
Lampu ruangan tempat disanderanya Tuan Julian telah dinyalakan kembali oleh Azka. Dan dari sejak itu sosok Azka pun tak mau bila identitasnya diketahui oleh beliau.
Azka tak berbicara banyak kepada Tuan Julian, dia hanya menyuruh Tuan Julian mendengarkan kata-katanya saja. Lantas Tuan Julian pun mau menuruti ucapan dari Azka.
Tikk ....
Sebuah trik yang cukup sederhana, hanya dengan memetikan jari-jemarinya itu saja, Azka dapat menghilangkan kesadaran serta menghilangkan ingatan Tuan Julian di malam itu.
Hal tersebut memang sengaja Azka lakukan dikarenakan dia tak ingin Tuan Julian mengingat wajah dari sosok yang telah membantunya.
Dugg, dugg, dugg ....
"Boss ... apakah kamu baik-baik saja di dalam sana," ucap salah satu orang yang menjadi tangan kanan Bos besar seraya mengetuk-ngetuk pintu itu berkali-kali tanpa henti.
Duarr ....
Sang Bodyguard menendang pintu ruangan di mana Bos besar disekap di dalam sana hingga pada akhirnya pintu tersebut pun terbuka. Sang Bodyguard tekejut ketika dia melihat Tuan Julian sudah tak sadarkan diri.
Namun, anehnya sang Bodyguard tak melihat bekas luka tembakan di seluruh tubuh Tuan Julian, dan yang lebih membingungkannya lagi mengapa para pembunuh itu bisa terkapar begitu saja.
"Bang, sepertinya para pembunuh ini telah dihabisi oleh seseorang, tapi anehnya saya beserta dengan rekan-rekan saya tak dapat menemukan keberadaan orang tersebut itu, apa mungkin orang ini bekerja dengan Bos kita juga ya, Bang?" tanya rekannya yang nampak kebingungan itu.
"Entahlah, tapi selama saya bekerja dengan Tuan Julian, beliau sama sekali tidak pernah menceritakan hal lain kepada saya, apalagi menceritakan kaki tangan simpanannya."
"Saya rasa orang yang telah membatu Bos kita itu bukanlah kaki tangan simpanan miliknya, melainkan dia merupakan salah satu orang luar yang sangat berpengaruh bagi kejahatan di negara kita ini, bisa jadi sampai ke negara lain."
Seluruh Bodyguard yang berada di dalam ruangan itu benar-benar dibuat bingung, mereka berpikir orang yang telah menyelamatkan Bos memang bukan orang sembarangan, dan mereka juga menganggap orang itu merupakan jajaran milik abdi negara yang diberi julukan, Sang Pembasmi Kejahatan.
"Orang itu bukan orang sembarangan Bang, mungkin sekarang dia telah menyelamatkan Bos besar, namun kita tidak tahu apakah nanti dia akan melukai Bos besar, seperti yang pernah anda katakan kepada saya, kita harus siap siaga," ucap rekannya sambil menepuk pundak orang kepercayaan Bos besar seraya meninggalkannya pergi dikarenakan dia harus mengurus beberapa rekannya yang sudah tiada.
Tak lama setelah itu Tuan Julian pun akhirnya sadar dari pingsannya. Sang Bodyguard lalu menghampiri Tuan Julian dan membantunya untuk duduk di kursi sofa hotel terlebih dahulu.
"Bos, anda baik-baik sajakan?" tanya sang Bodyguard dengan perasaan leganya karena ternyata Tuan Julian hanya jatuh pingsan.
"Ya, i'm good, saya tidak apa-apa, sepatutnya kamu tidak usah mengkhawatirkan orang tua seperti saya. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan rekan-rekanmu yang terluka di sana? apakah ada diantara mereka yang masih selamat, saya ingin menemui mereka sekarang," ucap Tuan Julian sambil tersenyum di hadapan orang kepercayaannya.
....
Sang Bodyguard benar-benar dibuat terkejut dan heran ketika dia melihat sikap rendah hati yang dimiliki oleh Tuan Julian itu ternyata masih ada sampai saat ini.
Padahal selama dia bekerja bersama dengan Tuan Julian, dia sama sekali tak pernah memperhatikan keselamatan rekan kerjanya, bahkan sampai dirinya sendiri pun dia abaikan demi pion pentingnya.
"Mohon maaf bila saya lancang, ngomong-ngomong bukannya anda juga bisa berkelahi, bahkan segi bertarung anda bisa dibilang melebihi dari kata baik, apakah faktor usia benar-benar telah menghabiskan ruang gerak anda Bos?" tanya sang Bodyguard dengan perasaan takutnya, namun malam itu dia terlihat begitu mengejek Tuan Julian.
"Sebenarnya sejarah di masa lampau sudah mengetahuinya lebih dulu Same, bahkan sebelum kamu bekerja bersama saya, dan bahkan ayahmu sudah mengetahuinya lebih dulu bahwa saya tidak pernah kalah oleh siapa pun, mau itu dari segi berbisnis, dan maupun itu dari segi tempur, hanya saja tadi malam saya terlalu mengkhawatirkan keselamatan anak buah saya, bila saya tidak mengalah, maka taruhannya adalah nyawa mereka semua."
"Bukankah itu adalah tugas mereka Bos, mereka juga pasti sudah mengetahui semua resikonya seperti apa, makanya mereka bekerja untuk anda."
"Tidak semuanya bisa dibeli dan dibayar dengan uang Same, nyawa adalah salah satu harta yang paling berharga, maka dari itu mementingkan diri sendiri dengan menumbalkan orang lain merupakan suatu hal yang tidak baik."
"Kamu harus ingat Same, saya bukan taruhan, dan saya juga tidak mau jika semua jiwa saya ini dipertaruhkan, apalagi sampai diperjuangkan hingga mereka mau mengorbankan dirinya sendiri untuk saya, sebenarnya itu adalah pemikiran yang tidak logis bagi saya pribadi."
"Dan kamu juga harus tahu Same, mengapa sampai saat ini saya selalu mementingkan keselamatan rekan-rekanmu, ya, dikarenakan saya tidak ingin kejadian itu sampai terulang kembali."
Samuel, dia merupakan orang kepercayaan sekaligus anak dari teman dekat Tuan Julian yang mati karena tertembak oleh para pembunuh bayaran profesional.
Jhon Smith Aligator, itu adalah julukan yang diberikan orang-orang kepada ayah Samuel. Ayah same merupakan teman dekat sekaligus tangan kanan terbaik yang dimiliki oleh Tuan Julian dulu.
Beliau menghembuskan napas terakhirnya dikarenakan dia tertembak tepat dibagian dada kiri dan kanannya. Beliau salah satu orang yang membuat Tuan Julian sering merasakan perasaan bersalah, lantaran beliau mengorbankan dirinya dengan gagah dan berani hanya untuk melindungi Tuan Julian.
Senjata api yang digunakan oleh penjahat waktu itu merupakan pistol bekekuatan tinggi, yakni pistol Desert Eagle. Para pembunuh profesional itu memang sengaja memberikan racun disetiap masing-masing peluru, makanya sang aligator darat pun menghembuskan napasnya dengan begitu cepat.
Waktu itu ayah Samuel hanya memberikan sedikit kata singkat terakhirnya sembari tersenyum dan berkata dengan nada suara beratnya kepada Tuan Julian, "Titip Samuel untuku Bos, saya minta maaf karena sekarang saya harus pergi mendahului dirimu".
Dengan seketika cepatnya sang aligator darat memejamkan matanya, sementara para pembunuh bayaran itu merasa senang dikarenakan pelindung Bos besar yang paling ditakuti oleh semua orang telah wafat.
Namun, kala itu amarah Tuan Julian meronta-ronta bagaikan api yang telah melahap satu gedung paling tinggi di dunia. Dia memberontak hingga membantai para pembunuh bayaran yang berjumlah sekiranya 20 orang tanpa ampun dan tanpa rasa belas kasihan.
Mulai dari sejak itu Tuan Julian menyembunyikan semuanya setelah beliau keluar dari penjara.