
~Bukan dunia yang salah, hanya mungkin saja kau terlalu
banyak berpikir~
***
Gadis itu menatap punggung teman-temannya yang semakin menjauh setelah
dibubarkan beberapa menit yang lalu. Olahraga tak pernah menyenangkan baginya
karena ia selalu buruk pada setiap cabang olahraga. Ia mengembuskan napasnya
dan memilih bangkit hendak kembali ke kelasnya untuk mengambil pakaian ganti
setelah meneguk setengah botol air minum tadi sebelum sebuah tangan menahan
pergelangan tangannya. Ia berbalik dan terkesiap menyadari siapa yang sekarang
berdiri di hadapannya.
"Bodoh kalau gue masih nanya lu kesel sama gue atau nggak. Bego kalo
gue masih nanya lu sakit atau nggak," Suara itu memenuhi indra pendengaran
pemilik manik abu-abu itu. Sialnya tak ada yang bisa ia lihat di lapangan kali
ini hanya untuk mengalihkan pandangan karena lapangan sudah cukup sepi, hanya
tersisa beberapa anak yang masih berbincang, dan itu tidak menarik bagi gadis
itu untuk sekadar mengalihkan pandangan.
"Kalau lu mau bokap lu, ambil aja ambil!" Suaranya tak begitu
keras, tapi tegas. Manik hitam cowok di hadapannya menatap netra abu-abu gadis
itu dengan tajam.
"Haha, kalau semua itu bisa gue lakuin, udah gue ambil bokap gue dari
dulu," sahut pemilik manik hitam itu, sedangkan gadis tadi hanya diam
berusaha tak menatap netra milik cowok di hadapannya itu.
"Lu liat betapa rusaknya muka gue? Gue pikir Alfa sudah bilang tentang
pria yang ada di rumah gue sekarang dan mengaku bokap gue. Itu yang bikin gue gak bisa!"
"Terus kenapa lu harus balas dendam sama cewe yang gak tau apa-apa?
Apa lu pikir gue bahagia dapet bokap lu? Lu pikir mudah nerima orang baru dalam
hidup gue yang bahkan gak pernah gue kenal sebelumnya? Iya?" cecar gadis
berambut cokelat itu mulai berani menatap mata hitam cowok di hadapannya. Cowok
itu diam, bukan karena tidak menemukan alasan, ia hanya tak ingin membuka luka
itu di hadapan gadis yang sekarang menunjukkan rasa kecewa padanya.
"Udah, gue mau ganti baju." ujar gadis itu dan segera
meninggalkan sang manik hitam sendiri di tepi lapangan. Gamma mengembuskan
napas berat. Tidak bisakah ia melupakan untuk sejenak masalah ini? Ia hanya
ingin hidup tenang walaupun hanya beberapa saat saja.
***
Pemilik manik hazel itu kembali menenggelamkan wajahnya di antara lipatan
lengannya. Ia memejamkan matanya berusaha lebih tenang. Sudah tiga puluh menit
lebih ia berkutat dalam pikirannya sendiri tapi belum menemukan solusi dari
masalahnya, padahal ia sudah mengorbankan waktu luangnya untuk mempersiapkan
ulangan beberapa jam lagi hanya untuk memikirkan masalah ini. Tampaknya semesta
tak mengizinkannya untuk menikmati hari ini. Cowok itu kembali menimbang, ia
bingung. Ia ingin sekali membawa seseorang kepada mamanya agar mamanya lebih
tenang, tapi siapa selain Pelangi? Bahkan gadis itu sekarang mulai jarang untuk
sekadar menemuinya atau menyapa. Embusan napas perlahan kembali terdengar
darinya. Matanya memejam sebentar sebelum akhirnya memilih segera bangkit. Demi
wanita yang ia sayangi, demi wanita yang begitu ia cintai, ia akan berusaha.
Cowok dengan manik hazel itu melangkahkan kakinya ke kelas sebelah. Berharap
kelas itu sedang tidak menjalankan kegiatan belajar mengajar dan gadis yang
ingin ia temui ada di kelasnya.
"Pelangi ada?" tanyanya pada teman sekelas gadis yang sedang ia
cari itu. Tak lama, gadis dengan rambut pirang yang digerai itu keluar.
"Mau apa?" ketusnya menatap malas sang hazel yang berdiri di
hadapannya.
"Lu nanti sepulang sekolah bisa gak ikut gue nemenin mama?"
tanyanya tanpa basa-basi.
"Heh, sorry ya Nata. Gue bukan budak lu, yang bisa lu ajak
semau lu. Lu pergi ketika gak butuh gue dan dateng cuman mau ngajak itu doang?
Lu pikir lu siapa?" ketus gadis yang sekarang melipat kedua tangannya di
hadapan Nata. Nata menghela napasnya, masih berusaha tenang setelah apa yang
dikatakan gadis tadi.
"Tumben lu gak mau diajak?" tanyanya masih berusaha bersikap
ramah mengingat mamanya masih begitu menyukai gadis yang ia sendiri tak pernah
menyukainya itu.
"Lu bukan siapa-siapa gue. Jadi buat apa gue dengan senang hati ikut
tawaran lu? Gak! Paham lu? Udah minggir," ketusnya untuk kesekian kali
lalu meninggalkan sang hazel begitu saja.
Gadis berambut pirang itu berjalan menuju salah satu tepi lapangan.
Wajahnya yang tadi terlihat malas karena bertemu sang hazel, kini dengan mudah
saja berubah berbinar. Manik matanya menatap ke arah laki-laki yang sedang
duduk sambil menegak sebotol air dengan peluh yang bercucuran dari rambutnya,
membuat tampilannya semakin memukau.
"Hai," sapa gadis itu. Namun, yang disapa hanya melirik malas
lalu kembali menatap dua insan yang berada di tepi lapangan yang lain.
"Gue duduk di sini ya," ucap gadis itu. Namun, lagi-lagi tidak
ada jawaban. Bahkan kali ini pemilik manik cokelat itu seakan tidak menganggap
gadis itu ada. Cowok itu mengalihkan pandangan dari kedua insan yang sedang
berbicara di tepi lapangan yang berada di seberangnya. Ia mengusap keringat
yang mengalir di pelipisnya dengan tangan kosong.
“Hm, gue bawa tisu. Lu mau?” tanya gadis yang duduk di sampingnya itu.
Masih belum ada jawaban, membuat gadis dengan rambut pirang itu mengambil
beberapa helai tisu dari saku roknya lalu melipatnya menjadi satu sebelum
menyentuhkan benda lembut itu ke pelipis Fikar.
“Lu ngapain si?” decak cowok dengan manik cokelat itu menyingkirkan tangan
gadis tadi.
“Oh, maaf. Keringet lu netes-netes soalnya,” kilahnya membuat Fikar semakin
malas. Namun, ia masih enggan untuk beranjak karena masih menunggu kedua insan
gadis di sampingnya itu masih saja mencoba menarik perhatiannya.
"Lu Fikar kan ya? Kantin yuk, kayaknya lu capek habis olahraga."
Suara itu kembali memenuhi indra pendengaran sang cokelat, membuatnya menarik
napas panjang.
"Lu ngapain di sini? Ini kan jam pelajaran," Pemilik manik
cokelat itu sudah jengah dengan keberadaan gadis itu dan mencari cara agar
gadis itu segera pergi.
"Lagi nggak ada guru di kelas, yuk. Mau gak?"
Tampaknya semesta sedang tak ingin bekerja sama dengannya. Bahkan, gadis
ini masih saja berusaha mengajak Fikar berbicara dan sekarang ke kantin
bersama? Mengapa ia harus dipertemukan dengan gadis yang seakan tidak memiliki
harga diri di depan laki-laki yang baru dikenalnya. Gadis itu memanggil Fikar
lagi untuk menunggu jawaban, tapi yang diajak bicara malah bangkit dari
duduknya.
"Lu mau ke mana? Jadi ke kantin?" tanyanya dengan penuh percaya
diri.
"Ganti baju," jawabnya singkat. Cowok itu merasa jengah berada di
dekat gadis yang sekarang terlihat sedang mendekatinya. Ia tidak suka orang
baru, apalagi seperti gadis ini. Membuatnya semakin tidak menyukai pagi ini
selepas melihat dua insan yang sedang mengobrol tadi. Ia meninggalkan gadis
berambut pirang itu setelah kedua insan yang sedang ia perhatikan tadi sudah
saling berpisah.
"Lu ngapain?" tanya cowok itu ketika menyadari gadis tadi
mengikutinya.
"Ikut lu," cowok itu segera saja berbalik, ia memandang gadis
tadi dengan alis yang hampir menyatu.
"Lu gila ya? Gue bilang gue mau ganti baju. Tolong ya, hargain harga
diri lu sendiri!" ucapnya dan segera meninggalkan gadis tadi. Gadis itu
diam, ia kembali merasakan penolakan dari seorang laki-laki.
***
Pemilik manik hitam itu mengusap wajahnya kasar saat gadis yang baru saja
berbicara dengannya melangkah meninggalkannya. Ia mengembuskan napasnya
kuat-kuat dengan tangan yang terkepal. Apa ia salah kali ini? Apa sekarang ia
penyebab terbesar semua kekacauan ini? Ia memilih melangkahkan kakinya menjauhi
lapangan. Deru napasnya yang masih berburu dan kedua tangannya yang mengepal
mengiringi langkahnya menuju halaman belakang sekolah. Pemilik manik hitam itu
segera menjatuhkan pukulannya pada batang pohon besar yang berada di depan
sebuah bangku. Batang pohon yang tak rata membuat tangannya berdarah seketika
karena begitu keras pukulannya. Namun, pemilik manik hitam itu tak merasakan
sakit yang berarti dan kembali melayangkan sebuah pukulan keras pada pohon itu.
Ia berteriak berharap tak ada yang mendengarnya di sini.
“Kenapa harus gue?” lirihnya seraya menopang tubuhnya dengan tangan yang
bertumpu pada pohon di hadapannya. Seluruh ingatannya tiba-tiba saja terputar
memenuhi benaknya. Seakan sedang mengejeknya yang sekarang sedang jatuh dalam
lembah yang ia ciptakan sendiri.
Sekejam itu kah semesta padanya yang juga merupakan korban? Apa semesta
sedang menghukumnya kali ini? Membuatnya membenci seseorang, lalu membiarkannya
membalas dendam tapi semesta malah membuatnya mencintai orang itu dan sekarang
menghancurkannya layaknya beras yang ditumbuk menjadi tepung. Deru napasnya
yang semakin cepat membuatnya memilih duduk di bangku yang menghadap ke pohon
yang baru saja ia jatuhkan pukulan. Ia mengusap wajahnya kasar, ia merasa
sangat buruk kali ini. Mungkin, jika pria yang sekarang mengaku papanya itu
melihat keadaannya sekarang, ia akan tertawa dan menyorakinya yang dianggap
sudah berbuat bodoh.
“Kenapa jadi gue yang kayak orang bego,”
***
Gadis dengan netra abu-abu itu melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia
menghela napasnya saat tiba-tiba mengingat kejadian pagi tadi. Tak ada Indah
yang menemaninya pulang, membuatnya semakin tenggelam dalam pikiran yang bisa
saja membuatnya hancur kapan pun. Untuk sekarang ia ingin kembali mengunjungi
tempat itu, tempat di mana Radit beristirahat untuk selamanya. Namun, ia tak
sanggup untuk kembali kacau seperti beberapa hari lalu. Sekarang ada satu hal
yang mengganggu pikirannya, separah apa yang dilakukan papa baru Gamma hingga
kerap kali ia melihat cowok itu terluka. Bahkan sebelum ia dan cowok itu mulai
merenggang, dulu saat pertama mengenal dan dekat dengannya, sudut bibir sang
manik hitam sering kali sobek, pelipisnya terluka. Namun, ia tak pernah menanyakannya,
ia pikir ia masih belum berhak akan hal itu. Ditambah lagi Gamma yang tak
pernah membuka kisah mengenai keluarganya, begitu juga dirinya. Ia masih
terlalu takut membagi kisah pahit yang membuatnya merasa seakan tak berhak lagi
mendapat kasih sayang dari seorang pria yang ia panggil Papa.
Suara klakson mobil menyadarkannya dari lamunan. Ia berbalik untuk sekadar
melihat apa yang terjadi. Maniknya menyipit berusaha memerhatikan dengan jelas
siapa yang berada di balik kemudi.
"Jalan sambil lihat woi!" teriak gadis yang baru saja membuka
lebar jendela penumpang di sebelah kemudi, membuatnya
melihat dengan jelas kedua orang yang mengendarai mobil silver itu.
"Lah, lu sejak kapan sama Kak Alfa? Wah parah lu hutang cerita sama
gue. Indah mah gitu," gerutu gadis yang sekarang menatap tajam ke arah
gadis yang hanya tersenyum kepadanya itu.
"Udah ah, gue mau pulang. Dadah Gemi. Hati-hati ya, jangan mewek
mulu," ledek gadis itu. Belum sempat pemilik netra abu-abu itu menanggapi,
mobil silver yang baru saja ditumpangi Alfa dan Indah sudah melaju
meninggalkannya.
***