
~Berdiri bersama sakit, tertatih bersama pilu, mengais
senyum bersama tangis, tertawa bersama pedih, dan melindungi dengan menyakiti~
***
Gemi menatap cowok yang baru saja ditangani tenaga medis itu. Ia masih
merasakan sakit pada perutnya hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk
bangkit. Pemilik manik cokelat itu menghela napas sebelum turun dari brankar
tempatnya mendapat tindakan.
"Lu beneran mau langsung balik?" tanya gadis yang sekarang
menatap cowok di hadapannya itu yang sedang memerhatikan wajahnya di pantulan
layar ponselnya.
"Mau ngapain lagi?" tanyanya balik seraya mencabut kapas yang
melekat di pelipis dan sudut bibirnya.
“Eh ngapain dibuka?” tegur Gemi seraya mengikuti langkah cowok di
hadapannya itu.
“Gak guna,” jawabnya santai seraya memberikan beberapa lembar uang pada
wanita yang sedang mengurus administrasinya.
“Oh ya, lu ikut gue bentar.” Pinta
Fikar pada gadis yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Ke mana?" tanya Gemi tapi sang pemilik manik cokelat itu tak
merespons, ia hanya melangkahkan kakinya. Gadis yang berjalan di belakangnya
itu hanya diam, tak berniat bertanya lagi. Ia hanya perlu mengikuti langkah
cowok di depannya. Cowok yang baru saja keluar dari UGD itu melangkah tegas,
seakan apa yang dikatakan dokter tadi tidak ada yang melekat di otaknya.
Bahkan, dari belakang gadis itu merasa cowok itu baik-baik saja. Tiba-tiba
langkah cowok itu berhenti, membuat gadis dengan rambut cokelatnya itu
mendongak seakan meminta penjelasan.
"Lu ketemu sama mama gue dulu ya," ucapnya. Tak perlu menunggu
jawaban dari yang diajak bicara, sang pemilik manik cokelat itu segera
mendorong daun pintu yang ada di depannya. Wanita paruh baya yang sedang
membaca majalah itu menoleh.
"Sayang, dia siapa?" tanya wanita yang sedang meletakkan majalah
yang baru saja ia baca di nakas yang tak jauh darinya.
"Temen Fikar, Ma." jawab laki-laki itu masih membelakangi mamanya
dengan sebuah alibi menutup pintu. Gadis yang sekarang bingung itu hanya diam
di samping pemilik iris cokelat itu, menunggu perintah darinya apa yang harus
ia lakukan setelahnya.
"Ayo," ajak cowok itu ketika menyadari Gemi hanya terdiam di
sampingnya.
"Fikar, kamu kenapa?" Suara riang Dewi berubah khawatir ketika
putranya berbalik dan wajahnya terlihat lebam dan luka di sana-sini.
"Gapapa, Ma."
"Gapapa apaan? Bilang sama Mama kamu kenapa!" Fikar memilih diam,
ia memejamkan matanya tak berniat untuk menjawab.
"Nak, Fikar kenapa?" Pertanyaan itu beralih pada sang netra
abu-abu. Yang ditanya terkesiap. Ia tak tahu harus melakukan apa kali ini. Ia
melirik cowok yang berada di sampingnya, kalau yang ditanya saja tidak
menjawab, apa ia pantas menjawab pertanyaan itu sekarang?
"Fikar tengkar sama Nata," Suara cowok itu akhirnya muncul.
Tangan Dewi terangkat, mengusap luka di wajah anak laki-lakinya yang tak
terbalut kapas. Cowok itu memegang tangan mamanya, seakan ingin menghentikan
pergerakan itu.
"Fikar gak apa-apa, Ma. Tadi sudah dibawa ke dokter sama Gemi. Mama
gak mau kenalan?" Usahanya mengalihkan pembicaraan berhasil. Wanita tadi
menarik tangannya dan memilih menatap gadis yang sedari tadi hanya diam.
"Namanya siapa?"
"Geminorum Artemis, dipanggil Gemi, Tante" jawabnya dengan senyum
yang terulas di bibirnya.
"Namanya bagus. Artemis itu dewi pemburu, kan? Pasti kamu gadis
tangguh, seperti namamu," duga wanita bernama Dewi itu, gadis tadi hanya
tersenyum.
"Mama belum makan ya?" tanya pemilik manik cokelat itu setelah
melihat semangkuk bubur di nakas yang belum tersentuh.
"Nunggu kamu mau disuapin, tapi sekarang males disuapin kamu. Mending
sama Gemi aja deh," goda mama Fikar.
"Mama genit ih, baru kenal juga. Nih," cowok itu memberikan
semangkuk bubur pada gadis tadi. Gadis itu menerimanya dan mulai menyuapi
wanita yang begitu ramah padanya.
Fikar mundur
dan memilih untuk duduk di sofa, menyaksikan mamanya yang kembali tertawa menceritakan
masa kecil Fikar yang menurut cowok itu malah memalukan. Ia sesekali mengaduh
pada mamanya, meminta wanita itu berhenti menceritakan kisah konyolnya. Namun,
mamanya tak mengindahkan permintaan itu. Akhirnya Fikar memilih mengalah, ia
lebih suka melihat mamanya kembali tertawa walau harus membuatnya malu di
hadapan orang lain.
***
Sang hazel memerhatikan wajahnya di pantulan cermin yang menggantung di
mobilnya. Ia menarik beberapa lembar tisu yang berada di dashboard dan
mengusap darah yang masih tersisa di sudut bibir dan hidungnya. Ia meringis
saat tangannya yang terlalu kasar membersihkan luka yang masih baru itu. Ia
melemparkan bekas tisu yang baru saja digunakan setelah berhasil turun dari mobil hitamnya. Cowok
dengan manik hazel itu seakan tak bosan menyusuri koridor dengan lantai putih
yang ia tapaki, padahal ia sendiri membenci tempat berbau obat. Langkahnya
terhenti ketika suara pria yang bahkan ia hafal memanggilnya.
"Nak Nata tolong ke ruangan saya sebentar," pinta pria tadi,
cowok itu sedang malas menanggapi dan memilih menurut. Sudut bibirnya yang
hanya ia bersihkan dengan tisu tadi terasa sedikit perih, membuatnya semakin
malas berbicara. Nata mengikuti langkah pria di hadapannya dan hanya memilih
berdiri di hadapan pria yang sudah duduk di kursinya itu.
"Ini perawat yang kemarin bersama Nyonya Dina dan ini foto laki-laki
itu,"
Nata hanya
wajah wanita itu. Maniknya beralih pada secarik foto yang diambil dari potongan
video CCTV . Maniknya melebar ketika menyadari siapa laki-laki itu.
"Dokter gak salah?" tanyanya seakan tak percaya terhadap apa yang
baru saja ia lihat.
"Bisa Nak Nata tanyakan pada perawat secara langsung,"
"Mbak, ini beneran? Mbak gak salah lihat?" tanyanya masih
berusaha memastikan.
"Iya, Mas. Itu laki-laki yang saya lihat. Baik yang pertama maupun
yang kedua." Nata menggigit bibir bawahnya. Untuk apa Tomi mendatangi mamanya?
Bahkan semenjak mamanya di sini, pria itu tak pernah mendatangi rumah sakit
ini, buktinya sang perawat hanya melihatnya kala itu. Seakan masih tak percaya,
Nata mengeluarkan ponselnya. Memainkan jarinya di atas layar benda pipih itu
dan menunjukkan sebuah foto yang lebih jelas, foto seseorang yang sama dengan
foto yang baru saja ia lihat.
"Ini, mbak?" tanyanya tak sabaran. Perawat itu segera mengiyakan.
Nata masih mencoba memastikan.
"Bukan orang ini?" Kali ini foto Fikar yang ia tunjukkan. Namun,
perawat itu menggeleng seraya menjawab tidak. Pemilik manik hazel itu mengeraskan
rahangnya dan segera keluar tanpa berkata lagi. Pikirannya terbelah, salahkah
dia sudah memukuli saudaranya hingga sebegitu parahnya? Dan kenapa pria itu
mendatangi Dina yang sejak dulu tak pernah terlihat lagi batang hidungnya?
Teka-teki apa lagi yang akan semesta siapkan untuknya.
***
Pemilik manik hitam itu kembali memecah keheningan malam dengan deru
motornya. Ia menghirup udara malam, mencoba menikmati suguhan semesta baginya
sebelum kembali pada tempat yang ia anggap tak bernyawa lagi itu. Katakanlah ia
menyesal menolak untuk tinggal di rumah sahabatnya itu untuk malam ini. Cowok
itu mengembuskan napas berat di balik helmnya. Maniknya menatap jalanan yang
semakin sepi, lampu-lampu di rumah yang ia lewati sudah sebagian padam. Ia
hendak menambah kecepatan motornya sebelum sebuah mobil tiba-tiba menghalangi
jalannya dan terpaksa membuatnya mengerem dengan sangat kuat demi menghindari
kecelakaan.
Gamma menggeram dari balik helmnya seraya membunyikan klakson, berharap
mobil itu kembali melaju. Bukannya melaju, sebuah pintu di sebelah kanan mobil
putih itu terbuka. Gamma mendengkus melihat pengemudinya turun, ia memicingkan
matanya agar dapat melihat dengan jelas siapa yang baru saja turun. Maniknya
tiba-tiba saja membelalak saat menyadari siapa yang sekarang mendekatinya. Ia
mengeraskan rahangnya menatap laki-laki dengan bar empat yang tertempel di
bahunya dengan apik. Gamma memutar bola matanya malas dan berniat membelokkan
motor hitamnya sebelum sebuah tangan menahannya. Pemilik manik hitam itu menghempaskan
tangan yang berada di pergelangan tangan kanannya hingga lepas begitu saja.
Laki-laki di hadapannya itu tersenyum kecut menatap wajah Gamma yang sebagian
besar tertutup helm.
“Apa kabar?” tanyanya berusaha ramah. Gamma mengembuskan napas berusaha membalasnya
dengan sikap ramah pula.
“Baik,” jawabnya singkat dengan nada tak suka yang masih tak dapat
terelakkan.
“Mau ngopi dulu gak?”
“Nggak. Udah mau lu apa?” tanya Gamma menolak tawaran laki-laki di
hadapannya itu. Laki-laki dengan pakaian pilot itu tersenyum kecut.
“Gue baru dari bandara,” ujarnya yang sekarang malah membuat Gamma
mendengkus seraya memutar bola matanya malas.
“Apa kabar cewek lu yang kemarin? Dia cewek lu, kan?”
Gamma mendongak seraya mengembuskan napas, seharusnya ia tinggalkan saja
laki-laki ini tadi.
“Kalo lu cuman mau tanya itu doang, gue sibuk.” tegas pemilik manik hitam
yang mulai jengah itu.
“Wuh santai, Bro. Tenang aja kali ini gak akan gue embat, kok.” katanya
diakhiri tawa yang malah membuat Gamma semakin jengah. Laki-laki itu melangkah
mendekati pemilik manik hitam yang masih
berada di atas motor hitamnya itu.
“Gimana kabar Senja?” Pertanyaan itu membuat Gamma mengerutkan keningnya.
“Ya mana gue tau, yang jadi cowoknya siapa?! Tolong ya, gue udah gak pernah
ganggu kalian lagi jadi gak usah ganggu gue lagi. Kita udah kelar dan lu
tinggal nikmatin Senja semau lu! Gue gak peduli lagi. Minggir lu!” bentak Gamma
berusaha menggeser tubuh Fajar yang menghalangi jalannya.
“Gue belum selesai tunggu dulu, dong! Gue gak peduli lu udah punya
pengganti Senja atau belum, tapi gue gak akan biarin lu rebut Senja lagi!”
desis laki-laki bernama Fajar itu membuat Gamma tak habis pikir dengan apa yang
baru ia dengar. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum mendorong laki-laki yang
keberadaannya malah semakin memperburuk suasana, Gamma melajukan motornya
melewati laki-laki yang masih diam di tempatnya itu, begitu juga mobil putih
yang sempat menghalangi jalannya.
Gamma melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tak pernah
menduga semesta kembali mempertemukannya dengan laki-laki yang itu. Deru
napasnya yang tak normal membuatnya semakin kalap mempercepat laju motornya,
ditambah jalanan yang semakin sepi membuatnya tak perlu mengkhawatirkan nyawa
orang lain walau ia sendiri sudah tak peduli lagi dengan nyawanya sendiri.
Pemilik manik hitam itu memilih membelokkan motornya ke sebuah minimarket 24
jam hanya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Ia menghentikan
laju motornya ketika berada di sebuah parkiran minimarket. Seakan tak ingin
lama-lama, cowok itu langsung saja menuju kasir setelah mengambil sebotol
minuman.
Langkahnya tiba-tiba saja berhenti saat melihat seorang pria yang sedang
membayar belanjaannya di kasir. Maniknya tak berkedip, pria itu berbalik dan menyadari
kehadiran cowok itu. Gamma segera memeluknya erat, seakan tak ingin melepaskan
tubuh itu. Pria tadi juga membalas pelukannya tak kalah erat.
“Pah,”
***