Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 25



~Bersama gravitasi aku mengerti betapa pentingnya waktu bersama


bintang aku mengerti rasanya dicampakkan langit malam~


***


Gadis berambut cokelat itu menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar


ketukan dari pintu kamarnya. Ia masih tetap dalam posisinya saat suara derit


pintu dibuka memenuhi indra pendengarannya. Vani sedang tak ada di rumah dan Bi


Min tidak akan masuk jika belum mendapat jawaban dari dirinya. Gadis itu


menahan napas ketika langkah kaki terdengar mendekati gadis itu. Gemi menoleh


sedikit dan melirik melalui sudut matanya, seseorang tadi berhenti di tepi


ranjang. Suara kasur yang diduduki terdengar jelas di telinga gadis itu karena memang


malam ini terasa sangat sunyi.


"Tolong jangan pergi, Papa mau ngomong." Pinta pria yang tadi


duduk di ranjang Gemi itu. Suara yang terdengar bergetar itu menyelusup ke


dalam indra pendengaran gadis yang sekarang memilih meletakkan pulpennya itu.


Ia diam dan tak berniat untuk pergi, kalau Gamma saja bisa memilih untuk


menyayangi dirinya kenapa dia harus selalu membenci pria yang begitu Gamma


sayangi.


"Papa minta maaf selama ini gak pernah ada buat kamu, Papa punya


alasan." ujar pria itu sebelum berhenti sejenak untuk mengambil napas.


"Papa tau kamu terpukul karena kepergian Radit, dan Papa juga tau kamu


sulit menerima orang lain. Jadi Papa memilih  untuk tidak mengusikmu selama ini. Namun ternyata Papa salah, kamu butuh


kasih sayang itu. Maaf," ujar pria itu membuat gadis tadi memutar kursinya


dan menatap pria yang sedang menunduk dengan pandangan menerawang.


"Kenapa Papa tinggalin Kak Gamma?" Pria tadi mendongak, seakan


tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Air matanya jatuh hanya karena


putrinya memanggilnya papa. Hatinya menghangat karena putrinya mulai menerima


dirinya.


"Makasih, Nak. Kamu sudah mau menerima Papa. Kamu mau tau cerita yang


sebenarnya?" tanya pria itu dengan senyum bahagia yang terulas di


wajahnya. Gadis itu mengangguk cepat membuat pria tadi menghirup udara panjang


untuk mulai bercerita.


"Mama Gamma selingkuh dengan pria lain. Sakit rasanya bagi Papa


mengetahui hal itu. Pria yang ia selingkuhi adalah suami rekan kerja Papa. Papa


dan wanita itu bekerja pada Papamu. Papamu orang yang sangat baik, dia mau


mengurus semua hal tentang permasalahan kami. Papa tidak tau kenapa Papamu


semulia itu. Bahkan di hari persidangan kami, Papamu yang mengantarkan wanita


yang juga mengalami perselingkuhan itu. Yah, kamu tau apa yang terjadi


setelahnya. Ketika dibawa ke rumah sakit, Papamu berpesan agar Papa menikahi


mamamu dan tinggal bersama kalian. Papa tidak bisa menolak akan hal itu karena


Papamu begitu mulia dan Papa juga tidak bisa tetap tinggal dengan mama Gamma


karena ia memilih untuk meninggalkan Papa dan membawa Gamma," jelas Dandi


sedikit terbata-bata saat mengingat setiap potongan kisah yang masih saja


berhasil menyakitinya. Gadis itu diam, ternyata semua ini permintaan papanya.


Apa sekarang papanya marah kepadanya karena selama ini ia berperilaku buruk


pada pria yang sekarang menatapnya? Mengapa semua terasa lebih rumit dari yang


ia pikirkan sebelumnya?


"Pa," panggil gadis itu.


"Gemi minta maaf," cicitnya dan bangkit dari kursi segera memeluk


pria yang duduk di tepi ranjangnya itu. Dandi mengangguk membuat hati keduanya


menghangat, seakan kepingan yang hilang kembali utuh walau tidak sempurna.


***


Gadis berambut pirang itu mengedarkan pandangannya saat berada di depan


kelas Nata. Ia berdecak saat maniknya tak dapat menangkap sosok yang ia cari.


Kakinya ia hentakan seraya berlalu dari tempat itu. Raut kesal gadis itu


berubah ceria seketika maniknya berhasil menemukan keberadaan orang yang sedang


ia cari. Ia segera melangkahkan kakinya mencoba mendekati cowok yang sedang


menyisir rambutnya dengan tangan itu.


"Nat," panggil gadis berambut pirang itu. Namun, yang dipanggil


semakin mempercepat langkahnya.


"Nat, lu mau ke mana?" tanyanya lagi tapi sang hazel masih tidak


menjawab. Gadis itu mulai jengah dan memilih menarik tangan cowok yang sedari


tadi menghiraukannya agar dia berhenti.


"Apaan sih lu!" ketus cowok itu seraya menghempaskan tangan gadis


yang tadi mencekal pergelangan tangannya.


"Lu yang kenapa? Ditanya gak jawab!" Sang hazel memutar bola


matanya malas dan memilih kembali melangkahkan kakinya ke kantin.


"Nat, woy!" Gadis itu masih saja berusaha memanggil sang hazel.


Tepat di dekat pintu menuju kantin, sang hazel memilih berhenti dan menatap


tajam ke arah gadis tadi dalam jarak dekat.


"Lu gak perlu deketin gue lagi! Gue gak akan pernah butuh lu lagi!


Inget itu!" desisnya dan segera meninggalkan gadis tadi yang masih


terpaku. Rahang pemilik rambut pirang itu mengeras, tangannya mengepal hingga


buku jarinya memutih. Fikar, Nata bahkan tak pernah meliriknya. Seakan semesta


membuatnya tak pernah berhak untuk dicintai.


"Gue kurang apa?!" runtuknya sambil memilih meninggalkan wilayah


kantin.


***


Gemi meregangkan tubuhnya ketika bel pulang berdering, tidurnya terasa


lebih nikmat kali ini. Sebuah keuntungan tak banyak mengikuti ekstrakurikuler


membuatnya bisa melakukan apa saja selama dua jam tanpa gangguan. Gadis itu


memilih bangkit dan melangkahkan kakinya menuju toilet untuk sekadar


memperbaiki penampilannya. Ia menatap wajahnya yang terlihat lebih segar, entah


karena baru bangun tidur atau beberapa beban yang selama ini mengganggunya


mulai gugur. Dirasa cukup, ia kembali ke kelasnya dan segera merapikan


barang-barang yang masih tersisa di mejanya. Gadis berambut cokelat itu


menyampirkan ransel biru pada bahunya dengan tangan kanan sedangkan tangan


kirinya merogoh saku roknya untuk mengambil ponsel. Gadis itu terus melangkah


meninggalkan kelasnya seraya memainkan jarinya di atas layar ponsel merah


“Hai,” Sapaan itu membuat gadis tadi menghentikan aktivitas tangannya dan


menoleh menatap cowok yang sekarang berjalan di sampingnya.


“Fikar? Kenapa?” tanya Gemi dengan sebelah alis terangkat. Cowok yang ia


panggil Fikar itu menoleh menatap gadis di sampingnya itu.


“Mau pulang bareng, nggak?” tawarnya membuat Gemi menghentikan langkahnya.


Fikar ikut menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu dengan kening


berkerut.


“Tapi gue gak langsung pulang,” jawab gadis itu seraya memasukkan ponselnya


ke saku.


“Boleh tahu gak ke mana? Kali aja searah,” cowok dengan manik cokelat itu masih


berusaha membujuk Gemi.


“Gue mau jenguk abang gue sih di rumah temennya. Kalo lu mau ikut, ayok.”


ajak Gemi.


“Emang boleh?” tanya Fikar ragu. Gadis itu tersenyum seraya mengangguk


ringan.


“Oke,”


Kedua remaja itu melangkah beriringan menyusuri koridor untuk segera ke


parkiran. Cowok dengan netra cokelat itu menatap gadis yang berjalan di


sampingnya. Ia tersenyum saat melihat gadis itu menyelipkan rambut cokelatnya


ke belakang telinga karena tertiup angin. Fikar berhenti di samping mobil


berwarna hitam, membuat gadis yang sedari tadi melangkah bersamanya ikut


berhenti. Fikar mengizinkan gadis itu untuk masuk.


“Gue bukan taksi, jadi di depan aja.” ucapnya saat melihat gadis dengan


netra abu-abu itu membuka pintu mobil bagian belakang.


“Becanda doang, gak usah sewot.” sindir Gemi di akhiri tawa renyah seraya


berjalan menuju pintu depan bagian kiri mobil itu.


***


Gemi turun dari mobil hitam yang ia tumpangi ketika seseorang membukakan


pintu untuknya. Langkahnya beriringan dengan seorang cowok yang sedang menatap


ke arahnya. Fikar tau siapa yang akan ia kunjungi tapi ia juga tau yang ia


kunjungi tak akan tau siapa dirinya. Kedua insan itu melangkahkan kakinya


ketika wanita paruh baya menyuruh keduanya naik ke lantai dua. Tepat ketika


Fikar akan mengetuk pintu putih itu, seseorang keluar.


"Oh, masuk aja. Gamma di dalem kok," Alfa menyambut keduanya,


gadis dengan netra abu-abu itu memimpin. Gamma yang sedari tadi hanya memainkan


ponselnya kini menatap gadis tadi dengan seulas senyum tipis yang terpatri di


wajah kokohnya.


"Maaf Bang, gue bawa temen gue. Sekalian jenguk Abang," Gamma


melirik cowok yang berdiri di belakang gadis itu dengan kening berkerut.


"Gue Fikar, anak baru di sekolah. Maklum kalo lu belum pernah kenal


gue," ucap cowok itu memperkenalkan diri.


"Oh


pantesan. Ya udah duduk," suruh Gamma.


"Jadi dia ini Abang gue, Fi. Dia mah kayak lu, keseringan muka lebam


gitu," Ucapan gadis tadi sukses membuat pemilik manik hitam itu melirik ke


arah gadis berambut cokelat itu dan mengembuskan napas pelan. Pandangannya


menerawang. Gadis itu sudah mengakui ia sebagai kakak seutuhnya, artinya rasa


yang ada di dalam sana untuk gadis itu memang harus segera tergantikan dengan


rasa sayang terhadap adik, tidak lebih.


"Ya kan, Bang?" Gamma hanya tersenyum tipis mendengar gadis itu


meminta pertanyaan persetujuan darinya.


"Lu siapanya Gemi? Pacar?" Seakan tak ingin ada kabut yang


membuat pemilik manik hitam itu menerka-nerka, langsung saja ia tembak ke arah


pembicaraan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Bukan, temen Bang. Lu udah makan belum?" tanya Gemi dan Gamma


hanya mengiyakan walaupun dari tadi siang ia belum memasukkan sesuatu ke dalam


perutnya. Ia sedang tak ingin memakan sesuatu ketika pikirannya berisi sesuatu


yang menggagunya.


Ruangan itu tiba-tiba saja bernyawa ketika Alfa datang membawa beberapa


makanan ringan dan minuman. Seakan sudah kenal lama, mereka mulai bercanda


bersama. Alfa yang terbilang sulit mengenal orang kini dengan mudahnya merasa


nyaman dengan cowok bernama Fikar itu. Gamma juga seakan lupa akan pikiran


kalutnya, kini ia ikut duduk memainkan permainan yang menurutnya konyol itu. Ia


tak tau semenjak kapan dirinya bisa seperti ini. Begitu lemah dan mudah tertawa


walaupun pikirannya tidak sejalan dengan hal itu.


"Kami pamit dulu ya. Btw gue seneng kenalan sama kalian,"


ujar Fikar sebelum hilang di balik daun pintu untuk menyusul Gemi yang sudah


meninggalkan ruangan itu.


"Fa," panggil pemilik manik hitam itu, suaranya sudah kembali


dingin.


"Hm?"


"Lu bener, gue terjebak. Gue beneran suka sama cewek itu," lirih


Gamma dan seakan tau kalimat sahabatnya itu belum selesai, Alfa masih diam.


"Dia udah bisa anggep gue abangnya, dan dia kayaknya udah ada


pengganti gue." ujarnya lirih diakhiri dengan senyum kecut.


"Yah, kenapa lu jadi melow gini, Bro? Santai kali. Nih ya, gue kasi


tau. Bagus dong kalo dia sudah anggep lu abang, setidaknya lu gak bakal


berharap rasa di dia tetep ada. Gamma, kenapa sih lu kalo udah masalah cewe


selalu aja letoy kayak gini? Giliran kepala dijahit panjang sehari doang di rumah


sakit. Udah lah relain dia, lagian tadi si Fikar juga cakep, baik keknya. Lu


masih punya dia, sebagai adik lu. Ngerti?" Alfa mencoba memberi penjelasan


kepada sahabatnya itu.


"Yah lu temen apa apaan sih kok gue malah diceramahin. Udah sana, gue


mau tidur." sinis pemilik manik hitam itu dan naik ke ranjang sambil


menarik selimut menutupi tubuhnya hingga leher.


"Tidur, biar cepet sembuh tuh hati!"


***