Chandani

Chandani
Bab 30 : Ke Mana?



"Non Chandani, tadi pamit Den. Katanya dia pergi dan jangan di cari."


Bibi Titi masih bicara, namun lelaki itu masih saja duduk terdiam di lantai.


"Non Chanda juga menitipkan ini." bibi Titi memberikan secarik kertas pada Ibra.


Lelaki yang tengah merasakan amarah, kesal, sedih dan segala rasa yang campur di dalam dadanya itu mau tak mau mengambil surat itu.


...Terimakasih karena sudah memberikan aku hadiah yang sangat indah. Tanpa terlihat bahwa kamu bersandiwara. Harusnya aku sadar, bahwa kamu memang tidak pernah mudah mencintaiku. Tapi sayang, aku terlalu pemaksa dan keras kepala....


...Apa yang aku lihat, sudah cukup menjadi bukti bahwa kamu hanya mempermainkan hati....


...Silakan ucapkan kata pemisah. Aku tak perduli....


"Apa maksud kamu, Chandani?!" tanya Ibra dengan nada marah pada secarik kertas itu.


"Kamu salah paham!" teriak lelaki itu kesal.


"Bi!" teriaknya lagi memanggil bibi Titi.


"Iya, Den." si bibi tergopoh-gopoh mendekat.


"Sudah lama, Chandani pergi, dengan siapa dia pergi?" tanyanya beruntun.


"Non Chanda pergi dengan ibunya, Non Chanda juga hanya pamit saja, semua barang-barangnya tidak ada yang di bawa sedikitpun," begitu jelas bibi Titi.


Karena memang seusai dari panti, Chandani pulang hanya untuk mengenalkan sang ibu pada mbak Titi yang menurut Chandani baik sekali, karena sudah menjadi temannya di rumah itu.


Pergi dari hidupnya begitu saja, setelah memporak-porandakan hatinya. Membuat nya jatuh ke dalam jurang rasa cinta yang begitu dalam. Dan menjadikanya lelaki yang tidak bisa kehilangan wanita yang mampu membawanya kembali ke jalan yang benar.


Dalam kepusingan yang ia rasa. Lelaki itu menjalankan mobilnya menuju ke jalan, ia tak mengerti harus kemana dia mencari. Yang jelas, dia terus saja memperhatikan setiap jalan yang ia lewati. Bayang-bayang Chandani ada di pelupuk mata. Rasanya setiap wanita berjilbab dalam pandangannya adalah sang istri yang pagi tadi masih tersenyum manis padanya.


"Ke mana kamu, Chanda?" tanyanya entah pada siapa.


"Kamu salah paham, ayolah kembali. Akan aku jelaskan segalanya," sambung pria itu seraya memukul setir dengan keras saking kesalnya.


Semua jalan ia lewati, sampai terkahir ke rumah sang mama. Ia jelaskan segala kesalahpahaman yang ada. Yang mana malah membuat sang ibu terkejut dan berujung ke rumah sakit.


Ibra benar-benar menyesal saat semua sudah terjadi dan menjadi seperti ini. Di satu sisi, ia ingin mencari istrinya. Namun di sisi yang lain, ia tak tega meninggalkan mamanya di rumah sakit.


"Tidak apa-apa, Ib. Dokter juga mengatakan mama kamu sudah baik-baik saja. Pergilah, cari menantu kesayangan mamamu kembali. Papa yakin, kalau Chandani sudah kembali, dia akan kembali sehat."


Apa yang papa katakan tak dijawab apapun oleh lelaki itu. Karena untuk mencari pun, ke mana, ia sungguh tidak mengerti.


"Ayo, Ibra. Pergilah. Jangan membuat mamamu semakin kecewa," sambung pria paruh baya itu.


"Maaf ya, Pa." ujar Ibra akhirnya. "Aku sangat merasa bersalah, dan menyesal," sambungnya.


Papa mengangguk, "tidak apa. Bagus kamu mau mengakui kesalahan kamu. Yang terpenting sekarang, kamu tanggungjawab dengan apa yang kamu perbuat. Cari istrimu sampai ketemu," papa menepuk pundak sang putra.


Ibra tersenyum, ia berterimakasih kepada lelaki kesayangannya setelah sang mama itu. Lelaki yang tidak pernah memarahi dirinya, sampai ia bisa sesukses sekarang. itu semua karena sang papa yang mau mengajari dirinya dengan sabar, se-sabar-sabarnya.


Lantas, Ibra pun pamit dari sana. Sekarang, mungkin ia akan menanyakan alamat ibu dari istrinya itu. Mungkin saja ibu Seruni tahu, dan dia bisa menemukan istrinya itu dan membawanya pulang. Tentu saja ia harus menjelaskan terlebih dulu pada ibu panti.