Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 23



~Terkadang aku berpikir, lebih baik menjadi salah satu dari tokoh sebuah cerita daripada menikmati semua ini~


***


Kedua laki-laki itu keluar dari minimarket, melangkah menuju kursi di depan


minimarket yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk menikmati makanan


atau sekadar duduk. Manik hitam milik Gamma itu masih berkaca-kaca, seakan tak


percaya dengan apa yang ia temui malam ini. Ia menelan salivanya sebelum


menegak minumannya. Pria yang ada di hadapannya itu tersenyum menatapnya. Pria


itu juga seakan tak percaya semesta mempertemukan keduanya dengan cara seperti ini.


Jujur saja pria yang sedang memerhatikan putranya yang sedang menegak minuman


itu masih sangat menyayanginya.


"Gamma apa kabar?" tanya Dandi membuat cowok tadi memilih


berhenti dan segera menutup botol minumannya, maniknya menatap pria yang sedang


bertanya padanya.


"Tidak lebih baik semenjak Papa pergi," balas pemilik iris hitam


itu masih menatap lekat pria di hadapannya, seakan dengan begitu pria bernama


Dandi itu tak akan meninggalkannya lagi. Dandi berusaha mengangkat sudut


bibirnya mendengar pengakuan putranya itu. Tentu saja ia tahu, sudah jelas dari


raut wajah yang ditampakkan putranya itu. Ingin sekali ia mengusap wajah


putranya itu, menyalurkan rasa sayang yang selama ini tak dapat ia sampaikan


tapi ia sadar akan apa yang terjadi berikutnya.


"Gamma kangen sama Papa, Papa gak mau pulang?" tanya cowok yang


menatap Dandi sendu. Pria tadi hanya menggeleng lemah.


"Gadis itu tidak menyukai Papa. Lebih baik Papa sama Gamma, kita pergi


saja dari sini." Seakan tak ingin banyak basa-basi lagi, cowok itu segera


saja menembak ke arah pembicaraan karena ia ingin tahu semuanya. Ia ingin tahu


kenapa papanya lebih memilih untuk tinggal dengan gadis yang


bahkan tidak menyukainya. Apa sekarang menjadi serumit itu? Bukankah mereka


hanya perlu meninggalkan semuanya dan memilih untuk pergi dan tinggal berdua?


"Gak bisa, semua tidak semudah itu Gamma." Cowok tadi


mengembuskan napas berat mendengar jawaban pria yang begitu ia sayangi dan


rindukan selama ini.


"Kenapa?"


"Gadis itu ditinggal papanya, sepertimu. Tapi ia selamanya, papanya


menyuruh Papa untuk tinggal bersama gadis itu dan mamanya untuk mengobati rasa


sakit Papa karena mamamu. Iya, Papa tau kamu menjadi sakit akan hal itu. Papa


juga, tapi semua tak bisa diubah segampang yang kau pikirkan Gamma. Jika kamu


mengenal gadis itu, tolong jangan kau sakiti dia. Papa juga menyayanginya. Jaga


diri baik-baik dan obati lukamu dengan benar," ucap pria itu dan segera


bangkit meninggalkan cowok dengan manik hitam itu.


"Pa, jangan pergi dulu." Pinta Gamma.


"Maaf sayang, Papa tak ingin melukaimu lebih parah." katanya dan


memilih melangkahkan kakinya mendekati mobil hitam yang terparkir tepat di


samping motornya. Gamma masih diam di kursinya seraya menyaksikan pria itu


masuk ke mobil sambil tersenyum padanya. Cowok yang sekarang hanya bisa menatap


mobil papanya yang semakin menjauh itu menghela napas panjang terhadap apa yang


sudah semesta berikan untuknya pada malam ini.


***


Gamma mematikan mesin motornya setelah berhasil memarkirkannya. Langkah


laki-laki itu begitu malas ketika memasuki pelataran rumahnya. Derit pintu


bahkan membuatnya kesal pada malam ini. Baru beberapa langkah kakinya menapaki


lantai dalam rumah, suara berat itu membuatnya memutar bola mata malas seraya


menghela napas kesal.


"Gamma, Papa mau ngomong!" teriak pria itu dengan suara


beratnya.


"Saya mau tidur," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah pria


tadi. Ia terus menapaki anak tangga untuk segera menuju kamarnya. Kamar yang


menurutnya tak lagi bernyawa semenjak pria yang begitu ia sayangi pergi begitu


saja meninggalkannya. Suara langkah kaki di belakang cowok itu tak ia hiraukan.


"Gamma berhenti!" Cowok itu tak mengindahkan perintah yang baru


saja ia dengar bahkan ia semakin mempercepat langkahnya. Baru kakinya hendak


menapak ke lantai kamarnya yang dingin, sebuah tangan menarik kerah bajunya dan


mendorongnya secara tiba-tiba, membuat kunci motor yang sedari tadi cowok itu


pegang terlempar.


"Tidak bisakah kamu menghargai Papamu ini?" bentak pria yang


sekarang berdiri di hadapan cowok yang sekarang terduduk di lantai kamarnya


itu. Gamma memilih untuk tidak bangkit dan hanya tersenyum kecut seraya melepas


ransel yang masih bertengger di punggungnya.


Buugh....


"Sejak kapan Papa mengizinkanmu menemui pria itu? Kamu pikir Papa


tidak tau?" bentak Tomi seraya menjatuhkan sebuah pukulan keras yang


berhasil mengenai rahang kokoh cowok yang belum sempat berdiri itu.


"Sejak kapan Anda menjadi Papa saya?!" Gamma balik membentak, ia


sudah lelah dengan semua ini. Tubuhnya dengan cepat ia perintah untuk bangkit


dan kini tangannya mengepal dan menjatuhkan kepalan itu pada pipi kiri pria


yang tadi memukulnya.


"Anak kurang ajar!!" Suara berat Tomi sarat akan amarah. Pria itu


seakan tak terima atas apa yang dilakukan oleh laki-laki yang selalu


membangkang padanya itu. Ia menjatuhkan pukulan di berbagai tubuh laki-laki


yang berhasil menyulut amarahnya itu. Manik hitam milik Gamma memejam, ia


merasakan sakit yang mendera di sekujur tubuhnya. Ia memilih mundur untuk


menghindar. Namun, tangannya masih memiliki kekuatan untuk membalas. Kali ini


ia tidak ingin tinggal diam, semesta memang tak pernah bisa diajak kerja sama


dan karena itu ia harus berperang untuk kembali mendapatkan apa yang menjadi


haknya.


Buugh....


"Anda tidak punya hak melarang saya!" teriaknya ketika memukul


memukul wajah kokoh laki-laki di hadapannya. Pemilik manik hitam itu masih bisa


menahan sakit di tubuhnya.


"Kamu memang perlu diajari sopan santun!" teriak pria yang


sekarang mendorong keras pemilik manik hitam itu hingga tubuhnya tersungkur dan


kepalanya terbentur keras pada ujung tepi kasur.


Cowok itu meringis merasakan kepalanya yang begitu berdenyut. Seakan semua


rasa sakit berpusat di kepalanya, ia tak dapat merasakan pukulan yang kembali


dijatuhkan pria yang mengaku papanya itu. Napasnya terengah saat pria yang baru saja


membuatnya terlihat miris itu melangkah menjauhinya setelah menjatuhkan sebuah


pukulan keras pada perutnya sebagai penutup. Manik hitam milik laki-laki yang


napasnya semakin terengah itu mencari kunci motor yang tadi sempat terlempar.


Ia berusaha meraih kunci yang terletak tak jauh darinya itu walau kepalanya


terasa sangat sakit. Ia berusaha berdiri dengan berpegangan pada tepi kasur dan


baru menyadari darah menggenang di lantai kamarnya bahkan menodai seprai putih


yang melapisi kasurnya. Namun, ia tak peduli lagi, ia bergegas keluar rumah


sebelum pria tadi menyadarinya.


Pemilik manik hitam itu berusaha kuat untuk tetap mengemudi dengan baik


dalam keadaan seperti ini. Wajahnya penuh dengan lebam dan darah di sudut mata,


hidung, dan sudut bibirnya. Perutnya terasa sangat sakit semenjak pukulan yang


mengenai perutnya. Jangan lupa pula, ia juga yakin sekarang helmnya kotor


karena darah dari kepalanya yang belum juga berhenti, ia merasakan dari tetesan


darah yang mengenai lehernya. Ia tidak peduli lagi akan keselamatannya


mengendara dengan kesehatan yang jauh dari kata baik.


Kakinya bahkan


terasa sangat bergetar ketika turun dari motor. Ia sadar ini sudah larut malam,


tapi tak ada tempat lagi selain rumah ini yang akan menerimanya dalam keadaan


berdarah tanpa banyak tanya. Pemilik manik hitam itu memejamkan matanya seraya


menempelkan ponsel di telinganya setelah berhasil menghubungi seseorang sambil


bersender di gedung rumah itu.


"Fa, cepetan keluar!" Hanya itu, ia segera menutup teleponnya.


Tak perlu menunggu lama, seorang laki-laki keluar dengan wajah kantuknya.


Matanya langsung terbelalak ketika melihat keadaan temannya.


"Cepet masuk!" Seakan tau apa penyebabnya, Alfa langsung saja


menyuruh laki-laki itu masuk. Namun, baru beberapa langkah dari tempatnya


berdiri, pemilik manik hitam itu terjatuh tak sadarkan diri.


***


Wajah laki-laki itu cemas. Ia bingung siapa yang harus ia hubungi sekarang,


tak mungkin kedua orang tua Gamma, jika Gamma sadarkan diri pasti ia menolak,


Alfa pun tau itu tindakan bodoh jika ia melakukannya. Tak mungkin Dandi ia


hubungi juga, selain ia tak punya kontaknya, ia takut semakin memperkeruh keadaan.


Entah apa yang membuatnya sekarang menghubungi seorang gadis yang menurutnya


bisa membantu.


Alfa duduk di kursi depan UGD, ia tak tahu apa yang dilakukan dokter di


dalam sana. Hanya beberapa menit lalu Gamma berada di ruang UGD, kini Alfa


melihat tubuhnya yang dibawa secara buru-buru keluar dari UGD.


"Saudara saya kenapa, Dok?" tanya Alfa tak sabaran.


"Maaf, Mas. Kami tak bisa untuk hanya sekadar meminta persetujuan dari


keluarga. Kami harus segera melakukan tindakan. Di kepala bagian belakang pasien


ditemukan luka yang cukup lebar kami harus segera menjahitnya." jawab sang


dokter sambil berlari menyejajari tubuh Gamma yang sedang dibawa oleh perawat.


Laki-laki itu menggeram ketika tau apa yang dialami temannya. Ia tak akan


menghubungi kedua orang tua sahabatnya itu, cukuplah ia berpura-pura menjadi


saudara Gamma. Alfa menarik napas panjang, ia luruh di depan ruang tempat Gamma


berada sekarang. Baru beberapa menit lalu ia tertidur pulas di kasur empuknya


sebelum sahabatnya meneleponnya dan menyuruhnya keluar dan malamnya harus


berakhir di tempat ini. Harus berapa kali pemilik manik hitam itu kembali ke


tempat putih dengan bau obat yang menguar hanya karena perlakuan pria bejat


yang sekarang ada di rumah laki-laki itu dan mengambil semua kebahagiaannya.


Alfa mendongak ketika ruangan tadi dibuka, ia segera berdiri tapi malah


seorang suster yang tergopoh-gopoh menuju tempat lain. Ia bingung harus


bertanya pada siapa, ia ingin  melihat


keadaan temannya tapi ia tau ia tak boleh masuk ke ruang itu. Beberapa saat


kemudian, suster tadi kembali dengan beberapa kantong berisi cairan berwarna


merah gelap dengan bantuan temannya dan masuk ke ruangan tadi dan menutup rapat


pintu itu. Alfa kembali luruh sebelum seorang gadis menghampirinya dengan


buru-buru.


"Kepalanya dijahit," ucap Alfa bahkan sebelum gadis di depannya


bertanya. Air mata Alfa tumpah, ia tak sanggup melihat temannya seperti ini. Ia


belum siap apabila kemungkinan terburuk terjadi padanya. Gadis tadi mencoba


menenangkan Alfa hingga kini Alfa bisa menceritakan apa yang terjadi.


"Apa Indah perlu kasi tau Gemi?" tanya gadis tadi tapi Alfa


memilih menggeleng dan memejamkan matanya.


Beberapa jam telah berlalu, suara derit pintu dibuka membuat Alfa dan Indah


terkesiap dan segera bangkit. Seorang pria keluar dari ruangan itu


"Keluarga dari pasien bernama Gamma Akhtar di mana?"


"Saya, dok." jawab Alfa.


"Semua berjalan cukup baik dan pasien akan segera dipindahkan. Terima


kasih," jelas pria tadi dan segera berlalu.


"Gue yakin lu kuat Gam, lu terlalu sering mengalami hal ini,"


gumam Alfa sebelum tubuh Gamma keluar dari ruangan tadi. Indah melangkah menuju


meja administrasi untuk mendaftarkan nama Gamma sebagai pasien setelah berhasil


membujuk Alfa agar dia saja yang melakukannya. Alfa segera mengikuti keempat


perawat yang membawa tubuh Gamma. Namun, sebuah tangan mencekal lengannya.


“Lama gak ketemu,”


***