
~Akan ada masanya semesta memainkan semuanya~
***
Sang hazel baru bisa kembali menemui mamanya
saat malam yang semakin larut. Ia tak ingin wanita itu melihatnya yang masih
sangat kacau selepas menemui Fikar sore tadi sehingga memilih untuk kembali ke
rumahnya dulu dan membenahi dirinya sebelum menemui Dina. Laki-laki yang
sekarang melangkahkan kakinya menyusuri koridor itu berharap Dina sudah jauh
lebih tenang sekarang. Langkah kakinya yang tegas tapi teratur tiba-tiba saja
berubah cepat ketika melihat pria yang sekarang berdiri menatap ke arah ruangan
Dina dengan suara Dina yang terdengar mengusir pria itu dari dalam ruangan.
Buugh....
"Untuk apa Anda ke sini?!" teriak Nata sesaat pukulannya mendarat
di rahang pria tadi. Laki-laki itu mendorong tubuh tegap pria di hadapannya
agar menjauh dari ruangan Dina.
"Kenapa Anda masih mencoba menemui Mama saya? Masih belum cukup selama
ini? Hah?" pekik Nata tepat di hadapan wajah pria itu.
Ctaaar....
"Tampar saja terus asal Anda tidak pernah muncul di hadapan Mama saya
lagi!" tantangnya dengan napas menderu seraya mengusap pipi kirinya yang
sekarang memerah. Pria itu hanya mendengus mendengar gertakan Nata.
"Pergi dari sini! Saya tidak mau melihat wajah Anda! Pergi!"
teriak Nata membuat pria tadi malah tersenyum kecut sebelum melangkahkan
kakinya menjauhi Nata yang mengeraskan rahangnya.
Pemilik manik hazel itu menatap punggung pria yang mulai menjauhinya. Kedua
tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Laki-laki itu mengembuskan
napasnya kesal seraya memukul dinding yang ada di sampingnya dan segera
melangkah kembali ke ruangan tadi untuk menemui wanita bernama Dina itu seraya
mengusap wajahnya kasar. Sepertinya semesta sedang merencanakan sesuatu yang
baru untuknya.
***
Gadis berambut pirang itu keluar dari sebuah toko roti yang berada di
pinggir jalan. Ia menyunggingkan senyumnya sebelum kembali memasuki taksi yang
masih menunggunya. Tangannya bergerak meletakkan bungkusan yang baru ia beli di
pangkuannya. Masih dengan senyum yang terulas, gadis itu mengalihkan pandangannya
ke jendela yang berada di sampingnya, menatap suasana jalan yang semakin ramai
akibat jam pulang kerja.
Tangan gadis bernama Pelangi itu menyodorkan beberapa lembar uang kepada
sopir di depannya sebelum membuka pintu. Gadis itu turun seraya mengedarkan
pandangannya pada tempat yang sudah cukup lama tidak ia datang itu. sebelumnya
ia tak pernah ke tempat itu sendiri. Pelangi menarik napas pelan sebelum mulai
melangkahkan kakinya memasuki tempat bernuansa putih itu. Ia memamerkan deretan
giginya yang putih seraya berjalan santai menuju sebuah ruangan. Tangannya
bergerak memutar kenop pintu di hadapannya sebelum tangannya ditarik dan
membuatnya berbalik.
“Lu ngapain di sini?!” ketus seseorang yang baru saja menarik tangannya.
“Jengukin tante Dina,” jawabnya masih dengan senyum yang terpatri di
wajahnya membuat laki-laki di hadapannya itu mendengus.
"Gue gak suka lihat lu lagi! Mulai sekarang, gak usah lu deketin Mama
gue lagi atau pun gue! Ngerti lu!" ketus Nata tepat di depan wajah gadis
yang sekarang mendengus seraya menatap Nata tajam.
"Kenapa? Bukannya selama ini lu selalu ngajak gue buat hibur tante
Dina? Udah nemu penggantinya? Ha? Siapa? Gemi Gemi itu? Iya? Cewek lemah kayak
namanya jeli," cecar Pelangi dengan suara yang kian meninggi.
"Jaga mulut lu ya!"
"Apa? Kenapa? Oke! Bener kan, dia lemah! Dia nangis pas lu gak bolehin
dia ngontrol robot! Lemah banget! Gemi aja teros, Fikar sama Gemi, lo sama
Gemi!"
"Lu bisa gak sih diem dan pergi aja dari sini?" Nata mulai
membentak gadis itu.
"Oke! Gue pergi, lagian males banget gue jengukin tante-tante
gila!" tukasnya dengan mata membelalak.
"Lu tuh ya!" Nata hampir saja melayangkan tamparannya andai saja
tak mengingat bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang gadis.
"Kenapa? Tampar aja! Kenapa gak berani? Dan perlu lu tau, Papa gue
yang udah bikin mama lu kecelakaan dan gue ikut andil dalam kecelakaan konyol
itu!" akunya dan memilih meninggalkan sang hazel.
Rahang sang hazel mengeras mendengar pengakuan yang baru saja didengarnya
walau sebenarnya cowok itu sudah tau akan semua itu sebelum gadis tadi
mengatakannya. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Sayangnya ia tak bisa menuntut
gadis yang terlalu nakal mengganggu ayahnya sendiri ketika mengendarai mobil di
tengah hujan, ditambah wanita yang menjadi korban dalam kecelakaan itu malah
menganggap Pelangi sebagai penolong. Bukan, lebih tepatnya tak ingin mengatakan
bahwa Pelangi lah yang bersalah karena sebenarnya penderita PTSD tidak
melupakan kejadian yang menimpanya. Namun sekarang ia bisa apa? Semua sudah
terjadi semenjak sepuluh tahun lalu, tak ada yang bisa diubah. Helaan napas
panjang terdengar dari cowok itu. Ia memilih melangkahkan kakinya memasuki
ruangan Dina.
"Tadi siapa? Pelangi?" tanya wanita yang sekarang menatap ke arah
sang hazel.
"Iya,"
"Mama denger semuanya. Maafin Mama selama ini maksa kamu untuk sama
dia." Sang hazel hanya tersenyum menatap wanita yang sedang ia dekati itu.
"Jangan pernah bawa dia lagi. Mama tidak suka pada gadis dengan mulut
seperti itu,"
"Iya, Ma. Tak akan pernah.” balas sang hazel dengan senyum tipis yang
terulas di wajahnya.
***
Fikar tersenyum seraya menyalami tangan Vani dan Dandi sebelum melangkahkan
kakinya mendekati mobil hitamnya yang masih terparkir di rumah megah itu.
Laki-laki itu juga tersenyum dan membalas lambai tangannya gadis yang berdiri
di samping Vani. Ia bersyukur orang tua gadis itu pulang lebih cepat dari yang
dijadwalkan membuatnya harus segera membenahi dirinya sendiri, membenahi
kekacauan yang sekarang sedang melandanya.
Laki-laki dengan manik cokelat yang sekarang melajukan mobilnya
meninggalkan rumah Gemi mengembuskan napas menatap ruas jalan yang tidak
terlalu ramai. Ia mengalihkan pandangannya sebentar menatap bulan purnama yang
terlihat begitu terang. Fikar menelan salivanya kembali menatap jalan di
hadapannya sebelum akhirnya berbelok dengan tiba-tiba membuat beberapa
pengendara di belakangnya membunyikan klakson seraya meneriakinya tapi
tampaknya ia tak peduli akan hal itu.
Fikar turun dari mobilnya setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan rapi
dan segera melangkahkan kakinya menuju koridor yang sekarang terlihat lebih
sepi. Udara dingin kota Bandung menyapu wajahnya seakan sedang menyapa. Sempat
ada keraguan dalam hatinya ketika akan membuka daun pintu yang menjadi
penghalang di hadapannya. Namun, mungkin Nata benar, jika Dina merindukannya.
dan membuat wanita yang sedang menatap langit-langit ruangan itu menoleh.
"Fi..kar?" Suara wanita itu bergetar, matanya berkaca-kaca
melihat kehadiran pemilik manik cokelat itu. Ia berusaha untuk duduk sebelum
Fikar mendekat untuk membantunya.
"Ini kamu, Nak?" Suaranya semakin bergetar, tangan wanita itu
bergerak mengelus wajah laki-laki yang sudah berada di hadapannya seraya
membuatnya nyaman dalam posisi duduk. Fikar tak menjawab, ia langsung saja
memeluk wanita yang begitu ia rindukan. Wanita itu segera membalas pelukan
hangat dari putranya.
"Mama kangen sama Fikar,"
"Fikar kangen Mama," lirihnya sebelum mengurai pelukan dan
memilih menangkup wajah wanita itu dan menatap kedua manik matanya.
"Mama benci Fikar?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari
mulutnya.
"Nggak sayang, Mama gak pernah benci kamu. Mama sayang sama
kamu," Air mata kembali lolos dari pelupuk wanita itu, membuat tangan
Fikar bergerak untuk menghapusnya.
"Mama seneng Fikar ke sini?" Dina hanya mengangguk dengan senyum
yang terulas di wajahnya.
"Mama Fikar kenapa gak dibawa?" Pertanyaan itu membuat Fikar
terdiam, ia menunduk. Perasaan kehilangan itu kembali menyeruap seakan ada bau
busuk yang begitu menyengat hingga membuatnya ingin muntah.
"Mama Dewi meninggal," lirihnya sangat pelan membuat Dina hampir
tak mendengarnya.
"Papa Bian juga udah ninggalin Fikar sebelum Mama," ucapnya tapi
diakhiri dengan senyum tipis, membuat wanita yang semenjak tadi berusaha
mendengarnya teriris melihat putranya kehilangan. Dina kembali memeluk
laki-laki itu erat seakan mengirimkan perasaan hangat sebelum maniknya
menangkap seorang pria yang berdiri di luar ruangannya. Wanita itu segera
melepas pelukannya.
"Suruh dia pergi! Pergi! Suruh dia pergi Fikar! Mama gak suka!"
teriak Dina membuat Fikar mengerutkan keningnya. mamanya
terus saja berteriak menyuruh seseorang pergi sambil menutup telinganya.
"Mah, Mamah, siapa yang harus pergi Ma?" tanya Fikar yang mulai
panik, tangannya bergerak memencet tombol untuk memanggil dokter.
"Dia, dia harus pergi! Mama benci dia!" teriaknya sekali lagi
seraya menunjuk ke luar ruangan, Fikar segera mengalihkan pandangan hingga manik
cokelatnya menangkap seorang pria yang sedang berdiri di sana dan segera
berlalu ketika tatapannya bertemu dengan manik cokelat Fikar. Rahang cowok itu
mengeras, seakan rasa yang sudah ia tahan kembali muncul, menyeruap bersama
dengan seluruh ingatan yang membuatnya semakin membenci pria itu. Kenapa ia
harus mengusik wanita ini lagi setelah membuat semuanya hancur?
Fikar kembali memeluk mamanya berusaha membuatnya kembali tenang. Namun, deru
napas Dina masih tak beraturan hingga dokter datang dengan seorang perawat
membuatnya terpaksa mengurai pelukan itu membiarkan dokter menanganinya.
"Mama tenang ya Ma, dia sudah pergi." ucap Fikar seraya mengelus
puncak kepala Dina. Dina masih terlihat kacau, membuat dokter yang masih
berusaha menenangkan pasiennya itu menyuruh perawat yang ikut bersamanya untuk
segera menghubungi Nata. Fikar yang menyadari akan hal itu memilih untuk
melangkah pergi.
***
Fikar mengeraskan rahangnya, ia membenci keadaan ini. Haruskan pria
bajingan itu kembali hadir dalam hidupnya yang sudah kacau? Tampaknya apa yang
sudah Tomi lakukan belum cukup untuk menyiksa orang-orang yang sudah
disakitinya. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu, Fikar hanya tak
tega melihat Dina yang begitu kacau hanya karena kehadirian pria gila itu.
Sebuah mobil hitam yang sedang dikendarai oleh laki-laki dengan manik
cokelat berhenti di depan sebuah rumah yang bahkan masih sangat laki-laki itu
kenal. Rumah di mana pria itu berada semenjak meninggalkan Dina. Fikar membuka
pintu mobilnya dan segera melangkahkan kakinya melangkah memasuki pelataran
rumah megah itu dengan cepat.
"Tomi!" panggilnya dengan nada sarkas. Ia tak peduli status pria
itu yang merupakan ayah kandungnya. Pintu rumah terbuka menampakkan wajah pria
yang begitu ia benci. Tanpa harus menunggu lama, Fikar maju dan menjatuhkan
sebuah pukulan keras mengenai wajah pria tadi membuatnya tersungkur karena tak
siap.
"Hah, balik juga akhirnya!" ucapnya dengan nada meremehkan. Pria
yang melihat kedatangan Fikar ke rumahnya itu hanya tersenyum kecut. Fikar
semakin mendekati pria yang baru saja tersungkur karena pukulannya itu
"Diam! Untuk apa Anda menemui Mama?" teriaknya masih dengan
tangan terkepal hingga membuat buku jarinya memutih.
"Mama? Dia tidak menyukaimu! Dia membencimu!" ucapnya seraya berusaha
berdiri dengan menopang pada sebuah pegangan tangga yang berada tidak terlalu
jauh darinya.
Buugghh....
"Omong kosong!" Satu pukulan kembali mengenai wajah pria tadi.
Namun, sekarang ia tak tersungkur karena lebih siap tapi wajahnya berubah
menjadi marah.
Ctaaar....
"Anak kurang ajar!" Tamparan keras mengenai pipi cowok yang
sekarang sedang mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Luka yang belum
sepenuhnya sembuh akibat pukulan Nata beberapa hari lalu kembali terluka akibat
tamparan yang seakan membuat pipinya mati rasa.
Buughh....
"Saya bukan anak Anda!" ketusnya seraya memukul perut pria tadi.
Pria itu meringis. Namun, tatapannya sekarang lebih kejam dari sebelumnya.
"Aku membenci dirimu! Anak tak berguna!!"
Buughh....
Buughh....
Buughh....
Ctaaar....
Buughh....
Pukulan dan tamparan bertubi-tubi harus pemilik manik cokelat itu terima.
Pria tadi tak memberi jeda Fikar untuk melawan hingga wajah Fikar penuh dengan
lebam dan darah keluar dari hidung, pelipis, dan sudut bibirnya. Tak lupa,
perut Fikar pasti terasa sangat nyeri karena pukulan itu.
Braaaakkk....
"Jangan pernah main-main denganku!" Suara itu terus
terngiang-ngiang di kepala Fikar yang sekarang terasa sangat berdenyut. Tubuh
pemilik manik cokelat itu jatuh tersungkur dengan kepala yang terantuk ujung
tangga hingga darah merembes cukup banyak dari belakang kepalanya. Kepalanya
begitu berdenyut ketika ia mendengar suara langkah kaki yang menjauhinya
sebelum pandangannya tiba-tiba hitam.
***