Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 31



~Ketika Artemis lenyap, mungkin Merkurius akan mengatakan kepada Jupiter untuk menggerakkan Mars~


***


Pemilik manik hitam itu menunggu seseorang sambil memainkan sepatunya, membuat debu sedikit beterbangan. Helaan napas kembali terdengar saat maniknya belum juga menangkap keberadaan orang yang ia tunggu. Maniknya memejam, pikirannya melayang pada kejadian kemarin, saat ia membereskan barang di rumahnya untuk pindah ke rumah lain. Hanya ada Mang Deni dan Bi Sumi yang melepas kepergiannya bahkan Bi Sumi  menyempatkan diri ke supermarket hanya untuk membelikannya beberapa bungkus permen karet kesukaannya, Mang Deni juga memberinya beberapa pak pulpen biru karena Gamma sering sekali meminta bantuan Mang Deni membelikan pulpen itu ketika sedang asik belajar. Gamma berpesan kepada mereka untuk diam akan kepergiannya. Tak ada yang peduli rupanya, hanya dua orang itu yang sempat memintanya untuk tetap tinggal. Bahkan Mamanya, ia tak menghubungi dirinya walau sudah tidak lagi di rumah itu.


"Ayok, Bang." Suara itu membuatnya terkesiap. Maniknya menoleh menatap gadis yang baru saja membuatnya kaget.


"Mikirin apa sih, Bang?" tanya gadis dengan manik abu-abu itu menatap laki-laki yang sedang merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah permen karet.


“Kenapa? Mau?” tawar Gamma menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.


“Nggak. Pertanyaan gue belum lu jawab,” balas Gemi seraya membuka pintu mobil.


"Nggak ada. Nungguin lo kelamaan sampe ngantuk," dustanya Gamma yang sudah berhasil duduk di samping gadis yang sudah masuk terlebih dulu itu.


"Halah," cibir Gemi bersamaan dengan mobil yang mulai melaju meninggalkan sekolah.


"Dih apaan? Seneng gak mulai sekarang berangkat sekolah pulang sekolah sama cogannya sekolah ini?" tanya Gamma yang menggoda gadis yang sedang membenarkan tatanan rambutnya itu.


"Cogan? Udah biasa. Hidup gue tiap hari dikelilingi cogan," jawab gadis tadi meremehkan sambil menoleh ke arah kakaknya.


“Iya maksud lu gue cogannya, kan?” tanyanya seraya mengunyah permen karet rasa jeruk.


“Dih, sombong amat. Bukan,” elak Gemi membuat laki-laki itu mendecih.


"Maksud lu Fikar gitu? Lu suka ya sama Fikar? Ngaku!" goda Gamma, membuat semburat merah timbul di kedua pipi gadis tadi.


"Dih, apaan sih." balas gadis itu memalingkan wajahnya agar pemilik manik hitam itu tak bisa melihat wajahnya yang menurutnya akan terlihat memalukan itu.


"Udah move on gitu nih dari gue?" Seperti suka melihat adiknya terpojok, Gamma kembali menggodanya.


"Ih, Abang! Gak ada suka-sukaan sama Abang!" Gadis itu memanyunkan bibirnya.


"Dih ngambek. Udah, tarlagi ketemu Fikar." ucap Gamma menyudahi keusilannya. Gadis berambut cokelat itu hanya mencebikkan bibirnya, tak berniat membalas ucapan Gamma dan malah membuat Gamma tertawa melihat adiknya seperti itu. Mungkin memang lebih baik seperti ini, Gamma tak akan kehilangan gadis ini karena ia sudah menjadi salah satu bagian dari hidupnya, sebagai adiknya.


***


Gemi masih cemberut, ia membuka sabuk pengaman kasar dan segera keluar dari mobil membuat Gamma tertawa kecil melihat tingkah gadis itu. Cowok itu menyusul Gemi yang sudah berjalan ke arah koridor setelah membuang bekas permen karet ke tempat sampah. Gamma mempercepat langkahnya melihat tubuh gadis di depannya


yang semakin menjauh. Cowok itu menahan pergelangan tangan sang netra abu-abu membuatnya berdecak.


“Masih mau ngambek sama Abang? Lu yakin?” tanya Gamma menatap manik abu-abu di depannya itu. Gemi mengembuskan napas pelan seraya menggeleng membuat Gamma tersenyum dan segera meranggul gadis itu menyusuri koridor dengan bau obat yang cukup menyengat.


Gamma segera membuka pintu di hadapannya hingga suara derit pintu dibuka membuat laki-laki di dalam ruangan menoleh. Gemi melangkah terlebih dulu memasuki ruangan itu diikuti Gamma setelah berhasil menutup pintu di


belakangnya.


"Loh, Mama sama Papa mana?" tanya gadis berambut cokelat itu ketika tak menemukan seorang pun selain pemilik manik cokelat itu.


"Masih ketemu dokter," jawabnya sambil berusaha turun dari tempat tidur.


"Lah, mau ngapain turun?" tanya Gamma melihat laki-laki itu yang sekarang malah berjalan menuju meja. Mengambil setelan pakaian dan sebuah hoodie berwarna hitam yang berada di atas meja.


"Mau ganti baju," jawabnya santai dan kembali melangkah mendekati pintu kamar mandi.


"Maksud lu ganti baju rumah sakit jadi yang tadi? Lu udah boleh pulang?" tanya gadis yang sedari tadi hanya menatap gerak-gerik Fikar.


"Iya, dokter bilang dia udah bisa istirahat di rumah" Suara seorang pria yang begitu gadis itu kenal membuatnya menoleh ke arah pintu masuk, di sana Dandi datang diikuti seorang wanita yang merupakan mama gadis dengan netra abu-abu itu.


yang tadi masuk bersamanya. Kedua remaja yang baru saja mendengar penjelasan Vani hanya mengangguk sebelum ikut membantu Vani dan Dandi mengemasi barang-barang Fikar.


Fikar keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar dengan pakaian sehari-hari, seakan dirinya sudah sehat seutuhnya. Laki-laki itu berjalan mendekati orang-orang yang sedari tadi menunggunya. Ia kembali mengecek tempat tidur dan nakas untuk memastikan tak ada barang yang tertinggal.


"Fikar tinggal di rumah om dulu ya selama pemulihan," pinta Dandi.


"Makasih Om tapi Fikar bisa kok tinggal sendiri dulu," tolaknya karena merasa sudah sangat merepotkan keluarga itu. Bahkan selama ia di rumah sakit, ia tak pernah sendiri karena pasti ada di antara mereka yang menemani


Fikar membuatnya bersyukur masih ada yang peduli setelah kepergian mamanya.


"Jangan, ih. Lu itu ya kalo dibilangin ngeyel terus. Kalo nanti tiba-tiba Om Om gila itu dateng ke rumah lu gimana?" tanya gadis dengan rambut cokelat itu. Namun, yang ditanya hanya tertawa.


"Nggak, dia gak tau rumah gue," balas Fikar seraya mengambil benda pipih yang ada di nakas dan segera memasukkan ke sakunya.


"Udah, iyain aja. Lagian nanti lu sendiri di sana. Ya kan, Pa?" Gamma ikut membujuknya.


"Ekhem, Papa doang yang ditanya? Mama  barunya gimana nih?" Suara ledekan Vani malah membuat Gamma


tertawa.


Suasana hangat langsung melingkupi ruangan itu. Hati Fikar menghangat, seakan dia juga bagian dari keluarga ini. Helaan napas terdengar darinya ketika tiba-tiba saja memori tentang keluarganya mucul di benaknya.


"Udah kasian Fikar, jangan ngomong perihal Mama Papa lagi," Dandi memperingati.


"Halah, nanti juga Fikar jadi menantunya Mama sama Papa," Kalimat itu berhasil membuat Fikar tercekat berharap ia salah dengar.


"Abang!!" Gemi mendelik menatap laki-laki yang baru saja menggodanya. Namun, yang ditatap hanya tertawa melihat wajah kesal adiknya itu.


"Udah udah, kita masih perlu nebus obat nih. Jangan bercanda terus," Dandi mencoba menengahi.


"Yaudah Gemi aja yang nebus. Kalian beres-beres yang belum," ucap gadis itu dan segera meninggalkan ruangan setelah menerima kertas berisi resep dengan tulisan yang tak ia pahami.


***


Gamma mulai gelisah berada di tempat ini, ia tak pernah menyukai tempat ini. Tempat yang terpaksa sering ia kunjungi ketika pria itu memukuli dirinya cukup parah, menyebabkan sebuah memori yang mengerikan dalam benaknya terhadap tempat dengan aksen putih yang mendominasi ini. Dandi yang sadar akan kegelisahan putranya, menepuk pundaknya.


"Sabar, bentar lagi Gemi dateng kok." Gamma mengangguk, ia mencoba beralih memainkan ponselnya. Namun, tak lama ia bangkit karena mulai bosan dan merasa kesal.


"Gamma susul Gemi." Tanpa menunggu persetujuan, ia segera keluar dari ruangan itu. Langkahnya ia percepat. Bau obat yang menguar membuatnya ingin segera menemukan gadis itu. Namun, hingga sejauh ini maniknya belum juga bisa menemukan gadis tadi. Ia sudah cukup dekat dengan apotek rumah sakit, tapi keberadaan gadis yang ia cari masih belum tampak.


"Mas, liat cewek matanya abu-abu rambutnya cokelat gitu gak?" tanyanya pada petugas di apotek.


"Oh, iya Mas. Tadi sudah balik kok,"


"Oh, ya sudah Mas. Makasih," balas Gamma dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan area apotek. Ia mencoba mengecek area toilet terdekat, tapi maniknya tak kunjung menemukan yang sedang ia cari. Ia kembali ke apotek, tetap nihil. Akhirnya ia melangkahkan kakinya kembali ke ruangan Fikar, berharap gadis itu sudah ada di sana. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah plastik bening dengan beberapa obat di dalamnya teronggok di lantai rumah sakit, tak jauh dari apotek yang ia kunjungi tadi. Gamma memungutnya, hatinya mulai gelisah. Ia berharap itu bukan obat milik Fikar, tapi ia memilih untuk menanyakan hal itu kepada Papanya. Langkahnya begitu cepat, ia ingin segera memastikan semuanya.


"Gemi mana?" tanya Vani sesaat pemilik manik hitam itu masuk ke ruangan dengan napas yang menderu.


"Ini obat buat Fikar bukan?" tanya Gamma seraya menyerahkan plastik bening itu kepada papanya. Dadanya naik turun, ia semakin gelisah ketika papanya membenarkan kalau itu memang benar obat yang harus ditebus, semua


persis, tak ada yang salah maupun kurang karena pria itu masih ingat betul apa yang baru saja ditunjukkan dokter mengenai obat-obat yang harus ditebus beserta resepnya itu. Gamma memukul dinding ruangan sebelum memilih membuka pintu, tapi gerakannya terhenti karena cekalan dari papanya.


"Gemi mana? Kamu temuin ini di mana?"


"Gak tau, Pa. Ini tergeletak di bawah. Gamma gak tau Gemi ke mana," ucapnya lalu menghilang di balik pintu.


***