
~Senja menggores jingga dalam tenggelam biru, menarik sudut manis sang malam. Membuka harapan dalam kelam tak bersudut~
***
Binar bahagia terpancar dari manik abu-abunya. Bibir mungilnya tak henti menyunggingkan gurat bahagia yang terealisasikan melalui sebuah senyum manis. Bahkan, langkahnya terlihat lebih riang. Ia kembali menatap layar ponselnya. Helaan bahagia terdengar begitu netranya kembali membaca deretan aksara yang ada di sana. Degup jantungnya masih belum bisa kembali normal. Padahal, ajakan itu sudah ia setujui sejak tadi malam hanya saja pengirim pesan itu kembali mengingatkan mengenai rencananya, pemilik rambut cokelat itu semakin tak sabar menunggu malam tiba.
"Kak," Panggilan itu membuat langkah bahagia gadis dengan netra abu-abu itu terhenti dan membalikkan badannya, mencari sumber suara yang ia duga memanggilnya. Pandangannya menangkap tubuh milik Nata yang melangkah semakin dekat dengannya.
"Ya?" tanya gadis itu, masih tak bisa menghilangkan gurat bahagia yang terpancar dari wajah manisnya.
"Nanti malem, katanya Kak Iqbal kumpul di lab robot buat tes lagi, sekalian dihias biar menang best design." jelas pemilik manik hazel itu.
"Tumben dadakan gini? Gue gak bisa nanti malem," binar manik abunya memudar.
"Kak Nanda katanya juga gak bisa, Kak. Gimana?" Wajah imut milik Nata tampak menyendu.
"Hem. Gimana ya?" Raut gadis dengan rambut yang dikucir kuda itu tampak sedang mencari titik terang, bibir kiri bagian bawahnya ia gigit dengan taringnya yang tidak terlalu tajam, ditambah alis kiri yang naik sambil memainkan bola matanya, seperti memikirkan sesuatu. Wajah itu berhasil membuat Nata harus menahan napas berkali-kali demi meredakan degup jantungnya yang semakin tak normal. Gadis dengan netra abu-abu itu tetap pada posisinya, membuat sang hazel semakin ingin mencubit pipi gadis itu yang melebihi volume pipi pada umumnya.
"Gimana kalau gini aja, lu gak usah dateng aja nanti. Gue bawa robotnya, gue yang mau cek sendiri fungsinya, perkara design nanti omongin chat aja atau lu buat mpc, Nanda lu gabungin. Ya selesai nggaknya bergantung nanti. Gimana?" Suara itu membuat sang hazel segera menegakkan tubuhnya dan kembali pada alam sadar sepenuhnya. Tak lama, terlihat anggukan.
"Oke. Bisa tolong lu ambilin robotnya? Nanti anter ke parkiran ya, gue kasian sama yang pulang bareng gue. Takut nunggu lama," Nata hanya bisa mengangguk menanggapi perintah dari gadis di hadapannya. Ia melangkahkan kakinya menuju lab robot untuk segera memberikan komponen robot pada gadis yang sudah berhasil membuatnya senam jantung sore ini.
Sang hazel menyusuri lapangan dengan tangan kiri memegang toolbox dan tangan kanan memegang kotak berisi sebuah robot yang siap dicoba. Ia mempercepat langkahnya mengingat gadis tadi masih menunggunya. Pemandangan menyakitkan kembali tersuguhkan di hadapan manik hazelnya. Sebuah tangan yang menepuk puncak kepala gadis yang sekarang memunggunginya membuat sang hazel kembali menghela napas. Ia secepat mungkin sampai di hadapan gadis itu, agar mereka berhenti melalukan hal yang membuat sang hazel semakin kesal.
"Ini Kak, toolbox sama komponen robotnya." Suara itu membuat sang netra abu-abu membalikkan tubuhnya.
"Oh iya, makasih, Dek." balasnya seraya mengambil alih dua benda di tangan kanan dan kiri sang hazel. Tubuhnya kembali ia balikkan menghadap cowok yang sekarang sudah siap dengan motor hitamnya lengkap dengan helm yang sudah terpasang dan menutupi sebagian wajahnya. Tangan cowok itu bergerak mengambil helm di depannya dan memakaikannya pada gadis di sampingnya melihat kedua tangan gadis itu penuh.
"Ayo, naik!"
"Susah," ucap gadis itu menaikkan kedua alisnya, membuat cowok pemilik iris hitam legam itu tersenyum di balik helmnya.
"Lu bisa tolong pegangin satu bentar?" tanya Gamma saat menyadari sang hazel masih berdiri tegar di tempatnya seraya memegang erat tali ranselnya. Nata yang diajak bicara hanya bisa mengangguk dan mengamit toolbox dari tangan kanan gadis pemilik netra abu-abu itu. Gamma mengulurkan tangannya sebagai pegangan saat gadis itu akan naik ke motor. Tepat ketika gadis itu nyaman dengan posisinya, ia berusaha mengambil toolbox dari Nata. Namun, sebuah tangan mengambil alih cepat dan meletakkannya di depan tubuhnya.
"Udah, gue taruk depan aja. Lu pegangan, takut jatuh." Katanya, membuat degup jantung sang netra abu-abu berdetak tak normal. Ia memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam perasaan hangat yang mulai menyelusup ke tiap celah di dalam sana.
"Kakak gak sulit nyetirnya? Itu di atas tangki loh," tanya Gemi yang mulai bisa mengendalikan dirinya.
"Bisa, udah lu pegangan aja,"
Sang hazel memang mulai menjauh dan mendekati mobilnya semenjak toolbox di tangannya diambil oleh Gamma. Namun, netranya masih menatap lekat gadis yang sekarang sedang memeluk kotak berisi komponen robot dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang erat jaket cowok di hadapannya. Deru napas sang hazel terlihat tidak teratur, bahkan terlalu cepat dari kata normal. Rasanya sakit, ia tak tau tepat dari mana sakit itu berasal tapi yang ia tau sakit itu teramat menyiksa hingga membuatnya benar-benar membanting pintu mobil.
***
Gadis yang mengenakan hoodie putih dengan lambang NASA itu berjalan di samping cowok yang sedang menyisir rambutnya dengan tangan karena sedikit berantakan. Tangan gadis itu bergerak mengelupas lapisan kertas yang menempel pada cone ice cream miliknya. Pemilik manik hitam itu berdehem, membuat gadis di sampingnya meliriknya dengan sudut matanya.
"Lu kenapa lebih suka makan bakso kaki lima tadi?" tanya Gamma mencoba membuka pembicaraan.
"Hmm, pertama karena gue suka bakso di sana. Kedua, jualan mereka bersih. Ketiga, menurut gue sih mereka yang jualan di pinggir jalan gitu lebih butuh uang daripada yang udah sampe buka cabang di mana-mana dan yang terakhir buat gue inget sesuatu," ucapnya diakhiri helaan napas sebelum kembali menikmati es krimnya yang tinggal sedikit.
"Btw kita ngapain sih ke sini?" tanya Gemi mengingat ia sedang menaiki tangga yang entah sudah berapa lantai ia pijaki sebelumnya.
"Tenang aja, gue gak bakal macem-macem, kok. Lagian gedung ini cukup terawat."
"Emang ini tempat apa?" tanya gadis itu lagi setelah berhasil menghabiskan es krim cokelatnya. Namun, Gamma memilih untuk diam dan melanjutkan langkahnya membuat Gemi berusaha memahami. Wajah gadis itu begitu terpukau saat Gamma menghentikan langkahnya. Netra abu-abunya menatap sekeliling dengan mulut menganga. Gamma tersenyum menatap wajah gadis yang ikut bersamanya sebelum memilih mendekati kursi yang ada di tepi tempat itu dan membawanya ke tengah. Gemi yang menyaksikan hal itu mengikuti kegiatan Gamma walau sempat dilarang. Keduanya membersihkan debu yang menempel di kursi kayu yang entah sudah berumur berapa tahun itu sebelum mendaratkan bokong pada kursi tersebut. Gadis yang kali ini rambutnya tidak terikat itu masih menatap semua yang ada di sana dengan tatapan takjub.
"Ini dulunya perusahaan mama gue sebelum akhirnya dipindah ke tempat lain dan dia masih jagain gedung ini. Gue tau lu suka langit dan semacamnya makanya gue bawa lu ke sini," jawabnya.
"Nama lengkap Kakak siapa?" tanya Gemi menatap cowok yang duduk di sampingnya itu.
"Gamma Akhtar. Kenapa?"
"Bagus. Kakak tau gak itu artinya apa?" Gamma hanya menggeleng, Gemi tersenyum sebelum maniknya kembali menatap langit cerah di atasnya.
"Keduanya punya arti bintang. Gamma itu dulu juga digunakan untuk menggolongkan bintang yang paling terang ketiga dari sebuah konstelasi," Gamma menatap gadis yang masih lekat menatap pemandangan di hadapannya.
"Nama lengkap lu siapa?"
"Geminorum Artemis,"
"Artemis itu dewi mitologi Yunani yang pandai berburu itu gak si? Maaf sejarah gue jelek," ucapan pemilik iris hitam itu mengalihkan pandangan gadis yang sekarang menatap lekat cowok di sampingnya itu.
"Iya," jawabnya segera mengalihkan pandangannya lagi setelah menghela napas cukup dalam.
"Geminorum apa?" gadis itu tersenyum sebelum membuka bibir merah mudanya.
"Dia nama beberapa bintang di konstelasi Gemini atau bisa juga bahasa latin dari Gemini," Gamma yang melihat rambut gadis di sampingnya itu tertiup angin menggerakkan tangannya menyelipkan rambut cokelat gadis itu ke belakang telinganya, membuat sang pemilik menunduk untuk menyembunyikan rona di pipinya karena wajahnya kini terasa panas.
"Kakak mau tau gak konstelasi Aquilla yang mana?" tanya Gemi berusaha mengalihkan suasana yang mendadak sunyi. Gamma yang ditatap gadis netra abu-abu itu mengangguk sebagai jawaban.
"Kakak liat tiga bintang paling terang yang bisa kakak hubungin di bagian sana?" tanya Gemi dengan telunjuk terarah pada langit. Cowok di sampingnya berusaha mencari apa yang baru saja dikatakan gadis itu.
"O iya iya kelihatan!" seru Gamma kegirangan.
"Nah, sekarang Kakak liat bintang yang di pojok bawah dari segitiga itu. yang paling bawah."
"Oh yang di kanan bawah itu?" tanya Gamma memastikan.
"Yap bener. Sekarang Kakak perhatikan bintang-bintang di sekitarnya. Kakak hubungin sambil kakak bayangin bentuk elang dilihat dari atas," Gamma menyipitkan matanya hingga terjadi hening yang cukup lama.
"Woi iya ketemu. Gila, kok keren gitu ya? Wah gila motor gue keren banget dah namanya," ucap Gamma kegirangan.
"Tadi gue kira rasinya yang segitiga itu. Gue mikir dong, dari mananya yang elang. Ehehehe," ungkap Gamma diakhiri tawa renyah yang membuat Gemi ikut tertular.
"Kakak tau kisah mereka menurut mitologi yunani?"
"Ya ampun orang yunani ya, semua direpresentasikan manusia. Gapaham lagi, tapi boleh deh."
"Ya namanya juga sejarah, Kak. Rada aneh si, tapi yaudah lah ya. Jadi, dulu Altair itu penggembala dan Vega itu anak raja, mereka bertemu dan saling mencintai tapi sayangnya setelah mereka menikah mereka malah malas melakukan pekerjaan mereka. Akhirnya, mereka dihukum dan dipisahkan sama sebuah sungai dan cuma bisa ketemu sekali setahun yaitu malam tanggal tujuh bulan Juli, biasanya munculnya mereka itu menandakan musim panas dimulai. Terus bintang yang satunya lagi, yang di pojok kiri itu namanya Deneb. Dia yang bantuin Vega sama Altair ketemu kalo semisal hujan turun dan sungai meluap di hari mereka bisa bertemu. Deneb yang merupakan bintang paling terang di rasi Cygnus yang bentuknya angsa, membawa Vega terbang menemui Altair. Sebenarnya di antara Vega dan Altair itu ada salah satu lengan bimasakti yang dianggap sungai tadi," kisah Gemi membuat Gamma menelan salivanya sebelum memilih menatap gadis yang masih tersenyum menikmati embusan angin dan suguhan semesta di hadapannya itu. Gemi yang mulai merasa diperhatikan memalingkan pandangannya balik menatap cowok dengan iris hitam itu.
"Kalo gue altairnya, lu mau gak jadi veganya?" setelah hening yang cukup lama, pertanyaan itu membuat Gemi terpaku. Tolong sampaikan pada semesta untuk kembali menormalkan detak jantungnya.
"Tenang aja, gue bukan altair dalam mitologi Yunani," Gemi diam menahan napasnya. Tuhan, kenapa detak jantungnya malah semakin parah? Ia tak ingin mati malam ini juga karena hanya sebuah pertanyaan dari salah satu ciptaan-Mu.
"Ya," sebuah kata yang berhasil membuat Gamma mengulum bibirnya menahan senyum. Kepalanya ia gerak-gerakkan saking bahagianya. Ia mencoba menarik napas panjang dan membuangnya, ia lakukan itu berkali-kali hingga semua kembali normal.
"Btw, lusa gue ikut."