
~Bersama gravitasi aku mengerti betapa pentingnya waktu bersama
bintang aku mengerti rasanya dicampakkan langit malam~
***
Gadis berambut cokelat itu menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar
ketukan dari pintu kamarnya. Ia masih tetap dalam posisinya saat suara derit
pintu dibuka memenuhi indra pendengarannya. Vani sedang tak ada di rumah dan Bi
Min tidak akan masuk jika belum mendapat jawaban dari dirinya. Gadis itu
menahan napas ketika langkah kaki terdengar mendekati gadis itu. Gemi menoleh
sedikit dan melirik melalui sudut matanya, seseorang tadi berhenti di tepi
ranjang. Suara kasur yang diduduki terdengar jelas di telinga gadis itu karena memang
malam ini terasa sangat sunyi.
"Tolong jangan pergi, Papa mau ngomong." Pinta pria yang tadi
duduk di ranjang Gemi itu. Suara yang terdengar bergetar itu menyelusup ke
dalam indra pendengaran gadis yang sekarang memilih meletakkan pulpennya itu.
Ia diam dan tak berniat untuk pergi, kalau Gamma saja bisa memilih untuk
menyayangi dirinya kenapa dia harus selalu membenci pria yang begitu Gamma
sayangi.
"Papa minta maaf selama ini gak pernah ada buat kamu, Papa punya
alasan." ujar pria itu sebelum berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Papa tau kamu terpukul karena kepergian Radit, dan Papa juga tau kamu
sulit menerima orang lain. Jadi Papa memilih untuk tidak mengusikmu selama ini. Namun ternyata Papa salah, kamu butuh
kasih sayang itu. Maaf," ujar pria itu membuat gadis tadi memutar kursinya
dan menatap pria yang sedang menunduk dengan pandangan menerawang.
"Kenapa Papa tinggalin Kak Gamma?" Pria tadi mendongak, seakan
tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Air matanya jatuh hanya karena
putrinya memanggilnya papa. Hatinya menghangat karena putrinya mulai menerima
dirinya.
"Makasih, Nak. Kamu sudah mau menerima Papa. Kamu mau tau cerita yang
sebenarnya?" tanya pria itu dengan senyum bahagia yang terulas di
wajahnya. Gadis itu mengangguk cepat membuat pria tadi menghirup udara panjang
untuk mulai bercerita.
"Mama Gamma selingkuh dengan pria lain. Sakit rasanya bagi Papa
mengetahui hal itu. Pria yang ia selingkuhi adalah suami rekan kerja Papa. Papa
dan wanita itu bekerja pada Papamu. Papamu orang yang sangat baik, dia mau
mengurus semua hal tentang permasalahan kami. Papa tidak tau kenapa Papamu
semulia itu. Bahkan di hari persidangan kami, Papamu yang mengantarkan wanita
yang juga mengalami perselingkuhan itu. Yah, kamu tau apa yang terjadi
setelahnya. Ketika dibawa ke rumah sakit, Papamu berpesan agar Papa menikahi
mamamu dan tinggal bersama kalian. Papa tidak bisa menolak akan hal itu karena
Papamu begitu mulia dan Papa juga tidak bisa tetap tinggal dengan mama Gamma
karena ia memilih untuk meninggalkan Papa dan membawa Gamma," jelas Dandi
sedikit terbata-bata saat mengingat setiap potongan kisah yang masih saja
berhasil menyakitinya. Gadis itu diam, ternyata semua ini permintaan papanya.
Apa sekarang papanya marah kepadanya karena selama ini ia berperilaku buruk
pada pria yang sekarang menatapnya? Mengapa semua terasa lebih rumit dari yang
ia pikirkan sebelumnya?
"Pa," panggil gadis itu.
"Gemi minta maaf," cicitnya dan bangkit dari kursi segera memeluk
pria yang duduk di tepi ranjangnya itu. Dandi mengangguk membuat hati keduanya
menghangat, seakan kepingan yang hilang kembali utuh walau tidak sempurna.
***
Gadis berambut pirang itu mengedarkan pandangannya saat berada di depan
kelas Nata. Ia berdecak saat maniknya tak dapat menangkap sosok yang ia cari.
Kakinya ia hentakan seraya berlalu dari tempat itu. Raut kesal gadis itu
berubah ceria seketika maniknya berhasil menemukan keberadaan orang yang sedang
ia cari. Ia segera melangkahkan kakinya mencoba mendekati cowok yang sedang
menyisir rambutnya dengan tangan itu.
"Nat," panggil gadis berambut pirang itu. Namun, yang dipanggil
semakin mempercepat langkahnya.
"Nat, lu mau ke mana?" tanyanya lagi tapi sang hazel masih tidak
menjawab. Gadis itu mulai jengah dan memilih menarik tangan cowok yang sedari
tadi menghiraukannya agar dia berhenti.
"Apaan sih lu!" ketus cowok itu seraya menghempaskan tangan gadis
yang tadi mencekal pergelangan tangannya.
"Lu yang kenapa? Ditanya gak jawab!" Sang hazel memutar bola
matanya malas dan memilih kembali melangkahkan kakinya ke kantin.
"Nat, woy!" Gadis itu masih saja berusaha memanggil sang hazel.
Tepat di dekat pintu menuju kantin, sang hazel memilih berhenti dan menatap
tajam ke arah gadis tadi dalam jarak dekat.
"Lu gak perlu deketin gue lagi! Gue gak akan pernah butuh lu lagi!
Inget itu!" desisnya dan segera meninggalkan gadis tadi yang masih
terpaku. Rahang pemilik rambut pirang itu mengeras, tangannya mengepal hingga
buku jarinya memutih. Fikar, Nata bahkan tak pernah meliriknya. Seakan semesta
membuatnya tak pernah berhak untuk dicintai.
"Gue kurang apa?!" runtuknya sambil memilih meninggalkan wilayah
kantin.
***
Gemi meregangkan tubuhnya ketika bel pulang berdering, tidurnya terasa
lebih nikmat kali ini. Sebuah keuntungan tak banyak mengikuti ekstrakurikuler
membuatnya bisa melakukan apa saja selama dua jam tanpa gangguan. Gadis itu
memilih bangkit dan melangkahkan kakinya menuju toilet untuk sekadar
memperbaiki penampilannya. Ia menatap wajahnya yang terlihat lebih segar, entah
karena baru bangun tidur atau beberapa beban yang selama ini mengganggunya
mulai gugur. Dirasa cukup, ia kembali ke kelasnya dan segera merapikan
barang-barang yang masih tersisa di mejanya. Gadis berambut cokelat itu
menyampirkan ransel biru pada bahunya dengan tangan kanan sedangkan tangan
kirinya merogoh saku roknya untuk mengambil ponsel. Gadis itu terus melangkah
meninggalkan kelasnya seraya memainkan jarinya di atas layar ponsel merah
“Hai,” Sapaan itu membuat gadis tadi menghentikan aktivitas tangannya dan
menoleh menatap cowok yang sekarang berjalan di sampingnya.
“Fikar? Kenapa?” tanya Gemi dengan sebelah alis terangkat. Cowok yang ia
panggil Fikar itu menoleh menatap gadis di sampingnya itu.
“Mau pulang bareng, nggak?” tawarnya membuat Gemi menghentikan langkahnya.
Fikar ikut menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu dengan kening
berkerut.
“Tapi gue gak langsung pulang,” jawab gadis itu seraya memasukkan ponselnya
ke saku.
“Boleh tahu gak ke mana? Kali aja searah,” cowok dengan manik cokelat itu masih
berusaha membujuk Gemi.
“Gue mau jenguk abang gue sih di rumah temennya. Kalo lu mau ikut, ayok.”
ajak Gemi.
“Emang boleh?” tanya Fikar ragu. Gadis itu tersenyum seraya mengangguk
ringan.
“Oke,”
Kedua remaja itu melangkah beriringan menyusuri koridor untuk segera ke
parkiran. Cowok dengan netra cokelat itu menatap gadis yang berjalan di
sampingnya. Ia tersenyum saat melihat gadis itu menyelipkan rambut cokelatnya
ke belakang telinga karena tertiup angin. Fikar berhenti di samping mobil
berwarna hitam, membuat gadis yang sedari tadi melangkah bersamanya ikut
berhenti. Fikar mengizinkan gadis itu untuk masuk.
“Gue bukan taksi, jadi di depan aja.” ucapnya saat melihat gadis dengan
netra abu-abu itu membuka pintu mobil bagian belakang.
“Becanda doang, gak usah sewot.” sindir Gemi di akhiri tawa renyah seraya
berjalan menuju pintu depan bagian kiri mobil itu.
***
Gemi turun dari mobil hitam yang ia tumpangi ketika seseorang membukakan
pintu untuknya. Langkahnya beriringan dengan seorang cowok yang sedang menatap
ke arahnya. Fikar tau siapa yang akan ia kunjungi tapi ia juga tau yang ia
kunjungi tak akan tau siapa dirinya. Kedua insan itu melangkahkan kakinya
ketika wanita paruh baya menyuruh keduanya naik ke lantai dua. Tepat ketika
Fikar akan mengetuk pintu putih itu, seseorang keluar.
"Oh, masuk aja. Gamma di dalem kok," Alfa menyambut keduanya,
gadis dengan netra abu-abu itu memimpin. Gamma yang sedari tadi hanya memainkan
ponselnya kini menatap gadis tadi dengan seulas senyum tipis yang terpatri di
wajah kokohnya.
"Maaf Bang, gue bawa temen gue. Sekalian jenguk Abang," Gamma
melirik cowok yang berdiri di belakang gadis itu dengan kening berkerut.
"Gue Fikar, anak baru di sekolah. Maklum kalo lu belum pernah kenal
gue," ucap cowok itu memperkenalkan diri.
"Oh
pantesan. Ya udah duduk," suruh Gamma.
"Jadi dia ini Abang gue, Fi. Dia mah kayak lu, keseringan muka lebam
gitu," Ucapan gadis tadi sukses membuat pemilik manik hitam itu melirik ke
arah gadis berambut cokelat itu dan mengembuskan napas pelan. Pandangannya
menerawang. Gadis itu sudah mengakui ia sebagai kakak seutuhnya, artinya rasa
yang ada di dalam sana untuk gadis itu memang harus segera tergantikan dengan
rasa sayang terhadap adik, tidak lebih.
"Ya kan, Bang?" Gamma hanya tersenyum tipis mendengar gadis itu
meminta pertanyaan persetujuan darinya.
"Lu siapanya Gemi? Pacar?" Seakan tak ingin ada kabut yang
membuat pemilik manik hitam itu menerka-nerka, langsung saja ia tembak ke arah
pembicaraan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Bukan, temen Bang. Lu udah makan belum?" tanya Gemi dan Gamma
hanya mengiyakan walaupun dari tadi siang ia belum memasukkan sesuatu ke dalam
perutnya. Ia sedang tak ingin memakan sesuatu ketika pikirannya berisi sesuatu
yang menggagunya.
Ruangan itu tiba-tiba saja bernyawa ketika Alfa datang membawa beberapa
makanan ringan dan minuman. Seakan sudah kenal lama, mereka mulai bercanda
bersama. Alfa yang terbilang sulit mengenal orang kini dengan mudahnya merasa
nyaman dengan cowok bernama Fikar itu. Gamma juga seakan lupa akan pikiran
kalutnya, kini ia ikut duduk memainkan permainan yang menurutnya konyol itu. Ia
tak tau semenjak kapan dirinya bisa seperti ini. Begitu lemah dan mudah tertawa
walaupun pikirannya tidak sejalan dengan hal itu.
"Kami pamit dulu ya. Btw gue seneng kenalan sama kalian,"
ujar Fikar sebelum hilang di balik daun pintu untuk menyusul Gemi yang sudah
meninggalkan ruangan itu.
"Fa," panggil pemilik manik hitam itu, suaranya sudah kembali
dingin.
"Hm?"
"Lu bener, gue terjebak. Gue beneran suka sama cewek itu," lirih
Gamma dan seakan tau kalimat sahabatnya itu belum selesai, Alfa masih diam.
"Dia udah bisa anggep gue abangnya, dan dia kayaknya udah ada
pengganti gue." ujarnya lirih diakhiri dengan senyum kecut.
"Yah, kenapa lu jadi melow gini, Bro? Santai kali. Nih ya, gue kasi
tau. Bagus dong kalo dia sudah anggep lu abang, setidaknya lu gak bakal
berharap rasa di dia tetep ada. Gamma, kenapa sih lu kalo udah masalah cewe
selalu aja letoy kayak gini? Giliran kepala dijahit panjang sehari doang di rumah
sakit. Udah lah relain dia, lagian tadi si Fikar juga cakep, baik keknya. Lu
masih punya dia, sebagai adik lu. Ngerti?" Alfa mencoba memberi penjelasan
kepada sahabatnya itu.
"Yah lu temen apa apaan sih kok gue malah diceramahin. Udah sana, gue
mau tidur." sinis pemilik manik hitam itu dan naik ke ranjang sambil
menarik selimut menutupi tubuhnya hingga leher.
"Tidur, biar cepet sembuh tuh hati!"
***