
"Jilan buka dong, jangan kayak gini," bujuk Ibra pada sang kekasih.
"Ayolah, kamu tahu jelas cinta aku untuk siapa. Jadi, harusnya kamu bisa menyimpulkan bagaimana diriku dengan dirinya," sambung pria itu menjelaskan pada wanita yang kini mengurung dirinya di kamar.
Tanpa mengerti kalau kini wanita yang berstatus istrinya itu tengah sedih mendengar apa yang dia katakan. Wanita itu sengaja mendengar lantaran dia memang ingin tahu, apa kiranya yang akan sang suami katakan untuk membujuk kekasihnya itu. Dan ternyata kata-katanya lagi-lagi menyakitkan.
Namun, bukan Chandani namanya kalau dia tetap diam. Dia lantas berjalan mendekat dan berdiri di sebelah sang suami. "Kenapa harus mengurung diri, apa segitu takutnya kamu kalau nanti kekasih kamu akan jatuh cinta pada istri sahnya dan melupakan cinta haram nya," ujarnya dengan suara kencang.
"Kamu apaan, sih?!" tanya Ibra dengan nada kesal seraya menoleh ke arah Chandani dengan raut wajah marah.
"Lihat aja, sebentar lagi juga keluar," begitu kata Chandani tanpa rasa takut.
Ceklek! Benar saja, pintu di buka dari dalam dan munculah wajah kusut karena emosi.
"Lihat 'kan dia keluar," kata wanita cantik yang berstatus istri itu.
Ibra mengembuskan napas kasar, lantas di genggamnya dua tangan sang kekasih. "Maaf kalau memang aku membuat mu marah, tapi kamu harus tahu. Perhatian aku untuknya," ucap nya seraya menoleh ke arah Chandani. "Semata-mata hanya untuk membahagiakan mama, agar dia tidak curiga juga, dan agar mama percaya dengan apa yang di katakan Chanda tadi pagi," sambung pria itu menjelaskan.
"Usianya tua, tapi masih kekanak-kanakan," gumam Chandani dengan sinis nya. Tentu saja apa yang dia ucapkan di dengar dengan jelas oleh dua manusia yang tengah beradu pandang tanpa memikirkan nasib hatinya.
"Ck, istri kamu ngeselin banget si," kata Jilan merengut.
"Dik Chanda," panggil Ibra pelan setelah menarik napas dan mengembuskan nya degan kasar. "Bisa minta tolong, tolong biarkan aku bicara sebentar dengan Jilan," sambungnya pelan. Berharap dengan bicara seperti itu istrinya tahu kalau dia butuh privacy.
"Baiklah, tapi tolong kalau masuk di dalam satu kamar pintunya jangan di tutup. Aku nggak mau aja, nanti kalau kalian berdua masuk dan setan datang membisikan sesuatu yang buruk dan kalian ikuti n a f s u setan itu. Bukan apa, aku hanya nggak mau nanti kalau suami aku beralih dari kamu ke aku, aku kebagian bekasnya." Chandani memutar tubuh dan pergi dari sana.
Apa yang dikatakan Chandani barusan membuat Jilana kesal setengah mati, wanita cantik itu benar-benar tidak habis pikir. Dalam pikirannya istri dari kekasihnya itu adalah wanita yang mudah di b o d o h i dan penurut, ternyata kebalikannya, bahkan kata-katanya benar-benar menyebalkan menurutnya.
"Ayo kita duduk." ajak Ibra dengan menarik tangan Jilan dan masuk ke kamar tersebut. Duduklah keduanya di atas ranjang.
"Kamu jangan marah dong, kamu harus kuatkan telinga. Soalnya, untuk saat ini kamu nggak bisa pergi dari sini," kata Ibra.
"Kenapa? Kamu ketemu sama suruhan ayah?" tanya Jilan penasaran.
Ibra mengangguk, "iya. Dan semua teman kita di datangi satu-satu, setiap hotel, kost di cek. Itu kata Joko, suruhan ayah kamu yang latah itu," jelas lelaki itu.
Jilan mengembuskan napas kasar. "Tapi, aku kangen ngumpul sama mereka. Masak mau di sini terus sama istri kamu yang sok suci itu."
"Ck," Jilan berdecak kesal. Bukan tidak suka pada Ardan, tapi pria itu bukan kriteria Jilan sekali. Dia suka tipe cowok yang seperti Ibra, mau ngumpul, dan tidak mengatur dirinya. Sedangkan Ardan yang notabenenya adalah anak ustadz, sudah jelas bukan bagaimana setiap harinya.
Membayangkan itu saja membuat Jilana bergidik ngeri, apalagi jika sampai menikah dengannya. Sungguh tak habis pikir oleh Jilan.
"Sini, biar nggak lesu. Nanti ganti baju ya, aku sudah beli baju buat kamu." Ibra menarik tubuh Jilan dan ia bawa ke dalam dekapan.
Walaupun ada rasa aneh yang mendera lelaki itu, tapi tak terlalu ia perdulikan. Entahlah, dia merasa kalau ada rasa tak enak di dalam dadanya saat memeluk Jilan dengan pintu yang terbuka. Seolah-olah tengah di perhatikan oleh Chandani dengan netra yang terbuka lebar.
Padahal, yang sebenarnya adalah ... wanita cantik itu tengah duduk membaca ayat-ayat Alquran demi untuk menenangkan hatinya dari rasa risau dan marah. Lagipula, siapa yang tak akan marah jika sang suami justru malah mengusir seorang istri dan menenangkan sang kekasih.
Jadi, demi menghilangkan rasa yang nantinya bisa membuat dia lupa diri, dia memilih untuk mengaji.
Bahkan wanita itu lanjut sampai malam, hanya berhenti saat waktu shalat tiba. Dia tak lagi merasakan lapar atau sekedar haus. Bahkan rasanya dia enggan sekali untuk turun ke lantai bawah. Malas sekali rasanya menyaksikan sang suami bersama dengan wanita lain tepat di depan matanya.
Ya, dia memang belum terlalu mencintai suaminya, mungkin. Tapi, ayolah ... dia bukan wanita yang sudah jatuh cinta, jadi dia hanya ingin cinta dari suaminya dan mencintai lelaki yang halal baginya untuk di cinta.
Sayangnya, lelaki yang dipilihkan sang ibu panti salah. Dia bahkan bukan hanya tak di cintai, tapi tak diinginkan.
Rasanya sesak di dadanya mulai berkurang, bahkan sampai rasa kantuk di matanya mulai datang. Akhirnya, wanita cantik itu tidur di atas sajadah dengan menyandarkan punggungnya di kaki ranjang. Tentunya seusai menaruh Al-Quran di tempatnya.
...----------------...
"Maaf Den, Non Chandani belum makan, ya?" tanya bibi Titi pada Ibra yang saat ini tengah duduk di sofa ruang keluarga. Tentu saja dengan Jilana di sebelahnya.
Awalnya Ibra tak perduli, ia hanya menjawab. "Dia tidak lapar katanya, Bi."
Namun ternyata, hatinya berkata lain, yang mana membuat dirinya beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jilana di tempatnya. "Kamu mau ke mana?" tanya Jilana saat Ibra berdiri.
"Sebentar." jawab Ibra dengan melangkahkan kakinya menuju anak tangga, lalu ke lantai dua. Jilana yang tengah asyik menonton televisi hanya bisa mengembuskan napas kasar dan membiarkan.
Lalu, begitu Ibra tiba di depan pintu kamarnya dan kamar sang istri, ia membukanya dengan pelan. Tak terlihatlah kalau di dalam ada manusia. Tapi, lelaki itu sudah tahu keberadaannya, dan benar saja. Istrinya tengah tertidur dengan posisi yang tidak bagus.
Ibra mengembuskan napas kasarnya. "Kebiasaan kamu gini amat, Chand," gumamnya. Lantas lelaki itupun jongkok di depan sang istri. Di tatapnya dengan lembut wanita yang kini tengah memejamkan mata, wajahnya putih, bersih, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya mungil nan merah. Terlihat sangat cantik. Tapi sayang ... hatinya tertuju pada Jilana bukan Chandani.