
Para pasukan elite Black Shadow telah tiba di tempat yang sebelumnya disebutkan dalam misi, dan sekarang mereka hanya perlu menunggu waktunya tiba saja. Mereka semua akan bergerak kurang lebih pada pertengahan malam hari, sekiranya pada pukul sepuluh atau pukul sebelas malam, dan itu pun tergantung seberapa cepat para pasukan penyelamat tiba dititik lokasi.
Jumlah keseluruhan dari team penyelamat semuanya ada 50 pasukan elite, dalam 50 pasukan itu mereka akan dibagi sekiranya menjadi 5 regu dengan jumlah persetiap regunya dibagi menjadi 10 pasukan elite campuran.
Pesawat mereka diberangkatkan lebih lambat dari pesawat cargo yang ditumpangi oleh 10 pasukan elite milik Azka dikarenakan alasan tugas yang berbeda.
Waktu yang ditentukan oleh pusat markas kepada team penyelamat bisa dibilang cukup lama, perkiraan mereka akan tiba di lokasi pada pukul 07:00 malam.
Sementara itu seluruh pasukan elite Black Shadow telah bersembunyi di pos nya masing-masing, begitupun Ariska, dia pun telah tiba dititik tempat yang di mana dia bisa melihat semua kegiatan yang dilakukan oleh para anggota ******* itu.
"Di sini Ariska ... , Ariska masuk kepada Arga."
"Ya, Ariska, di sini Arga, ada masalah apa ganti?".
"Apakah Capt Azka masih sulit dihubungi? saya sudah lama berdiam diri di sini, namun anehnya kenapa sampai sekarang saya tidak bisa melihat adanya tanda-tanda dari diriya, bila ada informasi mengenai dirinya, segera hubungi saya."
"Untuk sementara waktu ini belum ada informasi apa pun, semuanya masih nihil, bila nanti ada infomasi yang baru, saya akan segera memberitahukannya kepada anda."
Tak disangka-sangka ternyata ada seseorang yang mengetahui di mana Ariska bersembunyi. Sekarang posisi Ariska sudah tak aman lagi, untung saja Ariska sadar dan sempat mengetahui tanda bahaya yang sedang menghampiri dirinya di sana, namun pada saat itu Ariska terlihat begitu khawatir sekali dikarenakan hawa kekuatan dari seseorang itu sangat berbeda.
Tebakan Ariska ternyata memang benar, seseorang itu muncul dengan begitu cepatnya di belakang tubuh Ariska, dan tetunya tidak hanya sampai di situ saja, seseorang itu bertindak secara diam-diam hingga mana sosok tersebut dapat mematikan langkah Ariska.
"Takan lama lagi kekegalapan malam akan segera tiba, bantu saya untuk menghitungnya."
Setelah seseorang itu menghitung waktu mundur dari angkat 10, dan dengan seketika warna langit pun berubah menjadi hitam gelap yang sangat pekat.
"Dasar wanita keras kepala! apakah anda tidak mengetahui rencana yang saya buat? dan mengapa anda lebih memilih untuk tetap patuh terhadap misi, sementara sandingan anda jelas-jelas telah meninggalkan anda," ucapnya sambil melepaskan perlahan tangan yang dia gunakan untuk menutup mulut Ariska.
"Anda benar-benar sudah membuat saya takut, pantas saja mengapa hawa kekuatan ini sungguh berbeda dengan kekuatan yang diceritakan oleh jendral sebelumnya."
"Bahkan sebelumnya saya tidak pernah berpikir bahwa itu adalah anda, bila saya mempunyai kekuatan yang serupa, maka dari sejak itu juga saya akan menghabisi anda."
Dan ya, ternyata seseorang itu adalah Azka. Sepertinya dia telah berhasil membuat sosok Ariska ketakutan, pada dasarnya dia mengira bahwa sosok Ariska tidak pernah mengenal rasa takut, namun ternyata semua itu bohong.
"Jangan pernah mengubah sejarah nona, ternyata selama ini negara telah dibohongi oleh perempuan seperti anda, padahal dulu ibu pertiwi sempat bangga melihat putrinya memiliki hati sekuat baja.
"Sangat disayangkan sekali ya, nona! anda benar-benar tega sekali."
"Tega! maksud anda apa Capt?".
"Anda begitu tega dikarenakan anda telah membuat hati ibu pertiwi bersedih kembali, dan ngomong-ngomong sejak kapan sosok algojo mengenal rasa takut? saya kira di hari bertumbuhnya umur anda ini, sosok semangat di dalam diri anda akan bertambah sekaligus berkembang menjadi semakin tinggi dan kuat lagi, namun rupanya hal tersebut malah sebaliknya, di mana umur semakin bertambah tua di situlah semangat anda pun mulai ikut menghilang."
Ariska tercengang, mengapa Azka bisa mengetahui hari ulang tahunnya, padahal dia mengira Azka akan melupakannya, tapi apa yang dia pikirkan sekarang ternyata salah.
"Hmmm, saya rasa anda harus lebih banyak belajar lagi Capt, entah itu belajar dari segi mengucapkan kalimat, entah itu dari segi mengungkapkan perasaan."
"Sebenarnya ya, Capt, engga sepatutnya anda mengucapkan kata selamat kepada orang lain dengan rotasi sikap yang teramat datar seperti itu, apakah anda tidak bisa satu kali saja bersikap lebih manis kepada saya."
Mau berapa kali pun Ariska berusaha merayu Azka, seorang Azka tidak akan pernah bisa mengubah watak datarnya itu. Memang benar, dari segi apa pun sosok Azka memang lebih pantas tetap terlihat semenyeramkan seperti itu, tak ada satu orang pun yang bisa mengubah dirinya apalagi sejarahnya, bahkan Ariska dapat membayangkannya sendiri bagaimana jadinya bila watak serta sifat datar Azka disandingkan dengan watak serta sifat yang ada pada diri Ariska, sepertinya itu memang tidak pantas.
"Hmmm, bila dipikir-pikir engga ada salahnya Capt Azka tetap bersikap seperti ini, lagipula saya tidak dapat membayangkan raut wajah Capt Azka akan terlihat sekaku dan semembosankan apa bila saya terlalu memaksa dirinya untuk bersikap seperti yang saya inginkan tadi."
"Dipikiran saya hanya ada bayangan bahwa sosok dia adalah sosok psikopat yang sedang melawak di hadapan orang normal, namun orang normal menganggap lawakan tersebut sudah sama seperti sebuah seruan ancaman."
Ariska berucap dalam hatinya sambil membayangkan hal yang bisa dibilang sangat membosankan seraya menatap raut wajah sang Captein dengan reaski terkejutnya itu.
"Kenapa anda mengetahui hari ulang tahun saya Capt? saya kira anda adalah tipe pria yang paling anti memperhatikan identitas seseorang termasuk juga saya, salah satu anggota team pasukan elite Black Shadow," tanya Ariska begitu penasaran sekali mengapa Azka bisa mengetahui hari ulang tahunnya itu.
"Jangan beranggapan kalau saya tidak memperhatikan kalian, saya dapat mengetahuinya dikarenakan saya sudah menganggap anda dan semua anggota team sebagai keluarga saya sendiri."
"Jangan banyak bertanya! lebih baik sekarang kita tetap fokus, saya tidak ingin melihat hari bahagia anda berubah menjadi hari duka anda."
"Dihh, jelas-jelas dia yang mulai duluan, dasar aneh! untung saja gue udah tahan banting sama sikap dinginya itu, jadi untuk sementara waktu ini biarlah, lebih baik gue tetap patuh saja."
Lagi-lagi Ariska berbicara dalam hatinya sambil menatap topeng baja Azka yang dilumuri oleh darah dari para ******* yang telah dia bunuh itu. Ariska pun lalu memberikan kain sapu tangannya agar penampilan Capteinnya itu tak diduga sama seperti sosok psikopat.
"Alangkah baiknya anda menghapus noda darah itu sebelum orang-orang menganggap anda sebagai psikopat," ucap Ariska sambil memberikan sapu tangannya itu.
Azka menolak mentah-mentah tawaran dari Ariska dikarenakan dia tahu bahwa takan lama lagi hujan akan segera turun dan akan segera menghapus noda darah di topengnya itu.
"Tidak usah, lagipula sebentar lagi akan turun hujan."
Duarr ....
Suara gemuruh petir dengan seketika membuat Ariska terkejut dan heran, mengapa Azka dapat menebak bahwa sekarang akan turun hujan, bukankah cuaca di sore hari itu nampak seperti biasa-biasa saja, namun entah kenapa pada saat Azka berbicara seperti itu tiba-tiba air hujan pun turun.
"Lahh, kok, bisa?" di balik topengnya Ariska benar-benar dibuat bingung oleh sosok Azka, sebenarnya siapa dia, apakah Azka adalah pawang hujan.
"Pastikan bidikan sniper anda tepat mengenai sasaran, sementara saya akan maju seorang diri, bila semuanya sudah tersapu rata, maka anda harus segera menyusul saya," tanpa perintah lain Azka pun pergi menghampiri ke 30 para anggota ******* itu sembari menggenggam tongkat bambu runcingnya.
"Jangan remehkan saya Capt," Ariska tersenyum tipis di balik topengnya seraya membidik lokasi yang di mana di sana terdapat sisa dari anggota ******* yang belum sempat Azka sayat lehernya.