Chandani

Chandani
Bab 26 : Hadiah Cinta



Malam ini bulan terlihat begitu indah, jangan lupakan kerlip bintang yang menemani. Sepasang suami istri telah berdiri di balkon. Mereka tengah menikmati suasana malam dengan keindahan langit. Siang tadi setelah dari restoran, Ibra lantas mengajak istrinya itu ke taman dan danau yang indah di ujung perkotaan.


Intinya seharian dari siang hari ini, Chandani di ajak sang suami untuk menikmati waktu mereka seperti layaknya orang yang tengah pacaran. Ya, pacaran halal.


"Baju buat aku belum selesai?" tanya Ibra pada sang istri yang tengah berdiri di sebelahnya.


Chandani menoleh, "sudah. Tapi belum aku setrika. Nanti kalau sudah rapi, aku kasih ke Mas Ibra," jawabnya.


"Bagus nggak?" tanya Ibra lagi.


Chandani mengedikan bahu, "kalau menurut aku sih bagus, entahlah kalau menurut Mas," jawabnya.


"Apa yang kamu inginkan sebagai hadiah jika aku menyukai pakaian yang kamu buat?"


"Sesuatu yang akan menjadikan ...," jawaban Chandani menggantung.


"Menjadikan apa?" Ibra dibuat penasaran.


"Menjadikan kita semakin dekat, insyaa Allah."


"Apa itu?" tanya Ibra lagi dengan dahi berkerut, berusaha memikirkan apa kiranya yang dimaksud sang istri.


Chandani tersenyum, "penasaran sekali memangnya?" Ibra mengangguk. "Silakan di terka-terka," sambungnya.


"Ck, nggak asyik."


Chandani tersenyum, lantas ia kembali melihat ke arah depan sana. Sesekali mendongak menatap bentangan langit. "Masyaa Allaah banget ya, indahnya," ucapnya.


"Iya, ciptaan Tuhan yang satu ini juga masyaa Allaah," ucap Ibra yang saat ini tengah melihat Chandani. "Cantiknya," sambung pria itu.


Chandani lantas menoleh kembali ke arah sang suami. "Apa, yang cantik?"


Tak beda dari lelaki itu, Chandani pun sama. Ia menatap netra sang suami tanpa berkedip. Keduanya berada di dalam satu pandangan. Binar cinta dan kekaguman ada di sana. Terlihat dengan sangat, bahwa keduanya sudah memiliki rasa yang sama, namun belum ada ungkapan yang nyata. Walaupun sesungguhnya, tanpa ungkapan pun, keduanya sudah menjadi satu. Karena apalagi, kalau bukan karena satu ikatan suci. Yaitu pernikahan.


"Apa kamu percaya, jika saat ini aku mengungkapkan sebuah rasa?" tanya Ibra tanpa mengalihkan pandangannya.


Keduanya berada diposisi yang sama, badan sama-sama menghadap ke depan, namun wajah menoleh ke samping.


"Akan aku pastikan lewat mata," ucap Chandani.


"Baiklah," Ibra merubah posisi dengan menghadap sepenuhnya ke arah sang istri. Begitu juga degan gerakan tangannya yang memutar tubuh Chandani agar menghadap ke arahnya. Lantas, di genggamnya kedua tangan halus wanita itu.


"Dik, Chanda ... izinkan aku malam ini, untuk mengungkapkan sebuah rasa, yang tiba-tiba saja hadir didalam dada. Setelah beberapa lama kita bersama." kata Ibra.


"Aku tidak pernah tahu, kalau ternyata yang halal mampu mengalahkan yang haram. Tanpa diduga, rasa cinta ini hadir untukmu, dan dengan mudah aku melupakan cintaku pada dia. Mungkin, memang benar apa yang hatiku selalu katakan, bahwa rasa yang aku miliki untuknya bukan lah cinta, hanya obsesi semata. Maka dari itu, Chandani ... Istriku, aku mencintaimu, maukah kamu, menjadi istriku seutuhnya, mengarungi bahtera rumah tangga bersama?" sambung Ibra bertanya dengan sungguh-sungguh.


Tatapannya begitu lembut, membuat Chandani bisa mengerti jikalau itu semua terucap dari dalam hati.


"Mas, Ibra. Dari sebelum kamu mengungkapkan rasa yang kamu sebut cinta. Aku bahkan sudah pasrah dan meminta agar diakui sebagi seorang istri. Jadi, jawabannya ... iya, aku mau. Aku jelas sangat-sangat mau," jawab wanita itu terharu, bahkan ia sampai mengeluarkan air mata saking terharu dan bahagia.


Akhirnya, setelah menguatkan hati dan mencoba untuk terus semangat membuat pria itu ke dalam dekapannya. Kini, tanpa diduga, suaminya sudah mengakui bahwa dia telah dicintai.


"Terimakasih, Dik Chanda," Ibra membawa sang istri ke dalam dekapan. Mencium lama puncak kepala istrinya itu. Menghirup lama-lama aroma khas wanita cantik itu.


Pun sama dengan Chandani, ia memeluk erat lelaki yang baru mengakui rasa padanya itu. Menenggelamkan wajahnya di dada Ibra. Menikmati pelukan hangat yang berasal dari dalam dada.


"Aku janji, nanti aku akan akhiri hubungan aku dengan dia," ucap Ibra.


Chandani mengangguk didalam dekapan. "Harus, Mas," katanya.