
~Semesta tak ingin kau membenci seseorang, semesta hanya
ingin kau belajar dari apa yang kau terima~
***
Pemilik manik hitam itu mengembuskan napas lelah dan meletakkan ponselnya
di sebelahnya. Ia menatap dinding kuning di hadapannya, seakan ada yang sedang
mengganggu pikirannya. Pandangannya beralih pada jendela kamar yang berada di
samping meja belajar milik sahabatnya itu. Gamma memilih bangkit dan melangkah
mendekati jendela yang tertutup gorden itu. Tangannya menyibak kain putih yang
menghalangi pandangannya. Maniknya menatap langit senja yang terlihat begitu
memukau dari kaca bening di hadapannya itu. Suara pintu dibuka membuatnya
menoleh sejenak.
"Lu yakin gak mau balik ke rumah?"
"Buat apa? Atau lu ngusir gue?" canda Gamma seraya mengembalikan
posisi gorden dan melangkah pada sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur.
"Salah mulu perasaan gue. Lu gak mikir tuh kepala udah hampir
pecah?" tanya Alfa sarkas.
"Kalo gue balik malah pecah ni batok. Bego amat sih lu," jawabnya
santai seraya memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
Hari ini Gamma memilih tidak masuk sekolah karena mendapat saran dari
dokter. Ia juga memilih untuk tidak kembali ke rumahnya, ia terlalu malas di
rumah itu. Bahkan, mamanya saja tidak menghubunginya selepas kepergiannya
dengan wajah berdarah karena pria yang katanya mamanya itu cintai. Kadang ia
tak paham kenapa mamanya lebih memilih laki-laki bejat itu daripada papanya
yang begitu menyayanginya.
“Fa,” panggil Gamma pada sahabatnya yang sekarang memainkan ponsel di
sampingnya itu. Alfa hanya berdehem untuk merespons panggilan itu.
“Lu tadi ketemu dia gak?” Pertanyaan itu berhasil membuat Alfa menoleh dan
mengabaikan ponselnya.
“Siapa?” tanyanya pura-pura tak tahu.
“Ih lu mah sok gak tau aja. Gemi,”
“Dih kan, apa gue bilang? Lu sih sok main-main sama api. Gak
ada, gak ketemu.”
Suara dering ponsel milik Gamma membuat keduanya menoleh. Cowok dengan
manik hitam itu masih diam hingga Alfa memaksanya untuk mengambil benda pipih
warna hitam miliknya yang berada di kasur sahabatnya itu. ia mendengkus sebelum
bangkit dan meraih benda itu.
“Anjir!”
***
Langkah gadis itu begitu pasti, ia hanya ingin mengatakan apa yang ia rasa.
Ia juga tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak bisa dimungkiri, ia
tak bisa membenci seseorang yang masih ia cintai. Tak semudah itu, mungkin
setidaknya ini bisa menemukan jawaban tentang pertanyaan mengenai hidupnya. Ia
mengembuskan napas perlahan saat sudah sampai di ujung koridor kelas 12. Ia
bersyukur tak banyak siswa di kelas itu atau pun sekitarnya, setidaknya tak
akan ada yang tahu apa yang akan ia bicarakan dengan laki-laki pemilik manik
hitam itu.
"Lu? Ngapain lu di sini?" Alfa tiba-tiba saja keluar kelas dan
menyadari kehadiran gadis berambut cokelat itu di depan kelasnya.
"Gamma ada?"
"Heh, gaada. Dia gak masuk," jawabnya malas.
"Kenapa? Eh, maksud gue, tolong bilangin sama dia, kalau dia mau ambil
bokapnya, ambil aja. Jemput aja sekalian ke rumah, gue juga gak suka ada
dia." ujarnya setelah mengumpulkan keberanian
untuk mengatakan kalimat itu.
"Gak semudah itu," Alfa tersenyum kecut.
"Kenapa? Itu kan yang dia mau?"
"Ya, memang. Tapi apa lu tau apa yang dia alami selama ini, apa lu tau
seberapa jahat bokap dia yang sekarang? Dia bahkan sekarang di rumah gue, gak
mau pulang. Kepalanya hampir pecah karena bokap barunya," Gadis itu diam.
"Lu pikir semudah itu membawa Papanya pulang di mana dia selalu
merasakan sakit di rumah? Seharusnya lu bersyukur bisa dapet Papanya Gamma.
Udah, gue mau ke kantin. Laper," ucapnya dan langsung meninggalkan gadis
yang masih diam pada posisinya. Ia paham betul tentang apa yang dikatakan kakak
kelasnya tadi. Bersyukur? Bukankah dia hanya tau tentang Gamma, tanpa tau
sedikit pun tentang dirinya. Lalu kenapa seakan dirinya yang salah dalam hal
ini?
Ia memilih meninggalkan tempat itu, langkah kakinya membawanya ke tempat
favoritnya, halaman belakang sekolah. Hatinya mencoba berkompromi dengan
benaknya, tapi tak kunjung menemukan hasil yang ia harapkan. Sesulit inikah
kehilangan seseorang yang begitu berarti? Langkah kakinya terhenti ketika
pendengarannya terisi dengan suara pukulan. Ia mengintip apa yang ada di tempat
yang jarang dijadikan tempat berkelahi itu. Gadis itu tercekat saat melihat Nata
memukuli cowok kemarin, tapi kali ini seragam cowok itu sudah sama dengan
seragam yang Nata pakai. Ia mengintip di balik pohon yang berada di belakang
keduanya.
"Sudah berapa kali gue bilang, jauhin mama gue!" bentak Nata.
"Lu gak tau seberapa menderitanya gue karena lu!" Deru napas Nata
terdengar begitu cepat.
"Lu juga bahkan gak tau seberapa menderitanya gue! Lu pikir cuman lu
yang yang jatuh dalam lembah suram? Iya? Lu salah!"
Buugh....
Laki-laki itu memukul balik Nata selepas mencecar Nata dengan kalimatnya.
Gadis yang masih mengintip di balik pohon itu tak sanggup menatap hal baru yang
semakin memperburuk suasana hatinya. Ia memilih meninggalkan tempat itu dan
akan berdiam diri di kelas.
***
Pemilik manik cokelat itu melangkah menyusuri koridor dengan ransel hitam
yang tersampir di bahunya dan sebuah benda pipih yang menempel di telinga
kirinya. Ia berhenti sejenak saat terdengar sebuah notifikasi dari ponselnya.
“Hmm, bisa kita lanjutkan nanti? Atau bahas ketika saya di kantor saja? Ada
hal yang harus segera lakukan,” ujarnya dan segera menutup sambungan. Selepas
itu, ia segera menerima panggilan dari sebuah kontak yang paling sering ia
hubungi.
“Emang Mama boleh makan martabak gitu?” tanyanya dengan nada yang cukup
berbeda ketika ia berbicara dengan orang yang berada di panggilan pertamanya
tadi.
“Oh ya udah nanti Fikar beliin kalo mau ke situ. Mama tunggu aja bentar ya,
Fikar masih ada perlu. Oke?” katanya diakhiri dengan senyum tipis, seakan orang di
seberang sana dapat melihat senyum manisnya.
“Sip, pinter deh.” ucapnya sebelum menutup panggilan dan memasukkan
ponselnya ke saku celana.
“Hai,” Sebuah sapaan secara instan mengubah raut wajah pemilik manik
cokelat itu.
“Kok gak dijawab si?” tanya seorang gadis yang terus mengikuti langkahnya.
Fikar masih diam dan terus mempercepat langkahnya menuju parkiran.
“Rumah lu di mana? Mau pulang bareng, gak?” tanyanya lagi yang membuat
cowok di sampingnya itu semakin jengah dan mempercepat langkahnya. Cowok itu
segera menutup pintu mobilnya setelah berhasil masuk dan melajukan kendaraan
beroda empat itu, meninggalkan gadis berambut pirang yang mengentakkan kakinya
kesal karena merasa diacuhkan.
***
Gadis dengan netra abu-abu itu membenahi rambutnya yang terlihat
acak-acakan karena perasaan hatinya yang sedang kacau. Ia mematut wajahnya di
depan cermin toilet dan mendengkus saat menatap pantulan parasnya di cermin.
Semesta seakan tak pernah membiarkannya beristirahat sejenak untuk menikmati
keindahan dunia. Ia mengembuskan napasnya kuat sebelum memilih keluar dan
melangkahkan kakinya menuju parkiran. Gemi melajukan mobilnya bukan untuk
pulang, ia masih ingin ke suatu tempat. Ia ingin bercerita tentang apa yang ia
alami kali ini.
Langkahnya sedikit melemah ketika turun dari mobil merah yang membawanya ke
tempat itu. Embusan napas pelan terdengar darinya. Ia memejamkan matanya dan
memilih melanjutkan langkahnya. Maniknya menangkap seseorang yang tadi siang
sempat mengalami pergulatan dengan Nata. Dari tempatnya berdiri di dekat nisan
Papanya, maniknya menangkap cowok itu sedang memeluk sembari mengusap nisan yang ada
di sampingnya. Namun, gadis itu kembali pada tujuan awalnya. Ia bersimpuh di
sebelah gundukan tanah tempat papanya diistirahatkan. Kakinya lemas, bulir
bening mulai menuruni pipinya.
"Pa," panggilnya, lirih.
"Artemis kangen Papa. Papa kenapa tinggalin Artemis?" Suaranya
mulai parau.
"Kalau Papa mau pergi, Papa gak usah kasih Artemis papa baru. Artemis
gak mau ada yang coba gantiin Papa." lanjutnya
seraya menghapus air matanya kasar.
"Dia masih punya anak, Pa. Anak itu masih butuh Papanya, sama kayak Artemis."
Kalimatnya terhenti karena isaknya mulai mendominasi. Ia peluk nisan Papanya
dengan setengah terjatuh di gundukan tanah itu. Di sela isaknya, gadis itu
sempat melirik ke arah di mana cowok tadi berada. Namun, maniknya tak menangkap
ada seseorang di sana.
"Papaaa," panggil gadis itu sebelum akhirnya benar-benar kacau,
ia menangis di atas pusaran Papanya. Air matanya bercampur dengan tanah, wajah
dan rambutnya berantakan. Namun, ia tak peduli akan hal itu.
"Bangun, seragam lu kotor." Suara itu membuat gadis tadi menahan
isaknya dan memilih menoleh ke arah sumber suara. Cowok tadi.
"Bokap lu ya?" tanyanya lalu jongkok di sebelah makam papa Gemi,
berseberangan dengan Gemi.
"Lu kacau," gadis itu tak merespons. Ia hanya menatap cowok itu
sambil tetap menahan isaknya.
"Gue Altair Dzulfikar, panggil aja Fikar. Lu?"
"Geminorum Artemis, Gemi." Gadis itu berusaha menjawab walau
suaranya mulai serak.
"Kita udah ketemu berkali-kali tapi lu gak pernah tanya nama gue. Jadi
gue putusin buat kenalan duluan. Lu kenapa sampe kayak gini?" Gemi hanya
menggeleng. Ia tak siap menceritakan apa yang ada dalam benaknya kepada orang
yang baru saja berkenalan dengannya.
"Oke gue paham. Gue boleh cerita gak?" Gadis di hadapannya hanya
mengangguk.
"Gue tau lu kenal sama Nata, tapi percaya gak sih lu kalau gue sama
Nata itu kembaran?" tanyanya seraya menatap nisan papa Gemi.
"Tapi gak mirip," Gadis itu memaksa berkomentar walau yang keluar
hanya suara parau.
"Karena kami nggak identik. Dan gue bersyukur gak mirip sama dia. Gue
lahir duluan, tapi gue susah keluarnya, sampe Mama sama Nata hampir mati
gara-gara gue. Terus, gue dibuang. Gue gak diinginkan. Cuman Nata, cuman
Nata." Cowok bernama Fikar itu berhenti sejenak mengambil napas sebanyak
mungkin. Entahlah, ia juga tak tau kenapa begitu mudahnya menceritakan semua
ini padahal ia selalu menutup rapat hal itu.
"Gue diangkat oleh sebuah keluarga yang gak bisa punya anak. Untungnya
mereka sayang sama gue. Bahkan mereka jujur kalau gue bukan anak kandung
mereka. Dan lu tau? Cuman dua hari gue rasain gendongan Mama kandung gue.
Akhirnya gue tumbuh, dan yang gak gue pahami Nata juga benci banget sama gue.
Keluarga Russel membenci anak bernama Fikar ini," helaan napas dari cowok
bernama Fikar itu sudah terdengar untuk kesekian kalinya.
"Sampe kejadian sepuluh tahun lalu, Mama kami kecelakaan. Keluarga
Russel hancur, Mama diduga mengalami PTSD saat dia pura-pura lupa akan kejadian
hari itu entah untuk apa, saat itu gue umur enam tahun. Gue gak pernah bisa
jenguk Mama karena Nata ngelarang gue. Gue pengen ngerasain pelukan ibu
kandung. Seseorang yang benar-benar ngelahirin gue ke dunia ini." Pemilik
manik coklat itu berhenti untuk mengambil napas.
"Tapi orang tua gue memilih bawa gue ke negara orang. Supaya
gue gak tertekan. Tapi apa, lu liat makam di sana? Gue tadi habis dari sana.
Beberapa bulan kemudian setelah gue pindah, Papa sakit. Mama urusin semua
urusan Papa, mulai dari kerjaan dan ngurusin Papa. Gue terlantar, sampe Papa
meninggal beberapa bulan lalu dan Mama sakit. Akhirnya gue balik dan menetap di
sini, gue, gue..."
***