
~Bintang raksasa yang cerah dan panas saja bisa mati menjadi katai~
***
"Papa akan lapor polisi," ucap pria yang sekarang mencoba menenangkan wanita yang menangis di sampingnya.
"Gak ada gunanya, Pa. Ini belum 1x24 jam, gak akan diproses. Udah, Gamma yang mau cari sendiri," tukas pemilik manik hitam itu segera mengambil kunci yang baru saja ia letakkan beberapa menit lalu.
"Gue ikut," pinta Fikar membuat Gamma menghentikan langkahnya dan berbalik menatap laki-laki yang sekarang berdiri dan melangkah mendekatinya.
"Jangan, lu di rumah aja. Lu masih sakit," tolak Gamma.
"Lebih sakit ketika gue duduk di rumah sedangkan sandaran gue, gue sendiri gak tau dia di mana," balas Fikar, lirih. Pemilik manik hitam itu mengembuskan napas pelan seraya mengusap wajahnya kasar.
“Lu masih sakit. Biar Gemi gue yang cari, nanti gue kabarin ke lu.” Gamma masih membujuk Fikar untuk tetap di rumah. Namun, laki-laki itu masih saja bersikeras dengan alasan-alasan yang pada akhirnya Gamma memilih mengalah karena memang tak ada pilihan lain.
Gamma membantu Fikar duduk di mobil sebelum masuk dan mulai melajukan mobil merah meninggalkan pelataran rumah dengan cat abu-abu cerah itu. Manik keduanya menyapu setiap jalan yang mereka lewati, berharap bisa menemukan gadis yang sudah tak bisa dihubungi sejak meninggalkan ruangan Fikar untuk menebus obat
itu. Pemilik manik cokelat itu mengusap wajahnya kasar ketika sudah sekitar satu jam mengelilingi kota, tapi tak bisa menangkap keberadaan gadis yang sedang mereka cari. Embusan napas kesal diikuti kepalanya yang bersandar ke kursi mobil membuat pemilik manik hitam menoleh ke arah cowok itu. Ia sedang memejamkan matanya, napasnya teratur tapi pemilik manik hitam itu sadar cowok tadi sedang membiarkan pikirannya berkelana untuk sekadar mencari jawaban akan hilangnya gadis dengan netra abu-abu itu.
"Lu suka sama adek gue?" Suara itu memenuhi indra pendengaran sang cokelat, membuatnya membuka mata dan melirik ke arah cowok yang sedang mengemudikan mobil merah yang mereka tumpangi.
"Gue gak tau," jawabnya parau, Gamma hanya tersenyum kecut mendengar jawaban klise itu. Ia terus melajukan mobilnya memecah keramaian di sekitar kota. Fikar memijit pelipisnya ketika kepalanya terasa berdenyut.
Maniknya sudah lelah menyisir setiap sudut kota untuk mencari gadis itu. Tangannya merogoh ponsel yang ada di
kantungnya, jarinya menari di atas layar benda pipih itu sebelum menempelkannya di telinga.
"Saya kehilangan seseorang di Rumah Sakit Pratama Indah, foto dan kronologinya akan saya ceritakan melalui pesan. Tolong selidiki kasus ini segera," ucapnya sebelum menutup telfon. Laki-laki yang sedang mengemudikan mobil itu menoleh sejenak. Ia ingin bertanya, tapi tampaknya pemilik manik cokelat itu sedang sibuk memainkan ponselnya untuk mengirim apa yang baru saja ia katakan melalui telepon. Laki-laki itu melempar ponselnya ke dashboard setelah berhasil mengirim pesan pada seseorang yang tadi sempat ia hubungi. Manik cokelatnya kembali beralih ke ruas jalan untuk mencari pemilik netra abu-abu itu.
***
Fikar melangkahkan kakinya keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi satu menit yang lalu. Langkahnya begitu pasti, seakan tak ada keraguan lagi di hatinya. Baginya ia perlu mengatakan hal ini kepada orang yang akan ia temui sebentar lagi. Cowok itu melangkahkan kakinya menyusuri koridor kelas sepuluh. Pemilik manik cokelat itu segera saja masuk ke kelas yang tak pernah ia datangi sebelumnya membuat gadis-gadis di kelas itu menjerit karena kehadiran Fikar. Namun, Fikar tak peduli akan hal itu dan segera saja menarik lengan seorang cowok yang sedang bercanda di kelas bersama temannya. Ia tak peduli tatapan siswa di kelas itu yang mendadak seakan menghakimi dirinya karena lancang masuk ke kelas orang lain tanpa permisi lalu membawa paksa salah satu
Sang hazel mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Fikar, tapi sia-sia saja karena kali ini pemilik manik cokelat itu mengerahkan seluruh tenanganya. Fikar membawa cowok itu menyusuri koridor secepat mungkin membuat Nata kewalahan mengimbangi langkah Fikar dengan masih mencoba melepaskan tangannya
yang masih dicekal. Pemilik manik cokelat itu melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan sang hazel ketika mereka sudah sampai di halaman belakang sekolah, tempat keduanya bertengkar hingga membuat Fikar dilarikan ke rumah sakit oleh gadis berambut cokelat yang keberadaannya masih belum diketahui hingga detik ini.
"Apaan sih lu?" sembur Nata sesaat Fikar melepaskan cekalan pada tangannya.
"Gemi hilang," jawabnya datar.
"Hah? Hilang gimana? Lu bohong ya?" tanya Nata tak percaya seraya menunjuk wajah Fikar yang tanpa ekspresi.
"Gada gunanya gue bohong! Dia hilang kemarin di RS Pratama Indah," Selepas mengatakan kalimat itu, pemilik manik cokelat itu luruh.
Ia menahan tubuhnya dengan memegang tepi bangku yang berada di tengah halaman belakang sekolah itu. Begitu juga Nata, ia bahkan terduduk di atas rumput hijau. Nata mencoba tak percaya dengan apa yang dikatakan saudara kembarnya itu, tapi keadaan Fikar yang terlihat kacau tidak bisa menjadi alasan laki-laki itu membohonginya. Entah apa yang membuat mereka seakan kehilangan sesuatu yang besar dan sukses membuat mereka benar-benar kehilangan hingga seperti ini. Sang hazel mengacak rambutnya kesal. Ia mengembuskan napas kesal berkali-kali,
seakan dengan itu ia bisa lebih tenang.
"Lu gimana sih? Dia kenapa bisa hilang di sana?!" Sang hazel membentak cowok yang sekarang juga duduk di atas rumput tepat di hadapan Nata. Namun, yang ditanya hanya menggeleng, ia sendiri tak bisa berpikir lebih baik
sekarang. Sang hazel menendang batu yang ada di sampingnya, kenapa bisa seperti ini? Seakan semesta tak pernah ingin mereka bersama. Cowok itu kembali mengusap wajahnya kasar, ia terlihat sangat kacau. Tentu saja, gadis yang ia cintai hilang entah kemana. Mungkin sedikit berlebihan, tapi sebenarnya tak ada yang bisa menilai seberapa besar rasa khawatir hanya karena sebuah perasaan.
Pemilik manik cokelat itu mendongak, menatap sang hazel yang terlihat kacau. Ia sadar, cowok di hadapannya itu mencintai gadis berambut cokelat yang juga ia cintai. Tidak, ia tak ingin menyangkal akan perasaannya lagi. Sudah cukup ia mencoba menepis rasa itu, tapi tak pernah bisa. Kali ini, ia melihat saudaranya kacau dengan matanya sendiri, benar-benar kacau seakan harapannya hilang, tidak jauh berbeda ketika keduanya sempat saling pukul di taman karena Fikar menemui Dina. Apa ia tega merenggut kebahagian saudaranya sekali lagi.
***
Halo teman-teman. Makasih sudah baca cerita ini. Sebenearnya chapter ini belum selesai tapi maaf banget ya aku potong dulu. Lah, kenapa? Soalnya Alhamdulillah cerita ini udah terbit versi cetaknya:) Kalian kalo berminat bisa kunjungi ig penerbitku di @kimbab.publisher atau cek link yaa. Sudah bisa dipesan, bisa via shopee atau WA yak. Sama ada satu kabar lagi... Jadi Circumpolar ini ada sequelnya, judulnya Eclipse. Kalo kalian berminat juga boleh cek ya. Jangan lupa ramaikan juga! Ditunggu sama Gamma:)
Terima kasih sudah menemani cerita ini:) Luv u all
vinsinurlita