
~Seperti Lyra yang ingin bertemu dengan Altairnya, tapi
tak rela mempertemukannya dengan Vega~
***
“Lama gak ketemu,”
Alfa menatap seseorang yang baru saja menahannya. Ia mendengkus diikuti
senyum kecut menatap siapa yang sekarang berdiri di hadapannya itu. Gadis yang
menggenggam plastik berisi beberapa obat itu tersenyum padanya.
“Itu Gamma?” tanya gadis itu. Alfa mengangguk malas seraya berusaha
meninggalkan gadis itu sebelum namanya kembali dipanggil oleh orang yang sama.
“Dia kenapa?”
“Lu gak usah pura-pura gak tahu,” balas Alfa.
“Sekarang gue ngerti kenapa Papa nyuruh gue ninggalin dia,” celetuk Senja
membuat Alfa memejamkan matanya berusaha tenang.
“Untunglah gue memilih pilihan yang tepat. Salam dari gue, semoga cepet
sembuh,”
“Lu pikir lu siapa? Lu pikir lu berguna buat dia? Gak usah sok peduli lu
sama Gamma! Gue gak butuh lu dateng ke sini cuman buat jelek-jelekin dia! Lu
ngaca jadi cewek ya, sumpah gue bersyukur Gamma putus sama lu!” bentak Alfa
yang sudah tak bisa menahan amarahnya. Gadis itu tersenyum kecut menatap cowok
yang baru saja membentaknya.
“Kenapa lu jadi sewot si? Santuy lah, lagian lu gak bosen ya nungguin dia
berobat mulu kayak orang penyakitan?”
“Ya Tuhan, tutup mulut lu! Lu pikir lu ke sini mau ngapain? Gue gak peduli
lu beli obat buat siapa, tapi gue pastiin siapa yang makan tuh obat
penyakitan!”
Buggh....
“Jaga ya mulut lu!” Sebuah pukulan mengenai pipi kanan Alfa. Ia tertawa
sumbang menatap siapa yang baru saja menjatuhkan pukulan tersebut. Gadis itu
mendekati seseorang yang baru saja memukul Alfa.
“Pertama, lu gak malu sama bar empat di bahu lu itu? Kedua, ajarin cewek lu
sopan santun dan ketiga, jauhin Gamma! Ngerti lu?!” ketus Alfa di hadapan
laki-laki bernama Fajar itu sebelum meninggalkan keduanya.
***
Gadis berambut cokelat itu hanya menggeliat ketika sebuah tangan menarik
selimutnya. Ia kembali menarik selimutnya dan menenggelamkan wajahnya di bawah
bantal empuk yang berada di sampingnya. Seseorang yang tadi menarik selimutnya
berdecak membuat gadis yang masih berbaring itu berdehem.
"Gemi." Panggilan itu tak membuat gadis yang sekarang
masih diam di
posisinya itu ingin bangun. Gemi masih ingin menghabiskan pagi liburnya dengan
tidur, karena dengan tidur ia pikir hatinya yang lelah akan berangsur lebih
baik. Lagi pula ketika ia tidur ia tak akan memikirkan masalahnya untuk
sementara. Namun, seseorang yang berusaha membangunkan pemilik netra abu-abu
itu malah menyibak gorden, membuat sinar matahari menyelusup ke dalam kamar dan
menerpa wajah imut gadis berambut cokelat itu membuatnya mulai membuka mata. Ia
berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya dan mengumpulkan
kesadarannya sebelum orang yang tadi membuatnya terbangun menghampirinya dan
duduk di tepi ranjang.
"Lu mandi temui Gamma sekarang!" Gadis yang baru saja
kesadarannya terkumpul segera bangkit dan terduduk di ranjangnya.
"Ha?"
"Gamma di rumah sakit. Kepalanya cedera," jawab Indah. Gadis yang
baru saja bangun dari tidurnya itu terdiam. Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba
saja Indah datang dan mengatakan hal aneh padanya.
"Gak usah bengong, mandi sekarang. Tarlagi gue ceritain," Gadis
itu tak menjawab dan memilih menurut. Terlalu banyak interpretasi dalam
benaknya hingga ia tak ingin memperpanjang sebuah pikiran dengan kemungkinan
terburuk.
Kini gadis itu sudah duduk di jok samping mobil milik Indah. Ia masih diam,
tak berani berucap. Maniknya menatap Indah yang sedang mengemudikan mobil di
sampingnya. Indah hanya menoleh sejenak memilih fokus pada jalanan yang masih
terbilang ramai. Gemi masih diam dengan tatapan yang menuntut sebuah penjelasan
dari sahabatnya itu, membuat Indah menghela napas.
"Gamma tadi malem dianiaya bokapnya lagi, kepalanya luka. Tadi malem
kepalanya dijahit dan sempet kekurangan darah juga. Tadi pagi dia sadarkan diri
dan dia minta lo temuin dia," jelas Indah tapi gadis itu masih menatap
Indah menunggu penjelasan lain yang menurutnya perlu dijelaskan.
"Alfa deket sama gue selama ini, sorry gue gak cerita. Tadi
malem dia telfon gue," Seakan tau apa yang membuat sahabatnya itu masih
menatapnya, Indah segera saja mengatakan hal itu. Pemilik netra abu-abu itu
mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke depan memilih untuk diam seribu
bahasa.
"Oke gue paham kenapa lu diem. Lu duduk aja dan jangan mikir aneh-aneh
tarlagi sampe," Gemi mengangguk.
Langit yang dihiasi mega menarik perhatiannya. Mengingatkannya ketika
pemilik manik hitam itu menemuinya dengan sebungkus roti dan sekotak susu. Saat
itu ia tak pernah menduga bahwa hal itu adalah rencananya, rencana yang
berhasil membuatnya semakin jatuh dalam lembah tak berdasar. Gemi menghela
napas mengingat ia dan laki-laki itu masih memiliki hubungan, tapi ia sendiri
tidak tahu hubungan yang mana, hubungan antara adik dan kakak walau sebenarnya
mungkin tidak atau hubungan sepasang kekasih. Baginya, itu tidak lah menjadi
penting sekarang.
***
Gemi turun dari mobil ketika Indah berhasil mematikan mesinnya. Ia menatap
Indah yang baru saja turun seakan menunggunya untuk memberi aba-aba apa yang
harus ia lakukan. Gadis itu mengikuti langkah Indah menyusuri koridor dengan
bau obat yang menguar dan membuatnya mual. Indah berhenti di depan cowok yang
sedang duduk di sebelah ruangan yang pintunya tertutup. Gemi masih saja diam
ketika Alfa menyuruhnya memasuki ruangan Gamma hingga Alfa membukakan pintu
Manik hitam Gamma menoleh perlahan menatap gadis yang sekarang terpaku
melihat keadaan cowok yang ada di hadapannya. Langkah kaki gadis itu begitu
pelan mendekati cowok yang terbaring di sana. Sudut bibir laki-laki itu
terangkat, membuat hati Gemi menghangat. Ia ingin memeluk cowok di hadapannya
itu, tapi ia bisa apa sekarang.
"Gue minta maaf," ucap Gamma lirih. Gadis tadi tak menjawab, ia
menjatuhkan dirinya pada sebuah kursi yang berada di samping brankar Gamma.
"Sekarang lu tau kenapa gue pengen banget Papa kembali. Tapi lu juga
tau cara gue salah," lanjutnya. Gadis itu masih diam.
"Lu adik gue,"
"Hah?" tanya gadis itu lirih.
"Gue sayang Papa Dandi, dan Papa sayang sama lu. Itu artinya, lu adik
gue. Gak mungkin gue bales dendam sama lu lagi. Sorry, gue gak tau
selama ini tentang lu, gue cuman lelah sama keadaan gue," lirih Gamma
menatap manik abu-abu gadis yang memilih bungkam itu. Tangan kanan Gemi
bergerak mengusap lebam yang berada pada wajah cowok yang terbaring di
hadapannya itu. Ia menyentuh beberapa luka yang tak terbalut kapas, air matanya
menetes. Ia tak tau kenapa ia menangis sekarang. Bahkan ia sendiri tidak tau
apa yang sedang ia lakukan.
"Gue yang minta maaf, Kak. Gak tau kakak bisa jadi gini,"
"Lu adik gue, lu gak salah."
***
Gadis itu keluar dari ruangan di mana pemilik manik hitam itu dirawat. Sebuah rasa di dalam
sana terasa menguap. Ia menarik lengan sahabatnya yang baru saja ditinggal oleh
Alfa ke ruangan Gamma. Gemi berhenti di sebuah tepi taman rumah sakit dan
memeluk erat sahabatnya itu.
"Gue terbenam, Dah," isaknya masih dalam pelukan Indah. Gadis itu
tak tau kenapa air mata ini begitu mudah meluncur dari pelupuk matanya.
Sahabatnya itu berusaha mengurai pelukan dan membuatnya duduk di bangku taman.
"Dia kakak gue, walaupun bukan kakak kandung tapi gue gak boleh ada
rasa itu, gue terbenam. Selamanya," ucapnya, kini gadis itu sudah lebih
baik dari sebelumnya. Ia menatap Indah sendu, tatapan itu sarat akan kesedihan
membuat yang melihatnya juga ikut merasakan pukulan itu.
"Gem, dengerin gue. Lu tau gak? Alfa banyak cerita sama gue. Bukan
saatnya gue ceritain gimana gue bisa sama Alfa tapi yang perlu lu tau, Gamma
juga suka sama lu. Dia terjebak dalam rencananya. Dia gak nyuruh lu buat
tenggelam, Gem. Jadi buat apa lu nenggelamkan diri?" ucap Indah seraya
merapikan tatanan rambut cokelat Gemi.
"Horizon dia buat gue sudah habis,"
"Apa sesempit itu artian terbit dan terbenam dalam pikiran lu? Bukan
karena lu gak bisa sama Gamma, itu artinya lu harus menghilang dalam
kehidupannya! Dia berusaha kuat buat gak membesarkan perasaan sukanya buat
adiknya sendiri. Dia berusaha menerima semua keadaan. Di saat dia ditinggal
papanya, disakiti orang yang mengaku papanya. Sekarang? Dia harus berusaha kuat
menepis rasa sukanya ke lu. Apa lu gak dukung dia? Gue tau lu juga harus nepis
tapi lu gak boleh hilang dari hidupnya. Setidaknya sayangi dia sebagai kakak
lu," ujar Indah.
“Lu gak bisa jadi bintang circumpolar seperti yang lu mau. Ada
saatnya lu terbit dan menemani mereka yang membutuhkan lu dan ada saatnya pula
lu perlu istirahat biar lu masih bisa jalanin hidup. Lu gak bisa maksain diri
lu. Gue yakin, bintang circumpolar juga ingin merasakan apa itu terbenam
dan bintang yang ngga pernah terbit juga ingin merasakan seperti apa itu
terbit. Gue percaya lu bisa, lu bintang paling hebat yang pernah gue temuin.”
sambung Indah seraya memeluk sahabatnya itu.
***
Gadis dengan netra abu-abu itu memandang kosong ke arah kolam. Kakinya yang
terendam air ia gerak-gerakkan. Ia perlu mengganti rasa di dalam sana secepat
mungkin. Ia tahu tak semudah itu menghilangkan rasa yang sudah lama ada.
Seharusnya ia bisa bersyukur laki-laki itu masih mau menganggapnya adik setelah
semua hal terjadi pada lelaki itu. Helaan napas berat kembali terdengar dari
gadis itu. Ia tersenyum kecut, menertawakan dirinya yang begitu lemah hanya
akan hal ini. Berpikir tentang hati memang tak ada habisnya. Apa salahnya
merelakan rasa cinta hanya untuk kebahagiaan orang yang ia cintai? Itu sama
saja.
"Neng," suara itu membuat gadis yang baru saja menemukan jiwanya
menoleh.
"Kenapa, Bi?" Wajahnya bahkan begitu cepat berubah, seakan
tekadnya sudah begitu besar untuk mengganti rasa itu tanpa harus menghilang
dari horizon laki-laki itu.
"Ada tamu, cari Neng Gemi. Namanya... aduh sapa lupa,"
"Oh, iya Bi makasih." ucapnya segera bangkit dan melangkahkan
kakinya ke halaman depan rumah. Sebelah alisnya terangkat ketika menyadari siapa yang berdiri di depan rumahnya.
"Loh, kok gak masuk?" tanya gadis itu.
"Gak usah, gue cuma mau ajak lu jalan aja."
"Ha? Ke mana? Nyokap lu?"
"Nggak, jalan aja gitu. Mau gak?" Gadis itu sempat terdiam,
mungkin ini cara Tuhan untuk membantunya mengubah rasa itu, tapi apa ya secepat
ini. Ia sempat ragu memilih keputusan mengingat kejadian itu hanya beberapa jam
yang lalu. Jika benar ini salah satu rencana Tuhan, mengapa ia harus menolak.
"Boleh deh, lu tunggu dalem aja. Gue ganti baju dulu," jawab
gadis itu dan membawa laki-laki itu ke ruang tamu.
"Bi Min, tolong buatin minum buat temen Gemi ya, sekalian temenin
ngomong bentar ya. Namanya Fikar, tapi inget jangan diliat lama-lama nanti
kepincut," goda Gemi pada asisten rumah tangganya yang sedang membersihkan
ruang tamu itu.
"Ah, Neng bisa aja."
***