Chandani

Chandani
Bab 19 : Hampir Saja



Chandani tersenyum manakala saat ini dirinya duduk dibelakang sang suami. Inilah kali pertama baginya sholat dengan Ibra sebagai imamnya. Sungguh rasanya seperti mimpi, dan sangat membahagiakan sekali.


Seandainya bisa, ia ingin memberhentikan waktu untuk saat itu juga. Sebentar saja, ia ingin lebih lama lagi menikmati waktu indahnya bersama sang suami. Namun sayang, itu semua harus terhempas kedalam kenyataan bahwa saat ini sang suami sudah berdiri dari duduknya tanpa memberikan tangannya untuk ia cium.


Tapi, bukan Chandani namanya jika diam saja. Dia lantas turut berdiri dan meminta tangan sang suami untuk ia cium dengan takzim. Ibra sempat diam membisu, namun setelahnya ia mengerti dan memberikan tangannya untuk sang istri.


"Belum terbiasa," gumam Chandani.


"Apa?" Ibra bertanya.


"Hah," Chandani menatap wajah tampan Ibra, lantas dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."


Ibra memajukan bibirnya, lantas lelaki itupun melanjutkan apa yang akan ingin ia lakukan tadi. Yaitu menghubungi Carlo dan Laras. Ia ingin tahu bagaimana orangtua Jilana saat ini, masihkah mengerahkan orang-orangnya untuk mencari atau tidak.


Sementara Chandani, dia lantas keluar dari kamarnya. Ia ingin memulai membuatkan baju untuk sang mama mertua. Karena memang tadi dia sudah membeli bahan yang cocok untuk ibu Lili. Tentunya nyaman di pakai sehari-hari.


Tado, setelah makan bakso dengan ibra, ia meminta diantar untuk membeli bahan. Tidak hanya satu, dia juga membeli beberapa bahan. Karena niatnya, setelah membuat pakaian untuk sang mama mertua, ia ingin membuatkan untuk Ibra juga. Ya, siapa tahu berawal dari memakai baju buatannya terus lanjut jatuh cinta. Ya 'kan? begitu pikir wanita cantik itu.


Pertama-tama wanita cantik yang saat ini tengah menggelar bahan itu mengukur dan memotongnya. Karena ukuran badan mama Lili memang sudah ia catat didalam buku.


Dengan senang ia memulai semuanya, menggaris, memotong, membuat pola, sampai lupa akan waktu. Hingga suara muadzin kembali terdengar yang menandakan waktu isya sudah saatnya. Lantas, wanita cantik itupun mengehentikan aktivitasnya dan shalat dibawah. Dikamar tamu, kebetulan pakaian yang ia kenakan sudah lumayan panjang-panjang, bahkan sangat panjang, jadi ia tak perlu ke atas hanya untuk mengambil mukenah saja.


Selepas shalat isya, Chandani kembali ke aktivitasnya. Melupakan seseorang yang sedang mondar-mandir mengitari ruangan kamar hanya untuk menunggunya kembali ke kamar. Jujur saja, Ibra tengah ingin kembali menjadi imam shalat bagi Chandani. Tapi sayangnya, yang ditunggu-tunggu malah tak kunjung datang.


Akhirnya, Ibra shalat isya sendirian. Lantas, setelah selesai pria itupun keluar dari kamarnya. Mencoba mencari keberadaan sang istri. Tunggu, dia mencari Chandani? Ya, entahlah kenapa, bahkan saat ini dia tak terlalu memikirkan Jilana. Apakah semua itu sudah membuatnya sadar, bahwa dirinya sudah mulai ada rasa dengan istrinya.


Jawabannya adalah belum, lelaki itu belum mengerti akan perasaannya.


Dengan langkah pelan, Ibra menuruni anak tangga satu-persatu. Netranya kesana-kemari mencari sosok cantik yang ia cari. Namun ia fak melihat keberadaan wanita itu, namun ia bisa mendengar suara mesin jahit yang terdengar.


"Ya ampun, dia sedang menjahit?" tanya Ibra entah pada siapa.


Langkah lelaki itu semakin cepat, bersamaan dengan pendengarannya yang semakin tajam akan suara mesin jahit sang istri. Dan disanalah dia, Chandani. Bibir Ibra tersenyum, lantas kakinya pun ia bawa untuk melangkah mendekat.


"Nggak shalat kamu, Dik?" tanyanya pada perempuan yang terlihat tengah sibuk.


"Hah," Chandani yang terlihat terkejut itu menoleh. Ia tersenyum ke arah sang suami. "Sudah tadi, di kamar tamu," jawabnya.


"Oh, pantes ditungguin nggak nongol-nongol," ujar Ibra.


"Kenapa, Mas?" tanya Chandani memperjelas, karena saking senangnya dia menjahit, dia sampai tak mendengar gumaman dari sang suami.


"Enggak papa, lagi bikin apa?" tanya Ibra yang saat ini berdiri dengan menumpukan kedua telapak tangannya di atas ujung meja mesin.


"Nyoba bikin baju, buat mama," jawab Chandani jujur.


"Iya, semoga saja mama suka," kata Chandani.


"Suka lah, bagus gini," ujar Ibra lagi.


Chandani menghentikan aktivitasnya, lantas dia menatap wajah tampan sang suami. "Mas mau nggak, kalau aku buatkan kemeja?" tanya Chandani.


"Memang kamu, bisa?" Ibra bertanya seraya menatap wajah ayu sang istri.


"In syaa allaah, bisa. Tapi, nggak sebagus kemeja Mas, pastinya."


"Mau, coba saja. Kalau bagus, aku kasih hadiah, dan hadiahnya sesuai keinginan kamu," begitu ujar Ibra.


"Bener ya?" Chandani menunjukan kelingkingnya ke udara. "Ayo janji dulu, pokoknya hadiahnya apa aja, terserah aku, apapun," sambungnya.


Ibra setengah tertawa, Chandani saat ini terlihat lucu dimatanya. "Ok, apapun yang kamu minta, aku turuti." katanya seraya menautkan kelingkingnya ke jari kelingking sang istri.


"Awas aja, kalau bohong. Aku doain bisulan nggak berhenti-henti," kata Chandani lagi.


"Ish, amit-amit." Ibra lantas mengetuk jidat dan tembok secara bergantian.


Chandani tertawa, lantas ia menunjukan bahan yang cocok untuk suaminya itu. Tak lupa, dia mengukur badan lelaki itu. Keduanya saling tatap netra masing-masing saat tangan Chandani melingkarkan tali ukur jahit ke dada sang suami, bahkan saking dekatnya, embusan napas Ibra yang sedikit menunduk begitu terasa di wajah Chandani. Sampai di mana, wajah Ibra semakin dekat, mendekat dan ... semakin dekat.


Sampai di mana wanita cantik yang tangannya masih menggenggam erat tali ukuran di depan dada bidang suaminya itu memejamkan mata, bersamaan dengan tangan yang semakin erat menggenggam tali itu.


Sedikit lagi, antara wajah dan wajah akan menyatu. Tapi sayang, suara Bibi Titi mengagetkan keduanya.


"Den, ada telep--" ucapnya menggantung.


Ibra dan Chandani terkesiap, wanita itu lantas melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Begitu juga dengan Ibra yang lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, Den," kata Bibi Titi tidak enak hati, merasa bersalah karena mengganggu bosnya yang mungkin akan menyatukan wajah mereka.


"Enggak papa, telepon dari man?" tanya Ibra.


"Dari bapak, belum saya tutup," begitu tutur bibi Titi yang lantas kembali pergi dari tempatnya.


Ibra menatap Chandani yang kini tengah menunduk, "belum di ukur 'kan, badan aku?" tanyanya.


Chandani mendongak dan menggeleng malu.


"Ok, selepas telepon papa, kamu ukur aku lagi." katanya menggoda Chandani. Lantas dia pun berlalu ke ruang tengah, dimana telepon rumah berada. Dia meninggalkan Chandani yang saat ini tengah tersenyum malu-malu. Ah, ya ampun. Chandani sampai menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya saking groginya tadi.


Tak dipungkiri, sedikit saja ia menginginkan kejadian tadi tak terganggu. Tapi sayang, mungkin memang belum saatnya, untuk dia dan sang suami menyatukan rasa, yang bisa berujung cinta.