DETECTIVE

DETECTIVE
Chapter 8 : Wanita yang ceroboh



"Saya akan menunggu anda tepat berada di depan pintu masuk area parkiran bawah tanah, diusahakan anda juga harus sesegera mungkin pergi dari tempat berbahaya ini," ucap Clara mulai pergi meninggalkan Azka seorang diri.


"Menjauhlah! dan cari tempat pelarian yang paling aman, diusahakan anda harus berlari hingga ke taman yang sebelumnya pernah kita singgahi," ucap Azka, namun saat itu Clara memang sengaja tak mendengarkan ucapan darinya.


"Mau bagaimana pun anda akan tetap menjadi wanita ceroboh bila anda tidak bisa mendengarkan ucapan dari orang lain, mungkin setelah ini saya akan mengingatkan anda tentang bagaimana caranya memperhatikan diri sendiri, tapi itu pun jika saya berhasil menjinakan benda sialan ini, namun jika gagal saya hanya bisa berharap anda dapat menjadi pendengar yang lebih baik lagi," ucap Azka dalam hati sembari tersenyum melihat kepergian Clara.


Baru kali ini Azka bertindak gegabah, hanya gegara tak fokus sedikit saja dalam melakukan tugasnya dia sampai salah memutuskan kabel yang seharusnya dia putuskan, hingga pada akhirnya ledakan pun tak dapat dia cegah.


"Ahh, sial! mengapa anda begitu ceroboh sekali," ucap Azka yang tak bisa berbuat apa-apalagi selain memasrahkan dirinya.


Dalam hitungan detik akhirnya Bom itu pun meledak hingga menimbulkan ledakan yang sangat besar. Sementara di luar sana Clara masih menunggu Azka, namun suara ledakan tersebut membuat Clara terbaring lemas.


Clara terlihat begitu menyesali hal yang sudah dia lakukan terhadap Azka, mengapa dia bisa bertingkah seceroboh itu dalam memilih jalannya sendiri, padahal selama ini dia tidak pernah melakukan hal yang semacam itu.


Clara merasa sangat kecewa terhadap dirinya sendiri, dia pun menangis meratapi kegagalannya yang sekarang.


Clara berpikir bahwa Azka sudah tiada, dia merasa hal tersebut pastinya tidak akan pernah terjadi bila dia tak kembali lagi ke tempat itu.


"Sepertinya anda telah gagal nona, tapi sekarang tak ada waktu untuk menyesalinya, dan saya pikir lebih baik kita pergi dari tempat ini sebelum ledakan bertambah besar."


Semua orang pasti akan berpikiran hal yang sama dengan Clara, mana mungkin seseorang yang terjebak di dalam sana akan selamat, padahal ledakan itu sudah terlintas di depan mata, namun sosok Azka malah muncul di belakang Clara bagaikan sebuah kiltan cahaya.


Azka menolong Clara untuk yang kedua kalinya, untung saja dia datang tepat waktu, hingga mana Azka berhasil membawa wanita ceroboh dari tempat itu.


"Mengapa anda ngeyel sekali! padahal saya sudah mengingatkan agar anda pergi menjauh dari lokasi itu, tapi kenapa anda masih berdiam diri di tempat tersebut," ucap Azka membuat Clara terkejut.


"Mengapa anda bisa muncul di belakang saya?" tanya Clara terlihat begitu membingungkan hal ini, namun sebenarnya dia sangat senang dikarenakan hingga pada akhirnya dia bisa bertemu dengan Azka kembali.


Azka membalas ucapan dari Clara hanya dengan sebuah senyuman tipisnya itu saja. Mungkin dia tak perlu mengetahui penyebabnya mengapa Azka bisa keluar dari tempat itu secepat seperti sebuah kilatan cahaya.


"Hari sudah semakin gelap, apakah para Bodyguard milik ayah anda tidak menjemput anda di sini? bila mereka tak kunjung datang, biarkan saya saja yang mengantarkan anda pulang," tawaran Azka merupakan sebuah tawaran yang Clara harapkan, namun sayangnya Clara tak bisa lepas dari sebuah pengawalan.


"Cukup sampai di sini saja, saya sudah banyak merepotkan anda, dan lagipula ayah saya takan pernah melepaskan anaknya begitu saja, apalagi sampai membiarkan anaknya pergi sendirian tanpa adanya pengawalan, terima kasih."


....


Bila Clara menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya, mungkin ucapan itu akan terdengar lebih manis lagi, namun sebagaimana watak mereka berdua, mereka hanya bisa merasakan tatapan yang begitu datar, suara yang terdengar begitu dingin, serta tubuh yang terlihat begitu kaku.


Tanpa ucapan terakhir Azka pun lalu pergi meninggalkan Clara di taman itu sendirian. Sebelumnya Azka akan pergi mengambil motor Yamaha R1 berwarna hitamnya di markas besar para abdi negara.


Tak lama setelah Azka meninggalkan Clara, tiba-tiba Clara dihampiri oleh sekumpulan pria yang sepertinya mereka bukan orang-orang biasa.


"Apakah anda adalah anak dari Tuan Julian?" ucap salah satu pria bertubuh besar.


"Bila iya anda mau apa! dan bila tidak apakah anda akan tetap membuntuti saya," ucap Clara terlihat begitu dingin sekali.


"Tangkap dia, dan ingat! jangan sakiti dia karena Bos melarang kita melukai wanita ini," ucap salah satu pria yang diduga pemimpin mereka.


Tak ada satu pun diantara mereka yang sanggup menyentuh wajah cantik Clara. Clara hanya bisa menghindar, sementara itu para Bodyguard milik ayahnya belum juga tiba membantunya.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara raungan motor dengan seketika memberhentikan perkelahian itu.


Brugg ....


Sang pengendara motor pun akhirnya menabrak salah satu penjahat yang bertubuh besar hingga penjahat itu terkapar, namun sayangnya dia masih bisa berdiri kembali.


Sang pengendara motor dengan perlahan membuka helmnya, dan ternyata dia adalah Azka. Seperti biasa sebagaimana sikap dingin Clara, dia sama sekali tak memberikan respon apa-apa, pandangan yang datar sudah mencerimkan watak asli mereka berdua.


"Hari ini banyak sekali kejadian yang tidak dapat kita duga, apakah anda mau beristirahat terlebih dahulu nona?" ucap Azka dengan posisi sigapnya.


"Tidak usah repot-repot ini baru saja dimulai, tenang aja nanti anda akan melihatnya sendiri bahwa saya dapat mengelahkan mereka hanya dengan memberikan beberapa pukulan kecil saja," ucap Clara mulai menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya di hadapan Azka.


Mereka berdua mulai berkelahi, dan sepertinya itu akan menjadi pertarungan yang sangat singkat, apalagi sekarang Azka ikut serta dalam pertarungan Clara.


Bila dihitung secara keseluruhan ada 20 penjahat yang menghadang Clara dan Azka, semua sudah dibagi, Azka melawan sepuluh penjahat dan Clara pun melawan sepuluh penjahat juga.


Para penjahat melingkari tubuh mereka berdua, namun itu tidak masalah dikarenakan mereka berdua pasti bisa mengalahkan para penjahat itu dengan mudah.


Pada saat mereka berdua tengah asik melawan para penjahat di jalanan yang tak jauh di sekitaran taman kota, di sana terlihat ada salah satu penjahat yang menodongkan senjata api berjenis revolver ke arah Clara.


Duarr ....


Penjahat itu sudah menarik pelatuknya revolvernya, dan di situlah Azka menarik tangan Clara hingga pada akhirya peluru revolver tersebut berhasil mengenai salah satu rekan penjahatnya.


Tembakan yang sangat fatal, bila Azka telat sedikit saja dalam mengambil tindakannya itu, maka nyawa Clara akan terancam, dikarenakan tembakan tersebut sudah di arahkan dan tepat mengarah ke arah dada sebelah kiri target.


Azka pun berlari ke arah sipenembak, namun penembak itu malah meluncurkan kembali tembakannya hingga pelurunya mengenai salah satu rekannya lagi.


Kecepatan lari dari seorang Azka dapat membuat si penembak bingung, si penembak tak tahu harus menembakan pelurunya ke arah mana, sedangkan Azka dapat menghindari dan membaca semua arah peluru yang melayang itu ke arah mana saja.


Hingga saat si penembak kehabisan pelurunya, pada saat itu juga Azka mengambil kesempatan untuk mematahkan kedua tangannya.


Krakk ....


Azka mematahkan kedua tangan si penembak itu seperti dia mematahkan ranting pohon. Azka hanya mematahkan lengan si penembak itu saja, bukan melainkan Azka memutuskan kedua tangan si penembak tersebut.


"Ahhh .... tangan gue," teriak kesakitan dari si penembak itu benar-benar mengganggu konsentrasi semua rekan sepenjahatnya.


Azka tersenyum bagaikan orang yang tak memiliki belas kasihan, untung saja di sana ada Clara, jadi para penjahat kelas amatiran ini tak dapat melihat kekejaman yang dimiliki oleh seorang Azka seperti apa.