
Chanda menggeliat saat telinganya mendengar sayup-sayup suara adzan, perlahan ia membuka kelopak mata. Seketika ia tersenyum, saat mendapati dirinya masih tertidur di paha Ibra. Wanita itu lantas dengan pelan bangun.
"Nyenyak, tidurnya?"
Chanda melebarkan kelopak mata saat mendengar suara Ibra, ia lantas menoleh ke sampingnya. Ibra tersenyum ke arahnya.
"Lumayan," jawab Chanda tersenyum. "Maaf, membuat kaki Mas, kesemutan," sambungnya.
"Tidak papa," ucap Ibra.
"Mas, mau mandi dulu, atau, aku dulu?" tanya Chanda, sembari memperhatikan Ibra yang tengah memijit-mijit kakinya yang kesemutan.
"Kamu, duluan saja," jawab lelaki itu.
"Hm, salah lagi," gerutu Chanda, ia lantas menurunkan tubuhnya berlutut di sebelah kaki Ibra dan memijit pelan kaki Ibra.
"Kamu mau apa, Chand, tidak perlu seperti itu!" Ibra tak setuju saat tangan lembut istrinya mulai memijit-mijit kakinya.
"Salah panggil!" gerutu Chanda tak perduli pada Ibra yang sungkan karena dirinya memijit kaki lelaki itu.
Ibra mengembuskan napas kasarnya, "Dik, Chanda, kamu tidak perlu memijit kaki a_Mas, karena rasa kesemutan nya sudah hilang," ujar Ibra akhirnya.
Canda mendongak dan tersenyum, "makasih, sudah membiarkan aku tidur di pangkuan mu. Makasih sudah membiarkan kaki Mas kesemutan karena aku." Chanda tersenyum dan beranjak dari sana. Mengambil handuk, baju dan berlalu ke kamar mandi.
Ibra terdiam di tempatnya, hanya memang matanya yang mengikuti kemana perginya wanita cantik itu.
Bibirnya tersenyum miring, lantas menggeleng. Entah apa yang ada dipikirannya kali ini, yang jelas sudut hatinya merasa lucu melihat Chandani yang pemaksa. Pemaksaan yang di lakukan wanita itu benar-benar membuat dia menurutinya. Lagipula ini semua demi bisa bertemu dengan Jilana bukan, kekasihnya.
"Jilan," gumam nya. Lantas Ibra beranjak mencari ponselnya yang ternyata ada di atas meja. Lelaki itu langsung mengambil dan membuka nya. Begitu banyak pesan yang masuk, dari Jilan dan yang lainnya.
Di lihatnya jam dinding, "jam segini, Jilan pasti masih tidur," ujar nya. "Sudahlah, nanti begitu pindah ke rumah, biar aku langsung berangkat setelah mengantar Chanda," sambung pria beristri itu.
Ceklek!!!
Pintu kamar mandi di buka, Ibra langsung menoleh ke arah belakang. Munculah Chanda dengan wajah segar, sudah berpakaian rapi lengkap dengan jilbabnya.
"Mandi, Mas. Setelah itu, shalat!" perintah Chanda yang kini bahkan dirinya tengah menggelar dua sajadah, menyiapkan koko dan sarung juga untuk suaminya.
Ibra menelan ludahnya kasar, biasanya ia hanya akan cuci muka, gosok gigi dan shalat. Tidak pernah mandi apalagi sepagi ini. Biasanya Ibra akan mandi setelah sarapan.
"Kenapa masih diam, Mas?" tanya Chanda yang menoleh ke belakang dan mendapati Ibra masih terdiam di tempat duduknya.
"Mmm, biasanya, Mas hanya cuci muka tidak mandi sepagi ini," jawab Ibra jujur.
Chandani menggelengkan kepalanya, "tapi, kalau Mas mau kerja, Mas mandi?" tanya Chandani.
Ibra mengangguk. "Iya, mandi," jawab Ibra.
"Sangat di sayangkan, bukan." Chanda kembali menggeleng kan kepala nya, "mau ketemu manusia malah mandi, bersih-bersih, pakai wangi-wangi. Giliran mau ketemu Tuhan, Sang Maha Pencipta, Mas malah nggak mandi, jangan-jangan nggak ganti baju juga, bangun, wudhu terus shalat," sambung wanita itu.
Ibra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, 'betul juga apa yang di katakan Chandani,' begitu ucapnya dalam hati. Lantas Ibra beranjak dari duduknya mengambil handuk dan buru-buru masuk ke kamar mandi.
Chandani tersenyum melihat Ibra yang buru-buru.
Wanita cantik itu lantas menarik napas dan mengembuskan nya perlahan, "pelan-pelan Chanda," gumam nya menyemangati diri sendiri.
Tak lama setelahnya, Ibra keluar dengan celana pendek dan kaos. Sembari menggosok rambutnya yang basah. Jangan lupakan bibirnya yang bergetar karena kedinginan.
Istrinya tertawa di balik telapak tangannya.
..._-_-_-_-_-_-_...
Kini, setelah sarapan, Ibra dan Chandani pamit pada mama Lili dan papa Ahmad. Sebenarnya ibu Lili tidak setuju kalau sang anak membawa menantu kesayangannya keluar dari rumah. Namun, apalah daya, suami lebih berhak, bukan.
Netra cantik ibu Lili mengeluarkan air mata, memeluk erat sang menantu, tangannya mengusap punggung wanita itu.
"Sering-sering main ke sini ya, Nak Chanda. Mama pasti bakal kesepian deh," ucap Ibu Lili.
"In Syaa Allaah, Ma. Nanti aku main ke sini, kalau Mas Ibra tengah bekerja," kata Chanda sembari mengusap punggung sang mertua.
"Sudah-sudah, pokoknya kalau kamu bosan sendirian. Kamu ke sini saja ya, Nak Chanda. Papa yakin sih, kamu pasti akan kesepian. Apalagi tadinya kamu banyak adik, sekarang hanya dengan Ibra saja," ujar Papa Ahmad.
"Iya, benar sekali Pa," kata Chandani.
"Iya, pokoknya kalau kamu bosan, bilang saja sama Ibra kalau kamu mau ke sini, atau mau ke panti, ya. Pasti di bolehkan kok." kata papa Ahmad lagi.
"Terima kasih, Ma, Pa. Aku dan Mas Ibra pamit dulu ya," Chanda menyalami kedua mertuanya itu dengan takzim. Lantas setelahnya ia masuk ke dalam mobil.
"Yang benar ya, Ib. Jangan sekali-kali kamu nyakitin Chanda," ucap Ibu Lili pada anaknya, saat Ibra salim padanya.
Ibra mengangguk, "assalamu'alaikum, Ma, Pa." katanya seraya berjalan ke arah mobil.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa," ucap Chanda yang sudah duduk di dalam mobil, mengatupkan kedua tangannya ke arah Mertuanya.
Perlahan mobil melaju, meninggalkan dua paruh baya yang melambaikan tangannya pada mobil yang bergerak maju meninggalkan mereka.
..._-_-_-_-_-_-_...
Sementara itu di dalam mobil.
Chanda mengalihkan pandangan nya ke arah luar jendela. Sedangkan Ibra fokus ke jalan di depannya.
Ah, baru mau dua hari ini menjadi suami-istri, tapi bukan nya manis yang ia dapat, justru menuju ke kepahitan. Karena tadi, saat Chanda kembali membereskan baju-bajunya untuk di masukan ke dalam koper, Ibra sudah mengatakan kalau dirinya akan pergi menemui kekasihnya.
Itulah kenapa, rasanya dia tidak ingin melihat Ibra. Ah jika boleh, ia ingin balik saja ke panti.
Mobil sampai di depan rumah berlantai dua. Ibra lantas menoleh ke arah Chanda. "Sampai sini saja ya, a- mmm ... Mas sudah ada janji," begitu ucap Ibra.
Chanda masih terdiam, lantas menoleh ke arah Ibra. "Apa, di dalam ada orang?" tanyanya serius.
Ibra mengangguk, "ada, Bibi Titi. Dik Chanda masuk saja, sudah Mas bilangin kok," jawab Ibra.
"Apa, Mas akan lama?" tanya wanita itu lagi lagi.
Ibra mengedikan bahu, "bisa jadi."
"Apa, aku tidak boleh menunggu?" tanya Chanda yang memang sengaja mengulur waktu.
Ibra menarik napas kasar. "Cukup, Chanda! Sekarang kamu turun, saya mau pergi!" wajah Ibra penuh dengan emosi.
"Terserah kamu mengijinkan atau tidak, yang jelas saya akan tetap pergi!" lanjut lelaki itu dengan kesal.
Chandani lantas turun dan membanting pintu mobil, membuka pintu bagian belakang dan mengambil kopernya. Menyeret kasar membawa masuk ke dalam rumah yang ... entahlah, entah membawa bahagia atau justru sebaliknya.
Ibra menarik nafas dalam-dalam, mengembuskan nya perlahan. Ia merasa menyesal sudah mengatakan demikian pada Chanda, tapi, mau bagaimana jika di tanya terus-menerus, bagaimana dia bisa pergi. Ia paham betul kalau istrinya itu pasti akan melarangnya.
Dengan kesal, Ibra menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan halaman rumahnya yang tak terlalu lebar.