DETECTIVE

DETECTIVE
Chapter 3 : Kobaran api



Pada saat Tuan Julian mengingat kawan baiknya itu, dengan seketika dia melihat bahwa ternyata Samuel mewariskan semua sisi keperibadian yang dimiliki oleh ayahnya itu.


Dari kerasnya dia, dari kuatnya dia, dari keperduliannya dia terhadap pion pentingnya, bahkan bila diperhatikan raut wajah dia begitu mirip sekali dengan raut wajah yang dimiliki oleh ayahnya.


"Same, kamu adalah salah satu orang yang paling saya banggakan sekarang dan sekaligus kamu juga merupakan anak dari sahabat baik saya dulu. Saya berharap anda tidak membenci saya, maupun itu sekarang, dan maupun itu untuk di masa yang akan mendatang."


"Bila saya membenci anda, maka ayah saya pun pasti akan membenci saya di sana."


"Asalkan anda tahu Bos, dulu ayah saya pernah muncul di mimpi saya, dan beliau pernah berbicara sambil tersenyum di dalam mimpi saya itu, beliau berkata bahwa saya tidak boleh membenci anda sedikit pun."


"Dan setelah itu beliau pun berbicara seraya memerintahkan anaknya ini untuk menjaga si tua bangka Julian," ucap Samuel sambil tersenyum tipis menahan rasa ingin tertawanya.


"Bila ayahmu masih ada di sini Same, hanya satu yang ingin saya ucapkan kepada dia, yakni sialan lu Jhon," ucap Tuan Julian sambil tertawa lepas bersama Samuel.


Malam itu terlihat ada sedikit canda tawa, Tuan Julian merasa senang bisa menatap raut wajah sahabatnya meskipun itu harus diwakilkan oleh anaknya.


Di balik canda tawa itu ternyata di sana masih ada seorang yang tengah memperhatikan mereka berdua dalam diam. Mungkin mereka semua tak menyadarinya bahwa Azka masih ada di sana yang bergerak dalam bayangan hitam.


Azka tersenyum tipis setelah dia melihat Tuan Julian tak menanyakan siapa yang telah menolongnya kepada para anak buahnya.


Ketika diperjalanan menuju ke lantai yang di mana para anak buah milik Tuan Julian terkapar di sana, dengan seketika hati Tuan Julian dibuat hancur pada saat beliau melihat ada 10 anak buahnya yang telah tiada.


Tuan Julian mengepalkan tangannya dengan tatapan penuh amarah. Tuan Julian tidak akan pernah menyerah untuk mencari siapa pelaku di balik semua ini.


Pesta yang dia buat telah hancur, padahal tadinya Tuan Julian terlihat sangat senang karena dia dapat melihat senyuman dari para tamu undangannya, namun kekacauan di malam ini telah menghancurkan perasaan Tuan Julian.


"Saya berjanji di dalam diri saya, bahwa saya tidak akan pernah membiarkan semua ini berlalu begitu saja, dan saya akan mencari para sampah itu hingga sampai keujung dunia."


Ucapan yang terdengar begitu mengerikan itu telah digumamkan hingga ucapan Tuan Julian membuat Samuel melihat siapa sosok asli yang berada di dalam diri Tuan Julian sudah itu.


Samuel sebenarnya takut, namun sebagaimana tugasnya menjadi pengganti almarhum ayahnya, maka dia pun harus bisa memberanikan dirinya demi Tuan Julian.


"Saya selalu ada di samping anda Bos, dan saya tidak akan pernah meninggalkan anda meskipun jiwa ini, raga ini, serta tubuh ini sudah hancur," ucap Samuel dengan tegasnya mengingatkan Tuan Julian untuk tidak bergerak sendiri.


Seketika itu suara Samuel membangkitkan semangat rekan-rekannya. Seluruh suara sudah bergumam dan terdengar begitu bergemuruh sekali di dalam ruangan hotel.


"Jangan biarkan kematian mereka terbuang sia-sia, ayo kita cari pelakunya sampai ke ujung dunia, dan yang paling penting jangan biarkan Bos besar melihat kegagalan kita nantinya, maka dari itu mari bekerja sama," teriakan Samuel berkobar bagaikan sekumpulan api yang telah menyatu dengan rekan-rekannya.


Pada saat mereka tengah berkumpul di ruang utama, tak sengaja mereka melihat ada seorang wanita cantik yang menghampiri Tuan Julian.


Dengan seketika wanita itu langsung memeluk Tuan Julian, dan ternyata dia adalah anak pertama Tuan Julian. Dia terlihat begitu mengkhawatirkan ayahnya karena rasa sayang dia terhadap Tuan Julian begitu besar, sehingga malam itu dia benar-benar mengabaikan pekerjaannya sebagai reporter hanya untuk memastikan ayahnya baik-baik saja.


Clara Marga aksara, dia merupakan anak pertama dan anak wanita satu-satunya yang dimiliki oleh Tuan Julian. Sebenarnya dia bukan anak satu-satunya, dan Tuan Julian masih memiliki 2 anak laki-laki, hanya saja kedua anak itu bukan anak kandung aslinya, melainkan anak angkatnya.


Clara adalah mahasiswi yang berkulian disalah satu Universitas jurusan hukum termukaka, yakni Marga Aksara. Nama yang tak begitu familiar bukan. Universitas itu memang Universitas milik ayahnya yang dibangun sebelum Clara lahir.


Sebenarnya Clara tidak ingin menuntut ilmu di Universitas milik ayahnya, namun ayahnya memaksa dia untuk tetap masuk ke perguruan tinggi miliknya dikarenakan ayahnya ingin memastikan seberapa sanggup putri kesayangannya menyesuaikan diri di dalam lingkungan ayahnya.


Clara menuntut ilmu di Universitas ayahnya sambil bekerja, dan pekerjaan dia adalah seorang Wartawan. Dia merupakan seorang wanita yang serba bisa, dari memasak, berbisnis, berkelahi, sampai melukis pun Clara bisa melakukannya.


"Ayah baik-baik sajakan? apakah penjahat itu melukai ayah? dan sekarang mana para penjahat itu, biar Clara kasih pelajaran kepada mereka," tanya Clara mulai merasa lega karena sekarang dia sudah bisa menatap ayahnya kembali.


Ketika Clara mengucapkan kalimat itu, dengan seketika semua orang bertanya-tanya kepada Tuan Julian, sebenarnya siapa yang telah menyelamatkan dirinya.


"Benar Bos, sebenarnya siapa dia, dan mengapa dia bisa ada di sana saat problem itu terjadi, apakah dia adalah orang-orang anda juga?" tanya Samuel begitu penasaran dengan sosok yang telah membantu Tuan Julian.


"Saya hampir lupa membahas hal ini, namun sayang ternyata saya sudah benar-benar lupa, tapi saya merasa saya sedang dilindungi oleh seseorang," ucap Tuan Julian yang nampak begitu membingungkan hal ini.


Padahal masalah ini terjadi belum lama, namun anehnya beliau benar-benar tak mengingat sosok pria yang telah menolongnya waktu itu.


"Aneh sekali! kenapa beliau bisa lupa, padahal ingatan beliau bisa dibilang cukup tajam. Apakah beliau sedang berbohong ya! tapi bila beliau berbohong saya pasti sudah melihat wajah palsunya, namun sekarang pandangan beliau memang berbeda dari biasanya, sepertinya dia sudah menghipnotis Tuan Julian, maka dari itu beliau tak langsung menanyakan orang yang sudah menyelamatkannya kepada saya."


Samuel berpikir mengapa bisa orang seperti dia menghilang setelah dia menyelamatkan Tuan Julian, dan mungkin bila pahlawan itu lebih lama sedikit berada di samping Tuan Julian, maka orang tersebut pasti akan menerima hadiah yang sangat besar, bahkan dia juga bisa menikmati setengah kekayaan yang dimiliki oleh Tuan Julian.


"Apakah ini semacam hipnotis ya, Bang? makanya Bos tidak bisa mengingat apa-apa selain mengingat bahwa dia selamat karena ditolong oleh seseorang saja," tanya rekannya yang berbisik pelan kepada Samuel.


"Ya, saya pun memikirkan hal yang sama, tapi sekarang yang paling penting Tuan Julian baik-baik saja, bila nanti Tuan Julian memerintahkan kita untuk mencari siapa orang yang telah menyelamatkannya itu, maka kita harus bisa menemukan orang itu dan membawanya ke hadapan Tuan Julian."


"Siap Bang, kita semua pasti akan mencari orang itu sampai ketemu, dan bila tidak maafkan saya dan rekan-rekan saya."


"Mungkin abang tidak akan pernah tahu apakah usaha kita nanti akan berhasil atau tidak, namun kita semua sudah dapat menebaknya bahwa usaha kita pasti akan gagal, abang tahu sendirikan kepandaian dari orang itu seperti apa, bahkan kita masih bertanya-tanya mengapa bisa dia ada di sana."