Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 14



~Hidup itu seperti sebuah penelitian, kamu melakukan sesuatu ketika kamu sendiri tidak tau apa yang sedang kamu lakukan~


***


"Gue tebak lu udah ada rasa ya sama cewek mata abu-abu itu?"


"Apaan sih, nggak lah. Gue ini teguh,"


"Mprreet, teguh pala lu? Ngajakin dia ke taman aja ribet banget. Lagian pake bilang mau ngenalin ke gue juga. Sekarang gue tanya sama lu, apa yang lu rasain pas nembak dia malem itu?" tanya Alfa yang masih berusaha menyadarkan sahabatnya. Gamma menelan salivanya sebelum menatap sahabatnya itu.


"Gue capek lu curigain terus, Fa. Lagian gue ngajak dia ke sini biar dia nyaman sama gue dan dia gak curiga. Kenapa jadi lu yang ribet si?" nada Gamma terdengar sinis.


"Nah kan, lu malah gak jawab pertanyaan gue. Gue gak peduli alasan lu ngajak dia apa. Gue cuman mau ngingetin lu aja mengenai rencana lu, kenapa malah sewot atau lo jangan-jangan beneran suka sama dia?" tembak Alfa membuat pemilik manik hitam itu mendengkus.


"Haha, gue mana bisa cinta sama cewek yang udah ngerebut papa gue, Fa"


"Lu itu ya, sulit banget dibilangin!"


"Gue udah bilang, gue cuman mau balas dendam sama Gemi,"


"Serah lu dah, nanti juga bakal kemakan omongan sendiri. Mana dia kok gak dateng-dateng?" tanya sahabatnya itu seraya menyalakan layar ponsel untuk mengecek jam yang tertera di sana. Ia sudah cukup lelah melihat sikap sahabatnya yang seakan sudah melupakan rencananya sendiri. Gamma hanya mengedikkan bahu menanggapi pertanyaan tadi lalu mengecek ponselnya. Bersamaan dengan itu ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.



"Dia gak dateng, katanya ada urusan mendadak. Yaudah ayo balik,"


***


Gadis berambut cokelat itu menatap sekelilingnya yang penuh dengan warna putih. Maniknya mengerjap saat cahaya yang masuk belum sesuai dengan matanya. Pandangannya beralih pada tirai biru di sampingnya, di balik tirai tersebut terdengar dua orang yang sedang berbicara. Indra pendengarannya tak bisa mendengar jelas pembicaraan keduanya. Ia beralih menatap langit-langit mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi hingga sebuah ingatan terlintas dalam benaknya membuatnya setengah berteriak.


"Kenapa?" seorang cowok tiba-tiba saja muncul dari balik tirai. Gadis itu mencoba mengingat siapa cowok itu tapi tak terlintas sedikit pun ingatan mengenai cowok itu membuatnya semakin bingung mengapa cowok itu berinteraksi dengan dirinya.


"Lu tadi pingsan tapi kata dokter lu gak apa-apa cuman gegara syok aja. Lu juga udah boleh pulang. Sebagai pertanggung jawaban gue karena udah nabrak lu gue anter lu balik," kata cowok yang sekarang berdiri di samping brankar Gemi.


"Mobil gue masih di sana," ujar Gemi mengingat ia meninggalkan mobil merahnya di parkiran taman.


"Mana kunci mobil lu, gue ambil. Lu tunggu sini sekalian gue yang anter pake mobil lu," ujarnya. Gemi menoleh untuk mencari tas birunya hingga maniknya berhasil menemukan benda itu dan segera meraih tasnya di nakas dekatnya. Tangannya dengan cepat merogoh sebuah kantong kecil di bagian depan untuk mencoba mencari kunci mobilnya dan segera memberikannya pada orang yang ia sendiri tak kenal. Belum sempat berkata, orang yang baru saja menabrak Gemi itu pergi begitu saja setelah berhasil meraih kunci itu dan membuka sebuah surat nomor kendaraan yang tergantung di sana.


"Elah, ngapain gue kasi tuh kunci. Kalo dia mau nyuri gimana? Aduh, kena omel Mama dah gue. Bego banget," gerutunya menyesali kebodohannya. Namun, ia masih berusaha berpikir positif dan memilih menunggu laki-laki tadi sambil bermain dengan ponselnya. Sempat ia tangkap melalui manik abu-abunya ada pesan dari manik hitam yang membuatnya langsung melempar ponsel ke dalam tasnya. Ia pun memilih menghabiskan waktunya hanya dengan menatap sekeliling.


"Ayo balik," Suara itu tiba-tiba muncul di balik tirai tempat Gemi mendapat tindakan. Maniknya menoleh sebelum bangkit dan membereskan tasnya. Gadis itu segera turun dan melangkahkan kakinya mengikuti langkah orang di depannya.


Buugggh....


"Maaf," cicitnya menyadari kesalahannya yang terlalu fokus mengikuti langkah kaki milik orang di hadapannya hingga tak cukup waktu merespons bahwa langkah itu sudah berhenti. Alhasil dahi yang masih terbalut kapas malah terantuk punggung gagah laki-laki di depannya. Namun, yang ditabrak tidak menunjukkan ekspresi apa-apa dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat, membuat Gemi kesulitan mengimbangi langkah itu.


Gadis dengan netra abu-abu itu hanya memberikan petunjuk jalan menuju rumahnya, selepasnya ia tak membuka percakapan begitu juga sang pemilik manik cokelat itu. Ia terlalu fokus pada arahan gadis yang sekarang memandang kosong ke jendela sebelahnya. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Tentu saja ia sendiri tidak menginginkan pria itu. Lantas kenapa ia yang disalahkan dan dijadikan tempat pembalasan dendam, cowok itu pikir Gemi yang selama ini mengambil pria itu. Apa cowok itu tidak pernah berpikir mengenai perasaannya akan semua yang sudah terjadi, rupanya manusia hanya menginginkan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan melupakan orang-orang yang juga terlibat dalam kisah itu.


"Hampir sampai?" Entah sudah berapa kali sang manik cokelat menanyakan pertanyaan yang sama.


"Hah? Eh? Oh, di depan belok kanan nanti ada rumah abu-abu cerah, berhenti aja di depannya. Biar supir gue yang masukin mobilnya," balas gadis itu gelagapan tapi tak ada tanggapan, Gemi kembali diam memikirkan betapa kacaunya ia hari ini karena dua manusia yang seenaknya saja muncul dalam hidupnya dan malah merusak keadaan yang sebelumnya memang rusak.


"Udah sampe, gue pamit." ucap pemilik manik cokelat itu segera turun dari mobil. Gemi yang baru saja menyadarinya langsung ikut turun dan mengucapkan terima kasih walau ia sendiri tak yakin cowok itu mendengarnya atau tidak karena dia sudah pergi agak jauh. Gadis itu mengembuskan napas pelan sebelum melangkah memasuki halaman rumah yang tak bisa dibilang sempit itu.


"Bang Mamang, mobil masukin garasi ya minta tolong. Makasih," pinta gadis yang tersenyum pada pria paruh baya yang sedang minum kopi bersama satpam kompleks di gardu halaman rumahnya itu.


"Iya, Neng. Siap!" sahut pria tadi dengan tangan terangkat layaknya memberi hormat.


Sudut bibir gadis itu sedikit terangkat melihat tingkah dari supir keluarganya itu. Kakinya terus ia langkahkan menuju pintu besar yang tertutup. Tangannya yang masih terasa sedikit bergetar mendorong pintu tersebut masih dengan sisa senyumnya karena percakapan tadi. Namun, tak lama senyum itu pudar ketika ia sudah menapakkan kaki di dalam rumah dengan pintu yang sudah tertutup sempurna dan mendapati pria yang tak ingin ia temui berada tak jauh darinya.


"Dahinya kenapa? Seragamnya juga kotor," tanya pria itu mencoba ramah. Gadis dengan rambut cokelat itu mendengkus dan hanya menatap pria tadi dengan sudut matanya.


"Bukan urusan Anda! Oh iya, jika Anda masih punya tanggungan yang harus diurus, urus sana! Tidak perlu mengasihi keluarga ini! Kami tidak butuh, oh salah, saya yang tidak butuh Anda!" sungut pemilik netra abu-abu itu penuh penekanan pada lima kata terakhir karena melihat mamanya yang mulai berjalan mendekati pintu.


"Kamu kenapa sayang?" tanya wanita itu tapi Gemi memilih bungkam dan segera melangkahkan kakinya menapaki anak tangga dengan tatapan kosong menuju kamarnya.


***


Derit pintu dibuka membuat wanita paruh baya yang terduduk di brankar rumah sakit menoleh pada sang cokelat, sudut bibirnya terangkat dengan manik mata yang berbinar. Cowok itu berjalan mendekati wanita yang tersenyum menatap putranya itu.


"Tumben telat, sayang?" tanya wanita yang maniknya terus mengikuti pergerakan sang cokelat.


"Maaf, Ma tadi Fikar masih nganterin cewek yang kena tabrak sama Fikar," sesalnya.


"Ha? Ceweknya gimana? Parah nggak?" selidik wanita tadi penuh khawatir.


"Nggak, Ma. Lecet doang, kok. Udah balik ke rumahnya," ujar cowok bernama Fikar itu seraya mengeluarkan beberapa makanan dari tas yang ia bawa tadi.


"Lain kali hati-hati ya sayang," balas wanita itu sambil mengelus rambut putranya yang kini sedang menyiapkan makanan untuknya. Matanya menerawang dalam seakan menusuk sang iris coklat, membuat sang pemilik menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.


"Fikar ganteng ya,"


Mendengar hal itu, yang diajak bicara hanya diam sambil mengembuskan napas perlahan. Ia sudah hafal, jika Mamanya sudah berkata seperti itu artinya Mamanya sedang sedih dan sedang mengingat semua kenangan yang ada, Fikar tidak merasa lelah sedikit pun akan hal itu, ia hanya merasa tertusuk jika Mamanya sedih.


"Mama minta maaf ya," ucap wanita itu menyendu.


"Ma, Mama gak perlu minta maaf." balas cowok yang sekarang menatap wajah wanita tadi seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Karena Mama sama Papa, masa remajamu yang harusnya menyenangkan malah sibuk mengurus urusan yang seharusnya Mama dan Papa kerjain,"


"Ma, Fikar gak merasa terbebani. Buat apa Mama sama Papa sekolahin Fikar jauh-jauh dulu kalau pada akhirnya cuman kayak gini Fikar gak bisa," ucap manik cokelat itu meyakinkan wanita di depannya.


"Tolong jangan bahas ini lagi," pintanya seraya melepaskan tangkupan tangannya. Mamanya hanya menatap putra semata wayangnya itu dan mengelus pucuk kepala Fikar.


***


"Awas jangan nangis lagi hari ini," pesan Indah sebelum turun dari mobil merah yang dikemudikan gadis dengan iris abu-abu itu.


"Bawel! Gue kuat sekarang!" bantahnya. Gadis itu segera mengambil ransel biru yang ada di kursi belakang dan segera keluar mobil.


"Woy!" panggil seseorang yang membuat sang manik abu-abu menoleh.


Gadis itu berdecak sambil memutar bola matanya. Laki-laki bernama Vega itu mendekatinya, gadis itu hendak melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu hingga sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia mengembuskan napas malas dan dengan terpaksa berbalik menatap Vega.


"Dahi lu kenapa?" tanyanya terdengar meremehkan.


"Kena gigit sama ingus unta!" ketus gadis yang menatap cowok itu malas.


"Dih, jorok amat sih lu. Hmm, gue mau nanya soal dong," "Soal apaan?"


"Fisika. Boleh ya?"


"Dih, lu kan juga pinter fisika. Gak gak gak, paling lu males doang ngerjain. Ya kan? Udah-udah sana pergi. Gue mau masuk. Bye" timpal pemilik netra abu-abu itu sambil meninggalkan Vega yang masih di tempatnya.


Bruk....


Belum ada beberapa langkah dari tempatnya berdiri, tiba-tiba ada beberapa benda keras yang menabrak punggungnya.


"Aw," ringisnya. Ia berbalik untuk melihat apa yang baru saja menabraknya. Buku-buku berserakan yang pertama kali manik matanya tangkap. Ia segera membantu seseorang yang sedang merapikan buku-buku itu.


"Tuh, rasain! Makanya jangan pelit-pelit!" teriak Vega yang kemudian segera berlari ke kelasnya. Di dalam hati, Gemi sedang menggerutu atas apa yang Vega katakan tadi. Tentu saja cowok tadi hanya memintanya untuk mengerjakan tugasnya lantaran ia malas padahal Gemi juga tahu cowok itu mampu.


"Makasih," ucap seseorang yang baru saja berdiri setelah berhasil mengangkat semua buku tadi.


"Lu?"


"Iya, gue. Sorry, buru-buru. Ini berat," ucapnya yang langsung pergi meninggalkan gadis yang sekarang keningnya berkerut itu.


***