Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 21



~Seperti angka yang selalu menang menarik perhatianku,


tapi kau bukanlah angka itu. Kau terlalu abstrak untuk kupahami, kau bukanlah


angka seperti biasanya karena kau diam, tak acuh, hingga tak bisa dibayangkan,


dan kini kau menghilang, ada, dan menghilang lagi. Seperti bintang yang berkerlip


karena jauhnya~


***


Nata memecah keheningan malam kota Bandung dengan deru mobilnya yang melaju


dengan kecepatan di atas rata-rata. Rasa kantuknya seakan menguap begitu saja.


Mobilnya segera ia belokkan memasuki area yang sudah sepi ini. Ia kembali memecah


keheningan malam dengan derit sepatunya yang terdengar menyebalkan. Angin malam


kota Bandung yang dingin menyapa tubuh Nata, tapi tak membuatnya berhenti


melangkah sedikit pun. Setengah jam yang lalu pihak rumah sakit menghubunginya


dan di sinilah ia sekarang, berdiri di depan pintu yang sangat ia hafal sebelum


memutar kenop dan masuk. Pemandangan di hadapannya seakan menusuknya tanpa


suara, wanita yang sekarang ia hampiri sedang meronta dengan air mata yang


mengalir. Sesuatu di dalam sana terasa remuk. Maniknya tak kuasa menyaksikan


seseorang yang begitu ia cintai terlihat sangat kacau.


Tangan indahnya segera mendekap wanita itu, seakan menyalurkan perasaan


tenang. Wanita yang masih dipegangi oleh kedua orang yang cukup ia kenal itu


masih meronta. Nata mengusap punggung Dina seraya membisikkan bahwa ia berada


di samping wanita itu hingga keadaan wanita tadi berangsur baik. Tangisnya


mulai mereda dan gerakan tubuhnya mulai melemah. Sang hazel membaringkan wanita


itu seraya mengelus puncak kepalanya. Deru napas wanita itu melambat, sang


hazel tersenyum tatkala wanita itu memandangnya.


"Ada Nata di sini, Mama tidur ya." Tak ada jawaban, tapi mata


wanita itu mulai memejam. Sang hazel mengecup kening mamanya lama, seakan ia


sudah lama tak melakukan hal ini. Sebelum ia meninggalkan ruangan itu,


tangannya bergerak menghapus sisa air mata yang berada di wajah wanita


itu.  Kakinya melangkah meninggalkan


ruangan itu. Seseorang berpakaian jas putih langsung menyambutnya di luar


ruangan.


"Bertemu laki-laki itu lagi?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Iya, kami akan menyelidiki siapa laki-laki itu." jawab pria


tadi. Nata hanya menatap malas pria itu. Ia sudah tau siapa yang sudah menemui


Dina. Namun, ia sudah terlalu lelah berkomunikasi dengan pria yang sudah  sepuluh tahun menjaga mamanya itu dan memilih


untuk diam. Selanjutnya, ia akan menyelesaikan semuanya sendiri dan memastikan


wanitanya akan baik-baik saja untuk selanjutnya.


"Jaga mama saya baik-baik! Saya tidak suka melihat mama saya seperti


itu," ucapnya dan segera berlalu.


***


Pemilik manik cokelat yang sedari tadi berkutat dengan laptop di hadapannya


mengembuskan napas pelan setelah berhasil menyelesaikan apa yang menjadi


kewajibannya. Cowok itu mengalihkan pandangannya menatap lapangan yang sekarang


ramai oleh mereka yang tergabung dalam ekstrakurikuler olahraga. Ia tersenyum


kecut mengingat saudara kembarnya tergabung dalam salah satu cabang olahraga di


sana. Ia kembali mengalihkan pandangannya dari jendela di sampingnya saat


ponselnya bergetar. Pemilik manik cokelat itu membaca email yang baru saja ia


terima sekilas sebelum memasukkan benda pipih itu ke saku celananya. Ia beralih


pada laptop di hadapannya dan menutupnya segera sebelum bangkit dan


melangkahkan kakinya menjauhi kelas yang mulai ramai oleh gadis-gadis yang baru


saja datang dengan minuman di tangan mereka.


Fikar menyusuri koridor gedung kelas sepuluh, sapaan dari beberapa gadis


yang sedang duduk di sisi koridor atau sekadar berpapasan dengannya membuat


cowok itu jengah. Tampaknya ia harus mencari tempat lain, tempat yang ia pikir


akan sepi tanpa harus merasa terusik. Perpustakaan tak lagi menjadi tujuannya,


bahkan dari tempatnya berdiri ia melihat banyak siswa yang keluar masuk dari


gedung itu. Sepertinya anak literasi sedang melakukan kegiatan di sana. Ia tak


dapat menyalahkan keadaan yang membuatnya tak nyaman ini karena sebisa mungkin


ia harus bertahan di sini setidaknya hingga ia lulus walau dirinya sendiri tahu


bahwa ijazahnya dari sekolah ini tak akan pernah terpakai lagi.


"Hai," Suara itu tiba-tiba saja hinggap di indra pendengaran


pemilik iris cokelat itu. Namun, ia tak menjawab dan memilih melanjutkan


langkahnya. Sebuah tempat tiba-tiba saja terbesit di benaknya, ia berharap


sekolah ini juga memiliki tempat itu layaknya sekolah menengahnya yang pernah


ia kenyam. Setidaknya ia hanya berusaha ke belakang sekolah untuk menemukan


tempat itu.


"Lu mau ke mana?" Masih suara yang sama dan cowok itu masih saja


mengabaikan gadis yang berjalan di sampingnya itu.


"Fikar," panggil suara itu. Fikar sudah jengah, ia menghentikan


langkahnya ketika ia sampai di tepi lapangan. Ia berbalik dan menghadap ke arah


gadis yang sedari tadi mengajaknya berbicara.


"Gue gak suka cewe kayak lu, dan gue gak bakal nganggep lu ada. Jadi


mending lu tinggalin gue," desis cowok itu membuat gadis yang sedari tadi


mengikutinya itu terpaku mendengar jawaban sang iris cokelat. Hatinya memanas,


seakan ada ribuan bara yang menghantam hatinya secara bersamaan.


"What? Lu gak tau siapa gue? Gue Pelangi, cewe hitz di


sini! Woi!" Gadis itu masih berusaha meneriaki cowok yang sudah


meninggalkannya selepas mengatakan kalimat yang berhasil menyulut amarahnya.


Namun seakan tak mendengar apapun, cowok itu terus melangkahkan kakinya membuat


gadis yang mengaku namanya Pelangi itu berdecak dan mengentakkan kakinya kesal.


Halaman belakang sekolah, ia berhasil menemukan tempat yang baginya tak


akan jauh berbeda dengan sekolahnya, sunyi dan tenang. Maniknya menyapu tempat


itu, hingga ia menemukan seorang gadis yang sekarang duduk di satu-satunya bangku


yang ada di tempat itu. Gadis yang sudah ia kenal sebelumnya. Ia memilih


melanjutkan langkahnya. Seakan tak perlu pamit, ia menjatuhkan diri di bangku


yang sama dengan gadis pemilik netra abu-abu itu membuat gadis tadi bergeser


beberapa senti dari tempat duduk awalnya.


"Tempat umum, kan?" Cowok itu membuka suaranya.


"Ha? Iya," Gadis tadi berusaha mengerti apa yang cowok tadi


bicarakan.


"Perpustakaan penuh sama anak literasi?" tanya gadis yang sedang


ini.


"Iya," balas Fikar. Hanya itu yang mereka bicarakan, mereka


berdua sama-sama tidak pandai membuka sebuah percakapan yang panjang. Bagi


keduanya, sepi adalah temannya dan diam adalah cara berkomunikasi yang baik


tanpa harus khawatir menorehkan luka. Tak lama, gadis berambut cokelat itu


berdiri dan membersihkan roknya.


"Mau ke mana? Kalo lu terganggu, biar gue aja yang pergi."


panggil Fikar.


"Nggak, gue mau ambil tas bentar. Tarlagi pulang tapi gue masih pengen


di sini," ucapnya. Sang cokelat hanya mengangguk mengerti. Ia menoleh


sedikit untuk melihat punggung gadis itu yang mulai menjauh. Pandangannya


kembali beralih pada pohon di hadapannya. Ia menarik napasnya dalam berusaha


menikmati suasana tenang ini.


Sepi, bahkan suara ranting kecil yang patah begitu jelas tertangkap indra


pendengarannya. Ia memejamkan matanya menikmati angin sore yang menerpa


wajahnya. Cowok itu berdiri hingga sebuah tangan mendarat mulus di pipi


kanannya. Ia tersungkur akibat serangan tiba-tiba itu. Maniknya menangkap


seorang laki-laki yang tengah berdiri dengan beringas, seakan amarah sedang


menguasai laki-laki itu. Sebuah pukulan kembali mendarat di pipi kirinya. Setidaknya


sekarang ia lebih siap. Fikar berusaha bangkit, kedua tangannya terkepal. Ia


berusaha keras menahannya agar tidak mengenai laki-laki yang baru saja


melayangkan dua pukulan padanya tanpa alasan yang jelas.


"Maksud lu apa?" Suara milik iris cokelat itu sarat akan


kekesalan, tapi tak menghilangkan kesan dingin dalam ujar tersebut. Namun, yang


ditanya hanya mendengkus dengan senyum kecut tercetak jelas di wajahnya.


Buugh....


"Lu gak usah pura-pura gak tau!" seru sang hazel yang kembali


menjatuhkan pukulan pada laki-laki yang menatapnya tajam itu. Seakan tak


terima, pemilik iris cokelat itu membalasnya dengan pukulan yang tak bisa


dibilang pelan hingga menjadi sebuah alasan hidung sang hazel mengeluarkan


darah. Fikar memang tak pernah suka melawan, tapi ia lebih tidak suka


diperlakukan layaknya penjahat yang tak punya harga diri.


Buggh....


"Lu kan yang nemuin Mama gue sampe Mama ngamuk? Iya?"  Kali ini perut yang menjadi sasaran sang


hazel. Pemilik manik cokelat itu meringis merasakan pukulan dari saudara kembarnya


itu, tapi kini ia telanjur kesal dan jangan salahkan dia untuk apa yang akan


terjadi selanjutnya.


Buugh....


"Gue gak ke sana!" tegasnya sebelum tangannya mengenai rahang


Nata. Cowok itu tersungkur, ia mengusap hidungnya yang masih mengeluarkan darah.


Namun, tak lama ia kembali bangkit dengan tatapan yang jauh penuh kekesalan.


Buuggh....


Buughh....


Pemilik manik hazel itu menjatuhkan pukulannya bertubi-tubi. Nata tak


percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari bibir cowok bernama Fikar itu.


Siapa lagi yang akan menemui mamanya hingga mamanya menjadi seperti kemarin


jika bukan cowok yang sedang ia pukuli habis-habisan itu. Nata kalap, seakan


hal itu bisa membuat semuanya selesai, seakan lukanya hilang setelah melakukan


semua ini. Fikar yang sudah merasakan sakit di seluruh tubuhnya kesulitan untuk


bangkit dan membalikkan posisi. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu


melindungi dirinya sendiri saat ini.


"Nata stop!" Suara itu menginterupsi sang hazel. Tangannya


yang sudah terkepal kini ia urungkan untuk mendarat di pipi kiri pemilik manik


cokelat itu. Ia mendengkus, jika saja suara itu tidak tiba-tiba saja terdengar,


mungkin Nata  benar-benar membuat cowok


di hadapannya itu pingsan. Pemilik manik hazel itu memilih untuk bangkit.


Sambil mengusap darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibirnya, ia


meninggalkan halaman belakang sekolah tanpa menatap gadis yang baru saja


menghentikannya itu sedikit pun.


Gadis tadi menghampiri pemilik manik cokelat itu. Keadaannya begitu kacau,


beberapa memar di wajahnya dan sudut bibirnya sobek. Ia meringis kesakitan


ketika berusaha bangkit. Ia benci disalahkan dan tidak berhasil melindungi


dirinya sendiri, yang malah membuatnya terlihat seperti pengecut.


"Gue anter lu ke rumah sakit sekarang!"


"Gak usah, lu pulang aja. Udah waktunya pulang, gue bisa


sendiri." tolak cowok yang sekarang sudah bisa berdiri tegak itu. Seakan


ia hanya mendapat sedikit pukulan, kakinya melangkah menjauhi halaman belakang


sekolah. Hanya beberapa  langkah dari


tempatnya berdiri, ia berhenti sambil memegang perutnya yang terasa nyeri.


Kakinya bergetar membuatnya kembali terjatuh karena tak bisa menopang tubuhnya.


Ringisan kecil terdengar oleh indra pendengaran gadis dengan netra abu-abu itu.


Ia segera menghampiri cowok yang terduduk di bawah dengan keadaan yang tak bisa


dikatakan baik-baik saja.


"Ngeyel sih! Udah ayok, gue bantu ke parkiran sekarang. Tenang aja,


sekolah mulai sepi, kok." ujar gadis itu berusaha membantu sang iris


cokelat bangkit dan memapahnya.


"Makasih," ucap cowok itu ketika ia sudah duduk di jok penumpang


mobil merah milik gadis tadi.


"Iya. Lu naik mobil ya? Gapapa ya taruh sini dulu. Gue titipin ke


satpam dulu, sekalian sama tas lu gue minta tolong ambilin ke satpam. Lu kelas


apa?"


"10 Ipa 2," cowok itu ingin menolak, tapi ia tak sanggup untuk


banyak bicara. Jadi, ia memilih untuk mengiyakan saja. Hanya sebentar, gadis


itu kembali begitu cepat dan segera masuk ke mobil merah lalu membawanya


melaju.


"Tolong ke rumah sakit Pratama Indah. Jangan yang lain," pinta


cowok itu. Gadis itu melirik sebentar, sebelah alisnya terangkat. Namun, ia


menahan diri untuk tidak bertanya melihat keadaan cowok yang sekarang duduk di


sebelahnya tak bisa dibilang baik-baik saja.


***