
~Seperti angka yang selalu menang menarik perhatianku,
tapi kau bukanlah angka itu. Kau terlalu abstrak untuk kupahami, kau bukanlah
angka seperti biasanya karena kau diam, tak acuh, hingga tak bisa dibayangkan,
dan kini kau menghilang, ada, dan menghilang lagi. Seperti bintang yang berkerlip
karena jauhnya~
***
Nata memecah keheningan malam kota Bandung dengan deru mobilnya yang melaju
dengan kecepatan di atas rata-rata. Rasa kantuknya seakan menguap begitu saja.
Mobilnya segera ia belokkan memasuki area yang sudah sepi ini. Ia kembali memecah
keheningan malam dengan derit sepatunya yang terdengar menyebalkan. Angin malam
kota Bandung yang dingin menyapa tubuh Nata, tapi tak membuatnya berhenti
melangkah sedikit pun. Setengah jam yang lalu pihak rumah sakit menghubunginya
dan di sinilah ia sekarang, berdiri di depan pintu yang sangat ia hafal sebelum
memutar kenop dan masuk. Pemandangan di hadapannya seakan menusuknya tanpa
suara, wanita yang sekarang ia hampiri sedang meronta dengan air mata yang
mengalir. Sesuatu di dalam sana terasa remuk. Maniknya tak kuasa menyaksikan
seseorang yang begitu ia cintai terlihat sangat kacau.
Tangan indahnya segera mendekap wanita itu, seakan menyalurkan perasaan
tenang. Wanita yang masih dipegangi oleh kedua orang yang cukup ia kenal itu
masih meronta. Nata mengusap punggung Dina seraya membisikkan bahwa ia berada
di samping wanita itu hingga keadaan wanita tadi berangsur baik. Tangisnya
mulai mereda dan gerakan tubuhnya mulai melemah. Sang hazel membaringkan wanita
itu seraya mengelus puncak kepalanya. Deru napas wanita itu melambat, sang
hazel tersenyum tatkala wanita itu memandangnya.
"Ada Nata di sini, Mama tidur ya." Tak ada jawaban, tapi mata
wanita itu mulai memejam. Sang hazel mengecup kening mamanya lama, seakan ia
sudah lama tak melakukan hal ini. Sebelum ia meninggalkan ruangan itu,
tangannya bergerak menghapus sisa air mata yang berada di wajah wanita
itu. Kakinya melangkah meninggalkan
ruangan itu. Seseorang berpakaian jas putih langsung menyambutnya di luar
ruangan.
"Bertemu laki-laki itu lagi?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Iya, kami akan menyelidiki siapa laki-laki itu." jawab pria
tadi. Nata hanya menatap malas pria itu. Ia sudah tau siapa yang sudah menemui
Dina. Namun, ia sudah terlalu lelah berkomunikasi dengan pria yang sudah sepuluh tahun menjaga mamanya itu dan memilih
untuk diam. Selanjutnya, ia akan menyelesaikan semuanya sendiri dan memastikan
wanitanya akan baik-baik saja untuk selanjutnya.
"Jaga mama saya baik-baik! Saya tidak suka melihat mama saya seperti
itu," ucapnya dan segera berlalu.
***
Pemilik manik cokelat yang sedari tadi berkutat dengan laptop di hadapannya
mengembuskan napas pelan setelah berhasil menyelesaikan apa yang menjadi
kewajibannya. Cowok itu mengalihkan pandangannya menatap lapangan yang sekarang
ramai oleh mereka yang tergabung dalam ekstrakurikuler olahraga. Ia tersenyum
kecut mengingat saudara kembarnya tergabung dalam salah satu cabang olahraga di
sana. Ia kembali mengalihkan pandangannya dari jendela di sampingnya saat
ponselnya bergetar. Pemilik manik cokelat itu membaca email yang baru saja ia
terima sekilas sebelum memasukkan benda pipih itu ke saku celananya. Ia beralih
pada laptop di hadapannya dan menutupnya segera sebelum bangkit dan
melangkahkan kakinya menjauhi kelas yang mulai ramai oleh gadis-gadis yang baru
saja datang dengan minuman di tangan mereka.
Fikar menyusuri koridor gedung kelas sepuluh, sapaan dari beberapa gadis
yang sedang duduk di sisi koridor atau sekadar berpapasan dengannya membuat
cowok itu jengah. Tampaknya ia harus mencari tempat lain, tempat yang ia pikir
akan sepi tanpa harus merasa terusik. Perpustakaan tak lagi menjadi tujuannya,
bahkan dari tempatnya berdiri ia melihat banyak siswa yang keluar masuk dari
gedung itu. Sepertinya anak literasi sedang melakukan kegiatan di sana. Ia tak
dapat menyalahkan keadaan yang membuatnya tak nyaman ini karena sebisa mungkin
ia harus bertahan di sini setidaknya hingga ia lulus walau dirinya sendiri tahu
bahwa ijazahnya dari sekolah ini tak akan pernah terpakai lagi.
"Hai," Suara itu tiba-tiba saja hinggap di indra pendengaran
pemilik iris cokelat itu. Namun, ia tak menjawab dan memilih melanjutkan
langkahnya. Sebuah tempat tiba-tiba saja terbesit di benaknya, ia berharap
sekolah ini juga memiliki tempat itu layaknya sekolah menengahnya yang pernah
ia kenyam. Setidaknya ia hanya berusaha ke belakang sekolah untuk menemukan
tempat itu.
"Lu mau ke mana?" Masih suara yang sama dan cowok itu masih saja
mengabaikan gadis yang berjalan di sampingnya itu.
"Fikar," panggil suara itu. Fikar sudah jengah, ia menghentikan
langkahnya ketika ia sampai di tepi lapangan. Ia berbalik dan menghadap ke arah
gadis yang sedari tadi mengajaknya berbicara.
"Gue gak suka cewe kayak lu, dan gue gak bakal nganggep lu ada. Jadi
mending lu tinggalin gue," desis cowok itu membuat gadis yang sedari tadi
mengikutinya itu terpaku mendengar jawaban sang iris cokelat. Hatinya memanas,
seakan ada ribuan bara yang menghantam hatinya secara bersamaan.
"What? Lu gak tau siapa gue? Gue Pelangi, cewe hitz di
sini! Woi!" Gadis itu masih berusaha meneriaki cowok yang sudah
meninggalkannya selepas mengatakan kalimat yang berhasil menyulut amarahnya.
Namun seakan tak mendengar apapun, cowok itu terus melangkahkan kakinya membuat
gadis yang mengaku namanya Pelangi itu berdecak dan mengentakkan kakinya kesal.
Halaman belakang sekolah, ia berhasil menemukan tempat yang baginya tak
akan jauh berbeda dengan sekolahnya, sunyi dan tenang. Maniknya menyapu tempat
itu, hingga ia menemukan seorang gadis yang sekarang duduk di satu-satunya bangku
yang ada di tempat itu. Gadis yang sudah ia kenal sebelumnya. Ia memilih
melanjutkan langkahnya. Seakan tak perlu pamit, ia menjatuhkan diri di bangku
yang sama dengan gadis pemilik netra abu-abu itu membuat gadis tadi bergeser
beberapa senti dari tempat duduk awalnya.
"Tempat umum, kan?" Cowok itu membuka suaranya.
"Ha? Iya," Gadis tadi berusaha mengerti apa yang cowok tadi
bicarakan.
"Perpustakaan penuh sama anak literasi?" tanya gadis yang sedang
ini.
"Iya," balas Fikar. Hanya itu yang mereka bicarakan, mereka
berdua sama-sama tidak pandai membuka sebuah percakapan yang panjang. Bagi
keduanya, sepi adalah temannya dan diam adalah cara berkomunikasi yang baik
tanpa harus khawatir menorehkan luka. Tak lama, gadis berambut cokelat itu
berdiri dan membersihkan roknya.
"Mau ke mana? Kalo lu terganggu, biar gue aja yang pergi."
panggil Fikar.
"Nggak, gue mau ambil tas bentar. Tarlagi pulang tapi gue masih pengen
di sini," ucapnya. Sang cokelat hanya mengangguk mengerti. Ia menoleh
sedikit untuk melihat punggung gadis itu yang mulai menjauh. Pandangannya
kembali beralih pada pohon di hadapannya. Ia menarik napasnya dalam berusaha
menikmati suasana tenang ini.
Sepi, bahkan suara ranting kecil yang patah begitu jelas tertangkap indra
pendengarannya. Ia memejamkan matanya menikmati angin sore yang menerpa
wajahnya. Cowok itu berdiri hingga sebuah tangan mendarat mulus di pipi
kanannya. Ia tersungkur akibat serangan tiba-tiba itu. Maniknya menangkap
seorang laki-laki yang tengah berdiri dengan beringas, seakan amarah sedang
menguasai laki-laki itu. Sebuah pukulan kembali mendarat di pipi kirinya. Setidaknya
sekarang ia lebih siap. Fikar berusaha bangkit, kedua tangannya terkepal. Ia
berusaha keras menahannya agar tidak mengenai laki-laki yang baru saja
melayangkan dua pukulan padanya tanpa alasan yang jelas.
"Maksud lu apa?" Suara milik iris cokelat itu sarat akan
kekesalan, tapi tak menghilangkan kesan dingin dalam ujar tersebut. Namun, yang
ditanya hanya mendengkus dengan senyum kecut tercetak jelas di wajahnya.
Buugh....
"Lu gak usah pura-pura gak tau!" seru sang hazel yang kembali
menjatuhkan pukulan pada laki-laki yang menatapnya tajam itu. Seakan tak
terima, pemilik iris cokelat itu membalasnya dengan pukulan yang tak bisa
dibilang pelan hingga menjadi sebuah alasan hidung sang hazel mengeluarkan
darah. Fikar memang tak pernah suka melawan, tapi ia lebih tidak suka
diperlakukan layaknya penjahat yang tak punya harga diri.
Buggh....
"Lu kan yang nemuin Mama gue sampe Mama ngamuk? Iya?" Kali ini perut yang menjadi sasaran sang
hazel. Pemilik manik cokelat itu meringis merasakan pukulan dari saudara kembarnya
itu, tapi kini ia telanjur kesal dan jangan salahkan dia untuk apa yang akan
terjadi selanjutnya.
Buugh....
"Gue gak ke sana!" tegasnya sebelum tangannya mengenai rahang
Nata. Cowok itu tersungkur, ia mengusap hidungnya yang masih mengeluarkan darah.
Namun, tak lama ia kembali bangkit dengan tatapan yang jauh penuh kekesalan.
Buuggh....
Buughh....
Pemilik manik hazel itu menjatuhkan pukulannya bertubi-tubi. Nata tak
percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari bibir cowok bernama Fikar itu.
Siapa lagi yang akan menemui mamanya hingga mamanya menjadi seperti kemarin
jika bukan cowok yang sedang ia pukuli habis-habisan itu. Nata kalap, seakan
hal itu bisa membuat semuanya selesai, seakan lukanya hilang setelah melakukan
semua ini. Fikar yang sudah merasakan sakit di seluruh tubuhnya kesulitan untuk
bangkit dan membalikkan posisi. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu
melindungi dirinya sendiri saat ini.
"Nata stop!" Suara itu menginterupsi sang hazel. Tangannya
yang sudah terkepal kini ia urungkan untuk mendarat di pipi kiri pemilik manik
cokelat itu. Ia mendengkus, jika saja suara itu tidak tiba-tiba saja terdengar,
mungkin Nata benar-benar membuat cowok
di hadapannya itu pingsan. Pemilik manik hazel itu memilih untuk bangkit.
Sambil mengusap darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibirnya, ia
meninggalkan halaman belakang sekolah tanpa menatap gadis yang baru saja
menghentikannya itu sedikit pun.
Gadis tadi menghampiri pemilik manik cokelat itu. Keadaannya begitu kacau,
beberapa memar di wajahnya dan sudut bibirnya sobek. Ia meringis kesakitan
ketika berusaha bangkit. Ia benci disalahkan dan tidak berhasil melindungi
dirinya sendiri, yang malah membuatnya terlihat seperti pengecut.
"Gue anter lu ke rumah sakit sekarang!"
"Gak usah, lu pulang aja. Udah waktunya pulang, gue bisa
sendiri." tolak cowok yang sekarang sudah bisa berdiri tegak itu. Seakan
ia hanya mendapat sedikit pukulan, kakinya melangkah menjauhi halaman belakang
sekolah. Hanya beberapa langkah dari
tempatnya berdiri, ia berhenti sambil memegang perutnya yang terasa nyeri.
Kakinya bergetar membuatnya kembali terjatuh karena tak bisa menopang tubuhnya.
Ringisan kecil terdengar oleh indra pendengaran gadis dengan netra abu-abu itu.
Ia segera menghampiri cowok yang terduduk di bawah dengan keadaan yang tak bisa
dikatakan baik-baik saja.
"Ngeyel sih! Udah ayok, gue bantu ke parkiran sekarang. Tenang aja,
sekolah mulai sepi, kok." ujar gadis itu berusaha membantu sang iris
cokelat bangkit dan memapahnya.
"Makasih," ucap cowok itu ketika ia sudah duduk di jok penumpang
mobil merah milik gadis tadi.
"Iya. Lu naik mobil ya? Gapapa ya taruh sini dulu. Gue titipin ke
satpam dulu, sekalian sama tas lu gue minta tolong ambilin ke satpam. Lu kelas
apa?"
"10 Ipa 2," cowok itu ingin menolak, tapi ia tak sanggup untuk
banyak bicara. Jadi, ia memilih untuk mengiyakan saja. Hanya sebentar, gadis
itu kembali begitu cepat dan segera masuk ke mobil merah lalu membawanya
melaju.
"Tolong ke rumah sakit Pratama Indah. Jangan yang lain," pinta
cowok itu. Gadis itu melirik sebentar, sebelah alisnya terangkat. Namun, ia
menahan diri untuk tidak bertanya melihat keadaan cowok yang sekarang duduk di
sebelahnya tak bisa dibilang baik-baik saja.
***