Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 28



~If you're looking to be happy in this world, you're in the wrong place. This place is designed to break your heart~


***


Fikar seharusnya sadar bahwa ia sudah memilih untuk masuk ke kandang beruang. Namun, kesadaranya seakan hilang terbawa arus yang juga telah mencuri setengah jiwanya. Jika semesta menyebabkannya seperti ini, maka ia akan mempermudah semuanya seperti yang semesta inginkan. Pemilik manik cokelat itu tetap saja diam menatap laki-laki yang kalap memukulinya.


"Lu tau? Mama gak pernah benci sama lu!"


"Maksud lu?"


"Gue bohong sama lu! Mama bohong sama lu! Kenapa lu bego sih?" Nata mendorong Fikar yang sekarang sudah berhasil duduk, membuat tubuh Fikar mundur.


"Mana ada ibu benci sama anaknya? Mana ada?!" teriak pemilik manik hazel itu sebelum isak darinya terdengar  memenuhi telinga Fikar. Pemilik manik cokelat itu masih mencoba mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar.


"Tomi yang benci lu! Bukan Mama! Tomi  benci anak kembar, apalagi yang lahir duluan! Lu tau kenapa? Karena dia


anak kembar dan dia lahir kedua! Dia dibenci kakaknya karena dia yang bikin nyokapnya sekarat dan akhirnya mati!" teriak Nata bercampur dengan suara tangis yang masih terdengar jelas. Fikar menoleh, ia tercekat  mendengar kenyataan yang baru saja ia tahu.


"Tomi maksa biar lu gak ada di rumah itu, hingga hari kedua dia maksangasi lu ke orang lain dengan ngancem Mama kalo nolak bakal bunuh lu! Mama pura-pura benci sama lu karena itu semua Tomi yang suruh. Tapi apa? Tomi selingkuh! Pria bajingan itu ninggalin Mama setelah bikin Mama hancur, bahkan gue gak dipedulikan lagi!" Nata tidak peduli Fikar menganggapnya lemah karena menangis di hadapan laki-laki itu. Ia juga sudah tidak peduli lagi karena baginya semua sudah berakhir sejak laki-laki itu kembali muncul menemui wanita yang ia cintai. Seakan semuanya tinggal menunggu waktu untuk selesai begitu saja. Ia sudah lelah dengan skenario semesta yang benar-benar membuatnya tenggelam dalam lembah tak berdasar.


"Gue benci sama lu!"


"Lu benci sama gue artinya lu gak ada bedanya sama pria gila itu!" Fikar akhirnya membuka suara.


"Lu pikir gue bahagia selama ini? Bahkan gue dibuang sebelum Mama kasi gue nama! Lu pikir gue bahagia? Iya?" Fikar berhenti sejenak mengambil napas. Sang hazel yang sedaritadi meneriaki Fikar sekarang memilih diam.


"Gue bahagia selama enam tahun, seperti yang lu rasain! Cuman bedanya lu sama keluarga yang udah ngelahirin lu, bukan kayak gue! Jangan pikir bokap gue selalu ada buat gue! Dia sibuk! Lalu ketika gue pindah, lu pikir gue lebih baik di sana? Lu gak pernah tau apa yang gue alami! Papa sakit, Mama sibuk ngurusin Papa sama kerjaan Papa! Gue? Gue terlantar," Fikar berhenti sejenak dan memejamkan matanya, menahan bulir yang baru saja akan lolos dari pelupuknya. Sedangkan Nata, ia diam menatap Fikar. Pemilik manik hazel itu tertampar dengan kenyataan yang seakan menyudutkannya, membuatnya merasa bersalah akan apa yang telah ia lakukan sejak lak-laki itu kembali muncul di hidupnya setelah sempat menghilang.


"Gue gak pulang seminggu, mereka gak cariin gue! Mereka kayak gak punya anak yang namanya Fikar! Gak ada, tapi gue berusaha paham. Tapi hati tetep hati! Gue yang seharusnya benci sama lu! Gue iri di mana lu yang sering


dibelai Mama. Lu pikir gue gak tau? Sedangkan gue? Gue main sendiri di kamar, ada Mama tapi Mama sibuk! Dia gak pernah main sama gue! Dan lu, rambut lu disisir, kening lu dikecup, ketika lu jatuh luka lu diobatin! Gue? Gue


ngelakuin semua sendiri! Gue pura-pura bahagia di depan semua orang!"teriaknya dengan deru napas yang semakin tak teratur.


"Lalu kita pindah, mereka sibuk, bokap gue meninggal setelah sakit lama dan baru kemarin Mama gue meninggal! Ninggalin gue buat selamanya! Gak akan ada lagi orang yang setidaknya pernah ada buat gue, walau cuman


sebentar!" cecarnya dengan suara tangis yang ditahan.


"Lalu dengan alasan apa lagi lu bakal ngelarang gue ketemu wanita yang ngelahirin gue yang bahkan gue belum pernah mendapat sentuhan lembut, kecupan lama, dan senyum dari wanita itu? Dengan alasan apa? Hah?" teriaknya menatap laki-laki yang mengalihkan pandangan berusaha tak membalas tatapan Fikar. Pemilik manik cokelat itu menahan masih mencoba menahan tangisnya seraya mencengkeram rambut hitamnya sebelum bangkit untuk meninggalkan tempat itu. Hari ini semesta telah mempertemukan dua orang yang saling berharap untuk tidak


bertemu lagi.


Laki-laki dengan manik cokelat itu terus melangkahkan kakinya, meninggalkan saudara kembarnya yang sedang meneriaki dirinya sendiri. Ia tahu saudaranya itu sedang kacau kali ini. Namun, ia lebih memilih melangkahkan kakinya menuju pemakaman mamanya yang terletak tak jauh dari sana.


Langkah Fikar tiba-tiba kaku ketika kembali maniknya menatap pusaran mamanya. Ia menahan air matanya agar tak jatuh untuk kesekian kalinya di hadapan mamanya. Namun, kakinya seakan tak ada kekuatan lagi untuk menopang tubuhnya berdiri, ia bersimpuh menatap nisan yang bertuliskan nama Dewi. Ia menelan salivanya dengan susah, ia tercekat mengingat apa yang baru saja terjadi padanya. Sebenarnya ia malu mendatangi mamanya dengan keadaan seperti ini yang mungkin saja membuat mamanya sedih. Sebuah bulir bening kembali lolos dari pelupuk matanya. Ia mengusap bulir bening itu kasar dengan lengan hoodie yang


ia pakai.


***


Pemilik manik abu-abu itu membelokkan arah mobil merahnya memasuki pelataran rumah dengan cat abu-abu cerah itu. Ia melihat mobil Fikar yang masih berada di garasi rumahnya. Gadis itu memarkirkan mobilnya di samping mobil hitam Fikar sebelum memilih segera turun dan berlari agar air hujan tak mengenai tubuhnya, ia tak ingin larut dalam kesedihan lagi karena hujan di saat seperti ini.


"Fikar, lu udah makan belum?" tanya Gemi yang melangkahkan kakinya menuju kamar Fikar yang berada di lantai satu. Ia harap laki-laki itu sudah lebih baik hari ini dan tidak merasa kesepian walaupun dirinya pulang telat karena masih ada tugas kelompok yang harus segera ia selesaikan. Gadis itu berhenti di depan pintu kamar Fikar yang tertutup dan mengetuknya berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Ia mengembuskan napas pelan sebelum memilih


untuk membuka daun pintu yang ternyata tak terkunci itu. Gadis itu masuk dengan hati-hati seraya mengedarkan pandangannya menyapu ruangan dengan nuansa putih itu. Namun, kamar itu kosong.


"Fikar, lu di toilet?" panggil gadis itu. Namun, kembali tak ada jawaban membuat pemilik netra abu-abu itu menyimpulkan bahwa laki-laki itu tak ada di sana. Gadis tadi segera meninggalkan kamar itu dan menyoba menyusuri setiap ruangan di lantai satu hingga menemukan Bang Mamang di  dapur  sedang membantu Bi Min.


"Ada yang liat Fikar gak?" tanyanya, ada nada khawatir di sana.


"Tadi naik taksi Neng, katanya mau cari angin." jawab Bang Mamang sambil menatap anak majikannya itu.


"Dia pasti ke sana." gumamnya seraya menyapu tepi jalan dengan netra abu-abunya. Laju mobilnya memang tidak ia percepat, selain ia sedang mencari keberadaan seseorang ia juga tak ingin kejadian yang menimpa papanya kembali terulang padanya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya seraya terus memperhatikan jalan yang sudah ia lewati. Rintik hujan yang membuat pandangannya tidak leluasa sedikit menyulitkan gadis itu. Hingga manik mata


milik Gemi berhasil menangkap seorang laki-laki yang tengah berjalan di antara derasnya rinai dengan hoodie merah yang terlihat kotor walau sudah terkena air hujan. Gemi menepikan mobil yang ia kendarai di depan laki-laki itu hingga membuat lakinya berhenti.


Gemi segera meraih sebuah payung biru yang terletak di kursi penumpang bagian belakang. Gadis itu segera turun seraya membuka payung yang ada di tangannya agar melindunginya dari hujan. Sang manik cokelat hanya menatap gadis yang mendekatinya.


"Kenapa Lu hujan-hujanan?" tanya Gemi dengan nada yang terdengar khawatir. Ia sedikit menaikkan tangannya agar payung yang tidak terlalu lebar itu juga bisa melindungi Fikar dari rinai yang begitu deras. Cowok itu masih


diam, matanya memerah, gadis itu tahu laki-laki yang ada di depannya itu habis menangis, bahkan sekarang ia masih menangis walau air hujan yang ada di wajahnya menyamarkan hal itu.


Gemi yang tak kunjung mendapat jawaban dari pemilik manik cokelat itu memilih untuk maju dan memeluk laki-laki yang ada di hadapannya dengan sebelah tangan yang masih memegang payung. Laki-laki itu membeku dan entah mengapa pelukan itu terasa hangat baginya. Seakan berhasil membawa terbang rasa gelisah dan bingungnya. Gemi mengurai pelukannya dan menatap laki-laki yang masih tak bergerak barang sesenti pun. Ia mengamit tangan kanan Fikar dan menuntunnya untuk segera masuk ke mobil. Gadis itu langsung melajukan mobilnya setelah


berhasil duduk dengan sempurna di balik kemudi mengingat laki-laki yang duduk di sampingnya itu basah kuyup.


"Gue tarik ucapan gue." Suara laki-laki itu membuat gadis yang sedang mengemudikan mobilnya menoleh sekilas. Fikar masih tetap pada posisinya dengan pandangan lurus ke arah ruas jalan yang sepi karena hujan.


"Ucapan yang mana?"


"Semua orang berhak bahagia," lirih Fikar.


"Semua berhak, Fi." sahut Gemi kembali melirik Fikar yang tetap dalam posisinya.


"Kecuali gue," sanggahnya seraya menghela napas lelah dan mengalihkan pandangannya ke jendela di sampingnya.


"Apa gue berhak bahagia setelah tau gue yang bikin semua hancur? Nata, Mama, dan Papa kandung gue. Gak seharusnya gue dilahirin ke dunia ini," lanjutnya dengan suara yang terdengar parau.


"Fikar, lu gak boleh ngomong gitu!" sahut Gemi cepat sedikit membentak.


"Buat apa? Buat apa, Gem? Bilang ke gue! Buat apa gue hidup kalo gue cuman bikin masalah, kalo gak ada gue mereka bakal baik-baik aja!" cecar laki-laki yang sekarang menatap gadis yang berada di sampingnya itu.


"Nggak, Fikar. Nggak!"


"Kenapa nggak? Kalo gue gak lahir, Mama gak bakal gitu, Papa gak bakal selingkuh, dan Gamma gak harus dapat perlakuan kasar, terutama lu. Lu gak bakal kehilangan Papa lu! Gue penyebab semua ini. Jadi buat apa? Buat apa,


Gem?" Bulir bening jatuh di pelupuk Fikar, membuatnya mengusap kasar air mata yang jatuh tanpa diinginkannya itu. Ia tak ingin terlihat lemah terlebih di hadapan gadis pemilik netra abu-abu itu.


"Gue sudah ikhlas Papa pergi," tukas Gemi cepat.


"Lu ikhlas, tapi gue nyakitin semua orang. Semua yang gue sayang! Papa juga gak bakal rela-relain ke luar negeri pura-pura ngurusin perusahaannya sendiri dan  akhirnya terinfeksi virus itu seandainya gue gak jadi anak mereka dan Mama Dewi gak bakal sakit karena kehilangan Papa. Kenapa? Gue gak berguna! Turunin gue di sini, gue gak mau pulang, semoga hujan buat gue sakit lalu menghilang selamanya!" Gadis yang sedang mengemudikan mobil itu menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Ia terlalu rapuh untuk melihat seorang laki-laki yang ia kenal begitu kuat, sekarang malah rapuh seakan tak punya harapan lagi.


"Turunin gue atau gue loncat!" ancam Fikar membuat gadis tadi segera mengunci semua pintu secara otomatis dan menepikan mobilnya.


"Lu gila ya?" tanyanya menatap laki-laki yang sekarang terlihat semakin kacau itu.


"Iya, gue gila karena seharusnya gue yang gila bukan Mama Dina, biar Nata bisa bahagia. Gue terlalu jahat sama adik gue sendiri. Terlalu jahat bagi kalian semua. Gue gak berhak bahagia," ucapnya di sela isak yang mulai


terdengar kembali.


"Fi, dengerin gue! Semua itu bukan kehendak lu! Tuhan benci semua kata-kata lu barusan! Percayalah, Fi. Skenario Tuhan itu lebih indah dari yang lu kira," ucapnya mulai melembut seraya menepuk pundak laki-laki di sampingnya. Laki-laki tadi menoleh dan menatap gadis tadi dengan matanya yang sembab. Ia memejamkan matanya sejenak seraya menggigit bibir bawahnya karena merasa tak sanggup menatap gadis itu. Fikar terlalu lemah untuk gadis yang masih bertahan setelah apa yang ia alami sejauh ini.


"Mama lu, Papa lu, bahkan semua yang sayang sama lu pasti sedih lihat lu kayak gini. Lu bukan Fikar yang gue kenal. Tolong jangan kayak tadi. Jangan buat seakan-akan semuanya lu yang salah. Lu gitu, gue semakin mikirin


Papa gue. Fikar jangan gitu," ujar Gemi terdengar begitu lembut membuat laki-laki dengan manik cokelat itu membuka matanya seraya mengangguk dan berusaha menarik sudut bibirnya yang masih terasa perih karena darah yang bercampur dengan air hujan belum juga kering.


"Maaf," cicitnya.


"Iya. Kalo lu butuh temen buat curhat bilang aja, Fi. Gue gak bakal bikin lu sendiri,"


***