
~Karena yang singgah tak akan pernah menetap~
***
Cowok pemilik manik cokelat itu masih memikirkan sejak kapan gadis yang
sekarang duduk di samping kemudi itu memiliki kakak, yang ia pikirkan adalah
kenapa Gamma? Bukankah pemilik manik hitam itu anak dari Tomi, pria yang ia
benci? Lalu apa hubungannya Gamma dengan gadis di sampingnya itu? Cowok itu
hanya tahu bahwa ayah pemilik netra abu-abu itu sudah tiada.
"Kok abang lu tinggal di sana?" tanya Fikar yang sudah tidak
dapat membendung rasa penasarannya lagi.
"Oh, dia bukan abang kandung gue. Dia anak dari Papa gue yang
sekarang," jawab gadis itu begitu mudahnya, cowok yang baru saja bertanya
itu hanya mengangguk mengerti. Sekarang ia paham, pria yang merupakan papa
kandung Gamma sekarang menjadi papa gadis tadi. Ternyata semesta membuat kisah
ini semakin menarik. Semesta juga yang membawanya mengenal mereka, mengenal
orang yang ternyata korban akibat keserakahan dua orang manusia yang haus akan
cinta. Cowok itu melirik gadis di sebelahnya yang sedang memainkan ponsel.
"Lu mau tau sesuatu tentang gue gak? Lebih dari yang di
pemakaman," ucapnya membuat gadis pemilik netra abu-abu itu langsung
menoleh dan mengabaikan ponselnya.
"Apa?" tanyanya dengan nada yang begitu polos. Cowok yang sedang
melajukan mobil itu tersenyum dengan tatapan tertuju pada jalan di depannya.
"Yang buat abang lu kayak gitu, itu Papa kandung gue." ucapnya
diakhiri dengan senyum kecut ketika melirik ke arah gadis yang sekarang
mengerutkan keningnya. Sebenarnya, cowok itu tak tau kenapa dirinya mengatakan
semua tentang keadaan keluarganya semudah itu pada gadis pemilik netra abu-abu
yang sedang duduk di sampingnya, benar-benar semuanya. Seakan semesta
membisikkan rasa percaya baginya untuk membagi kisah hidupnya dengan gadis itu.
"Jadi yang selingkuh itu Papa lu?"
Gadis itu tercekat menyadari bahwa mama Nata yang beberapa hari lalu ia temui
karena ajakan Nata adalah wanita yang kecelakaan bersama papanya. Pantas saja
apa yang diceritakan sang hazel kemarin langsung membuatnya teringat akan
kejadian sepuluh tahun lalu yang menimpa papanya
dan membuatnya harus kehilangan pria yang sangat ia cintai itu. Terlalu banyak
korban akibat hal ini, lalu apakah dia egois menganggap hanya dirinya yang
mengalami penderitaan berat akan hal ini?
"Heh, iya. Papa Nata juga," jawab pemilik manik cokelat itu
dengan pandangan ke arah jalan tapi terlihat menerawang. Kedua insan itu
sama-sama meruntuki diri mereka yang terlalu mudah membuka rahasia yang sudah
lama mereka simpan. Seakan mereka adalah orang yang sudah lama dekat, cerita
akan penderitaan dan kesalahan mereka seakan sudah biasa terucap dari kedua bibir itu. Atau semesta
memang membiarkan keduanya untuk saling berbagi agar tidak lagi merasa sendiri?
Apapun itu, setidaknya sekarang kedua remaja itu memiliki orang lain untuk
membagi kisah.
"Fi," panggil gadis yang sekarang menatap mata cokelat cowok yang
ada di sampingnya.
"Ya?" sahutnya hanya dengan melirik gadis itu karena ia sedang
berusaha fokus ke arah jalan.
"Apa gue masih berhak bahagia setelah apa yang gue lakukan pada mereka
yang ternyata juga korban?" tanya gadis itu masih memandang ruas jalan
yang mulai terlihat sepi.
"Semua orang berhak bahagia," ujar Fikar membuat gadis tadi
menoleh sejenak, lalu kembali menatap ruas jalan yang ada di depannya.
Hening, percakapan tak lagi muncul di antara keduanya. Mereka menikmati sunyi itu
dengan tenang. Mereka memang tak pernah benar-benar bercerita penuh akan semua
kisah yang memenuhi kehidupan keduanya, tapi seakan sebuah pertanyaan maupun
pernyataan mampu mewakili kisah itu. Mereka seakan mengerti hanya melalui
penggal kalimat yang tersirat dalam setiap ujar yang dilontarkan, karena
sebenarnya membagi kisah yang memiliki latar yang sama hanya perlu memastikan
bukan menceritakan.
Suara ponsel Fikar memecah keheningan, tapi sang pemilik netra abu-abu masih setia memandang
ruas jalan sebelum sang manik cokelat menepikan mobil untuk menerima telfon.
Gadis itu menoleh sejenak dan memilih untuk memainkan ponselnya menunggu Fikar
selesai menelepon.
"Ha? Iya. Fikar ke sana sekarang," ucap cowok itu segera menutup
teleponnya dan mulai melajukan mobil kembali, tapi ke arah yang berlawanan.
Gemi menatap Fikar yang berusaha membalikkan arah mobil.
"Loh, mau ke mana?" tanya gadis itu setelah pemilik manik cokelat
itu berhasil melajukan di jalan yang benar.
"Ke rumah sakit, mama suruh gue bawa lu. Entahlah, mama jarang kayak
gini soalnya. Gapapa ya pulangnya ditunda dulu?" pintanya dengan nada
sungkan.
"Iya gapapa. Gue juga kangen tante Dewi,"
***
Sebuah panggilan membuat laki-laki yang tadi terlelap di sofa mengerjapkan
matanya perlahan. Ia segera bangkit ketika sadar panggilan itu berasal dari
wanita yang sekarang sedang berusaha mengambil gelas di nakas. Laki-laki itu
bergegas mengambilkan gelas itu dan membantu wanita tadi untuk meneguk cairan
dalam gelas berwarna putih itu. Fikar menarik kursi dan duduk di samping
mamanya membuat wanita itu tersenyum.
"Mama gak bisa tidur ya?" tanya laki-laki tadi.
"Mama kangen sama Fikar," ucapnya pelan membuat pemilik manik
cokelat itu menaikkan sebelah alisnya.
“Belum puas liatin Fikar? Fikar gak pernah absen loh jengukin mama.
Mama mau Fikar ngapain hayo?” tawar laki-laki itu membuat dewi tersenyum hingga
kedua matanya menyipit.
"Mama suka liat kamu sama gadis tadi sore. Dia lucu, sepertinya kamu
juga akrab deh."
kedua pipi cowok itu.
"Mama minta maaf ya, gak bisa jadi Mama yang baik buat Fikar."
ujar wanita itu lirih, bulir bening mulai menuruni pelupuk matanya.
"Mama gak perlu minta maaf," ucap cowok itu seraya mengusap air
mata yang jatuh di wajah wanita tadi. Ia meraih tangan Dewi yang ada di atas
perutnya. Fikar mencium tangan itu sambil memejamkan mata. Aroma obat yang
menempel di tangan wanita itu seakan berubah menjadi wangi yang sangat ia
sukai. Fikar menaruh telapak tangan kanan itu ke pipinya dan menggerakkan
tangan itu untuk mengusap pipinya lembut.
"Fikar jaga diri baik-baik ya. Mama suka kalau lihat Fikar tertawa
seperti tadi sore," ucap wanita itu dan malah membuat pemilik manik cokelat
itu meneteskan air mata. Ia kembali mencium tangan yang ia genggam itu. Rasanya
sakit mendengar kalimat itu, seakan mamanya menyalahkan diri sendiri atas apa
yang terjadi sekarang. Air matanya semakin meluncur mengingat semua yang hal
yang tiba-tiba saja muncul seperti film dalam benaknya membuatnya melepas
tangan yang tadi ia genggam agar tangan itu tak merasakan bulir yang turun dari
kedua matanya. Ia juga memilih menenggelamkan wajahnya di tempat tidur mamanya.
Sebuah usapan lembut di kepala cowok itu membuat hatinya kian menghangat dan
membuatnya terasa semakin lemah secara bersamaan.
"Mama sayang sama Fikar," Suara yang lebih seperti bisikan itu
menyelusup dalam indra pendengaran sang cokelat membuatnya menggigit bibir
bawahnya agar isak tangisnya tak terdengar. Dulu ia bahagia mendengar kalimat
itu diujarkan padanya, tapi sekarang terasa berbeda seakan ribuan jarum
menghantam jantungnya membuatnya susah sekali hanya untuk bernapas.
"Fikar sayang Mama juga," jawabnya dan kembali diam untuk menahan
isak tangisnya.
Bagi Fikar kalimat itu benar-benar terdengar berbeda sekarang, seakan ada
yang ingin merebut suara itu hingga ia sekarang tak bisa lagi menahan isak
tangisnya. Ia bangkit dan memeluk wanita yang terbaring di depannya. Laki-laki
itu membiarkan air matanya mengalir membasahi pipi wanita yang tangannya mulai
bergerak mengelus kepalanya. Hal itu kian membuatnya mengeratkan pelukannya,
tak ingin wanita itu pergi. Ia membenci pikirannya yang tiba-tiba berbisik
tentang seperti apa itu hidup sendirian. Tangan yang tadi mengelus rambutnya
tiba-tiba turun, membuat laki-laki yang masih terisak dalam pelukan mamanya itu
segera menoleh menatap wajah Dewi dengan mata yang sudah menutup sempurna.
"Ma," panggil laki-laki itu dengan napas memburu bersatu dengan
isak tangis. Tangannya bergerak untuk mencoba membuat wanita itu terjaga.
"Mah," panggilnya lebih keras dan tangannya yang mulai
menggoyangkan tubuh mamanya. Fikar mengusap kasar air mata yang turun dari
pelupuknya. Isak tangisnya semakin keras, peluh menetes dari wajahnya. Ia
menggoyangkan tangan mamanya kencang. Ia tak tahu harus melakukan apa.
"Mah bangun Mah, Mamah! Dokter!" teriaknya seraya memencet tombol
yang ada di samping tempat tidur mamanya untuk memanggil dokter ke ruangan itu.
"Mah, Mamah jangan pergi mah," isaknya kembali memeluk
tubuh yang tak merespons itu.
***
Gadis dengan netra abu-abu itu menutup buku di hadapannya. Ia sudah
menyelesaikan seluruh tugasnya tapi rasanya malas sekali untuk belajar. Ia
menatap daun tanaman hias di balkon kamarnya yang tertiup angin. Gadis itu
bangkit seraya menggosok-gosokkan kedua tangan pada lengan putihnya seakan ikut
merasakan hawa dingin di luar sana. Ia menutup gorden pintu balkon setelah
menatap langit yang terlihat mendung. Gadis itu mengembuskan napas pelan seraya
melangkah menuju kasurnya.
Tubuh gadis berambut cokelat itu ia baringkan sebelum menarik selimut
menutupi tubuhnya hingga setengah dada. Ia memejamkan mata dan membukanya lagi.
Gadis itu menatap langit-langit kamarnya dan kembali menghela napas pelan. Ia
menoleh pada benda pipih di atas nakas yang berada di sampingnya. Ia menimbang,
layakkah dirinya menghubungi seseorang saat malam sudah terbilang larut.
“Ya kalo gak diangkat berarti tidur,” ucapnya pada diri seraya meraih
ponsel dengan tangan kirinya. Ia menyalakan layarnya dan mulai memainkan
jarinya. Ia membuka sebuah aplikasi sosial media berbasis internet yang sudah
terinstal di ponselnya. Tangannya berniat menekan bagian bertuliskan free
call tapi ponselnya yang tak sengaja jatuh di wajahnya membuatnya memilih
tombol panggilan yang lain. Gadis itu berdecak dan memilih pasrah.
Pemilik netra abu-abu itu masih diam menunggu panggilan terhubung. Ia sempat kaget saat
seseorang di seberang sana mengangkat panggilannya. Namun, layar di ponselnya
tidak menampilkan wajah seseorang, gadis itu sendiri tidak tahu apa yang
tertampil di layar ponselnya. Ia memilih diam dan memerhatikan lebih detail
hingga indra pendengarannya menangkap isak tangis memilukan di seberang sana.
Gadis berambut cokelat itu menahan napasnya dan berusaha mendengar lebih baik
lagi, ia yakin telinganya tidak salah dengar.
“Fi?” Gemi memutuskan untuk memanggil seseorang dalam panggilan itu.
“Gem,” suaranya lirih hampir tak terdengar. Gadis tadi segera duduk dan
mengambil earphone di laci nakasnya agar bisa mendengar ucapan Fikar
lebih jelas. Gemi mulai merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari
biasanya.
“Iya kenapa, Fi?” tanyanya tapi masih ada jeda yang cukup lama dan hanya
diisi isak tangis yang semakin terdengar jelas melalui earphone.
“Lu masih di sana?” Suara itu terdengar bergetar bercampur dengan isak
tangis.
“Iya gue di sini. Kenapa?” jawab gadis itu cepat dengan deru napas yang
ikut tidak teratur. Layar yang tadi tidak jelas mulai berubah seakan digerakkan
posisinya hingga menampilkan wajah laki-laki yang terlihat sangat kacau.
“Mama pergi,”
***