
~Bukan hanya kamu, aku juga pernah berekspektasi kemudian
dikecewakan, dan itu alasan bagiku untuk tidak ingin kembali bersahabat dengan
harapan~
***
Suara bel pulang membuat pemilik manik hazel itu segera menyampirkan ransel
cokelat pada kedua bahu kokohnya seraya bangkit dan meninggalkan kelas yang
masih penuh itu. Langkah sang hazel begitu pasti, ia harus cepat khawatir yang
akan ditemuinya sudah pulang. Ia sudah masa bodoh mengenai gadis itu yang
mungkin masih membencinya karena kecerobohan yang ia lakukan. Ia tak peduli
lagi, yang ada dalam benaknya sekarang hanya ketenangan wanita yang begitu ia
cintai. Langkahnya terhenti ketika maniknya menangkap siluet gadis yang ia cari
berada di koridor. Rasa ragu kembali menyelimutinya, seluruh kemungkinan yang
sudah ia pikirkan sejak satu jam yang lalu kembali menghantuinya. Namun semua
itu segera ia tepis, mengingat apa yang sedang dibutuhkan wanita yang sangat
itu cintai itu. Kakinya kembali ia langkahkan untuk mengejar gadis yang semakin
menjauh dari tempatnya berdiri itu. Lidahnya kelu hanya untuk memanggil nama
gadis itu hingga tangannya lah yang bergerak untuk menghentikan langkah gadis
itu.
"Maaf," cicitnya saat pemilik rambut cokelat itu berbalik dan
menatapnya. Gadis itu hanya diam, berusaha menahan amarah yang tiba-tiba saja
menyelinap dalam hatinya. Ia mencoba untuk lebih lunak, menyadari akan hal yang
menimpa cowok yang berdiri di hadapannya itu.
"Apa?" Suara sinis yang keluar dari mulut gadis itu memang tak
bisa terelakkan.
"Saya minta maaf, sekali lagi minta maaf." ujar sang hazel dengan
wajah memelas. Gadis di hadapannya itu sudah jengah dengan kata yang entahlah,
ia tidak bisa memastikan kebenaran antara apa yang keluar dari mulut cowok itu
dengan apa yang ada di dalam hati cowok itu.
"Udah terjadi," jawabnya masih terasa datar.
"Maaf harus mengulangi kesalahan yang dulu," ucap sang hazel.
Gadis itu hanya memutar bola matanya malas.
"Udah bilang aja lu mau ngapain? Minta maaf doang? Basi! Gak akan
ngerubah keadaan," ucap pemilik netra abu-abu itu mencoba menahan gemuruh
dalam dadanya.
"Maaf sebelumnya sedikit lancang. Saya mau ajak Kakak ke tempat mama saya," ujarnya mantap
setelah berhasil mengubur segala keraguannya dan tentu saja itu tidak mudah.
"Sebentar. Pertama, tolong lu jangan pake kata saya, gue gak suka jadi
berasa ngomong sama siapa gitu. Kedua, nyokap lu? Emang apa hubungannya sama
gue?" tanya gadis yang sekarang semakin tak mengerti apa yang dilakukan
cowok di hadapannya itu.
"Mama saya, eh maksudnya mama gue lagi sakit. Kejiwaannya terganggu,
gampangnya kayak gitu sih. Biasanya dia seneng kalau ada yang jenguk, dan yang
sering dateng Pelangi tapi dia gue ajak tadi gak mau," Gadis itu
sebenarnya tau apa yang mama cowok itu
alami, tapi ia ingin mendengarnya dari mulut pemilik manik hazel itu sendiri.
"Hmm, kenapa harus gue?" tanyanya yang masih tak habis pikir akan
permintaan sang hazel.
"Karena gue pernah janji bawa lu ke mama.
Hehe gue emang bego, ngerasa gue bakal beneran bisa bawa lu nemuin mama,
nyatanya sekarang terasa lebih sulit ditambah gue juga gak punya orang deket lagi,"
ujarnya. Gadis berambut cokelat itu diam sejenak. Ia membenci keadaan di mana
ia tidak bisa menciptakan senyum di wajah seseorang yang begitu ia cintai.
Namun, ia juga membenci kesalahan yang terulang seperti yang dilakukan Nata.
"Hm, okelah. Sekalian anterin pulang nanti. Gue gak bawa mobil."
Gadis itu sendiri tak paham kenapa dirinya begitu mudah memaafkan orang yang
berbuat kesalahan yang sama? Sepertinya semesta mendukungnya untuk melupakan
rasa egoisnya sebelum orang lain merasakan kesedihan yang tak jauh berbeda
darinya.
Nata tersenyum mendengar jawaban sang pemilik netra abu-abu itu seraya
mengangguk cepat. Ia tahu pilihan ini adalah pilihan yang berat bagi gadis itu,
tapi dari sini juga ia semakin tahu bahwa gadis yang sekarang melangkah di
sampingnya itu memiliki hati yang lembut.
"Mama lu kenapa bisa gitu?" Gadis itu mencoba membuka percakapan
dalam perjalanan. Cowok di sampingnya itu tersenyum, senyum merendahkan. Seakan
ia sedang merendahkan apa yang terjadi pada keluarganya.
"Sepuluh tahun lalu mama kecelakaan pas mau ke persidangan. Papa selingkuh, mama
mau cerai sama Papa. Tapi ya naas, untungnya mama
masih selamat walau harus kayak gitu," ujar Nata diakhiri dengan senyum
kecut.
Gadis dengan netra abu-abu itu terdiam, maniknya menerawang seakan ia juga
teringat pada kejadian sepuluh tahun lalu di mana papanya pergi meninggalkannya
dan tak pernah kembali tanpa sempat pamit, hanya suara hujan yang membawa kabar
itu padanya. Kabar yang akan ia ingat sepanjang hidupnya, mengenai kabar yang
membisikkan bahwa hidupnya akan berbeda, jauh dari yang ia bayangkan
sebelumnya. Hari itu adalah hari paling gelap dalam hidupnya, hari yang menjadi
awal bagi mendung di hari-hari berikutnya. Ingatannya masih segar saat pria
bernama Radit memeluknya ketika suara petir menyambar dan ia sendiri tak pernah
menduga itu adalah pelukan terakhir dari pria yang sangat ia cintai. Ia sangat menyayangi papanya hingga dengan
senang hati membiarkan Radit pergi di hari yang sama untuk pergi ke suatu
tempat. Apa mungkin jika ia merengek dan membujuk papanya untuk tetap di rumah
memeluknya saat hujan turun kejadian itu tak akan pernah terjadi? Namun, rupanya penyesalan itu tak pernah
mengembalikan sesuatu yang sudah pergi.
Laju mobil hitam yang tiba-tiba berhenti menyadarkan pemilik rambut cokelat
itu dari lamunannya. Ia segera turun sesaat Nata mematikan mesin mobil. Gadis
itu masih diam sebelum Nata memintanya untuk mengikuti langkah laki-laki itu.
Netra gadis itu menatap sekeliling, ia berbelok ke arah taman ketika sang hazel
memberi taunya.
"Mah, Nata bawa orang baru, hehe. Mama kenalan ya." Mata sendu
wanita itu menatap gadis yang berada di samping putranya itu.
“Kenapa kamu gak bawa Pelangi? Dia siapa? Mama gak kenal,” tanyanya masih
wanita itu butuh waktu untuk menyesuaikannya dengan orang baru. Gadis itu maju
beberapa langkah dan berjongkok di hadapan wanita yang duduk di kursi roda itu.
“Hai Tante, Tante apa kabar?” tanya Gemi lembut. Tatapan tak suka wanita
itu berangsur berubah, hatinya melunak saat melihat senyum tulus dari orang
yang baru ia temui itu. Namun, wanita itu masih diam dan memilih menatap Nata
untuk meminta penjelasan.
“Kenapa tanya Nata? Tanya aja langsung,” ujar Nata seakan tahu apa yang
ditanyakan Dina.
“Siapanya Nata?” tanya wanita itu ragu-ragu.
"Temen tante," jawab gadis itu sambil tersenyum. Ia menyalami
wanita itu. Hatinya begitu remuk melihat keadaan wanita di hadapannya, wanita
itu terlihat begitu banyak menyimpan luka. Sinar matanya berhasil menjelaskan
tentang semua itu.
"Mbak boleh pergi sekarang,
saya mau sama anak saya ya." ucap wanita itu pada suster yang sejak tadi
menemaninya. Tampaknya ia sudah mulai menerima keberadaan Gemi.
"Tante sudah makan?" tanya gadis dengan netra abu-abu itu.
"Belum, nama kamu siapa?" tanya wanita itu begitu sumringah.
Bahkan Nata sendiri sudah sangat lama tidak melihat mamanya seperti ini.
Perasaan bahagia akhirnya menyelinap dalam hatinya, seakan ribuan kupu-kupu
sedang terbang di sana. Ia sudah bisa bernapas lega sekarang, melihat mamanya
mau berkenalan dengan gadis lain selain Pelangi.
"Gemi, Tante. Tante makan ya, Gemi suapin." Tawar gadis yang
masih berjongkok di hadapannya itu. Wanita yang duduk di kursi roda itu
tersenyum lalu mengangguk. Sudut bibir cowok yang sedari tadi berdiri di
samping keduanya terangkat.
***
Angin malam menerpa wajah kokoh laki-laki itu. Ia melangkahkan kakinya
tegas di atas lantai marmer yang menghiasi rumah megah itu. Pemilik manik hitam
itu tidak merasakan adanya penghuni di rumah itu selain tukang kebun dan
pembantunya yang sekarang sedang duduk gardu halaman rumahnya.
"A’ Gamma sudah pulang?" tanya Mang Deni.
"Iya Mang, gak ada orang Mang?"
"Nggak ada A’, Ibu sama Bapak berangkat tadi pagi. A’
Gamma butuh sesuatu?" tanya wanita paruh baya yang duduk di sebelah Mang
Deni.
"Nggak usah Bi, Bibi lanjut aja ngobrol. Gamma masuk dulu,"
ucapnya dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah megah itu.
Sepi, itu yang ia rasakan pertama kali. Tak ada tawa lagi semenjak sepuluh
tahun lalu. Kakinya kembali melangkah menuju ruangan di lantai dua yang merupakan
kamarnya.
Ransel yang sedari tadi bertengger di punggungnya ia letakkan di tepi kasur
besarnya. Ia langkahkan kakinya menuju balkon. Laki-laki itu menarik napas
dalam begitu angin malam kembali menyapu rahang kokohnya. Suara gelak tawa
terdengar di bawah sana, ia menginginkan kehangatan itu lagi. Namun, rumah
besar itu sudah tak bernyawa lagi, ia juga yakin Mang Deni dan Bi Sumi tak akan
tertawa selama ada pria yang ia benci di rumah ini. Mereka bahkan tahu apa yang
kerap kali pria itu lakukan padanya. Bahkan mereka tahu perubahan sikapnya
setelah kepergian papanya. Mereka sudah lama bekerja di rumah ini dan
menemaninya semenjak Dandi pergi meninggalkannya. Manik gelapnya menatap
taburan bintang di atas sana. Pikirannya melayang, nama yang ia miliki
mempunyai arti dari mereka yang tengah
berkerlap-kerlip di antara kegelapan itu. Papanya yang memberikan nama indah
itu dan gadis yang tinggal dengan papanya sekarang yang menceritakan tentang
nama itu. Sangat lucu atau mungkin miris mengingat apa yang sudah terjadi selama
ini.
Pikirannya kembali melayang, kini mengenai gadis yang tadi pagi sempat
berbicara dengannya. Kenapa ia dengan bodohnya harus membalaskan dendam kepada
orang yang bahkan tak tau apa-apa? Apa ia terlalu jahat dalam hal ini? Sekarang
ia sadar, jika ia masih mengakui Dandi sebagai papanya dan Dandi mengakui gadis
itu sebagai anaknya, gadis itu juga adiknya. Apa ia tega melakukan hal buruk
pada gadis yang bahkan seorang korban pula? Lalu kenapa semesta seakan
mempermainkan dirinya, membuatnya seakan menyesali apa yang telah ia lakukan
seakan ia pelaku terbesar dalam drama yang semesta ciptakan untuknya. Ia
kembali mengembuskan napas berat. Adiknya tak seharusnya mendapatkan hal itu.
***
Laki-laki itu membuka pintu cukup pelan, agar Dewi tidak terjaga. Kakinya
segera melangkah menjauhi tempat itu sebelum menggeser jarinya di atas layar
ponselnya dan menempelkannya di telinga kanan. Pemilik manik cokelat itu
memutar bola matanya malas mendengar apa yang baru saja dikatakan seseorang di
seberang sana.
“Bukankah selama ini semuanya berjalan baik-baik saja tanpa saya harus
berada di sana?” tanyanya.
“Saya tanya pada Anda sekarang, apa baru kali ini kita mengambil proyek
besar tanpa saya harus selalu hadir dalam setiap pertemuan yang mereka inginkan?”
Nada Fikar semakin meninggi.
“Saya sudah susah-susah memindahkan pusat dari Australiake
sini untuk Mama saya, lalu sekarang saya harus melanggar permintaan Mama saya?
Begitu maksud Anda?” napas Fikar semakin menderu mendengar jawaban di seberang
sana.
“Lalu apa? Sekarang semuanya menjadi kesalahan saya begitu? Apa dengan
menolak kerja sama itu akan membuat kita bangkrut?” potong Fikar yang sudah
terdengar muak dengan alasan yang ia dengar.
“Tapi apa? Saya tidak peduli berapa keuntungan yang gagal saya dapatkan
dari proyek ini! saya tidak mau dengar apa pun lagi! Batalkan, atau surat
pengunduran diri Anda harus berada di meja saya besok,” tikamnya dan langsung
menutup panggilan
***