Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 29



~Akan ada masanya semesta memainkan semuanya~


***


Sang hazel baru bisa kembali menemui mamanya


saat malam yang semakin larut. Ia tak ingin wanita itu melihatnya yang masih


sangat kacau selepas menemui Fikar sore tadi sehingga memilih untuk kembali ke


rumahnya dulu dan membenahi dirinya sebelum menemui Dina. Laki-laki yang


sekarang melangkahkan kakinya menyusuri koridor itu berharap Dina sudah jauh


lebih tenang sekarang. Langkah kakinya yang tegas tapi teratur tiba-tiba saja


berubah cepat ketika melihat pria yang sekarang berdiri menatap ke arah ruangan


Dina dengan suara Dina yang terdengar mengusir pria itu dari dalam ruangan.


Buugh....


"Untuk apa Anda ke sini?!" teriak Nata sesaat pukulannya mendarat


di rahang pria tadi. Laki-laki itu mendorong tubuh tegap pria di hadapannya


agar menjauh dari ruangan Dina.


"Kenapa Anda masih mencoba menemui Mama saya? Masih belum cukup selama


ini? Hah?" pekik Nata tepat di hadapan wajah pria itu.


Ctaaar....


"Tampar saja terus asal Anda tidak pernah muncul di hadapan Mama saya


lagi!" tantangnya dengan napas menderu seraya mengusap pipi kirinya yang


sekarang memerah. Pria itu hanya mendengus mendengar gertakan Nata.


"Pergi dari sini! Saya tidak mau melihat wajah Anda! Pergi!"


teriak Nata membuat pria tadi malah tersenyum kecut sebelum melangkahkan


kakinya menjauhi Nata yang mengeraskan rahangnya.


Pemilik manik hazel itu menatap punggung pria yang mulai menjauhinya. Kedua


tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Laki-laki itu mengembuskan


napasnya kesal seraya memukul dinding yang ada di sampingnya dan segera


melangkah kembali ke ruangan tadi untuk menemui wanita bernama Dina itu seraya


mengusap wajahnya kasar. Sepertinya semesta sedang merencanakan sesuatu yang


baru untuknya.


***


Gadis berambut pirang itu keluar dari sebuah toko roti yang berada di


pinggir jalan. Ia menyunggingkan senyumnya sebelum kembali memasuki taksi yang


masih menunggunya. Tangannya bergerak meletakkan bungkusan yang baru ia beli di


pangkuannya. Masih dengan senyum yang terulas, gadis itu mengalihkan pandangannya


ke jendela yang berada di sampingnya, menatap suasana jalan yang semakin ramai


akibat jam pulang kerja.


Tangan gadis bernama Pelangi itu menyodorkan beberapa lembar uang kepada


sopir di depannya sebelum membuka pintu. Gadis itu turun seraya mengedarkan


pandangannya pada tempat yang sudah cukup lama tidak ia datang itu. sebelumnya


ia tak pernah ke tempat itu sendiri. Pelangi menarik napas pelan sebelum mulai


melangkahkan kakinya memasuki tempat bernuansa putih itu. Ia memamerkan deretan


giginya yang putih seraya berjalan santai menuju sebuah ruangan. Tangannya


bergerak memutar kenop pintu di hadapannya sebelum tangannya ditarik dan


membuatnya berbalik.


“Lu ngapain di sini?!” ketus seseorang yang baru saja menarik tangannya.


“Jengukin tante Dina,” jawabnya masih dengan senyum yang terpatri di


wajahnya membuat laki-laki di hadapannya itu mendengus.


"Gue gak suka lihat lu lagi! Mulai sekarang, gak usah lu deketin Mama


gue lagi atau pun gue! Ngerti lu!" ketus Nata tepat di depan wajah gadis


yang sekarang mendengus seraya menatap Nata tajam.


"Kenapa? Bukannya selama ini lu selalu ngajak gue buat hibur tante


Dina? Udah nemu penggantinya? Ha? Siapa? Gemi Gemi itu? Iya? Cewek lemah kayak


namanya jeli," cecar Pelangi dengan suara yang kian meninggi.


"Jaga mulut lu ya!"


"Apa? Kenapa? Oke! Bener kan, dia lemah! Dia nangis pas lu gak bolehin


dia ngontrol robot! Lemah banget! Gemi aja teros, Fikar sama Gemi, lo sama


Gemi!"


"Lu bisa gak sih diem dan pergi aja dari sini?" Nata mulai


membentak gadis itu.


"Oke! Gue pergi, lagian males banget gue jengukin tante-tante


gila!" tukasnya dengan mata membelalak.


"Lu tuh ya!" Nata hampir saja melayangkan tamparannya andai saja


tak mengingat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang gadis.


"Kenapa? Tampar aja! Kenapa gak berani? Dan perlu lu tau, Papa gue


yang udah bikin mama lu kecelakaan dan gue ikut andil dalam kecelakaan konyol


itu!" akunya dan memilih meninggalkan sang hazel.


Rahang sang hazel mengeras mendengar pengakuan yang baru saja didengarnya


walau sebenarnya cowok itu sudah tau akan semua itu sebelum gadis tadi


mengatakannya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Sayangnya ia tak bisa menuntut


gadis yang terlalu nakal mengganggu ayahnya sendiri ketika mengendarai mobil di


tengah hujan, ditambah wanita yang menjadi korban dalam kecelakaan itu malah


menganggap Pelangi sebagai penolong. Bukan, lebih tepatnya tak ingin mengatakan


bahwa Pelangi lah yang bersalah karena sebenarnya penderita PTSD tidak


melupakan kejadian yang menimpanya. Namun sekarang ia bisa apa? Semua sudah


terjadi semenjak sepuluh tahun lalu, tak ada yang bisa diubah. Helaan napas


panjang terdengar dari cowok itu. Ia memilih melangkahkan kakinya memasuki


ruangan Dina.


"Tadi siapa? Pelangi?" tanya wanita yang sekarang menatap ke arah


sang hazel.


"Iya,"


"Mama denger semuanya. Maafin Mama selama ini maksa kamu untuk sama


dia." Sang hazel hanya tersenyum menatap wanita yang sedang ia dekati itu.


"Jangan pernah bawa dia lagi. Mama tidak suka pada gadis dengan mulut


seperti itu,"


"Iya, Ma. Tak akan pernah.” balas sang hazel dengan senyum tipis yang


terulas di wajahnya.


***


Fikar tersenyum seraya menyalami tangan Vani dan Dandi sebelum melangkahkan


kakinya mendekati mobil hitamnya yang masih terparkir di rumah megah itu.


Laki-laki itu juga tersenyum dan membalas lambai tangannya gadis yang berdiri


di samping Vani. Ia bersyukur orang tua gadis itu pulang lebih cepat dari yang


dijadwalkan membuatnya harus segera membenahi dirinya sendiri, membenahi


kekacauan yang sekarang sedang melandanya.


Laki-laki dengan manik cokelat yang sekarang melajukan mobilnya


meninggalkan rumah Gemi mengembuskan napas menatap ruas jalan yang tidak


terlalu ramai. Ia mengalihkan pandangannya sebentar menatap bulan purnama yang


terlihat begitu terang. Fikar menelan salivanya kembali menatap jalan di


hadapannya sebelum akhirnya berbelok dengan tiba-tiba membuat beberapa


pengendara di belakangnya membunyikan klakson seraya meneriakinya tapi


tampaknya ia tak peduli akan hal itu.


Fikar turun dari mobilnya setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan rapi


dan segera melangkahkan kakinya menuju koridor yang sekarang terlihat lebih


sepi. Udara dingin kota Bandung menyapu wajahnya seakan sedang menyapa. Sempat


ada keraguan dalam hatinya ketika akan membuka daun pintu yang menjadi


penghalang di hadapannya. Namun, mungkin Nata benar, jika Dina merindukannya.


dan membuat wanita yang sedang menatap langit-langit ruangan itu menoleh.


"Fi..kar?" Suara wanita itu bergetar, matanya berkaca-kaca


melihat kehadiran pemilik manik cokelat itu. Ia berusaha untuk duduk sebelum


Fikar mendekat untuk membantunya.


"Ini kamu, Nak?" Suaranya semakin bergetar, tangan wanita itu


bergerak mengelus wajah laki-laki yang sudah berada di hadapannya seraya


membuatnya nyaman dalam posisi duduk. Fikar tak menjawab, ia langsung saja


memeluk wanita yang begitu ia rindukan. Wanita itu segera membalas pelukan


hangat dari putranya.


"Mama kangen sama Fikar,"


"Fikar kangen Mama," lirihnya sebelum mengurai pelukan dan


memilih menangkup wajah wanita itu dan menatap kedua manik matanya.


"Mama benci Fikar?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari


mulutnya.


"Nggak sayang, Mama gak pernah benci kamu. Mama sayang sama


kamu," Air mata kembali lolos dari pelupuk wanita itu, membuat tangan


Fikar bergerak untuk menghapusnya.


"Mama seneng Fikar ke sini?" Dina hanya mengangguk dengan senyum


yang terulas di wajahnya.


"Mama Fikar kenapa gak dibawa?" Pertanyaan itu membuat Fikar


terdiam, ia menunduk. Perasaan kehilangan itu kembali menyeruap seakan ada bau


busuk yang begitu menyengat hingga membuatnya ingin muntah.


"Mama Dewi meninggal," lirihnya sangat pelan membuat Dina hampir


tak mendengarnya.


"Papa Bian juga udah ninggalin Fikar sebelum Mama," ucapnya tapi


diakhiri dengan senyum tipis, membuat wanita yang semenjak tadi berusaha


mendengarnya teriris melihat putranya kehilangan. Dina kembali memeluk


laki-laki itu erat seakan mengirimkan perasaan hangat sebelum maniknya


menangkap seorang pria yang berdiri di luar ruangannya. Wanita itu segera


melepas pelukannya.


"Suruh dia pergi! Pergi! Suruh dia pergi Fikar! Mama gak suka!"


teriak Dina membuat Fikar mengerutkan keningnya. mamanya


terus saja berteriak menyuruh seseorang pergi sambil menutup telinganya.


"Mah, Mamah, siapa yang harus pergi Ma?" tanya Fikar yang mulai


panik, tangannya bergerak memencet tombol untuk memanggil dokter.


"Dia, dia harus pergi! Mama benci dia!" teriaknya sekali lagi


seraya menunjuk ke luar ruangan, Fikar segera mengalihkan pandangan hingga manik


cokelatnya menangkap seorang pria yang sedang berdiri di sana dan segera


berlalu ketika tatapannya bertemu dengan manik cokelat Fikar. Rahang cowok itu


mengeras, seakan rasa yang sudah ia tahan kembali muncul, menyeruap bersama


dengan seluruh ingatan yang membuatnya semakin membenci pria itu. Kenapa ia


harus mengusik wanita ini lagi setelah membuat semuanya hancur?


Fikar kembali memeluk mamanya berusaha membuatnya kembali tenang. Namun, deru


napas Dina masih tak beraturan hingga dokter datang dengan seorang perawat


membuatnya terpaksa mengurai pelukan itu membiarkan dokter menanganinya.


"Mama tenang ya Ma, dia sudah pergi." ucap Fikar seraya mengelus


puncak kepala Dina. Dina masih terlihat kacau, membuat dokter yang masih


berusaha menenangkan pasiennya itu menyuruh perawat yang ikut bersamanya untuk


segera menghubungi Nata. Fikar yang menyadari akan hal itu memilih untuk


melangkah pergi.


***


Fikar mengeraskan rahangnya, ia membenci keadaan ini. Haruskan pria


bajingan itu kembali hadir dalam hidupnya yang sudah kacau? Tampaknya apa yang


sudah Tomi lakukan belum cukup untuk menyiksa orang-orang yang sudah


disakitinya. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu, Fikar hanya tak


tega melihat Dina yang begitu kacau hanya karena kehadirian pria gila itu.


Sebuah mobil hitam yang sedang dikendarai oleh laki-laki dengan manik


cokelat berhenti di depan sebuah rumah yang bahkan masih sangat laki-laki itu


kenal. Rumah di mana pria itu berada semenjak meninggalkan Dina. Fikar membuka


pintu mobilnya dan segera melangkahkan kakinya melangkah memasuki pelataran


rumah megah itu dengan cepat.


"Tomi!" panggilnya dengan nada sarkas. Ia tak peduli status pria


itu yang merupakan ayah kandungnya. Pintu rumah terbuka menampakkan wajah pria


yang begitu ia benci. Tanpa harus menunggu lama, Fikar maju dan menjatuhkan


sebuah pukulan keras mengenai wajah pria tadi membuatnya tersungkur karena tak


siap.


"Hah, balik juga akhirnya!" ucapnya dengan nada meremehkan. Pria


yang melihat kedatangan Fikar ke rumahnya itu hanya tersenyum kecut. Fikar


semakin mendekati pria yang baru saja tersungkur karena pukulannya itu


"Diam! Untuk apa Anda menemui Mama?" teriaknya masih dengan


tangan terkepal hingga membuat buku jarinya memutih.


"Mama? Dia tidak menyukaimu! Dia membencimu!" ucapnya seraya berusaha


berdiri dengan menopang pada sebuah pegangan tangga yang berada tidak terlalu


jauh darinya.


Buugghh....


"Omong kosong!" Satu pukulan kembali mengenai wajah pria tadi.


Namun, sekarang ia tak tersungkur karena lebih siap tapi wajahnya berubah


menjadi marah.


Ctaaar....


"Anak kurang ajar!" Tamparan keras mengenai pipi cowok yang


sekarang sedang mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Luka yang belum


sepenuhnya sembuh akibat pukulan Nata beberapa hari lalu kembali terluka akibat


tamparan yang seakan membuat pipinya mati rasa.


Buughh....


"Saya bukan anak Anda!" ketusnya seraya memukul perut pria tadi.


Pria itu meringis. Namun, tatapannya sekarang lebih kejam dari sebelumnya.


"Aku membenci dirimu! Anak tak berguna!!"


Buughh....


Buughh....


Buughh....


Ctaaar....


Buughh....


Pukulan dan tamparan bertubi-tubi harus pemilik manik cokelat itu terima.


Pria tadi tak memberi jeda Fikar untuk melawan hingga wajah Fikar penuh dengan


lebam dan darah keluar dari hidung, pelipis, dan sudut bibirnya. Tak lupa,


perut Fikar pasti terasa sangat nyeri karena pukulan itu.


Braaaakkk....


"Jangan pernah main-main denganku!" Suara itu terus


terngiang-ngiang di kepala Fikar yang sekarang terasa sangat berdenyut. Tubuh


pemilik manik cokelat itu jatuh tersungkur dengan kepala yang terantuk ujung


tangga hingga darah merembes cukup banyak dari belakang kepalanya. Kepalanya


begitu berdenyut ketika ia mendengar suara langkah kaki yang menjauhinya


sebelum pandangannya tiba-tiba hitam.


***