Chandani

Chandani
Bab 27 : Nafkah Batin



Bibirnya tersenyum, memandangi pantulan tubuhnya didalam cermin. Ia sangat menyukai pakaian yang baru saja diberikan oleh sang istri tercinta. Ya, Ibra sudah mengakui bukan, kalau dia mencintai istrinya itu.


"Gimana, suka?" tanya Chandani pada suaminya.


"Jelas suka, ini sih. Bagus banget, bisa ngepas gini sama yang aku inginkan. Lain kali nggak perlu beli baju, suruh istri sendiri aja bikinin," jawab Ibra seraya memutar tubuh memperhatikan setiap detil baju yang tengah ia kenakan.


Chandani yang saat ini duduk di ujung ranjang tersenyum senang. "Jadi, apa bisa aku pinta hadiahku sekarang?" tanyanya.


Ibra membalik badannya, lalu mendekat dam duduk disebelah sang istri. "Tentu saja, apa yang kamu mau?" tanya balik dirinya.


"Kamu," ucap Chandani.


"Aku?" Ibra menunjuk dirinya sendiri. "Maksudnya?"


"Aku mau Mas Ibra kasih nafkah batin buat aku," ucap Chandani serius. Menatap netra Ibra yang saat ini terbengong-bengong melihatnya.


"Kenapa?" tanya Chandani lagi, dia heran saat melihat ekspresi lelaki itu. "Mas Ibra belum bisa kah?"


"Apa kamu serius?" tanya Ibra. "Kamu siap?"


Chandani mengangguk mantap, "aku siap lahir batin."


Netra Ibra memancarkan kebahagiaan. Bagaimana tidak, ibarat kucing diberi ikan asin, apa iya, dia tidak akan memakannya?


"Ayo kalau gitu, aku juga sudah siap lahir batin." Ibra berdiri dan melepas pakaian yang baru saja ia kagumi itu.


"Apa lagi?" tanya Ibra sudah tak sabar. Ayolah, dia pria dewasa, jelas sudah sangat menginginkan ke arah sana bukan.


"Kita wudhu dulu, terus shalat. Setelahnya, baru boleh," kata sang istri memberitahu.


"Iya tahu, makanya aku mau buka baju. Aku nggak mau baju ini lecek terus nggak bisa aku pakai besok pagi," kata Ibra.


Chandani tersenyum senang, ternyata usahanya tidak sia-sia, sang suami tercinta menyukai pakaian buatannya.


Lantas, sesuai dengan apa yang dikatakan Chandani. Keduanya pun lantas wudhu dan shalat. Lalu Ibra dituntun membaca doa sebelum melakukan hubungan suami-istri. Tentu saja Ibra menurut, karena sebenarnya dia memang belum tahu.


Pertama yang dilakukan lelaki itu adalah mencium pipi Chandani. Jujur saja, kendati ini adalah permintaan Chandani, namun, wanita itu merasa deg-degan dan malu. Apalagi saat jilbab sudah tak lagi menutupi kepalanya. Dilanjut dengan dua benda kenyal yang saling bertemu.


Jangan tanya perasaan Ibra, karena dia pun sama. Maklum saja, ini adalah kali pertama bagi keduanya. Hingga akhirnya dua manusia itu masuk ke dalam selimut tebal nan lebar. Lalu, memulai menaiki bukit kembar dan menuruni lembah indah yang belum pernah terjamah.


Suara nyanyian burung mulai terdengar, begitu indah di dalam indra pendengaran. Membuat si pendaki bukit merasa semakin senang dan semangat. Terlebih saat mulai menjamah lembah, kicauan burung semakin kencang dan semakin membuat pendaki itu lebih bersemangat lagi.


Ah, rasanya mereka berdua tengah menikmati keindahan alam yang baru mereka berdua saja yang mengetahuinya. Indahnya rasa membawa mereka terbang ke angkasa, menembus awan-awan lembut yang menenangkan. Hingga akhirnya puncak nirwana pun terlampaui, dan keduanya kembali ke dasar bumi. Meninggalkan sejenak pendakian gunung dan lembah yang kini tengah lelah.


Kecupan hangat diterima dengan bahagia oleh Chandani saat benda kenyal itu tiba-tiba mendarat di keningnya. Tak lupa ucapan, "terimakasih istriku, i love you," pun diucapkan oleh Ibra selepas pendakian.


"Sama-sama, Mas. Terimakasih juga, sudah mau mencintaiku," jawab Chandani dengan suara yang lemah lantaran lelah.