Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 19



~Bukan dunia yang salah, hanya mungkin saja kau terlalu


banyak berpikir~


***


Gadis itu menatap punggung teman-temannya yang semakin menjauh setelah


dibubarkan beberapa menit yang lalu. Olahraga tak pernah menyenangkan baginya


karena ia selalu buruk pada setiap cabang olahraga. Ia mengembuskan napasnya


dan memilih bangkit hendak kembali ke kelasnya untuk mengambil pakaian ganti


setelah meneguk setengah botol air minum tadi sebelum sebuah tangan menahan


pergelangan tangannya. Ia berbalik dan terkesiap menyadari siapa yang sekarang


berdiri di hadapannya.


"Bodoh kalau gue masih nanya lu kesel sama gue atau nggak. Bego kalo


gue masih nanya lu sakit atau nggak," Suara itu memenuhi indra pendengaran


pemilik manik abu-abu itu. Sialnya tak ada yang bisa ia lihat di lapangan kali


ini hanya untuk mengalihkan pandangan karena lapangan sudah cukup sepi, hanya


tersisa beberapa anak yang masih berbincang, dan itu tidak menarik bagi gadis


itu untuk sekadar mengalihkan pandangan.


"Kalau lu mau bokap lu, ambil aja ambil!" Suaranya tak begitu


keras, tapi tegas. Manik hitam cowok di hadapannya menatap netra abu-abu gadis


itu dengan tajam.


"Haha, kalau semua itu bisa gue lakuin, udah gue ambil bokap gue dari


dulu," sahut pemilik manik hitam itu, sedangkan gadis tadi hanya diam


berusaha tak menatap netra milik cowok di hadapannya itu.


"Lu liat betapa rusaknya muka gue? Gue pikir Alfa sudah bilang tentang


pria yang ada di rumah gue sekarang dan  mengaku bokap gue. Itu yang bikin gue gak bisa!"


"Terus kenapa lu harus balas dendam sama cewe yang gak tau apa-apa?


Apa lu pikir gue bahagia dapet bokap lu? Lu pikir mudah nerima orang baru dalam


hidup gue yang bahkan gak pernah gue kenal sebelumnya? Iya?" cecar gadis


berambut cokelat itu mulai berani menatap mata hitam cowok di hadapannya. Cowok


itu diam, bukan karena tidak menemukan alasan, ia hanya tak ingin membuka luka


itu di hadapan gadis yang sekarang menunjukkan rasa kecewa padanya.


"Udah, gue mau ganti baju." ujar gadis itu dan segera


meninggalkan sang manik hitam sendiri di tepi lapangan. Gamma mengembuskan


napas berat. Tidak bisakah ia melupakan untuk sejenak masalah ini? Ia hanya


ingin hidup tenang walaupun hanya beberapa saat saja.


***


Pemilik manik hazel itu kembali menenggelamkan wajahnya di antara lipatan


lengannya. Ia memejamkan matanya berusaha lebih tenang. Sudah tiga puluh menit


lebih ia berkutat dalam pikirannya sendiri tapi belum menemukan solusi dari


masalahnya, padahal ia sudah mengorbankan waktu luangnya untuk mempersiapkan


ulangan beberapa jam lagi hanya untuk memikirkan masalah ini. Tampaknya semesta


tak mengizinkannya untuk menikmati hari ini. Cowok itu kembali menimbang, ia


bingung. Ia ingin sekali membawa seseorang kepada mamanya agar mamanya lebih


tenang, tapi siapa selain Pelangi? Bahkan gadis itu sekarang mulai jarang untuk


sekadar menemuinya atau menyapa. Embusan napas perlahan kembali terdengar


darinya. Matanya memejam sebentar sebelum akhirnya memilih segera bangkit. Demi


wanita yang ia sayangi, demi wanita yang begitu ia cintai, ia akan berusaha.


Cowok dengan manik hazel itu melangkahkan kakinya ke kelas sebelah. Berharap


kelas itu sedang tidak menjalankan kegiatan belajar mengajar dan gadis yang


ingin ia temui ada di kelasnya.


"Pelangi ada?" tanyanya pada teman sekelas gadis yang sedang ia


cari itu. Tak lama, gadis dengan rambut pirang yang digerai itu keluar.


"Mau apa?" ketusnya menatap malas sang hazel yang berdiri di


hadapannya.


"Lu nanti sepulang sekolah bisa gak ikut gue nemenin mama?"


tanyanya tanpa basa-basi.


"Heh, sorry ya Nata. Gue bukan budak lu, yang bisa lu ajak


semau lu. Lu pergi ketika gak butuh gue dan dateng cuman mau ngajak itu doang?


Lu pikir lu siapa?" ketus gadis yang sekarang melipat kedua tangannya di


hadapan Nata. Nata menghela napasnya, masih berusaha tenang setelah apa yang


dikatakan gadis tadi.


"Tumben lu gak mau diajak?" tanyanya masih berusaha bersikap


ramah mengingat mamanya masih begitu menyukai gadis yang ia sendiri tak pernah


menyukainya itu.


"Lu bukan siapa-siapa gue. Jadi buat apa gue dengan senang hati ikut


tawaran lu? Gak! Paham lu? Udah minggir," ketusnya untuk kesekian kali


lalu meninggalkan sang hazel begitu saja.


Gadis berambut pirang itu berjalan menuju salah satu tepi lapangan.


Wajahnya yang tadi terlihat malas karena bertemu sang hazel, kini dengan mudah


saja berubah berbinar. Manik matanya menatap ke arah laki-laki yang sedang


duduk sambil menegak sebotol air dengan peluh yang bercucuran dari rambutnya,


membuat tampilannya semakin memukau.


"Hai," sapa gadis itu. Namun, yang disapa hanya melirik malas


lalu kembali menatap dua insan yang berada di tepi lapangan yang lain.


"Gue duduk di sini ya," ucap gadis itu. Namun, lagi-lagi tidak


ada jawaban. Bahkan kali ini pemilik manik cokelat itu seakan tidak menganggap


gadis itu ada. Cowok itu mengalihkan pandangan dari kedua insan yang sedang


berbicara di tepi lapangan yang berada di seberangnya. Ia mengusap keringat


yang mengalir di pelipisnya dengan tangan kosong.


“Hm, gue bawa tisu. Lu mau?” tanya gadis yang duduk di sampingnya itu.


Masih belum ada jawaban, membuat gadis dengan rambut pirang itu mengambil


beberapa helai tisu dari saku roknya lalu melipatnya menjadi satu sebelum


menyentuhkan benda lembut itu ke pelipis Fikar.


“Lu ngapain si?” decak cowok dengan manik cokelat itu menyingkirkan tangan


gadis tadi.


“Oh, maaf. Keringet lu netes-netes soalnya,” kilahnya membuat Fikar semakin


malas. Namun, ia masih enggan untuk beranjak karena masih menunggu kedua insan


gadis di sampingnya itu masih saja mencoba menarik perhatiannya.


"Lu Fikar kan ya? Kantin yuk, kayaknya lu capek habis olahraga."


Suara itu kembali memenuhi indra pendengaran sang cokelat, membuatnya menarik


napas panjang.


"Lu ngapain di sini? Ini kan jam pelajaran," Pemilik manik


cokelat itu sudah jengah dengan keberadaan gadis itu dan mencari cara agar


gadis itu segera pergi.


"Lagi nggak ada guru di kelas, yuk. Mau gak?"


Tampaknya semesta sedang tak ingin bekerja sama dengannya. Bahkan, gadis


ini masih saja berusaha mengajak Fikar berbicara dan sekarang ke kantin


bersama? Mengapa ia harus dipertemukan dengan gadis yang seakan tidak memiliki


harga diri di depan laki-laki yang baru dikenalnya. Gadis itu memanggil Fikar


lagi untuk menunggu jawaban, tapi yang diajak bicara malah bangkit dari


duduknya.


"Lu mau ke mana? Jadi ke kantin?" tanyanya dengan penuh percaya


diri.


"Ganti baju," jawabnya singkat. Cowok itu merasa jengah berada di


dekat gadis yang sekarang terlihat sedang mendekatinya. Ia tidak suka orang


baru, apalagi seperti gadis ini. Membuatnya semakin tidak menyukai pagi ini


selepas melihat dua insan yang sedang mengobrol tadi. Ia meninggalkan gadis


berambut pirang itu setelah kedua insan yang sedang ia perhatikan tadi sudah


saling berpisah.


"Lu ngapain?" tanya cowok itu ketika menyadari gadis tadi


mengikutinya.


"Ikut lu," cowok itu segera saja berbalik, ia memandang gadis


tadi dengan alis yang hampir menyatu.


"Lu gila ya? Gue bilang gue mau ganti baju. Tolong ya, hargain harga


diri lu sendiri!" ucapnya dan segera meninggalkan gadis tadi. Gadis itu


diam, ia kembali merasakan penolakan dari seorang laki-laki.


***


Pemilik manik hitam itu mengusap wajahnya kasar saat gadis yang baru saja


berbicara dengannya melangkah meninggalkannya. Ia mengembuskan napasnya


kuat-kuat dengan tangan yang terkepal. Apa ia salah kali ini? Apa sekarang ia


penyebab terbesar semua kekacauan ini? Ia memilih melangkahkan kakinya menjauhi


lapangan. Deru napasnya yang masih berburu dan kedua tangannya yang mengepal


mengiringi langkahnya menuju halaman belakang sekolah. Pemilik manik hitam itu


segera menjatuhkan pukulannya pada batang pohon besar yang berada di depan


sebuah bangku. Batang pohon yang tak rata membuat tangannya berdarah seketika


karena begitu keras pukulannya. Namun, pemilik manik hitam itu tak merasakan


sakit yang berarti dan kembali melayangkan sebuah pukulan keras pada pohon itu.


Ia berteriak berharap tak ada yang mendengarnya di sini.


“Kenapa harus gue?” lirihnya seraya menopang tubuhnya dengan tangan yang


bertumpu pada pohon di hadapannya. Seluruh ingatannya tiba-tiba saja terputar


memenuhi benaknya. Seakan sedang mengejeknya yang sekarang sedang jatuh dalam


lembah yang ia ciptakan sendiri.


Sekejam itu kah semesta padanya yang juga merupakan korban? Apa semesta


sedang menghukumnya kali ini? Membuatnya membenci seseorang, lalu membiarkannya


membalas dendam tapi semesta malah membuatnya mencintai orang itu dan sekarang


menghancurkannya layaknya beras yang ditumbuk menjadi tepung. Deru napasnya


yang semakin cepat membuatnya memilih duduk di bangku yang menghadap ke pohon


yang baru saja ia jatuhkan pukulan. Ia mengusap wajahnya kasar, ia merasa


sangat buruk kali ini. Mungkin, jika pria yang sekarang mengaku papanya itu


melihat keadaannya sekarang, ia akan tertawa dan menyorakinya yang dianggap


sudah berbuat bodoh.


“Kenapa jadi gue yang kayak orang bego,”


***


Gadis dengan netra abu-abu itu melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia


menghela napasnya saat tiba-tiba mengingat kejadian pagi tadi. Tak ada Indah


yang menemaninya pulang, membuatnya semakin tenggelam dalam pikiran yang bisa


saja membuatnya hancur kapan pun. Untuk sekarang ia ingin kembali mengunjungi


tempat itu, tempat di mana Radit beristirahat untuk selamanya. Namun, ia tak


sanggup untuk kembali kacau seperti beberapa hari lalu. Sekarang ada satu hal


yang mengganggu pikirannya, separah apa yang dilakukan papa baru Gamma hingga


kerap kali ia melihat cowok itu terluka. Bahkan sebelum ia dan cowok itu mulai


merenggang, dulu saat pertama mengenal dan dekat dengannya, sudut bibir sang


manik hitam sering kali sobek, pelipisnya terluka. Namun, ia tak pernah menanyakannya,


ia pikir ia masih belum berhak akan hal itu. Ditambah lagi Gamma yang tak


pernah membuka kisah mengenai keluarganya, begitu juga dirinya. Ia masih


terlalu takut membagi kisah pahit yang membuatnya merasa seakan tak berhak lagi


mendapat kasih sayang dari seorang pria yang ia panggil Papa.


Suara klakson mobil menyadarkannya dari lamunan. Ia berbalik untuk sekadar


melihat apa yang terjadi. Maniknya menyipit berusaha memerhatikan dengan jelas


siapa yang berada di balik kemudi.


"Jalan sambil lihat woi!" teriak gadis yang baru saja membuka


lebar jendela penumpang di sebelah kemudi, membuatnya


melihat dengan jelas kedua orang yang mengendarai mobil silver itu.


"Lah, lu sejak kapan sama Kak Alfa? Wah parah lu hutang cerita sama


gue. Indah mah gitu," gerutu gadis yang sekarang menatap tajam ke arah


gadis yang hanya tersenyum kepadanya itu.


"Udah ah, gue mau pulang. Dadah Gemi. Hati-hati ya, jangan mewek


mulu," ledek gadis itu. Belum sempat pemilik netra abu-abu itu menanggapi,


mobil silver yang baru saja ditumpangi Alfa dan Indah sudah melaju


meninggalkannya.


***