
Suasana diruang makan benar-benar hangat, Chandani mengambilkan makanan untuk semua orang, lantas semuanya makan dengan sedikit obrolan yang seru. Begitu selesai, Wanita cantik itupun lantas membereskan segalanya, membantu bibi Nunik. Berkali-kali tidak di perbolehkan, namun Chandani tetap saja memaksa. Alhasil, mama mertuanya menunggu di sofa ruang keluarga dengan dua pria yang sangat ia sayangi.
Begitu selesai, Chandani lantas bergabung ke sana dengan membawa puding yang ia bawa. Sengaja, ia membelinya di saat perjalanan menuju rumah mama Lili, agar tak terlalu kosong tangannya saat berkunjung ke rumah mertua.
"Sudah di coba, Ma?" tanya Chandani pada sang mertua.
"Belum, padahal pengin banget nyobain," jawab mama Lili dengan wajah sendu, membuat sang suami yang duduk disebelahnya gelang-gelang kepala.
"Ya udah, sana Ma, di coba dulu," perintah sang papa akhirnya.
Ibra tersenyum lebar, baru kali ini ia melihat mamanya begitu bahagia. Padahal hanya perkara di buatkan baju oleh menantunya. Bagi anak laki-laki satu-satunya itu, kebahagiaan ibunya adalah kebahagiaanya. Jadi, dia semakin yakin akan segala yang ia rencanakan.
"Ayo, Ma di coba. Nanti jangan lupa kasih kritik dan sarannya, ya," ujar Chandani.
Mama Lili mengangguk dengan semangat, lantas wanita usia senja itupun beranjak dari duduknya dengan paper bag yang ada di atas meja. "Sebentar ya." ujarnya.
"Kritik dan saran gimana, Nak Chanda?" tanya papa penasaran.
"Jadi, Pa," Ibra membuka suaranya. "Itu, baju yang lagi di coba sama Mama, yang jahit Chandani. Dia buat khusus untuk Mama," sambung pria itu menjelaskan.
"Iya kah, Nak Chanda?" tanya papa lagi, seolah tak percaya.
Chandani tersenyum lebar, sedikit malu-malu. "Iya, Pa. Itu hasil pertama Chanda. Nanti, kalau tidak bagus, dimaklumi ya, Pa," jawabnya.
"Bagus loh, tadi papa sudah pegang bahannya, sama ngelihat sedikit jahitannya. Terlihat rapi kok," kata papa yang mana langsung membaut Chandani senang.
Tak lama mama lili keluar dari kamarnya dengan baju yang baru dari sang menantu. "Gimana, mama jadi terlihat 20 tahun lebih muda 'kan?"
"Masyaa Allah, bajunya cantik banget Ma," puji papa, bahkan ia sampai berdiri.
"Ish, Papa. Mama pikir mama yang cantik," gerutu mama Lili, mengundang tawa anak dan menantunya itu. "Tapi, memang bagus sih bajunya. Chandani ... makasih banyak ya, bagus sekali, mama suka," begitu sambung mama Lili pada menantunya.
"Alhamdulillah kalau suka, Ma."
"Wah, Mama sudah, nanti tinggal Papa ya, Nak Chanda," kata si papa yang saat ini sudah duduk kembali di tempatnya.
"Ih, nggak bisa Pa. Chandani mau buatkan baju untuk suaminya dulu, baru buat mertuanya lagi," Ibra langsung mengatakan demikian. Tentu saja ia tidak terima jika istrinya membuatkan baju untuk papanya terlebih dulu.
Chandani semakin tersenyum lebar, rasanya senang sekali. "Chandani sudah terlanjur janji untuk membuatkan baju Mas Ibra, Pa. Nanti ya, kalau punya Mas Ibra selesai," jawabnya.
"Iya deh, boleh-boleh," jawab papa pasrah.
"Nanti, Chanda buatkan yang warnanya sama kayak punya Mama, jadi kembaran," kata Chandani lagi, yang mana membuat mama dan papa kegirangan.
"Nanti, mama rekomendasikan ke teman-teman arisan mama, kalau Chandani mau. Jadi, di sela-sela kesepian di rumah, Chandani ada kerjaan yang menyenangkan."
"Boleh, Ma. Nanti aku buatkan tempat khusus untuk Chandani dan baju-bajunya," kata Ibra.
Obrolan tentang baju dan usaha yang akan dimulai oleh Chandani berlanjut hinga malam. Dan setelah isya di sana bersama-sama, sepasang pengantin yang masih bujangan dan perawan itupun memutuskan untuk pulang.
Entahlah, rasanya lebih enak di rumah sendiri walaupun hanya sebatas tidur. Lebih leluasa, begitu pikir Ibra, yang mana lantas membuatnya kukuh untuk minta pulang.
...----------------...
Lalu, setiap Chandani menjahit dan setiap Ibra di rumah. Pasti, keduanya akan menempel dan berada di tempat yang sama layaknya amplop dan perangko. Tentu saja, sebagai orang yang bekerja di sana dan sudah mengenal Ibra dari lama, dia sangat senang saat bosnya itu semakin harmonis dan lengket pada istrinya. Karena menurutnya, mereka berdua ini adalah pasangan yang cocok.
Seperti saat ini, Chandani yang pagi ini tengah membersihkan taman, mencabuti rumput dengan mbak Titi. Langsung di panggil oleh Ibra, di cari-cari lantaran tadi saat Chandani turun, suaminya itu tengah teleponan di kamar.
"Di sini ternyata kamu, Dik," begitu ucap Ibra saat dia mendapati istrinya tengah jongkok mencabuti rumput liar.
Chandani hanya menoleh dan mengulas senyum, serta kepala yang mengangguk. Hari ini hari minggu, jadi Ibra tengah libur dari cafe-cafe miliknya. Lalu, diapun mendekat dan menyuruh bibi Titi untuk masuk ke dalam, karena dirinya ingin membantu istrinya itu mencabuti rumput.
"Memangnya kamu bisa, Mas?" tanya Chandani saat Ibra sudah jongkok disebelahnya.
"Bisa, cabut doang gini," katanya seraya mencabut setiap rumput.
Chandani tertawa, "kamu mau buat taman ini, gundul, Mas?" tanyanya sembari menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Kenapa, ini rumput 'kan?" tanya balik Ibra tak mengerti.
"Ini rumput sengaja di tanam, dan kamu dulu beli 'kan ini," ujar Chandani.
"Ya Allaah, sampai lupa 'kan," gerutu Ibra. "Ni pasti gara-gara kamu," sambungnya pura-pura kesal.
"Loh, kok gara-gara aku," Chandani tak terima.
"Iya, 'kan karena kamu, aku jadi nggak fokus sama rumput liar," kata Ibra yang ternyata tengah menggoda istrinya itu.
"Yakin, nggak fokus sama rumput liar?" tanya Chandani dengan menatap wajah suaminya itu.
"Kenapa harus fokus pada rumput liar, kalau rumput sendiri lebih subur dan hijau?" Ibra pun sama, ia menatap wajah Chandani yang sudah berkeringat, namun kecantikannya tak luntur walau wajahnya kini basah karena bulir keringat.
"Karena masih di pandang, nanti saat kamu mulai memandang kembali rumput liar, kamu akan kembali fokus padanya."
"Aku akan sekuat tenaga, meyakinkan hati kalau rumput sendiri lebih indah dan halal untuk aku," ujar Ibra lagi.
"Jika tidak bisa menguatkan?"
"Aku akan menyesal seumur hidupku, jika sampai rumput hijau nan halalku mati sia-sia, apalagi hanya demi rumput liar."
"Semoga kamu benar-benar ingat ya, Mas. Aku doakan semoga kamu bisa tetap teguh pada sesuatu yang halal dan tetap teguh meninggalkan yang haram," kata Chandani akhirnya.
"Setelah ngomong rumput, sekarang kamu ngajak ngomongin makanan. Jadi lapar," kata Ibra.
Chandani setengah tertawa, "ayo, sarapan. Tapi, aku belum bikin, mau nunggu atau beli?"
"Aku yang buat." Ibra berdiri dari jongkoknya.
"Seriusan?" tanya Chandani tak percaya. Dia mendongak melihat suaminya dengan tak percaya.
"Serius, supaya rumput aku semakin hijau," canda Ibra.
Lelaki itu lantas menarik tangan sang istri agar berdiri. Lalu, kendati badan Chandani tengah penuh keringat, namun ia tak segan-segan untuk merangkul mengajaknya masuk. Ia akan membuatkan sarapan khusus untuk istrinya itu. Dia bahkan tak membiarkan Chandani membantu. Wanita cantik yang saat ini sudah membersihkan tangan dan wajahnya itu hanya di suruh untuk duduk dengan manis di kursi makan, menunggu masakan dari suaminya.
...---Bersambung---...