
~Sebuah gravitasi baru saja runtuh menjadi lubang hitam dan menyeretku ke dalamnya~
***
"Heh, lu!" sebuah tangan tiba-tiba menariknya hingga memaksa Gemi segera berbalik agar tidak terhuyung.
"Lu yang namanya Gemi?" sebuah pertanyaan retorik memicu senyum kecut gadis berambut coklat yang melirik nametag yang terjahit rapi di seragamnya itu.
"Lu bisu, ya?" pertanyaan itu membuat pemilik netra abu-abu itu mendongak, tatapannya jatuh pada manik milik gadis di hadapannya itu dan sempat melirik nametag pada seragam gadis berambut pirang itu, hijau.
"Bisa sopan dikit sama kakak kelas?" tanyanya rendah tapi berhasil didengar gadis di hadapannya. Namun, gadis itu malah tersenyum miring. Keadaan sekolah yang masih sepi membuatnya merasa bebas melakukan apa pun. Gemi yang tak paham dengan salah satu adik kelasnya ini memilih berbalik menuju kelasnya, tapi sebuah tangan berhasil mencengkeram pergelangan tangannya. Gemi yang tidak suka langsung menghempaskannya tangannya dan benar saja, gadis tadi langsung melepaskan cengkeramannya.
"Lu berhenti deketin Nata!" titah tersebut membuat alis Gemi hampir tertaut. Maniknya menatap gadis berambut pirang di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dirinya tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar. Belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi padannya, sebuah tangan mendorong pundaknya hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
"Apa sih masalah lu? Sorry ya, gue nggak pernah ada niatan deketin cowok lu itu. Lain kali sikapnya dijaga," pesan Gemi sebelum benar-benar berbalik dan meninggalkan gadis tadi yang menggeram kesal.
"Cewek aneh!" teriak Pelangi sebelum Gemi benar-benar hilang di balik bangunan menuju kelasnya.
Tak jauh dari tempat Pelangi berdiri, sepasang mata menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Bahkan, maniknya masih mengunci pergerakan gadis berambut pirang itu. Deru napasnya begitu cepat ketika kejadian tadi kembali terputar di kepalanya. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
Bego!
***
Jari-jari lentik milik gadis berambut cokelat ini menari dengan indahnya pada secarik kertas yang baru ia sobek dari buku keseniannya. Maniknya sesekali terpejam diikuti helaan napas berat. Pandangannya beralih pada jendela yang berada tepat di sampingnya, mega berhasil menghias langit dan membuatnya semakin apik. Bahkan, mega seakan membelah kirana menghasilkan gurat jingga yang cukup memanjakan gadis pemilik netra abu-abu ini. Semua ketenangan mendadak lenyap saat beberapa temannya masuk dan membuat kegaduhan. Gemi mengembuskan napas kesal dan memilih bangkit untuk meninggalkan kelas. Baginya, jam khusus ekstrakurikuler yang melarang satu pun siswa untuk kembali sebelum jam pulang membuatnya sedikit terganggu, terlebih dirinya yang tak tertarik pada satu pun ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini. Oh bukan, lebih tepatnya ia malas bergabung.
Kali ini tujuannya adalah halaman belakang sekolah, tempat yang indah, senyap, dan jarang dijamah siswa lain. Langkah kakinya begitu santai seakan ramainya lapangan tidak membuatnya terganggu untuk saat ini. Bahkan, langit yang mulai terik pun tak mengganggunya hingga sebuah bola basket tiba-tiba mengenainya dan membuatnya tersungkur. Ringisan dari bibir mungilnya terdengar sangat lirih saat tubuhnya menghantam tanah dan rasa nyeri mulai menjalar dari lutut kanannya.
"Maaf, nggak sengaja." Suara yang seakan tak asing membuatnya melupakan sakit pada lututnya dan memilih mendongak untuk menemukan siapa yang baru saja berujar. Senyum kecut dengan dengkusan kecil terdengar dari gadis berambut cokelat yang baru saja terjatuh itu.
"Maafin salah satu anggota tim basket kami, Kak." Seorang cowok dengan manik hazel mengalihkan pandangan Gemi yang mulai bangkit.
"Santai. Lagian dia katanya nggak sengaja," sindir gadis yang sudah berhasil bangkit tanpa bantuan itu seraya melirik Pelangi dengan sudut matanya. Gemi segera melepaskan tatapannya dan memilih melangkahkan kakinya yang masih terasa sakit. Ia berdecak saat netranya menangkap tangga curam yang ada di hadapannya, dirinya tak yakin bisa melewatinya dengan mudah mengingat kondisi lututnya yang sepertinya cedera. Gadis yang baru saja menyelipkan rambut cokelatnya ke belakang telinga meringis saat kakinya akan ia tapakkan pada tangga yang sebenarnya terlihat bukan seperti tangga.
"Aaaa!"
Ringisan yang tak lagi lirih terdengar dari bibir mungil gadis yang sekarang memegangi lutut kanannya dengan mata terpejam. Rasa nyeri bahkan membuatnya mengerang, telapak tangannya merasakan cairan yang mengalir dari bagian tubuh yang masih ia pegangi hingga ia merasakan tubuhnya diangkat. Otaknya masih bisa mengingat dengan jelas sebelum ia menapakkan kakinya pada anak tangga paling atas, bahunya tersenggol sesuatu yang akhirnya membuatnya mendarat dengan sangat miris di anak tangga paling bawah. Gadis berambut cokelat ini masih memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya agar berhenti tertawa.
"Aduh, dia kenapa?" Aroma obat yang menguar membuatnya berdecak. Maniknya baru berani ia buka saat tubuhnya sudah menyentuh sesuatu yang empuk dan kini dirinya seakan membeku menatap siapa yang ada di dalam ruangan tersebut selain dirinya dan ibu piket UKS.
"Sssshh," ringisnya saat lututnya baru saja mengenai sesuatu berwarna putih yang disapukan wanita berpakaian putih-putih itu.
"Lukanya lumayan lebar, Ibu nggak bisa jamin darahnya bisa cepet berhenti." ujar wanita paruh baya itu seraya membereskan barang-barang yang tadi sempat ia keluarkan, menyisakan gulungan kasa kecil dan selembar kapas putih.
"Kamu bantu bawa dia ke mobil Ibu. Kita bawa dia ke rumah sakit aja, Ibu khawatir darahnya nggak berhenti. Muka dia juga udah makin pucet." papar wanita tadi pada Gamma seraya mencoba melilitkan kasa pada lutut Gemi yang sudah dilapisi kapas halus. Seakan disiksa dua kali, gadis bernama Gemi ini menghela napas dalam saat tubuhnya kembali digotong pemilik manik hitam ini. Bagi gadis yang memiliki senyum manis ini, luka di lutut yang membuat kepalanya seakan memutar kaset rusak dan detak jantung yang tak dapat ia kontrol merupakan hal paling menyebalkan hari ini, melupakan tentangnya yang tadi pagi bertemu gadis aneh dan terkena bola basket.
"Seragam Kakak kena darah. Gapapa kaki Gemi di bawah aja nggak usah dipangku," usulnya sesaat mobil sudah mulai melaju.
"Gapapa, kalo di bawah nanti makin banyak darahnya. Lagian lu luka karena gue jadi jangan larang gue berusaha ngurangin rasa sakit lu."
***
Gedung putih dengan aroma obat memenuhi indra sang hazel. Langkahnya menyusuri koridor yang berlapiskan marmer. Tangan kanan yang masih memegang paper bag berisi beberapa camilan favorit orang yang akan ia temui, sang hazel terus menatap ke arah depan dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ia berhenti sebelum memilih mengubah langkahnya ke sebuah taman di daerah itu. Bau obat mulai menghilang dari indra penciumannya. Ujung bibirnya tertarik saat melihat sang bidadari duduk dengan pakaian biru muda sedang menatap kosong ke arah air mancur.
"Kamu nggak bawa Pelangi?" Pertanyaan itu lolos dari bibir yang bergetar milik wanita tadi. Sang hazel tersenyum bersamaan dengan embusan napas pelan seraya memberi kode pada suster yang berdiri di belakang wanitanya untuk meninggalkan keduanya.
Sang hazel berlulut, menyejajarkan wajahnya dengan wanita di hadapannya. Ia mengembuskan napas pelan dan mencoba mempertahankan bibirnya agar senyumnya tak luntur.
"Pelangi lagi sibuk, Ma." jawabnya berdusta. Sudah jelas ia tak mengajak gadis itu karena ia masih kesal terhadap apa yang menjadi ulahnya hari ini.
Wanita itu mengembuskan napasnya kasar dan memilih memalingkan wajahnya dari sang hazel. Semilir angin menyapu wajah pucat wanita itu. Membuatnya menggosokkan kedua telapak tangannya. Sang hazel yang menyadarinya segera merangkul wanita itu.
"Balik ke kamar ya, Ma." pintanya yang hanya ditanggapi dengan anggukan. Sang hazel membawa wanita itu menyusuri koridor, mengembalikan sang hazel dengan hal-hal berwarna putih dan bau menyengat yang tak pernah ia sukai.
"Ma, lain kali Nata akan bawa Pelangi," katanya sambil menggenggam tangan wanita di sampingnya. Namun, wanita itu masih tak mau menatap putranya.
"Tapi mungkin bukan Pelangi seperti biasanya," tambahnya. Sukses membuat Dina -Mama Nata- kembali menatap sang hazel.
"Nggak, Mama gak mau Pelangi yang lain. Mama maunya Pelangi yang kayak biasa," nada wanitanya yang kian meninggi menghentikan langkah sang hazel.
"Kenapa nggak lanjut dorong?"
"Mah, Pelangi yang udah-"
"Diem! Kamu diem! Aaaarrrggh," teriak wanita yang sekarang menutup telinganya.
"Bukan dia Nata! Berapa kali Mama perlu bilang sama kamu?" Wanita itu mulai menangis dan berteriak membuat Nata menghirup napas panjang.
"Iya, Ma. Maafin Nata, Mama nggak usah nangis lagi ya," pinta cowo itu seraya mengusap puncak kepala Dina, membuatnya lebih tenang dan mulai berhenti berteriak. Sang hazel melanjutkan langkahnya menyusuri koridor. Tubuhnya berhenti saat berdiri di depan pintu yang sudah sangat ia hafal. Tangannya bergerak memutar kenop dan kembali mendorong kursi roda mamanya.
"Mama jangan nakal ya di sini," pesan sang hazel dengan tawa hangatnya setelah berhasil membaringkan tubuh wanita yang begitu ia cintai itu. Wanita itu mengangguk lemah saat putranya kembali mengusap puncak kepalanya.
"Nata pulang, Ma." pamit sang hazel dan segera keluar dari ruangan putih itu.
"Nak Nata. Nyonya Dina semakin membaik sekarang," kata seorang pria yang sekarang berdiri di hadapan Nata. Sang hazel hanya tersenyum tipis, ia sudah bosan dengan kata-kata itu. Tiap kali ia ke tempat ini pasti selalu itu, tapi apa? Ia tak pernah bisa mendapatkan yang ia inginkan. Bahkan menurutnya, sang Mama masih jauh dari kata sembuh. Ia kembali mengembuskan napas kesal dan memilih melangkahkan kakinya menjauhi tempat itu.
***
"Papa yakin itu bukan darah dari tubuhmu, kan? Apa yang kau lakukan? Hah?" bentak pria tinggi itu di hadapan sang pemilik manik hitam. Gamma menatapnya tajam tapi tak berniat membalas ucapan sang pria.
Sejak kapan kamu belajar melukai orang lain?" lanjutnya. Manik hitam cowok yang sedari tadi hanya diam itu memilih mengalihkan pandangan dari pria di hadapannya dengan sedikit dengkusan. Ia sadar ucapan pria itu benar, ia telah membuat orang lain terluka.
"Atau mungkin Dandi yang mengajarimu seperti itu?" cecarnya dengan senyum kecut membuat sang hitam mengeraskan rahangnya dan berusaha sekuat mungkin agar kepalan tangannya tidak mengenai wajah pria di hadapannya. Ia masih bisa menahan gemuruh di dadanya.
"Anda tidak perlu menyalahkan beliau! Saya tidak sengaja melukai orang lain, bukan seperti Anda yang dengan sengaja! Anda tidak pernah mengajari tapi Anda mempraktikkan!" Pemilik manik hitam itu balas membentak dengan penuh penekanan dan segera berlalu dari hadapan pria itu.
"Gamma!"
Sang manik hitam memacu motornya meninggalkan rumah megah itu. Masih dengan rahang mengeras ia membawa motornya ke sebuah taman yang sekarang sedang sepi. Ia melangkahkan kakinya mendekati sebuah bangku taman. Wajahnya ia tenggelamkan di kedua telapak tangan yang sekarang bertumpu pada lututnya.
"Kenapa harus kayak gini? Gue capek," lirihnya.
Hatinya kalut, ia lelah dengan semua ini. Ia tak paham kenapa harus seperti ini. Ini semua di luar nalarnya. Kenapa harus papanya yang tidak bersalah yang harus menggantikan posisi itu? Kenapa bukan pria tadi saja, yang secara akal masih ada hubungannya? Ia memejamkan matanya, membiarkan sang senja menyinari rahang kokohnya. Embusan napas kesal beberapa kali terdengar.
***