Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 20



~Bukan hanya kamu, aku juga pernah berekspektasi kemudian


dikecewakan, dan itu alasan bagiku untuk tidak ingin kembali bersahabat dengan


harapan~


***


Suara bel pulang membuat pemilik manik hazel itu segera menyampirkan ransel


cokelat pada kedua bahu kokohnya seraya bangkit dan meninggalkan kelas yang


masih penuh itu. Langkah sang hazel begitu pasti, ia harus cepat khawatir yang


akan ditemuinya sudah pulang. Ia sudah masa bodoh mengenai gadis itu yang


mungkin masih membencinya karena kecerobohan yang ia lakukan. Ia tak peduli


lagi, yang ada dalam benaknya sekarang hanya ketenangan wanita yang begitu ia


cintai. Langkahnya terhenti ketika maniknya menangkap siluet gadis yang ia cari


berada di koridor. Rasa ragu kembali menyelimutinya, seluruh kemungkinan yang


sudah ia pikirkan sejak satu jam yang lalu kembali menghantuinya. Namun semua


itu segera ia tepis, mengingat apa yang sedang dibutuhkan wanita yang sangat


itu cintai itu. Kakinya kembali ia langkahkan untuk mengejar gadis yang semakin


menjauh dari tempatnya berdiri itu. Lidahnya kelu hanya untuk memanggil nama


gadis itu hingga tangannya lah yang bergerak untuk menghentikan langkah gadis


itu.


"Maaf," cicitnya saat pemilik rambut cokelat itu berbalik dan


menatapnya. Gadis itu hanya diam, berusaha menahan amarah yang tiba-tiba saja


menyelinap dalam hatinya. Ia mencoba untuk lebih lunak, menyadari akan hal yang


menimpa cowok yang berdiri di hadapannya itu.


"Apa?" Suara sinis yang keluar dari mulut gadis itu memang tak


bisa terelakkan.


"Saya minta maaf, sekali lagi minta maaf." ujar sang hazel dengan


wajah memelas. Gadis di hadapannya itu sudah jengah dengan kata yang entahlah,


ia tidak bisa memastikan kebenaran antara apa yang keluar dari mulut cowok itu


dengan apa yang ada di dalam hati cowok itu.


"Udah terjadi," jawabnya masih terasa datar.


"Maaf harus mengulangi kesalahan yang dulu," ucap sang hazel.


Gadis itu hanya memutar bola matanya malas.


"Udah bilang aja lu mau ngapain? Minta maaf doang? Basi! Gak akan


ngerubah keadaan," ucap pemilik netra abu-abu itu mencoba menahan gemuruh


dalam dadanya.


"Maaf sebelumnya sedikit lancang. Saya mau ajak Kakak  ke tempat mama saya," ujarnya mantap


setelah berhasil mengubur segala keraguannya dan tentu saja itu tidak mudah.


"Sebentar. Pertama, tolong lu jangan pake kata saya, gue gak suka jadi


berasa ngomong sama siapa gitu. Kedua, nyokap lu? Emang apa hubungannya sama


gue?" tanya gadis yang sekarang semakin tak mengerti apa yang dilakukan


cowok di hadapannya itu.


"Mama saya, eh maksudnya mama gue lagi sakit. Kejiwaannya terganggu,


gampangnya kayak gitu sih. Biasanya dia seneng kalau ada yang jenguk, dan yang


sering dateng Pelangi tapi dia gue ajak tadi gak mau," Gadis itu


sebenarnya tau apa  yang mama cowok itu


alami, tapi ia ingin mendengarnya dari mulut pemilik manik hazel itu sendiri.


"Hmm, kenapa harus gue?" tanyanya yang masih tak habis pikir akan


permintaan sang hazel.


"Karena gue pernah janji bawa lu ke mama.


Hehe gue emang bego, ngerasa gue bakal beneran bisa bawa lu nemuin mama,


nyatanya sekarang terasa lebih sulit ditambah gue  juga gak punya orang deket lagi,"


ujarnya. Gadis berambut cokelat itu diam sejenak. Ia membenci keadaan di mana


ia tidak bisa menciptakan senyum di wajah seseorang yang begitu ia cintai.


Namun, ia juga membenci kesalahan yang terulang seperti yang dilakukan Nata.


"Hm, okelah. Sekalian anterin pulang nanti. Gue gak bawa mobil."


Gadis itu sendiri tak paham kenapa dirinya begitu mudah memaafkan orang yang


berbuat kesalahan yang sama? Sepertinya semesta mendukungnya untuk melupakan


rasa egoisnya sebelum orang lain merasakan kesedihan yang tak jauh berbeda


darinya.


Nata tersenyum mendengar jawaban sang pemilik netra abu-abu itu seraya


mengangguk cepat. Ia tahu pilihan ini adalah pilihan yang berat bagi gadis itu,


tapi dari sini juga ia semakin tahu bahwa gadis yang sekarang melangkah di


sampingnya itu memiliki hati yang lembut.


"Mama lu kenapa bisa gitu?" Gadis itu mencoba membuka percakapan


dalam perjalanan. Cowok di sampingnya itu tersenyum, senyum merendahkan. Seakan


ia sedang merendahkan apa yang terjadi pada keluarganya.


"Sepuluh tahun lalu mama kecelakaan pas mau ke persidangan. Papa selingkuh, mama


mau cerai sama Papa. Tapi ya naas, untungnya mama


masih selamat walau harus kayak gitu," ujar Nata diakhiri dengan senyum


kecut.


Gadis dengan netra abu-abu itu terdiam, maniknya menerawang seakan ia juga


teringat pada kejadian sepuluh tahun lalu di mana papanya pergi meninggalkannya


dan tak pernah kembali tanpa sempat pamit, hanya suara hujan yang membawa kabar


itu padanya. Kabar yang akan ia ingat sepanjang hidupnya, mengenai kabar yang


membisikkan bahwa hidupnya akan berbeda, jauh dari yang ia bayangkan


sebelumnya. Hari itu adalah hari paling gelap dalam hidupnya, hari yang menjadi


awal bagi mendung di hari-hari berikutnya. Ingatannya masih segar saat pria


bernama Radit memeluknya ketika suara petir menyambar dan ia sendiri tak pernah


menduga itu adalah pelukan terakhir dari pria yang sangat ia cintai.  Ia sangat menyayangi papanya hingga dengan


senang hati membiarkan Radit pergi di hari yang sama untuk pergi ke suatu


tempat. Apa mungkin jika ia merengek dan membujuk papanya untuk tetap di rumah


memeluknya saat hujan turun kejadian itu tak akan pernah terjadi? Namun,  rupanya penyesalan itu tak pernah


mengembalikan sesuatu yang sudah pergi.


Laju mobil hitam yang tiba-tiba berhenti menyadarkan pemilik rambut cokelat


itu dari lamunannya. Ia segera turun sesaat Nata mematikan mesin mobil. Gadis


itu masih diam sebelum Nata memintanya untuk mengikuti langkah laki-laki itu.


Netra gadis itu menatap sekeliling, ia berbelok ke arah taman ketika sang hazel


memberi taunya.


"Mah, Nata bawa orang baru, hehe. Mama kenalan ya." Mata sendu


wanita itu menatap gadis yang berada di samping putranya itu.


“Kenapa kamu gak bawa Pelangi? Dia siapa? Mama gak kenal,” tanyanya masih


wanita itu butuh waktu untuk menyesuaikannya dengan orang baru. Gadis itu maju


beberapa langkah dan berjongkok di hadapan wanita yang duduk di kursi roda itu.


“Hai Tante, Tante apa kabar?” tanya Gemi lembut. Tatapan tak suka wanita


itu berangsur berubah, hatinya melunak saat melihat senyum tulus dari orang


yang baru ia temui itu. Namun, wanita itu masih diam dan memilih menatap Nata


untuk meminta penjelasan.


“Kenapa tanya Nata? Tanya aja langsung,” ujar Nata seakan tahu apa yang


ditanyakan Dina.


“Siapanya Nata?” tanya wanita itu ragu-ragu.


"Temen tante," jawab gadis itu sambil tersenyum. Ia menyalami


wanita itu. Hatinya begitu remuk melihat keadaan wanita di hadapannya, wanita


itu terlihat begitu banyak menyimpan luka. Sinar matanya berhasil menjelaskan


tentang semua itu.


"Mbak  boleh pergi sekarang,


saya mau sama anak saya ya." ucap wanita itu pada suster yang sejak tadi


menemaninya. Tampaknya ia sudah mulai menerima keberadaan Gemi.


"Tante sudah makan?" tanya gadis dengan netra abu-abu itu.


"Belum, nama kamu siapa?" tanya wanita itu begitu sumringah.


Bahkan Nata sendiri sudah sangat lama tidak melihat mamanya seperti ini.


Perasaan bahagia akhirnya menyelinap dalam hatinya, seakan ribuan kupu-kupu


sedang terbang di sana. Ia sudah bisa bernapas lega sekarang, melihat mamanya


mau berkenalan dengan gadis lain selain Pelangi.


"Gemi, Tante. Tante makan ya, Gemi suapin." Tawar gadis yang


masih berjongkok di hadapannya itu. Wanita yang duduk di kursi roda itu


tersenyum lalu mengangguk. Sudut bibir cowok yang sedari tadi berdiri di


samping keduanya terangkat.


***


Angin malam menerpa wajah kokoh laki-laki itu. Ia melangkahkan kakinya


tegas di atas lantai marmer yang menghiasi rumah megah itu. Pemilik manik hitam


itu tidak merasakan adanya penghuni di rumah itu selain tukang kebun dan


pembantunya yang sekarang sedang duduk gardu halaman rumahnya.


"A’ Gamma sudah pulang?" tanya Mang Deni.


"Iya Mang, gak ada orang Mang?"


"Nggak ada A’, Ibu sama Bapak berangkat tadi pagi. A’


Gamma butuh sesuatu?" tanya wanita paruh baya yang duduk di sebelah Mang


Deni.


"Nggak usah Bi, Bibi lanjut aja ngobrol. Gamma masuk dulu,"


ucapnya dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah megah itu.


Sepi, itu yang ia rasakan pertama kali. Tak ada tawa lagi semenjak sepuluh


tahun lalu. Kakinya kembali melangkah menuju ruangan di lantai dua yang merupakan


kamarnya.


Ransel yang sedari tadi bertengger di punggungnya ia letakkan di tepi kasur


besarnya. Ia langkahkan kakinya menuju balkon. Laki-laki itu menarik napas


dalam begitu angin malam kembali menyapu rahang kokohnya. Suara gelak tawa


terdengar di bawah sana, ia menginginkan kehangatan itu lagi. Namun, rumah


besar itu sudah tak bernyawa lagi, ia juga yakin Mang Deni dan Bi Sumi tak akan


tertawa selama ada pria yang ia benci di rumah ini. Mereka bahkan tahu apa yang


kerap kali pria itu lakukan padanya. Bahkan mereka tahu perubahan sikapnya


setelah kepergian papanya. Mereka sudah lama bekerja di rumah ini dan


menemaninya semenjak Dandi pergi meninggalkannya. Manik gelapnya menatap


taburan bintang di atas sana. Pikirannya melayang, nama yang ia miliki


mempunyai  arti dari mereka yang tengah


berkerlap-kerlip di antara kegelapan itu. Papanya yang memberikan nama indah


itu dan gadis yang tinggal dengan papanya sekarang yang menceritakan tentang


nama itu. Sangat lucu atau mungkin miris mengingat apa yang sudah terjadi selama


ini.


Pikirannya kembali melayang, kini mengenai gadis yang tadi pagi sempat


berbicara dengannya. Kenapa ia dengan bodohnya harus membalaskan dendam kepada


orang yang bahkan tak tau apa-apa? Apa ia terlalu jahat dalam hal ini? Sekarang


ia sadar, jika ia masih mengakui Dandi sebagai papanya dan Dandi mengakui gadis


itu sebagai anaknya, gadis itu juga adiknya. Apa ia tega melakukan hal buruk


pada gadis yang bahkan seorang korban pula? Lalu kenapa semesta seakan


mempermainkan dirinya, membuatnya seakan menyesali apa yang telah ia lakukan


seakan ia pelaku terbesar dalam drama yang semesta ciptakan untuknya. Ia


kembali mengembuskan napas berat. Adiknya tak seharusnya mendapatkan hal itu.


***


Laki-laki itu membuka pintu cukup pelan, agar Dewi tidak terjaga. Kakinya


segera melangkah menjauhi tempat itu sebelum menggeser jarinya di atas layar


ponselnya dan menempelkannya di telinga kanan. Pemilik manik cokelat itu


memutar bola matanya malas mendengar apa yang baru saja dikatakan seseorang di


seberang sana.


“Bukankah selama ini semuanya berjalan baik-baik saja tanpa saya harus


berada di sana?” tanyanya.


“Saya tanya pada Anda sekarang, apa baru kali ini kita mengambil proyek


besar tanpa saya harus selalu hadir dalam setiap pertemuan yang mereka inginkan?”


Nada Fikar semakin meninggi.


“Saya sudah susah-susah memindahkan pusat dari Australiake


sini untuk Mama saya, lalu sekarang saya harus melanggar permintaan Mama saya?


Begitu maksud Anda?” napas Fikar semakin menderu mendengar jawaban di seberang


sana.


“Lalu apa? Sekarang semuanya menjadi kesalahan saya begitu? Apa dengan


menolak kerja sama itu akan membuat kita bangkrut?” potong Fikar yang sudah


terdengar muak dengan alasan yang ia dengar.


“Tapi apa? Saya tidak peduli berapa keuntungan yang gagal saya dapatkan


dari proyek ini! saya tidak mau dengar apa pun lagi! Batalkan, atau surat


pengunduran diri Anda harus berada di meja saya besok,” tikamnya dan langsung


menutup panggilan


***