Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 30



~Namun, semesta tak sekejam itu hanya karena sebuah kesalahan~


***


Sebuah motor hitam memasuki pelataran rumah megah itu. Manik hitam milik pengemudinya tak menangkap keberadaan mobil silver milik pria yang tak pernah ia sukai itu di garasi, itu artinya rumah ini kosong. Namun, maniknya tadi sempat melihat sebuah mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya. Ia mencoba mengabaikan hal itu karena baginya ternyata sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali. Pemilik manik hitam itu segera melepas helmnya sesaat berhasil memarkirkan motornya  di garasi, ia meringis ketika ujung helmnya menggores luka yang kapasnya sudah ia buka walau belum benar-benar sembuh. Rumah ini benar-benar sepi, biasanya ia akan menemukan wanita dan pria paruh baya sedang minum kopi atau sekadar berbincang-bincang di gardu rumahnya.


Udara malam yang semakin dingin membuat Gamma memilih untuk melangkahkan kakinya menuju pintu rumah dengan cat biru itu. Baru beberapa langkah kakinya menapaki lantai dalam rumah dan hendak menuju kamarnya di lantai dua, ia tercekat melihat seseorang di anak tangga paling bawah dengan kepala yang bercucuran darah hingga menggenangi lantai. Ia mengenal laki-laki itu. Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya, tapi ia lebih memilih segera membopong tubuh yang sudah lemah itu menuju sebuah mobil hitam di garasi.


Gamma segera meninggalkan pelataran rumahnya setelah sebuah taksi kembali melaju dan berhasil menurunkan Mang Deni dan Bi Sumi dengan berbagai barang belanjaan yang membuat Gamma sadar ternyata mereka dari supermarket. Pantas saja tak ada yang menemukan laki-laki yang lemas di jok penumpang belakang itu.


Pemilik manik hitam itu melirik cowok yang ia kenal sebagai teman adiknya, tapi kenapa ia bisa ada di rumahnya dengan kepala yang penuh darah, apa mungkin Tomi menyakitinya? Apa hubungan Tomi dengan cowok itu? Berbagai pertanyaan seakan sedang mengantri di benaknya.


***


Tubuh laki-laki yang lemas itu sudah masuk ke sebuah ruangan beberapa menit lalu. Kini, pemilik manik hitam itu sedang menunggu kedatangan gadis yang baru saja ia hubungi. Embusan napas terdengar sesekali, ia berada dalam kondisi yang bahkan tak pernah ia pahami. Siapa sebenarnya laki-laki bernama Fikar itu, kenapa ia bisa mengenal pria bajingan itu? Sejujurnya Gamma membenci keadaan yang membuatnya bingung dengan segala hal. Seakan ia terjebak dalam sebuah hal yang tidak ia pahami sebelumnya.


Gadis dengan rambut cokelat itu terlihat mendekati Gamma membuatnya bangkit. Gemi menatap laki-laki yang sekarang sudah ada di hadapannya itu penuh tanda tanya. Namun, Gamma hanya diam karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi hingga pintu di sebelah keduanya terbuka dan menampilkan seorang pria berpakaian dokter.


"Luka yang berada di kepala pasien cukup lebar tapi untungnya tengkoraknya tidak apa-apa. Namun, kami perlu melakukan tindakan pada lukanya karena hingga saat ini darah masih terus mengucur. Luka itu harus segera


dijahit dan ini darurat sebelum pasien kehabisan darah ditambah luka yang berada di bagian lain membuat kondisi pasien semakin melemah, tapi rumah sakit kami sedang kekurangan darah AB-, kami harap kalian bisa membantu. Kami akan menghubungi rumah sakit lain untuk mencarikan darah tersebut. Saya permisi dulu," ucap pria itu dan segera berlalu dengan terburu-buru. Gamma menoleh ke arah gadis yang sedang berkutat dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika gadis tadi menoleh padanya.


"Nata," jawab gadis itu seakan tau apa yang menjadi pertanyaan cowok yang sekarang beralih memandang pintu ruangan Fikar.


"Nat, gue butuh lo sekarang! Ke RS Pratama Indah. Gue tunggu," ucap gadis itu terburu-buru dan segera menutup panggilannya. Lalu, ia memilih untuk duduk di samping pemilik manik hitam yang sekarang sedang menatap kedua


ujung sepatunya.


"Abang ketemu Fikar di mana?" tanya gadis itu. Cowok itu menghela napas sebentar sebelum menoleh untuk menatap gadis yang sudah dengan santainya memanggilanya 'abang'.


"Gue temuin dia udah pingsan di rumah gue dengan keadaan gitu. Emang kenapa dia bisa di rumah sih?"


"Waduh, kayaknya dia kena pukul bokap lu deh, Bang."


"Bukan bokap gue!"


"Iya-iya santai gak usah ngegas. Tomi itu bokap kandungnya Fikar sama Nata,"


"Ha?" Gamma membelalakkan matanya menatap gadis yang duduk di sampingnya itu.


Gemi memilih menceritakan apa yang ia tahu. Ia pikir tak ada salahnya cowok ini juga berhak tahu semua itu. Gamma mengusap wajahnya kasar setelah mengetahui akan semuanya. Ia merasa benar-benar egois hanya menganggap dirinya sendiri yang menjadi korban terparah dalam kasus di hidupnya hingga dengan bodohnya ia


sempat ingin membalaskan dendamnya pada gadis yang berada di sampingnya itu. Ia kembali merutuki dirinya yang begitu tolol. Tak ada lagi pembicaraan setelahnya hingga sang hazel menghampiri dua insan yang diam dengan pikiran masing-masing itu.


"Dia kenapa?" tanyanya.


"Hmm. Nggak ada," balasnya setelah berpikir cukup lama.


"Ck, aduh gimana ini. Fikar kekurangan darah, RS ini lagi kekurangan stok darah itu,” Gemi mulai gelisah.


"Terus gimana, Bang?" tanya Gemi yang mulai panik.


"Tunggu-tunggu jangan panik. Kalo gue gak salah inget, Papa Dandi AB-. Iya bener, gue gak salah inget." katanya segera meminta Gemi menghubungi Dandi karena dirinya tak memiliki kontak pria itu lagi semenjak Dandi meninggalkannya sepuluh tahun lalu. Dandi tak pernah memberikan kontaknya kepada cowok yang notabenenya adalah putranya sendiri, itu ia lakukan untuk menjaga keselamatan putranya dari amukan Tomi  walaupun sebenarnya Tomi tetaplah Tomi. Pria yang mengutamakan ego di atas segalanya.


***


Dandi keluar dari ruang donor darah. Pemilik manik hitam yang sedari tadi menunggunya keluar segera memeluknya erat. Dandi yang sudah tak bisa menahan rasa rindunya membalas pelukan itu. Keduanya begitu lama berpelukan, seakan tak ingin pelukan itu lepas dan kembali memisahkan mereka. Dandi mengajak laki-laki


itu ke kantin rumah sakit setelah pelukan tadi terurai.


"Papa kemana aja?" tanya pemilik manik hitam itu tanpa melirik wanita yang baru saja meletakkan segelas minuman di hadapannya, netranya memilih memandang lekat pria yang begitu ia sayangi dan rindukan itu.


"Wajahmu kenapa sayang?" Pria tadi malah bertanya hal lain, membuat cowok di hadapannya berdecak.


"Semua ini terjadi karena Papa ninggalin Gamma. Mama gak sayang sama Gamma, Pah." ucapnya sendu. Dandi menunduk, memainkan sedotan, mengaduk minuman yang belum ia hisap sama sekali.


"Mama biarin Gamma kayak gini, Pah. Mama gak pernah belain Gamma. Pah, tatap Gamma Pah," panggil pemilik manik hitam itu, membuat pria di hadapannya mendongak dan menatap putra yang begitu ia sayangi. Ia tak berniat


membalas ucapan putranya itu. Sesuatu di dalam sana terasa ingin berontak. Ia sangat menyayangi putranya itu, hatinya remuk melihat wajah putranya yang penuh luka, bahkan di belakang kepala putranya itu masih terlihat jelas bekas jahitan karena rambut belum tumbuh di sana. Ia menyesal, menyesal harus meninggalkan putranya itu selama sepuluh tahun bersama wanita yang ternyata tak peduli dengan cowok itu. Ia juga menyesal tak mendatangi putranya dan memperjuangkan hak asuh yang bisa ia dapatkan kapan saja seandainya ia tahu apa yang mantan


istrinya itu lakukan. Namun, semuanya sudah berlalu dan hanya tersisa penyesalan.


"Gamma pengen tinggal sama Papa," cicitnya.


"Gak bisa, Nak."


"Kenapa nggak, Pa? Gemi terima Gamma kok sebagai kakaknya. Sekarang dia panggil aku abang, Gamma jadi abang dari seorang gadis yang pernah Gamma cintai. Papa tahu apa yang terjadi? Karena Papa pergi dan tak pernah mengabari Gamma lagi, Gamma mencintai gadis yang sekarang adalah putri Papa. Maaf, Pa. Maafin Gamma. Papa tenang saja, kami sudah berusaha menghilangkan rasa bodoh itu," ujarnya lalu mengalihkan pandangannya, seakan fakta itu begitu menyakiti dirinya sekarang. Ia sendiri merasa teriris akan apa yang baru saja ia ungkapkan, membuatnya tak berani memandang pria yang duduk di hadapannya itu.


"Kalian pernah saling mencintai?"


"Tapi sekarang saling melepaskan. Sudahlah lupakan hal itu, anggap saja itu kebodohan Gamma. Sekarang yang Gamma mau cuma satu, Gamma mau tinggal sama Papah, Gamma yakin Mama Gemi bisa terima Gamma," Gamma memohon.


"Terus Mama kamu gimana? Kamu gak kasian sama dia?"


"Kasian pada orang yang melihat putranya sendiri dianiaya, dipukul, ditampar, dan dia hanya diam tak berbuat apa pun? Gimana menurut Papa? Apa masih perlu Gamma jawab pertanyaan Papa?" tanya pemilik manik hitam


itu, pria di hadapannya itu hanya menggeleng. Dandi memilih diam, ia menegak minuman di hadapannya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering karena percakapan ini. Ia  tak tahu apa yang akan Tomi lakukan jika Gamma tinggal bersamanya. Pria itu mengembuskan napas panjang sebelum memilih menatap putranya.


***