Circumpolar

Circumpolar
Circumpolar 18



~Terkadang hanya untuk tersenyum saja kau perlu memakai


ribuan topeng~


***


Gadis itu mengembuskan napas lega setelah berhasil menjawab soal fisika


yang terakhir. Tubuhnya ia regangkan sebentar sebelum menutup buku di


hadapannya. Ia beranjak dari meja belajarnya. Buku dengan sampul hijau itu ia


masukkan ke dalam ransel birunya, diikuti beberapa buku dan alat tulis lain


yang ada di mejanya. Netranya beralih ke pintu balkon setelah berhasil menutup ranselnya.


Ia langkahkan kakinya mendekati pintu. Derit pintu terdengar di antara


kesunyian, kakinya ia tapakkan di lantai balkon. Semilir angin menerpa wajahnya


yang lesu. Kepalanya mendongak, menatap bintang yang sedang menemani Bulan


di langit malam. Mereka tak pernah sendiri. Memang dalam kesunyian, tapi tak


pernah terpisah.


Gadis itu bergeser mendekati pagar balkon. Tarikan napas dalam begitu


menusuk dirinya di malam hari. Hanya suara napasnya, angin, dan serangga yang


menemani malamnya yang sekarang terbilang larut. Netranya beralih pada balkon


yang berada di depan rumahnya, lampunya masih menyala. Mungkin sang pemilik


masih belum terlelap. Pemilik itu Indah, sahabat gadis yang sedari tadi


menikmati keindahan malam. Manik abu-abunya kembali menatap bintang, di sana ia


merasakan ketenangan, sunyi. Gadis itu begitu menyukai kesunyian terlebih


setelah papanya meninggalkannya, ia lebih menyukai berdiam diri menikmati


kesunyian daripada pergi dan menghabiskan tawa. Ia pikir tawanya sudah lama


cacat, untuk sekadar mengangkat sudut bibir saja ia tak bisa sesempurna dulu,


masih ada paksaan dari pusat pengendali tubuhnya. Namun, kejadian tadi pagi dan


semua yang ia lihat, yang ia dengar membuatnya berpikir kembali. Membuatnya


harus mengingat mengapa dirinya bisa seperti sekarang. Apa ia terlalu


berlebihan dalam menyikapi suatu hal? Bukankah itu haknya? Hak yang begitu


alamiah untuk menanggapi apa yang terjadi padanya. Patutkah ia dikatakan


berlebihan? Berlebihan seperti apa? Mereka, masalah mereka mungkin bisa dikatakan


rumit. Namun, apa ia berhak menilai harus seperti apa sikap yang harus diambil


oleh mereka? Ia tak berhak sama sekali. Begitu juga orang lain, mereka tak


berhak memintanya melakukan sesuatu dengan mudah, karena perasaan itu berbeda.


Sudah berapa topeng yang kalian lihat setiap harinya. Apa kebanyakan orang


berpikir bahwa apa yang mereka lihat itu sama dengan apa yang dirasa? Terlalu


bodoh untuk mengatakan hal itu. Tak perlu berpikir jauh, apa senyummu itu tulus


ketika menyapa seorang guru atau orang terhormat yang berpapasan denganmu?


Bukankah kau sedang memakai topeng kala itu?


Gadis itu kembali mengembuskan napas perlahan. Dilihatnya kembali balkon di


depan rumahnya, kini cahaya yang tadi ada sudah sirna. Bahkan, di sekelilingnya


rumah-rumah  sudah mulai gelap, ia


kembali menatap bulan dan bintang yang masih setia menemaninya di sana sebelum


gadis itu memilih melangkah masuk dan melupakan sejenak pikiran kalutnya agar


ia bisa tidur dengan layaknya.


***


Pemilik manik cokelat itu turun dari mobil hitamnya dan segera melangkah


menyusuri koridor dengan bau khas yang begitu menyengat itu. Senyumnya


mengembang saat beberapa orang menyapanya, seakan sudah kenal lama dengan cowok


yang sekarang mengusap pucuk kepala gadis kecil yang tersenyum di kursi rodanya.


“Kamu mau permen?” tanyanya setelah meminta persetujuan wanita yang berada


di belakangnya. Gadis kecil itu mengangguk. Fikar mengeluarkan beberapa permen


lunak dari ranselnya yang memang selalu ia bawa ketika berkunjung, sengaja


untuk anak kecil yang ia temui.


“Telima kacih,” ucap gadis kecil yang belum lancar berbicara itu.


Fikar mengangguk dan kembali mengusap pucuk kepalanya sebelum melanjutkan


langkahnya. Angin malam yang menyapa tubuhnya membuat langkah kakinya semakin


cepat hingga berhenti di depan sebuah ruangan yang ia hafal. Ia menghirup napas


dalam sebelum memutar kenop pintu.


Manik cokelatnya langsung menatap wanita  yang


berusaha meraih sekotak makanan untuk makan malamnya. Cowok yang baru saja


masuk itu segera menghampiri dan membantu wanita yang sekarang tersenyum karena


kehadiran putranya itu. Fikar membuka kotak berisi makanan itu seraya


menawarkan diri untuk menyuapi, tapi wanita yang masih tersenyum itu menolak.


Wanita bernama Dewi itu mengambil kotak makanan yang disodorkan Fikar,  tangannya bergerak mengambil sendok di sana.


“Mah,” panggil cowok yang sekarang duduk di sebelah tempat tidur Dewi.


Wanita itu hanya berdehem seraya menyuap sesendok bubur ke mulutnya.


“Gak apa-apa. Cuma mau bilang kalo Mama cantik,” Gombalan itu berhasil


membuat wanita tadi menoleh seraya memukul lengan Fikar, membuat cowok itu


tertawa.


“Gimana sekolahnya?” Dewi bertanya seraya kembali menutup kotak makanan


yang belum tandas itu dan menaruhnya di nakas sebelahnya.


“Loh ko gak dihabisin?”


“Mama udah kenyang,” jawabnya setelah kembali meletakkan gelas berisi air


yang baru saja ia minum setengahnya. Fikar tidak berkomentar lagi karena cowok


itu tau mamanya tidak pernah suka dipaksa mengenai makanan.


“Sekolah Fikar biasa aja. Gak ada yang menarik,” jawabnya seraya


membenarkan posisi wanita di hadapannya yang berusaha berbaring itu.


“Belum ketemu kembang sekolah?” tanya wanita itu lagi membuat Fikar tertawa


geli mendengarnya.


“Pasti belum ya?” ledek Dewi membuat tawa Fikar berhenti dan memilih


menatap mamanya tajam, sekarang Dewi yang tertawa.


“Tapi, Ma... aku ternyata satu sekolah sama cewek yang kemarin sempet aku


tabrak.”


“Yah bagus dong, cantik gak? Kapan-kapan kenalin ke mama


ya. Mama tunggu,” pinta Dewi menyisakan sebuah penyesalan bagi Fikar karena


sudah menceritakan hal itu. Wanita yang sedang menatap putra satu-satunya itu


memicingkan matanya menatap sudut bibir Fikar yang terlihat berbeda.


“Itu bibirmu kenapa?” Pertanyaan itu membuat Fikar menyesal karena lupa


mengobatinya sebelum kesini, apa lukanya terlihat jauh lebih parah dari


sebelumnya?


gak usah khawatir,” ujarnya yang langsung mendapat anggukan halus.


“Hmm, Fikar mau tanya sama Mama. Kenapa si Fikar harus sekolah lagi di


sini? Kenapa gak fokus aja sama kantor?”


“Kenapa? Kamu keberatan ya?” raut wajah Dewi berubah kusam.


“Bukan, bukan gitu. Fikar suka kok, cuman kepo aja gitu.”


“Bener?” Dewi mencoba memastikan dan langsung mendapat anggukan cepat dari


putranya itu, membuatnya tersenyum.


“Karena Mama pengen kamu menikmati masa remajamu, Mama pengen loh liat kamu


kenalin pacarmu ke Mama.”


***


Laki-laki itu bergegas setelah turun dari mobil. Langkahnya begitu cepat


menyusuri koridor dengan penerangan yang minim, ia tak peduli pada rasa kantuk


yang masih mendera, seakan semuanya menguap berubah kekhawatiran.


"Mana  Mama?" sambarnya pada


seseorang yang berpakaian jas putih sedang beridiri di depan ruangan Dina.


"Nyonya Dina sudah kami beri obat penenang, ia akan lebih tenang selanjutnya."


jawab pria itu. Cowok itu segera masuk ke ruangan. Ia lihat wanita yang tadi


katanya meraung-raung, kini sudah lebih tenang tersisa isak tangis lirih yang


terdengar. Cowok itu mendekati wanita yang sekarang masih terduduk di tempat


tidurnya sambil terisak.


"Mah, Mamah mau apa?" tanyanya lembut sambil memeluk mamanya yang


masih bergetar. Wanita itu menggeleng lalu menangis lagi.


"Mama kangen siapa? Atau mama ketemu siapa?" Seakan tau apa yang


menjadi penyebab mamanya mengamuk, cowok itu menanyakan siapa yang memenuhi


pikiran mamanya. Namun, Dina malah semakin tidak berhenti menangis.


"Ma, iya-iya sudah. Nata gak akan nanya lagi. Mama sudah ya, sekarang


mama tidur. Nata temenin," cowok itu berusaha membaringkan mamanya. Lalu


ia mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang mamanya. Ia menata rambut


wanita yang sudah terlihat kacau itu. Air mata yang tersisa di wajah wanita itu


ia usap lembut dengan tangannya, membuat wanita bernama Dina itu mulai


terlelap. Sang hazel mengusap lembut kepala mamanya dan beranjak meninggalkan


ruangan putih itu. Langkahnya begitu cepat menyusuri koridor yang cukup sepi di


malam yang terbilang larut seperti sekarang ini. Ia ingin segera mengetahui apa


yang baru saja terjadi. Langkahnya berhenti, tangannya segera membuka pintu


yang ada di hadapannya. Tanpa berucap sedikit pun, ia memasuki ruangan itu dan


berdiri di hadapan pria yang sedang menulis pada berkas yang ada di mejanya.


"Silakan duduk, Nak Nata!"


"Mama saya ketemu sama siapa tadi?" Seakan tak ingin banyak basa-basi


lagi, sang manik hazel segera menyambar pria dengan pakaian dokter itu dengan


sebuah pertanyaan.


"Duduk dulu, Nak!" Nata menurut. Ia tak ingin lama-lama di


ruangan ini.


"Beberapa jam yang lalu, Nyonya Dina meminta perawatnya untuk keluar


ruangan. Diajak ke taman. Di taman, tiba-tiba nyonya menunjuk ke arah


laki-laki, perawat tidak tau itu siapa, tapi nyonya Dina malah menangis ketika


ditanya. Akhirnya perawat membawanya kembali ke ruangan, tapi keadaan semakin


memburuk." Pria itu mencoba menjelaskan dengan baik dan berusaha tidak


memancing emosi Nata. Tanpa sepatah kata pun, Nata pergi meninggalkan ruangan


itu. Ia memilih kembali ke ruangan mamanya. Kini


rahangnya mengeras, ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur mamanya.


Tangannya mengelus puncak kepala wanita itu.


"Mama ketemu Fikar?" bisiknya lirih. Cowok itu menarik napas,


menumpukan kepalanya ke tepian tempat tidur mamanya. Ia berusaha memejamkan


matanya, harus kah mamanya bertemu dengan cowok itu lagi, ia ingin tau,


bagaimana perasaan mamanya pada cowok itu dalam keadaan seperti ini.


Sekelebat pikiran yang masih mengganggunya membuatnya bangkit dan memilih


melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Udara malam kota Bandung menyapa


sang hazel, membuatnya memasukkan kedua tangan pada saku jaketnya. Ia


melangkahkan kakinya mendekati sebuah bangku di tengah taman dan menjatuhkan


diri di sana. Terasa sangat sunyi, hingga ia bisa mendengar suara daun bergesekan.


Maniknya menatap lurus sebuah pohon yang ada di hadapannya. Pohon itu semakin


tua, beriringan dengan usianya yang juga semakin tua. Ia masih ingat betul


ketika dirinya yang masih tak tahu apa-apa berteriak dan menangis di bawah


pohon rindang itu. Seluruh pasien keluar hanya untuk melihat anak laki-laki


kecil yang sedang meraung karena ketakutan hingga sepasang suami istri yang


sedang berkunjung ke tempat itu menghampirinya dan mencoba menenangkan anak


laki-laki itu. Mereka membawanya menikmati es krim di kedai yang letaknya tak


jauh dari tempat itu. Anak laki-laki itu masih tinggal di tempat ini bersama mamanya,


dan sepasang suami istri itu selalu mengunjunginya hanya untuk sekadar memberi


sekotak nasi atau membawa anak itu jalan-jalan hingga suatu hari mereka


membawanya ke suatu tempat. Keduanya meminta anak laki-laki itu untuk tetap


tinggal di sana dan berjanji akan membawanya bertemu dengan mamanya kapan pun


ia mau dan tentu saja anak laki-laki itu mau.


Anak laki-laki itu tumbuh layaknya anak-anak lain, hingga suatu hari kedua


orang yang selama ini merawatnya memutuskan untuk pergi. Keduanya ingin


mengajak anak yang sudah berumur 15 tahun itu untuk ikut ke luar negeri. Namun,


anak laki-laki  yang sudah mulai remaja itu


menolak. Masih dengan rasa baik hatinya, sepasang suami istri itu membiarkannya


tetap tinggal di rumah keduanya dan masih mengirimi uang untuk biaya sekolah


dan semua kebutuhannya bahkan termasuk keinginannya yang tak pernah keduanya


tolak. Laki-laki itu tak pernah tahu siapa kedua orang yang begitu baik


padanya, baginya mereka adalah malaikat yang sengaja Tuhan kirimkan padanya.


Suara ranting yang diinjak membuyarkan lamunannya. Pemilik manik hazel itu


mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sumber bunyi tadi. Namun, ia memilih


bangkit untuk kembali ke ruangan tadi karena malam yang semakin larut hingga


maniknya menangkap siluet seorang pria yang berlalu dari taman tempatnya duduk


tadi.


***