Chandani

Chandani
Bab 22 : Rasa yang Mulai Tumbuh



Didalam kamar yang lebar, dua manusia tengah melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Ibra kembali menjadi imam shalat bagi istrinya, dan itu semua semakin membuat Chandani bahagia.


Selepas menengadahkan tangan, melangit kan bait-bait doa, kini saatnya Ibra memutar tubuh dan mengulurkan tangannya pada sang istri. Yang mana langsung disambut dengan senang oleh wanita itu.


Diciumnya dengan lama punggung tangan suaminya itu, lantas begitu juga dengan Ibra. Ia mencium puncak kepala sang istri dengan sayang dan lama. Rasanya, kini dia sudah mulai merasakan kalau rasa yang ia miliki untuk Chandani adalah cinta yang nyata.


Buktinya, kini dia bisa dengan luwes mendekat dan menggoda tanpa rasa terpaksa. Rasanya dia sangat nyaman berada dengan wanita halalnya itu. Bahkan ia ingin segera menyelesaikan segalanya dengan Jilana. Ya, walaupun pasti akan susah untuk berpisah dari wanita s e k s i itu, karena saat ini bahkan sebenarnya dia sangat dibutuhkan oleh wanita itu.


Tapi, bagaimana jika Kenyataannya sekarang ini ia lebih condong pada seseorang yang halal untuk disentuh dan diberikan segala hak dan kewajiban. Jadi, yang akan dilakukan pria tampan nan mapan itu adalah pelan-pelan.


Ya, dia akan membiarkan Jilana di panti lebih lama, sampai ia bisa menyatakan rasanya pada Chandani dan dia akan meminta bantuan wanita cantik itu untuk menyelesaikan segala urusannya dengan Jilana. Ia yakin, pelan-pelan nanti Jilan akan taji, bahwasanya hubungan mereka memang harus berakhir. Sebelum semakin banyak menambah dosa.


Ah, mengingat dosa. Entah kemana saja dia kemarin. Sampai tak memperdulikan wanita cantik yang dengan lugas meminta dirinya agar bisa menyayangi dan memperlakukan wanita itu dengan baik selayaknya istri sesungguhnya.


Seandainya saja, waktu bisa diputar kembali. Mungkin dia akan mengakhiri hubungannya dengan Jilana sebelum ia menikahi gadis cantik yang dijodohkan oleh sang mama.


Namun, tidak ada kata terlambat bukan, untuk memperbaiki segalanya.


...----------------...


Selepas shalat, sepasang suami istri itu lantas turun ke lantai satu. Karena Chandani kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu menjahit baju untuk mama mertua.


Lagipula, Ibra sudah tidak sabar untuk dibuatkan baju. Dan Chandani juga sudah tidak sabar untuk meminta hadiah.


"Kamu nggak mau, bisnis jual baju-baju buatan kamu?" tanya Ibra saat dirinya tiba-tiba memikirkan ide bisnis untuk sang istri.


"Takut nggak ada yang beli," jawab Chandani jujur.


"Bisnis itu nggak pakai rasa takut, Dik," kata Ibra lagi.


"Aku awal-awal buka bisnis juga gagal, sampai akhirnya sekarang sudah memiliki beberapa cafe yang bisa menghidupi aku dan keluarga," sambung lelaki itu.


"Oh, ya. Mas Ibra pernah gagal," Chandani menoleh tak percaya dengan apa yang diucapkan sang suami.


"Kamu pikir," kata Ibra dengan gelengan kepala.


"Iya, aku pikir Mas Ibra berjalan tanpa hambatan dalam segala hal."


"Aamiin, aku aamiinkan semoga ini menjadi doa," ujar Ibra.


Chandani mengangguk, lalu menyapukan dua telapak tangannya ke wajah.


"Gimana, mau nggak?" tanya Ibra lagi.


Dahi Chandani berkerut, "aku nggak punya modal lah, Mas. Kalau mau bisnis jual baju, aku tentu harus sudah punya baju yang siap, terus punya tempat sendiri untuk menjual baju-baju yang aku buat bukan," katanya.


Kini bahkan Chandani dan Ibra malah saling berhadapan dengan duduk di kursi tepat di depan meja jahit.


"Kenapa?" tanya Chandani dengan senyum tak percaya.


"Apanya?" tanya balik Ibra.


"Kenapa sudah sebaik ini, apa memang ini adalah Mas Ibra yang asli?"


Ibra menganggukkan kepalanya, "iya. Ini aku yang asli, memangnya kamu pikir aku yang sekarang ini apa, roh, hantu yang nyamar gitu."


"Mas Ibra nggak cocok melawak," kata Chandani.


"Kamu bilang kamu ingin diperlakukan seperti seorang istri sesungguhnya 'kan, jadi aku nggak salah 'kan kalau seperti ini," kata lelaki itu lagi.


"Makasih ya," ucap Chandani dengan senyum mengembang sempurna.


"Sama-sama, sudah. Selesaikan cepat baju mama, aku sudah nggak sabar pengin pakai baku buatan kamu. Biar bisa aku rekomendasikan ke teman-teman dan semua orang."


Chandani semakin tersenyum lebar, lantas dia memutar tubuh dan memulai kembali pekerjaannya. Tentu saja dengan ditemani sang suami.


...----------------...


Ternyata kebaikan Ibra tidak hanya sejam, dua jam. Ataupun sehari, dua hari. Lelaki itu semakin membuat Chandani merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri. Seperti, sarapan bersama, makan malam bersama. Shalat, dan segala sesuatu yang dilakukan berdua. Bahkan sampai tidur diatas ranjang yang sama. Ya, walaupun masih sebatas tidur, belum yang lainnya. Tapi, Ibra yakin. Perlahan tapi pasti, ibadah indah itu pasti akan terlaksana.


Lagipula, bukankah Chandani bilang saat dulu, bahwa dirinya sudah siap jika ia meminta apapun tentang haknya. Jadi, Ibra hanya tinggal menunggu waktu yang pas saja.


Sembari menunggu saat yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Jilana. Untuk saat-saat ini, ia hanya menelpon ibu Seruni saat ingin tahu bagaimana keadaan wanita s e k s i itu. Tentu saja lewat sang istri.


Tidak mungkin 'kan, dia yang akan menelpon dan menanyakan sendiri pada ibu Seruni. Bisa-bisa ketahuan bahwa wanita itu adalah kekasihnya. Ya, masih kekasih bukan, karena mereka belum mengakhiri hubungan itu.


Setiap ada telepon, Jilana memang tak pernah mau bicara. Kalau kata ibu Seruni, wanita itu lebih banyak diam dikamar dan hanya akan keluar saat makan saja. Ibra sangat memaklumi itu, karena ia yakin seratus persen kalau wanita itu jelas tidak betah di sana. Namun bagaimana, jika untuk saat ini, tidak ada tempat lain lagi selain di sana.


Pernah sekali ia bicarakan dengan Carlo dan Laras, namun keduanya juga tidak bisa memberi tempat untuk Jilana. Karena mereka sudah lebih dekat dengan orangtua Jilana, jadi, mau menyembunyikan di manapun tetap saja akan ketahuan.


Terpaksalah keduanya tak membantu dan akan membiarkan wanita itu di panti sampai waktu yang, entahlah.


"Tidur, malah bengong."


Ibra terkesiap. Pasalnya saat ini ia tengah bingung bagaimana caranya untuk mengatakan tentang rasanya pada Chandani. Dan saat ini, ia tengah memiringkan badannya menghadap ke wanita cantik yang sudah mulai membiasakan diri dengan tidur tanpa jilbab didepan suami.


"Lagi mikirin apa?" tanya Chandani lagi, saat suaminya tak merespon dengan baik perkataannya. "Jilan," sambung wanita itu.


Ibra menaikan alisnya, menatap wajah Chandani yang tidak bisa disembunyikan bahwa ia terlihat kesal saat menyebut nama wanita lain. Lalu, munculah ide dari otak pebisnis itu, sembari mengetes apakah benar, kalau istrinya itu cemburu jika dia memikirkan wanita lain atau tidak. "Kok, bisa tahu sih."


"Huh!" Chandani terdengar menghela napas kasar. Lantas membawa tubuhnya ke posisi ter le ntang dengan kedua tangan diatas perut. Dan semua itu tak luput dari pandangan Ibra. "Bukannya aku sudah bilang ya, jika tengah bersamaku, tolong jangan perlihatkan bahwa dirimu tengah memikirkan yang lain," katanya dengan menatap langit-langit kamar.


Bibir Ibra tersenyum lebar, dia sangat senang manakala melihat api kecemburuan di netra sang istri. Dan ini, semakin membuatnya yakin untuk mengungkap segala rasa yang ia punya untuk istrinya itu.