Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 27



~Terkadang semesta mengungkap semuanya di saat yang


kurang indah~


***


Gadis berambut cokelat itu menunduk seraya menggigit kuku jarinya karena


gelisah. Ia mendongak sambil menggigit bibir bawahnya berusaha menahan bulir


bening yang sudah berebut untuk jatuh. Gadis yang sekarang berdiri di belakang


laki-laki yang sedang bersimpuh itu mengusap air mata yang ternyata gagal untuk


ia tahan. Pemandangan di depannya begitu mengiris sesuatu di dalam sana. Baru


kemarin ia bercanda dengan wanita yang sekarang pusarannya berada di hadapannya


itu.


"Mama, Mama kenapa ninggalin Fikar? Mama pamitnya dengan bilang Fikar


ganteng ya?" ucap laki-laki yang sekarang semakin erat memeluk nisan yang


ada di hadapannya hingga tanah mengotori bajunya.


“Kalo iya, Fikar nggak akan pernah mau Mama panggil Fikar putra Mama yang


ganteng. Fikar jelek, Ma.” lanjutnya dengan senyum kecut di akhir kalimat.


Gadis tadi ikut jongkok untuk mencoba sekali lagi menenangkan cowok itu. Namun,


Fikar tak ingin bangkit. Ia masih setia menemani mamanya walau para pelayat


sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Banyak orang asing yang tak gadis itu


kenal


Gemi kembali menatap cowok yang masih diam memeluk nisan wanita yang baru


dikenalkan kepadanya itu. Pemilik manik cokelat itu tidak lagi menjatuhkan air


mata, tapi maniknya sarat akan luka.


"Fikar sendiri, Ma. Sekali lagi deh Fikar tanya, Mama kenapa pergi?


Fikar gak mau sendiri lagi." lirihnya.


Gadis dengan manik abu-abu hanya menatap nanar ke arah laki-laki di


sampingnya, dulu ia pernah merasakan  betapa sakitnya ditinggal hingga ia rasa semua di dunia tak berwarna


lagi. Namun, laki-laki di hadapannya itu merasakan arti ditinggal tidak hanya


sekali, membuat gadis itu hanya bisa menepuk punggung laki-laki yang sekarang


terjatuh di atas pusaran mamanya. Ia kembali terisak, rupanya tadi dia hanya


berusaha terlihat baik-baik saja. Bahkan sekarang isak tangisnya itu bisa


membuat orang yang mendengarnya teriris. Gadis itu kembali mengusap air


matanya.


"Fikar, biarin mama lu tenang. Dia sedih lihat Fikar kayak gini,"


pinta Gemi. Laki-laki itu akhirnya melepas nisan yang sedari tadi ia peluk.


Maniknya masih menatap pusaran di hadapannya seraya menahan isak tangis dengan


menggigit bibir bawahnya.


“Lu pernah denger nggak? Katanya, kehilangan lebih dini akan mengurangi


luka yang berlebihan. Gue gatau siapa yang bilang kayak gitu. Gue nggak ngerti


kenapa kalimat itu bisa muncul.” ujarnya setengah terisak seraya menatap Gemi


yang ikut menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya.


“Kehilangan seperti apa yang mengurangi luka, Gem? Kasi tau gue kalo lu


tau. Kasi tau gue.” Gemi masih diam mendengar rentetan kalimat itu.


“Kehilangan kewarasan mungkin ya?”


“Fikar!” tegur Gemi berusaha menyadarkan.


Pemilik manik cokelat itu menarik napas dalam dan membalikkan tubuhnya


menghadap pusaran yang berada tepat di samping makam mamanya. Cowok itu menelan


salivanya seraya mengusap nisan yang di depannya itu. Matanya kembali memejam


dan tangan kanannya yang meremas dada kirinya. Gadis yang menatap apa yang baru


saja dilakukan cowok di sampingnya itu menutup mulutnya dengan tangan berusaha


meredam suara tangisnya. Gemi mengalihkan pandangannya saat Fikar memukul-mukul


dadanya yang terasa sesak. Gadis itu tak bisa menyaksikan pemandangan yang


mengiris hatinya.


“Halo Pah, sudah ketemu Mama belum? Bilang yah sama Mama, di sini Fikar


baik-baik saja.” lirihnya tapi masih bisa terdengar oleh gadis di sampingnya


yang masih tak mau menatapnya itu.


“Fikar baik, Pah sampe Fikar sendiri masih bisa ketawa di hari pemakaman


Mama. Hahaha,” katanya dengan tawa sumbang di akhir kalimat.


“Mama sama Papa tenang ya di sana. Sudah Bahagia, kan bisa ketemu? Smeoga


suatu saat nanti Fikar bisa nyusul dan kita bahagia bareng di sana.”


“Fikar udah,” bujuk Gemi.


“Pah, titip salam buat Mama. Fikar sayang Mama,” ucapnya sebelum mencium


nisan di hadapannya.


Fikar berbalik kembali menghadap makam dengan nisan bertuliskan nama Dewi


itu membuat Gemi kembali menghadapnya. Laki-laki itu menghela napas panjang


sebelum sebuah senyum tipis terbit di wajahnya. Bibirnya masih terlihat


bergetar untuk menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan itu. Semesta sudah


berhasil mengobrak-abrik kehidupannya, berhasil membuatnya kembali kehilangan,


berhasil membuatnya sendiri di dunia ini. Kebahagiaan itu memang hanya ilusi


yang tak akan pernah menjadi nyata dalam hidupnya dan seharusnya ia sadar itu


dari awal. Rasanya sesak diapit dua tempat peristirahatan terakhir orang-orang


yang sangat ia cintai. Fikar masih diam dengan tatapan kosong hingga sebuah


tangan memeluknya dari samping.


“Kebahagian itu cuman ilusi,” lirihnya.


***


Pemilik netra abu-abu itu menatap laki-laki yang sedang mencoba fokus


mengendarai mobil. Gemi sudah menawarkan agar dirinya saja yang mengemudikan


mobil, tapi laki-laki itu menolak. Dengan wajah yang masih sembab, ia menatap


lurus ke depan. Gadis dengan rambut cokelat itu sudah mendengar helaan napas lelah


dari Fikar entah sudah keberapa kalinya.


"Gue langsung cabut," ucapnya setelah menepikan mobil hitam itu


di depan rumah bercat abu-abu cerah.


"Hmm, Mama mau ketemu sama lu." balas gadis itu belum berniat


turun. Memang, Vani mulai mengenal Fikar semenjak Fikar mengantar gadis


berambut cokelat itu pulang setelah mengajaknya jalan. Tadi pagi mamanya tak


bisa ikut dalam pengurusan jenazah, ia hanya berpesan agar Fikar bisa


menemuinya setelah mengantar gadis itu.


Laki-laki itu menurut, ia tak ingin banyak berdebat. Akhirnya ia memarkir


mobilnya di halaman rumah megah itu. Langkahnya masih terlihat tegap, begitu


kontras dengan keadaannya yang sangat kacau. Ia mencoba tersenyum ketika pintu


dibuka dan memperlihatkan Vani yang sedang menyambut mereka. Wanita paruh baya


itu membawa Fikar dan putrinya ke ruang tamu dan lagi-lagi cowok itu memilih


untuk menurut saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Gemi melirik Fikar


sekilas, ia benar-benar merasakan perbedaan dalam diam cowok itu. Seakan


separuh jiwanya masih tertinggal di tempat tadi membuat Gemi memejamkan mata


sejenak seraya mengembuskan napas pelan.


"Tante turut berduka atas kepergian Mama kamu ya," ucap wanita


yang sekarang duduk di hadapan laki-laki yang diam dan memilih menatap kedua


ujung sepatunya itu, laki-laki itu hanya tersenyum sebagai respons.


"Fikar tinggal di sini dulu ya sementara waktu?" pinta Vani yang


berhasil membuat Fikar mendongak dan mengangkat sebelah alisnya.


"Fikar biasa tinggal sendiri kok, Tan." jawabnya menolak dengan


"Iya, tapi tante khawatir. Kamu sekarang sendiri. Lagipula tujuan


tante bukan hanya itu. Tante mau minta tolong kamu temenin Gemi di sini, tante


masih ada urusan di luar sama Om, jadi sekitar beberapa hari tante ninggalin


dia sendiri, cuman sama Bi Min dan Bang Mamang. Fikar mau? Maaf kalau


sebelumnya membuat Fikar merasa terbebani." ujar Vani.   Gadis yang duduk di sebelah Fikar itu


menoleh ke arah laki-laki yang masih diam itu, ia tau mamanya hanya beralibi.


Gadis itu terlalu sering tinggal di rumah sendiri, tapi mereka sudah sepakat


akan keputusan ini sebelum Gemi pergi ke rumah Fikar tadi pagi, ia juga tak


ingin membiarkan Fikar hidup sendiri setelah satu-satunya orang terdekatnya


pergi meninggalkan laki-laki itu. Fikar menghela napas, ia menatap gadis


pemilik manik abu-abu yang ada di sampingnya lalu beralih menatap Vani di


hadapannya.


"Iya, Tante. Tante hati-hati ya," jawabnya. Baginya, cukup ia


yang merasakan kesepian yang mendalam bukan orang lain.


***


Hari ini Fikar masih tak siap untuk sekolah, ia memandang jam yang ada di


nakas kamar itu. Satu jam lagi bel sekolahnya berbunyi menandakan pelajaran


telah usai. Ia memilih mengenakan hoodie yang tergantung di balik pintu di


hadapannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu.


"Aa’ Fikar mau ke mana?" tanya Bang Mamang sebelum Fikar


membuka gerbang, ia tak berniat mengendarai mobilnya. Ia masih kalut akan


kejadian kemarin, takut-takut malah membahayakannya dan ia masih sadar untuk


tidak membuat orang lain semakin khawatir terhadapnya.


"Cari angin, Bang." balasnya diakhiri senyum terpaksa dan hanya


mendapat anggukan dari pria yang tadi sempat bertanya padanya. Tangannya


bergerak membuka gerbang di hadapannya. Di depan gerbang ia segera menghentikan


taksi dan duduk di jok belakang untuk penumpang. Sepanjang perjalanan ia hanya


menatap jendela yang ada di sampingnya.


Taksi itu berhenti di depan sebuah gedung putih. Fikar turun dan


melangkahkan kakinya memasuki area itu. Namun, ia hanya berdiri di tepi taman


ketika maniknya menangkap seorang wanita yang sedang menatap sekeliling taman.


Ia hendak mendekati wanita itu, tapi semua urung mengingat akan semua yang


terjadi padanya. Hingga akhirnya wanita tadi yang menoleh ke arah Fikar. Cowok


itu masih diam, tak tau apa wanita tadi mengenalnya atau tidak. Jarak mereka


yang tak terlalu jauh, mungkin saja wanita itu melihatnya dengan jelas.


"Fikar!!!" teriak wanita tadi, Fikar masih diam, ternyata wanita


itu mengenalnya. Namun, sedetik kemudian Fikar memilih melangkahkan kakinya


meninggalkan tempat itu, membuat wanita tadi semakin keras memanggilnya.


"Fikar tunggu Mama, Nak!" Wanita itu berusaha mendekati laki-laki


yang sekarang meninggalkannya. Air mata keduanya lolos begitu saja, baik Fikar


maupun wanita itu. Fikar tercekat ketika wanita tadi memanggilnya dengan


panggilan 'nak'. Ingin sekali laki-laki itu berbalik dan memeluk wanita yang


mengejarnya itu tapi Fikar tak ingin lebih lama di sini karena itu sama saja


dengan merobek hatinya sendiri. Ia semakin mempercepat langkahnya membuat


wanita itu berhenti karena tak bisa mengejar laki-laki tadi.


Dina menangis, ia bersimpuh di lantai rumah sakit membuat beberapa pasien


yang kejiwaannya terganggu menatapnya nanar. Wanita itu dibantu untuk kembali


ke ruangannya. Perawat yang membawanya berusaha menenangkannya hingga sang


hazel tiba-tiba datang.


"Lah, Mama kenapa, Mbak?" tanyanya kepada wanita yang masih


berusaha menenangkan Dina yang sedang menangis itu.


"Mama kangen Fikar," tangis wanita yang sekarang memeluk sang


hazel. Hati sang hazel mencelos, apa yang mamanya tadi katakan? Fikar?


"Mama kangen Fikar. Tadi dia ke sini tapi pergi lagi," ucap


wanita itu di sela isak tangisnya. Sang hazel diam sejenak sebelum memilih


mengurai pelukannya.


"Mbak, jaga Mama!" ucap sang hazel dengan wajah yang terlihat


berbeda. Ia keluar dan memilih melangkahkan kakinya menuju parkiran, ia memukul


tembok parkiran hingga buku-buku jarinya berdarah.


"Aaargggh," teriaknya, deru napasnya begitu kencang. Ia memasuki


mobil hitam dan segera melajukannya.


"Pak, liat orang ini ke mana gak tadi?" tanyanya pada seorang


satpam seraya menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


"Oh, tadi jalan kaki ke kiri, Mas." Tanpa merespons ucapan pria


tadi, ia segera melajukan mobilnya keluar gedung menuju arah kiri. Lajunya


tidak ia percepat, berusaha untuk tidak kehilangan sesuatu yang sedang dicarinya


hingga maniknya menangkap seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah bangku


taman yang sepi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menepikan


mobilnya dan segera turun untuk menghampiri laki-laki itu.


"Ekhem," Nata berdehem, membuat laki-laki yang duduk itu mendongak malas.


"Lu mau apa ketemu Mama gue?" tanyanya sambil menarik kerah


kemeja yang Fikar pakai hingga Fikar memilih berdiri.


Buugggh....


Sebuah pukulan mendarat di pipi kiri pemilik manik cokelat itu, tapi ia


hanya diam tak berniat melawan dan hanya menatap laki-laki yang memukulnya


dengan sudut matanya.


"Jawab! Kenapa lu temuin Mama gue!" desak Nata seraya mendorong


laki-laki di hadapannya hingga tersungkur, tapi laki-laki tadi tak berniat


untuk bangkit. Bagi Nata seakan dengan menyakiti semua menjadi terbayarkan, ia


tak peduli siapa yang sedang ia pukuli itu. Baginya, orang yang sudah mengusik


hidupnya tidak pantas mendapat perlakuan baik darinya.


Buugh....


Ctaaar....


Buugh....


Buugh....


"Kenapa lu temuin mama gue?" Suara itu berubah menjadi parau dan


diakhiri dengan tangis. Fikar meringis di samping laki-laki yang tadi


memukulnya tanpa jeda itu hanya menatap Nata yang mulai menangis dan


memukul-mukul tanah.


"Kenapa? Jawab!" teriaknya seraya menggoyang goyangkan tubuh


Fikar yang masih pada posisinya. Fikar semakin meringis merasakan sakit yang


mulai mendera tubuhnya.


"Gue udah sama mama selama ini! Bahkan sepuluh tahun lu gak ada di hidup mama,


lu masih bisa bikin kangen dia! Gue benci sama lu!" cecar Nata. Fikar


masih memilih untuk diam.


"Lu tau? Mama gak pernah benci sama lu!" teriaknya.


"Maksud lu?" tanya Fikar seraya mengusap sudut bibirnya yang


berdarah.


***