eyes. Di sana mereka pun bisa melihat suasana yang tak biasa, di mana baru kali ini mereka melihat rumah sakit yang dijaga ketat oleh para pengintai ahli sniper.
Biasanya mereka hanya bisa melihat suasana seperti ini diacara-acara tertentu saja, misalkan acara pertemuan antara pejabat dengan para pengusaha-pengusahawan besar, dan juga dalam acara peresmian perusahaan besar.
Namun, hanya di rumah sakit Blue Eyes saja mereka bisa melihat para pengintai handal dari kelas atas yang sedang mengawasi alam sekitar di atas ketinggian cakrawala serta di bawah gelapnya dunia di malam hari.