
Lelaki itu kelimpungan, padahal sudah susah payah ia menjelaskan pada ibu Seruni bagaimana kejadian sesungguhnya. Dan ibu Seruni pun sudah meminta maaf, karena salah paham dan tidak mau mendengar penjelasannya. Tapi semua sudah terlanjur, walaupun nomor yang pernah digunakan Adelia untuk menghubungi ibu Seruni sudah di hubungi kembali, pada kenyataannya, saat ini tidak lagi bisa.
Lalu, ke mana harusnya Ibra mencari Chandani. Jika nomor ibunya saja kini sudah tidak bisa dihubungi. Pun, dengan nomor Chandani. Dia pergi bagaikan di telan bumi, menghilang tanpa jejak. Membuat suaminya kelimpungan bahkan sampai lupa apa itu makan.
Karena saat ini, sudah seminggu berlalu setelah kepergian Chandani karena salah paham. Dan pria itu saat ini tengah terbaring di rumah sakit. Padahal empat hari lalu, mama Lili baru saja pulang dari sana. Namun, saat ini justru malah digantikan oleh anaknya.
Sedih, pasti. Itu yang dirasakan oleh orangtua Ibra. Semua upaya sudah di lakukan, tapi pada kenyataannya. Entahlah.
"Makan buburnya, Ib. Mama nggak mau kamu semakin sakit," bujuk mama Lili pada putranya itu.
"Nanti, Ma. Ibra lagi menghubungi seseorang yang sedang aku perintahkan untuk mencari Chandani." kata pria yang selalu sibuk dengan ponselnya.
Mama Lili mengembuskan napas kasar nya. Merasa kasihan sekali dengan putranya. Ia juga tidak menyangka kalau, anaknya sudah sangat mencintai menantunya itu. Sampai lupa merawat diri, demi untuk mendapat kabar di mana Chandani.
...----------------...
Sementara itu, ditempat lain. Tepatnya di sebuah rumah mewah. Seorang perempuan tengah memandangi arah luar jendela kamarnya.
Seminggu ini, wanita itu masih meratapi kesedihannya. Kendati ia sedikit merasa bahagia karena sudah bisa hidup bersama sang ibunda tercinta yang baru saja kembali kepadanya. Namun, tak bisa dipungkiri jika saat ini, ia tetap saja merindukan pria yang sudah mampu membawanya bahagia dan sakit secara bersamaan.
Ia sengaja menyuruh ibu cantiknya, yang hanya berselisih usia dengannya 17 tahun itu, untuk mengganti nomor ponselnya. Pun dengan dirinya. Ia bahkan mematikan ponselnya sejak saat itu. Dan tidak lagi membuka atau sekedar melihat benda pipih yang sengaja ia sembunyikan di tempat yang tidak mudah ia ingat.
"Hai, makan yuk."
Sebuah suara mengagetkan dirinya. Lantas ia segera memasang senyum di bibir. Memutar tubuh dan langsung mendapati sang ibu yang mendekat ke arahnya.
Adelina terkejut, "oh. Sorry, ibu tidak tahu. Tapi, kamu sahur 'kan?" tanyanya.
Chandani mengangguk.
"Baiklah, apa yang bisa ibu lakukan, agar kamu tidak sedih? Haruskah, ibu menyuruh suamimu untuk kembali bersamamu dan melupakan kekasihnya itu. Sungguh, ibu tidak suka melihatmu seperti ini." Adelina menangkup kedua sisi wajah putrinya, yang tingginya lebih dari dirinya.
Chandani tersenyum, "tidak perlu. Aku yakin, lambat laun, aku bisa melupakan pria itu. Aku sudah keras kepala untuk membuktikan kalau aku bisa membuatnya jatuh cinta pada yang halal. Dan untuk saat ini, aku tidak ingin memaksa seseorang untuk tetap berada di sisiku. Jika tidak ingin, maka aku akan ikhlas."
"Seperti saat aku ikhlas, berada di panti. Dan saat aku tak lagi mengingat dirimu, tiba-tiba saja, ibu hadir sebagai pelipur lara. Makasih, bu. Aku sudah tahu segalanya, dan bagaimanapun keadaanku, juga keadaanmu. Aku bahagia dan aku bangga menjadi putrimu," sambung Chandani.
Adelina terharu, lantas dipeluknya tubuh kurus anaknya yang seperti adiknya itu.
Ya, selama seminggu ini juga. Kedekatan keduanya semakin erat. Karena ikatan antara anak dan ibu, tidak bisa dibohongi.
Lagipula, selama berhari-hari mereka bersama, dan Adelina sudah menceritakan segalanya. Bagaimana saat dulu dia hamil, yang tidak direstui orang tuanya. Yang berujung kecelakaan yang bisa di bilang di buat oleh orangtuanya, kepada calon suaminya, serta orangtua dan keluarga dari kekasihnya.
Padahal, kekasihnya mau tanggungjawab. Namun, karena kasta mereka tak sama. Jadi orangtua Adelina tidak menyetujuinya. Dan Adelina pun dulu dipaksa untuk menggugurkan kandungannya, namun ia tak berani.
Untuk itulah, dulu, selama sembilan bulan ia hidup sendirian di rumah calon suaminya. Dengan uang dari tabungannya. Yang akhirnya, persembunyiannya diketahui oleh orangtuanya. Bersamaan dengan kehadiran Chandani yang saat itu baru dilahirkan.
Demi membuat anaknya tetap hidup, Adelina menaruh anaknya itu di panti. Dan dia dengan terpaksa kembali ke rumah orangtuanya. Lalu, setelah di rumah orangtuanya, ternyata dia justru di kirim ke luar negeri, di rumah kakek-neneknya. Yang akhirnya, saat tiga bulan lalu, orangtuanya meninggal karena kecelakaan, yang mana membuatnya mau tidak mau harus kembali ke Indonesia untuk mengurus perusahaan peninggalan orangtuanya. Karena, dia adalah anak satu-satunya.
Disaat itu juga sebenarnya dia sudah mengunjungi panti. Namun, baru saat itulah dia bisa bertemu. Dan sampai sekarang.