
~Terkadang semesta mengungkap semuanya di saat yang
kurang indah~
***
Gadis berambut cokelat itu menunduk seraya menggigit kuku jarinya karena
gelisah. Ia mendongak sambil menggigit bibir bawahnya berusaha menahan bulir
bening yang sudah berebut untuk jatuh. Gadis yang sekarang berdiri di belakang
laki-laki yang sedang bersimpuh itu mengusap air mata yang ternyata gagal untuk
ia tahan. Pemandangan di depannya begitu mengiris sesuatu di dalam sana. Baru
kemarin ia bercanda dengan wanita yang sekarang pusarannya berada di hadapannya
itu.
"Mama, Mama kenapa ninggalin Fikar? Mama pamitnya dengan bilang Fikar
ganteng ya?" ucap laki-laki yang sekarang semakin erat memeluk nisan yang
ada di hadapannya hingga tanah mengotori bajunya.
“Kalo iya, Fikar nggak akan pernah mau Mama panggil Fikar putra Mama yang
ganteng. Fikar jelek, Ma.” lanjutnya dengan senyum kecut di akhir kalimat.
Gadis tadi ikut jongkok untuk mencoba sekali lagi menenangkan cowok itu. Namun,
Fikar tak ingin bangkit. Ia masih setia menemani mamanya walau para pelayat
sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Banyak orang asing yang tak gadis itu
kenal
Gemi kembali menatap cowok yang masih diam memeluk nisan wanita yang baru
dikenalkan kepadanya itu. Pemilik manik cokelat itu tidak lagi menjatuhkan air
mata, tapi maniknya sarat akan luka.
"Fikar sendiri, Ma. Sekali lagi deh Fikar tanya, Mama kenapa pergi?
Fikar gak mau sendiri lagi." lirihnya.
Gadis dengan manik abu-abu hanya menatap nanar ke arah laki-laki di
sampingnya, dulu ia pernah merasakan betapa sakitnya ditinggal hingga ia rasa semua di dunia tak berwarna
lagi. Namun, laki-laki di hadapannya itu merasakan arti ditinggal tidak hanya
sekali, membuat gadis itu hanya bisa menepuk punggung laki-laki yang sekarang
terjatuh di atas pusaran mamanya. Ia kembali terisak, rupanya tadi dia hanya
berusaha terlihat baik-baik saja. Bahkan sekarang isak tangisnya itu bisa
membuat orang yang mendengarnya teriris. Gadis itu kembali mengusap air
matanya.
"Fikar, biarin mama lu tenang. Dia sedih lihat Fikar kayak gini,"
pinta Gemi. Laki-laki itu akhirnya melepas nisan yang sedari tadi ia peluk.
Maniknya masih menatap pusaran di hadapannya seraya menahan isak tangis dengan
menggigit bibir bawahnya.
“Lu pernah denger nggak? Katanya, kehilangan lebih dini akan mengurangi
luka yang berlebihan. Gue gatau siapa yang bilang kayak gitu. Gue nggak ngerti
kenapa kalimat itu bisa muncul.” ujarnya setengah terisak seraya menatap Gemi
yang ikut menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya.
“Kehilangan seperti apa yang mengurangi luka, Gem? Kasi tau gue kalo lu
tau. Kasi tau gue.” Gemi masih diam mendengar rentetan kalimat itu.
“Kehilangan kewarasan mungkin ya?”
“Fikar!” tegur Gemi berusaha menyadarkan.
Pemilik manik cokelat itu menarik napas dalam dan membalikkan tubuhnya
menghadap pusaran yang berada tepat di samping makam mamanya. Cowok itu menelan
salivanya seraya mengusap nisan yang di depannya itu. Matanya kembali memejam
dan tangan kanannya yang meremas dada kirinya. Gadis yang menatap apa yang baru
saja dilakukan cowok di sampingnya itu menutup mulutnya dengan tangan berusaha
meredam suara tangisnya. Gemi mengalihkan pandangannya saat Fikar memukul-mukul
dadanya yang terasa sesak. Gadis itu tak bisa menyaksikan pemandangan yang
mengiris hatinya.
“Halo Pah, sudah ketemu Mama belum? Bilang yah sama Mama, di sini Fikar
baik-baik saja.” lirihnya tapi masih bisa terdengar oleh gadis di sampingnya
yang masih tak mau menatapnya itu.
“Fikar baik, Pah sampe Fikar sendiri masih bisa ketawa di hari pemakaman
Mama. Hahaha,” katanya dengan tawa sumbang di akhir kalimat.
“Mama sama Papa tenang ya di sana. Sudah Bahagia, kan bisa ketemu? Smeoga
suatu saat nanti Fikar bisa nyusul dan kita bahagia bareng di sana.”
“Fikar udah,” bujuk Gemi.
“Pah, titip salam buat Mama. Fikar sayang Mama,” ucapnya sebelum mencium
nisan di hadapannya.
Fikar berbalik kembali menghadap makam dengan nisan bertuliskan nama Dewi
itu membuat Gemi kembali menghadapnya. Laki-laki itu menghela napas panjang
sebelum sebuah senyum tipis terbit di wajahnya. Bibirnya masih terlihat
bergetar untuk menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan itu. Semesta sudah
berhasil mengobrak-abrik kehidupannya, berhasil membuatnya kembali kehilangan,
berhasil membuatnya sendiri di dunia ini. Kebahagiaan itu memang hanya ilusi
yang tak akan pernah menjadi nyata dalam hidupnya dan seharusnya ia sadar itu
dari awal. Rasanya sesak diapit dua tempat peristirahatan terakhir orang-orang
yang sangat ia cintai. Fikar masih diam dengan tatapan kosong hingga sebuah
tangan memeluknya dari samping.
“Kebahagian itu cuman ilusi,” lirihnya.
***
Pemilik netra abu-abu itu menatap laki-laki yang sedang mencoba fokus
mengendarai mobil. Gemi sudah menawarkan agar dirinya saja yang mengemudikan
mobil, tapi laki-laki itu menolak. Dengan wajah yang masih sembab, ia menatap
lurus ke depan. Gadis dengan rambut cokelat itu sudah mendengar helaan napas lelah
dari Fikar entah sudah keberapa kalinya.
"Gue langsung cabut," ucapnya setelah menepikan mobil hitam itu
di depan rumah bercat abu-abu cerah.
"Hmm, Mama mau ketemu sama lu." balas gadis itu belum berniat
turun. Memang, Vani mulai mengenal Fikar semenjak Fikar mengantar gadis
berambut cokelat itu pulang setelah mengajaknya jalan. Tadi pagi mamanya tak
bisa ikut dalam pengurusan jenazah, ia hanya berpesan agar Fikar bisa
menemuinya setelah mengantar gadis itu.
Laki-laki itu menurut, ia tak ingin banyak berdebat. Akhirnya ia memarkir
mobilnya di halaman rumah megah itu. Langkahnya masih terlihat tegap, begitu
kontras dengan keadaannya yang sangat kacau. Ia mencoba tersenyum ketika pintu
dibuka dan memperlihatkan Vani yang sedang menyambut mereka. Wanita paruh baya
itu membawa Fikar dan putrinya ke ruang tamu dan lagi-lagi cowok itu memilih
untuk menurut saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Gemi melirik Fikar
sekilas, ia benar-benar merasakan perbedaan dalam diam cowok itu. Seakan
separuh jiwanya masih tertinggal di tempat tadi membuat Gemi memejamkan mata
sejenak seraya mengembuskan napas pelan.
"Tante turut berduka atas kepergian Mama kamu ya," ucap wanita
yang sekarang duduk di hadapan laki-laki yang diam dan memilih menatap kedua
ujung sepatunya itu, laki-laki itu hanya tersenyum sebagai respons.
"Fikar tinggal di sini dulu ya sementara waktu?" pinta Vani yang
berhasil membuat Fikar mendongak dan mengangkat sebelah alisnya.
"Fikar biasa tinggal sendiri kok, Tan." jawabnya menolak dengan
"Iya, tapi tante khawatir. Kamu sekarang sendiri. Lagipula tujuan
tante bukan hanya itu. Tante mau minta tolong kamu temenin Gemi di sini, tante
masih ada urusan di luar sama Om, jadi sekitar beberapa hari tante ninggalin
dia sendiri, cuman sama Bi Min dan Bang Mamang. Fikar mau? Maaf kalau
sebelumnya membuat Fikar merasa terbebani." ujar Vani. Gadis yang duduk di sebelah Fikar itu
menoleh ke arah laki-laki yang masih diam itu, ia tau mamanya hanya beralibi.
Gadis itu terlalu sering tinggal di rumah sendiri, tapi mereka sudah sepakat
akan keputusan ini sebelum Gemi pergi ke rumah Fikar tadi pagi, ia juga tak
ingin membiarkan Fikar hidup sendiri setelah satu-satunya orang terdekatnya
pergi meninggalkan laki-laki itu. Fikar menghela napas, ia menatap gadis
pemilik manik abu-abu yang ada di sampingnya lalu beralih menatap Vani di
hadapannya.
"Iya, Tante. Tante hati-hati ya," jawabnya. Baginya, cukup ia
yang merasakan kesepian yang mendalam bukan orang lain.
***
Hari ini Fikar masih tak siap untuk sekolah, ia memandang jam yang ada di
nakas kamar itu. Satu jam lagi bel sekolahnya berbunyi menandakan pelajaran
telah usai. Ia memilih mengenakan hoodie yang tergantung di balik pintu di
hadapannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu.
"Aa’ Fikar mau ke mana?" tanya Bang Mamang sebelum Fikar
membuka gerbang, ia tak berniat mengendarai mobilnya. Ia masih kalut akan
kejadian kemarin, takut-takut malah membahayakannya dan ia masih sadar untuk
tidak membuat orang lain semakin khawatir terhadapnya.
"Cari angin, Bang." balasnya diakhiri senyum terpaksa dan hanya
mendapat anggukan dari pria yang tadi sempat bertanya padanya. Tangannya
bergerak membuka gerbang di hadapannya. Di depan gerbang ia segera menghentikan
taksi dan duduk di jok belakang untuk penumpang. Sepanjang perjalanan ia hanya
menatap jendela yang ada di sampingnya.
Taksi itu berhenti di depan sebuah gedung putih. Fikar turun dan
melangkahkan kakinya memasuki area itu. Namun, ia hanya berdiri di tepi taman
ketika maniknya menangkap seorang wanita yang sedang menatap sekeliling taman.
Ia hendak mendekati wanita itu, tapi semua urung mengingat akan semua yang
terjadi padanya. Hingga akhirnya wanita tadi yang menoleh ke arah Fikar. Cowok
itu masih diam, tak tau apa wanita tadi mengenalnya atau tidak. Jarak mereka
yang tak terlalu jauh, mungkin saja wanita itu melihatnya dengan jelas.
"Fikar!!!" teriak wanita tadi, Fikar masih diam, ternyata wanita
itu mengenalnya. Namun, sedetik kemudian Fikar memilih melangkahkan kakinya
meninggalkan tempat itu, membuat wanita tadi semakin keras memanggilnya.
"Fikar tunggu Mama, Nak!" Wanita itu berusaha mendekati laki-laki
yang sekarang meninggalkannya. Air mata keduanya lolos begitu saja, baik Fikar
maupun wanita itu. Fikar tercekat ketika wanita tadi memanggilnya dengan
panggilan 'nak'. Ingin sekali laki-laki itu berbalik dan memeluk wanita yang
mengejarnya itu tapi Fikar tak ingin lebih lama di sini karena itu sama saja
dengan merobek hatinya sendiri. Ia semakin mempercepat langkahnya membuat
wanita itu berhenti karena tak bisa mengejar laki-laki tadi.
Dina menangis, ia bersimpuh di lantai rumah sakit membuat beberapa pasien
yang kejiwaannya terganggu menatapnya nanar. Wanita itu dibantu untuk kembali
ke ruangannya. Perawat yang membawanya berusaha menenangkannya hingga sang
hazel tiba-tiba datang.
"Lah, Mama kenapa, Mbak?" tanyanya kepada wanita yang masih
berusaha menenangkan Dina yang sedang menangis itu.
"Mama kangen Fikar," tangis wanita yang sekarang memeluk sang
hazel. Hati sang hazel mencelos, apa yang mamanya tadi katakan? Fikar?
"Mama kangen Fikar. Tadi dia ke sini tapi pergi lagi," ucap
wanita itu di sela isak tangisnya. Sang hazel diam sejenak sebelum memilih
mengurai pelukannya.
"Mbak, jaga Mama!" ucap sang hazel dengan wajah yang terlihat
berbeda. Ia keluar dan memilih melangkahkan kakinya menuju parkiran, ia memukul
tembok parkiran hingga buku-buku jarinya berdarah.
"Aaargggh," teriaknya, deru napasnya begitu kencang. Ia memasuki
mobil hitam dan segera melajukannya.
"Pak, liat orang ini ke mana gak tadi?" tanyanya pada seorang
satpam seraya menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Oh, tadi jalan kaki ke kiri, Mas." Tanpa merespons ucapan pria
tadi, ia segera melajukan mobilnya keluar gedung menuju arah kiri. Lajunya
tidak ia percepat, berusaha untuk tidak kehilangan sesuatu yang sedang dicarinya
hingga maniknya menangkap seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah bangku
taman yang sepi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menepikan
mobilnya dan segera turun untuk menghampiri laki-laki itu.
"Ekhem," Nata berdehem, membuat laki-laki yang duduk itu mendongak malas.
"Lu mau apa ketemu Mama gue?" tanyanya sambil menarik kerah
kemeja yang Fikar pakai hingga Fikar memilih berdiri.
Buugggh....
Sebuah pukulan mendarat di pipi kiri pemilik manik cokelat itu, tapi ia
hanya diam tak berniat melawan dan hanya menatap laki-laki yang memukulnya
dengan sudut matanya.
"Jawab! Kenapa lu temuin Mama gue!" desak Nata seraya mendorong
laki-laki di hadapannya hingga tersungkur, tapi laki-laki tadi tak berniat
untuk bangkit. Bagi Nata seakan dengan menyakiti semua menjadi terbayarkan, ia
tak peduli siapa yang sedang ia pukuli itu. Baginya, orang yang sudah mengusik
hidupnya tidak pantas mendapat perlakuan baik darinya.
Buugh....
Ctaaar....
Buugh....
Buugh....
"Kenapa lu temuin mama gue?" Suara itu berubah menjadi parau dan
diakhiri dengan tangis. Fikar meringis di samping laki-laki yang tadi
memukulnya tanpa jeda itu hanya menatap Nata yang mulai menangis dan
memukul-mukul tanah.
"Kenapa? Jawab!" teriaknya seraya menggoyang goyangkan tubuh
Fikar yang masih pada posisinya. Fikar semakin meringis merasakan sakit yang
mulai mendera tubuhnya.
"Gue udah sama mama selama ini! Bahkan sepuluh tahun lu gak ada di hidup mama,
lu masih bisa bikin kangen dia! Gue benci sama lu!" cecar Nata. Fikar
masih memilih untuk diam.
"Lu tau? Mama gak pernah benci sama lu!" teriaknya.
"Maksud lu?" tanya Fikar seraya mengusap sudut bibirnya yang
berdarah.
***