Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 22



~Berdiri bersama sakit, tertatih bersama pilu, mengais


senyum bersama tangis, tertawa bersama pedih, dan melindungi dengan menyakiti~


***


Gemi menatap cowok yang baru saja ditangani tenaga medis itu. Ia masih


merasakan sakit pada perutnya hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk


bangkit. Pemilik manik cokelat itu menghela napas sebelum turun dari brankar


tempatnya mendapat tindakan.


"Lu beneran mau langsung balik?" tanya gadis yang sekarang


menatap cowok di hadapannya itu yang sedang memerhatikan wajahnya di pantulan


layar ponselnya.


"Mau ngapain lagi?" tanyanya balik seraya mencabut kapas yang


melekat di pelipis dan sudut bibirnya.


“Eh ngapain dibuka?” tegur Gemi seraya mengikuti langkah cowok di


hadapannya itu.


“Gak guna,” jawabnya santai seraya memberikan beberapa lembar uang pada


wanita yang sedang mengurus administrasinya.


“Oh ya, lu ikut gue bentar.”  Pinta


Fikar  pada  gadis  yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Ke mana?" tanya Gemi tapi sang pemilik manik cokelat itu tak


merespons, ia hanya melangkahkan kakinya. Gadis yang berjalan di belakangnya


itu hanya diam, tak berniat bertanya lagi. Ia hanya perlu mengikuti langkah


cowok di depannya. Cowok yang baru saja keluar dari UGD itu melangkah tegas,


seakan apa yang dikatakan dokter tadi tidak ada yang melekat di otaknya.


Bahkan, dari belakang gadis itu merasa cowok itu baik-baik saja. Tiba-tiba


langkah cowok itu berhenti, membuat gadis dengan rambut cokelatnya itu


mendongak seakan meminta penjelasan.


"Lu ketemu sama mama gue dulu ya," ucapnya. Tak perlu menunggu


jawaban dari yang diajak bicara, sang pemilik manik cokelat itu segera


mendorong daun pintu yang ada di depannya. Wanita paruh baya yang sedang


membaca majalah itu menoleh.


"Sayang, dia siapa?" tanya wanita yang sedang meletakkan majalah


yang baru saja ia baca di nakas yang tak jauh darinya.


"Temen Fikar, Ma." jawab laki-laki itu masih membelakangi mamanya


dengan sebuah alibi menutup pintu. Gadis yang sekarang bingung itu hanya diam


di samping pemilik iris cokelat itu, menunggu perintah darinya apa yang harus


ia lakukan setelahnya.


"Ayo," ajak cowok itu ketika menyadari Gemi hanya terdiam di


sampingnya.


"Fikar, kamu kenapa?" Suara riang Dewi berubah khawatir ketika


putranya berbalik dan wajahnya terlihat lebam dan luka di sana-sini.


"Gapapa, Ma."


"Gapapa apaan? Bilang sama Mama kamu kenapa!" Fikar memilih diam,


ia memejamkan matanya tak berniat untuk menjawab.


"Nak, Fikar kenapa?" Pertanyaan itu beralih pada sang netra


abu-abu. Yang ditanya terkesiap. Ia tak tahu harus melakukan apa kali ini. Ia


melirik cowok yang berada di sampingnya, kalau yang ditanya saja tidak


menjawab, apa ia pantas menjawab pertanyaan itu sekarang?


"Fikar tengkar sama Nata," Suara cowok itu akhirnya muncul.


Tangan Dewi terangkat, mengusap luka di wajah anak laki-lakinya yang tak


terbalut kapas. Cowok itu memegang tangan mamanya, seakan ingin menghentikan


pergerakan itu.


"Fikar gak apa-apa, Ma. Tadi sudah dibawa ke dokter sama Gemi. Mama


gak mau kenalan?" Usahanya mengalihkan pembicaraan berhasil. Wanita tadi


menarik tangannya dan memilih menatap gadis yang sedari tadi hanya diam.


"Namanya siapa?"


"Geminorum Artemis, dipanggil Gemi, Tante" jawabnya dengan senyum


yang terulas di bibirnya.


"Namanya bagus. Artemis itu dewi pemburu, kan? Pasti kamu gadis


tangguh, seperti namamu," duga wanita bernama Dewi itu, gadis tadi hanya


tersenyum.


"Mama belum makan ya?" tanya pemilik manik cokelat itu setelah


melihat semangkuk bubur di nakas yang belum tersentuh.


"Nunggu kamu mau disuapin, tapi sekarang males disuapin kamu. Mending


sama Gemi aja deh," goda mama Fikar.


"Mama genit ih, baru kenal juga. Nih," cowok itu memberikan


semangkuk bubur pada gadis tadi. Gadis itu menerimanya dan mulai menyuapi


wanita yang begitu ramah padanya.


Fikar mundur


dan memilih untuk duduk di sofa, menyaksikan mamanya yang kembali tertawa menceritakan


masa kecil Fikar yang menurut cowok itu malah memalukan. Ia sesekali mengaduh


pada mamanya, meminta wanita itu berhenti menceritakan kisah konyolnya. Namun,


mamanya tak mengindahkan permintaan itu. Akhirnya Fikar memilih mengalah, ia


lebih suka melihat mamanya kembali tertawa walau harus membuatnya malu di


hadapan orang lain.


***


Sang hazel memerhatikan wajahnya di pantulan cermin yang menggantung di


mobilnya. Ia menarik beberapa lembar tisu yang berada di dashboard dan


mengusap darah yang masih tersisa di sudut bibir dan hidungnya. Ia meringis


saat tangannya yang terlalu kasar membersihkan luka yang masih baru itu. Ia


melemparkan bekas tisu yang baru saja digunakan setelah  berhasil turun dari mobil hitamnya. Cowok


dengan manik hazel itu seakan tak bosan menyusuri koridor dengan lantai putih


yang ia tapaki, padahal ia sendiri membenci tempat berbau obat. Langkahnya


terhenti ketika suara pria yang bahkan ia hafal memanggilnya.


"Nak Nata tolong ke ruangan saya sebentar," pinta pria tadi,


cowok itu sedang malas menanggapi dan memilih menurut. Sudut bibirnya yang


hanya ia bersihkan dengan tisu tadi terasa sedikit perih, membuatnya semakin


malas berbicara. Nata mengikuti langkah pria di hadapannya dan hanya memilih


berdiri di hadapan pria yang sudah duduk di kursinya itu.


"Ini perawat yang kemarin bersama Nyonya Dina dan ini foto laki-laki


itu,"


Nata hanya


wajah wanita itu. Maniknya beralih pada secarik foto yang diambil dari potongan


video CCTV . Maniknya melebar ketika menyadari siapa laki-laki itu.


"Dokter gak salah?" tanyanya seakan tak percaya terhadap apa yang


baru saja ia lihat.


"Bisa Nak Nata tanyakan pada perawat secara langsung,"


"Mbak, ini beneran? Mbak gak salah lihat?" tanyanya masih


berusaha memastikan.


"Iya, Mas. Itu laki-laki yang saya lihat. Baik yang pertama maupun


yang kedua." Nata menggigit bibir bawahnya. Untuk apa Tomi mendatangi mamanya?


Bahkan semenjak mamanya di sini, pria itu tak pernah mendatangi rumah sakit


ini, buktinya sang perawat hanya melihatnya kala itu. Seakan masih tak percaya,


Nata mengeluarkan ponselnya. Memainkan jarinya di atas layar benda pipih itu


dan menunjukkan sebuah foto yang lebih jelas, foto seseorang yang sama dengan


foto yang baru saja ia lihat.


"Ini, mbak?" tanyanya tak sabaran. Perawat itu segera mengiyakan.


Nata masih mencoba memastikan.


"Bukan orang ini?" Kali ini foto Fikar yang ia tunjukkan. Namun,


perawat itu menggeleng seraya menjawab tidak. Pemilik manik hazel itu mengeraskan


rahangnya dan segera keluar tanpa berkata lagi. Pikirannya terbelah, salahkah


dia sudah memukuli saudaranya hingga sebegitu parahnya? Dan kenapa pria itu


mendatangi Dina yang sejak dulu tak pernah terlihat lagi batang hidungnya?


Teka-teki apa lagi yang akan semesta siapkan untuknya.


***


Pemilik manik hitam itu kembali memecah keheningan malam dengan deru


motornya. Ia menghirup udara malam, mencoba menikmati suguhan semesta baginya


sebelum kembali pada tempat yang ia anggap tak bernyawa lagi itu. Katakanlah ia


menyesal menolak untuk tinggal di rumah sahabatnya itu untuk malam ini. Cowok


itu mengembuskan napas berat di balik helmnya. Maniknya menatap jalanan yang


semakin sepi, lampu-lampu di rumah yang ia lewati sudah sebagian padam. Ia


hendak menambah kecepatan motornya sebelum sebuah mobil tiba-tiba menghalangi


jalannya dan terpaksa membuatnya mengerem dengan sangat kuat demi menghindari


kecelakaan.


Gamma menggeram dari balik helmnya seraya membunyikan klakson, berharap


mobil itu kembali melaju. Bukannya melaju, sebuah pintu di sebelah kanan mobil


putih itu terbuka. Gamma mendengkus melihat pengemudinya turun, ia memicingkan


matanya agar dapat melihat dengan jelas siapa yang baru saja turun. Maniknya


tiba-tiba saja membelalak saat menyadari siapa yang sekarang mendekatinya. Ia


mengeraskan rahangnya menatap laki-laki dengan bar empat yang tertempel di


bahunya dengan apik. Gamma memutar bola matanya malas dan berniat membelokkan


motor hitamnya sebelum sebuah tangan menahannya. Pemilik manik hitam itu menghempaskan


tangan yang berada di pergelangan tangan kanannya hingga lepas begitu saja.


Laki-laki di hadapannya itu tersenyum kecut menatap wajah Gamma yang sebagian


besar tertutup helm.


“Apa kabar?” tanyanya berusaha ramah. Gamma mengembuskan napas berusaha membalasnya


dengan sikap ramah pula.


“Baik,” jawabnya singkat dengan nada tak suka yang masih tak dapat


terelakkan.


“Mau ngopi dulu gak?”


“Nggak. Udah mau lu apa?” tanya Gamma menolak tawaran laki-laki di


hadapannya itu. Laki-laki dengan pakaian pilot itu tersenyum kecut.


“Gue baru dari bandara,” ujarnya yang sekarang malah membuat Gamma


mendengkus seraya memutar bola matanya malas.


“Apa kabar cewek lu yang kemarin? Dia cewek lu, kan?”


Gamma mendongak seraya mengembuskan napas, seharusnya ia tinggalkan saja


laki-laki ini tadi.


“Kalo lu cuman mau tanya itu doang, gue sibuk.” tegas pemilik manik hitam


yang mulai jengah itu.


“Wuh santai, Bro. Tenang aja kali ini gak akan gue embat, kok.” katanya


diakhiri tawa yang malah membuat Gamma semakin jengah. Laki-laki itu melangkah


mendekati pemilik  manik hitam yang masih


berada di atas motor hitamnya itu.


“Gimana kabar Senja?” Pertanyaan itu membuat Gamma mengerutkan keningnya.


“Ya mana gue tau, yang jadi cowoknya siapa?! Tolong ya, gue udah gak pernah


ganggu kalian lagi jadi gak usah ganggu gue lagi. Kita udah kelar dan lu


tinggal nikmatin Senja semau lu! Gue gak peduli lagi. Minggir lu!” bentak Gamma


berusaha menggeser tubuh Fajar yang menghalangi jalannya.


“Gue belum selesai tunggu dulu, dong! Gue gak peduli lu udah punya


pengganti Senja atau belum, tapi gue gak akan biarin lu rebut Senja lagi!”


desis laki-laki bernama Fajar itu membuat Gamma tak habis pikir dengan apa yang


baru ia dengar. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum mendorong laki-laki yang


keberadaannya malah semakin memperburuk suasana, Gamma melajukan motornya


melewati laki-laki yang masih diam di tempatnya itu, begitu juga mobil putih


yang sempat menghalangi jalannya.


Gamma melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tak pernah


menduga semesta kembali mempertemukannya dengan laki-laki yang itu. Deru


napasnya yang tak normal membuatnya semakin kalap mempercepat laju motornya,


ditambah jalanan yang semakin sepi membuatnya tak perlu mengkhawatirkan nyawa


orang lain walau ia sendiri sudah tak peduli lagi dengan nyawanya sendiri.


Pemilik manik hitam itu memilih membelokkan motornya ke sebuah minimarket 24


jam hanya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Ia menghentikan


laju motornya ketika berada di sebuah parkiran minimarket. Seakan tak ingin


lama-lama, cowok itu langsung saja menuju kasir setelah mengambil sebotol


minuman.


Langkahnya tiba-tiba saja berhenti saat melihat seorang pria yang sedang


membayar belanjaannya di kasir. Maniknya tak berkedip, pria itu berbalik dan menyadari


kehadiran cowok itu. Gamma segera memeluknya erat, seakan tak ingin melepaskan


tubuh itu. Pria tadi juga membalas pelukannya tak kalah erat.


“Pah,”


***