DETECTIVE

DETECTIVE
Chapter 6 : Menerima kekalahan



Azka membalas ucapan itu dengan sebuah senyuman tipis, lalu setelah itu Azka mengambil kembali kacamata hitam yang sebelumnya sempat dia masukan ke dalam saku jasnya seraya pergi meninggalkan Samuel.


Samuel merasa bahwa dirinya sedang direndahkan, padahal Azka tidak sedang merendahkan Samuel, hanya saja Azka sedang menguji apakah anak dari sang aligator mewariskan sifat keras yang dimiliki oleh Tuan Jhon Smith dulu.


Samuel berlari menghampiri Azka sambil melayangkan pukulannya dari arah belakang. Namun, cara yang Samuel lakukan itu tidak menyebabkan dampak apa-apa dikarenakan Azka dapat dengan mudahnya menghindari pukulan tersebut meski sekali pun dia tak menatap Samuel.


"Anda merupakan sosok yang paling ditakuti oleh para rekan-rekan bisnis teman Tuan Julian, namun cara yang anda lalukan itu tidak mencerminkan bahwa anda tidak dapat dikalahkan," ucap Azka mulai memancing amarah Samuel.


"Apakah anda merasa yakin bahwa anda dapat mengalahkan orang seperti saya Tuan Detective!" seru Samuel sambil melayangkan pukulan kerasnya itu kembali.


"Bukan saya, tapi diri anda sendiri."


Di situlah pertarungan Azka dan Samuel dimulai. Sebagian dari rekan kerjanya berasumsi bahwa sekarang Samuel tidak dapat mengalahkan Azka bahkan dia tidak akan bisa menyentuh Azka.


Memang benar, ternyata Samuel dapat dikalahkan begitu mudahnya oleh Azka. Di sana Azka sudah menang telak dan bahkan keringat Azka pun sama sekali tak terlihat mengucur membasahi pakaiannya.


Samuel pun lalu terjatuh setelah dia menerima pukulan kelima dari Azka. Azka merupakan pria pertama yang dapat menumbangkan sosok Samuel.


"Sangat disayangkan sekali, saya pikir anda akan menjadi lawan tarung saya yang paling sulit untuk dihadapi, namun sayang ternyata anda terlalu mengandalkan kekuatan anda saja, sementara anda melupakan akal sehat anda sendiri."


"Gaya bertarung anda masih buruk, bahkan orang lemah sekali pun masih sanggup memukul wajah anda, tapi tidak dengan mengalahkan anda."


"Bila anda memahami gaya berkelahi saya, maka suatu saat nanti anda dapat menjadi lawan tarung terkuat yang pernah saya hadapi asalkan anda dapat berdamai dengan diri anda sendiri."


"Akan ada masanya kekuatan itu diuntungkan, namun bila anda menggunakannya secara berlebihan, maka kekuatan itu dapat merobohkan diri anda sendiri."


"Kekuatan memiliki titik lemah yang paling rawan, di kala lelah apa yang kita untungkan itu ternyata hanya sebatas pelampiasan saja, berbeda hal nya dengan akal pikiran yang di mana dia tidak akan pernah menghilang meski sekali pun disaat tubuh ini mulai melemah."


Pada saat itu Samuel mulai mengerti dan memahami semua arti yang telah disampaikan oleh Azka bahwa kekuatan dapat dikalahkan oleh akal pikiran.


Samuel mulai bangkit dari keterpurukannya seraya tersenyum di belakang Azka. Setelah Azka memberikan sedikit pengetahuan tentang pentingnya menjaga kekuatan dalam berkelahi, ia pun pergi dari ruang bawah tanah.


"Ayo bangun orang-orang lemah!" seru Samuel dengan suara lantangnya.


"Apakah anda pun termasuk orang lemah seperti kita?" tanya salah satu rekannya membuat Samuel tertawa.


"Benar, saya pun masuk ke dalam kriteria itu."


Semua rekannya tertawa bersama, dan mungkin hari ini takan pernah terjadi untuk kedua kalinya dikarenakan seorang Samuel takan pernah kalah bertarung melawan para penjahat selain kalah bertarung bersama dengan sosok Azka.


....


Masih di hari yang sama, di mana senja telah menunjukan jati dirinya kepada Azka, langit yang tadinya berwarna biru pun sekarang telah berubah warnanya.


Sunyi, sepi, serta lingkungan di sekitaran tempat perkara yang nampak kelam itu pun telah menyapa. Waktu itu tepatnya pada pukul 16:32 sore, di mana Azka kembali menelusuri titik yang sebelumnya terkena dampak dari besarnya ledakan bom rakitan.


Di tengah gelapnya area dalam Perusahaan Azka mulai menelusuri ruangan yang sudah hancur itu. Azka berjalan seorang diri tanpa adanya perlindungan dari salah satu abdi milik negara.


"Semua ruangan telah diberi tanda garis polisi, dan sepertinya untuk sementara waktu Perusahaan akan dikosongkan, bahkan akan ada isu bahwa Perusahaan ini takan kembali dioprasikan lagi, sungguh disayangkan sekali bila Perusahaan sebesar ini ditutup secara permanen oleh pemerintah."


"Semoga CEO Perusahaan dapat menyelesaikan urusannya dengan sebaik mungkin, saya merasa tempat ini masih layak untuk digunakan kembali, dan di sini saya adalah orang pertama yang akan membantu beliau dikarenakan para karyawan yang sudah bekerja di Perusahaan ini masih membutuhkan pekerjaannya."


Azka benar-benar memperdulikan kehidupan orang lain, dan dia berpikir bila Perusahaan ini benar-benar ditutup maka masalah pemberontakan takan pernah terselesaikan, bahkan problem tersebut akan semakin sulit untuk dileraikan.


Padahal saat itu Azka melihat bahwa Perusahaan memiliki banyak sekali penghargaan yang sangat membanggakan, mau itu penghargaan yang diberikan oleh negara luar kepada Perusahaan tersebut, dan maupun itu penghargaan yang diberikan dari dalam negaranya sendiri.


Sekarang Azka telah tiba dilantai paling atas, di mana tempat tersebut merupakan tempat pribadi milik CEO Perusahaan dan sekaligus tempat yang paling diincar oleh para pemberontak, sehingga suara serta dampak dari ledakan itu bisa dibilang merupakan yang paling besar dan paling berbahaya.


Azka terus menelusuri ruangan pribadi milik CEO Perusahaan dan hingga pada akhirnya Azka menemukan beberapa bukti mengapa para karyawan tersebut dapat memberontak bagaikan pembunuh bayaran.


Di dalam laci meja milik CEO Perusahaan Azka mendapatkan beberapa surat yang bertuliskan surat pemecatan sekaligus surat peringatan keras untuk para karyawan yang menjadi pemberontak.


Dari surat tersebut Azka sudah mengetahui alasannya bahwa mereka melakukan pemberontakan itu dikarenakan rasa dendam atas apa yang CEO Perusahaan berikan kepada mereka.


"Surat peringatan! ternyata ini alasan mengapa Bos besar memecat para karyawan yang sudah melakukan pemberontakan itu, tapi bila dipikir-pikir Bos besar tidak salah dikarenakan para karyawan itu yang memulai perselisihan lebih dulu."


"Alangkah baiknya saya menyimpan surat-surat ini terlebih dahulu, siapa tahu dengan surat ini saya dapat menyelamatkan para karyawan yang tak bersalah."


"Mungkin pemerintah harus melihat dan mengetahui bahwa Perusahaan ini memiliki banyak sekali penghargaan yang harus dikembangkan, bila Perusahaan ini ditutup secara terang-terangan maka dampak yang akan diberikan oleh pihak kedua dapat menyebabkan bisnis di negara kita menjadi menurun, bahkan dapat mengakibatkan perpecahan antar negara luar dan negara kita."


Brukk ....


Suara jatuhan benda itu membuat Azka terkejut. Azka pun lalu menghampiri sumber suara tersebut, namun sayangnya Azka tak dapat menemukan apa-apa selain menemukan buku tebal yang terjatuh ke bawah lantai.


Setelah Azka memastikan bahwa suara tersebut berasal dari jatuhan buku tebal, di sana Azka mulai menelusuri ruangan milik sekertaris CEO Perusahaan.


Pada saat Azka akan melangkahkan kakinya, dengan seketika dia melihat ada bayangan hitam yang melintas tepat di hadapannya. Azka mengira bahwa bayangan tersebut bukan berasal dari bayangan sosok makhluk halus, melainkan bayangan manusia biasa yang tak sengaja terpatul oleh cahaya senja.