
Jalan yang sangat cepat itu membuat jajan yang ada ditangannya jatuh. Jagung serta sosis bakar yang ada di dalam kantong plastik bening pun keluar dari tempatnya. Dan tentu saja, itu semua membuat anak gadisnya menangis, lantaran makanan yang ia ingin makan malah jatuh tak terselamatkan.
"Ibu, jajan aku." begitu teriak anak kecil dalam gendongan sang ibu. Tangan anak kecil itu terulur ke arah belakang, memandangi jajannya yang sudah jatuh di jalan.
Ibunya tak perduli, dia tetap saja berjalan dengan cepat. Sampai akhirnya berhenti saat suara lelaki yang mengejarnya kembali terdengar. "Chandani, aku hanya ingin bicara sebentar!"
Pria itu juga berhenti, dengan menunduk dan memegangi lutut. Rasa dingin yang tadi ia rasakan, kini berubah menjadi rasa gerah lantaran olahraga tiba-tiba.
"Aku hanya ingi menanyakan, apa kabar? Setelah salah paham, kamu lari begitu saja. Meninggalkan pria lemah ini sendirian, dalam keadaan lemah tak berdaya, galau setiap harinya."
Ibra tetap bersuara, kendati kakinya tengah merasa lelah. Namun ia tak perduli. Yang jelas, ia ingin bicara dan meluruskan apa yang dulu menjadi sebab-musabab Chandani pergi begitu saja darinya.
"Sekarang, setelah sekian lama aku mencari, dan ketemu. Ternyata kamu sudah memiliki anak. Apa semudah itu, kamu pergi dan mendapat pengganti diriku? Padahal aku belum sekalipun mengucap kata pemisah, karena aku yakin, berapapun lamannya kita berpisah, ujungnya akan bertemu juga."
"Apa kamu tahu, Chandani. Rasa ini masih sama. Aku tidak pernah berbohong soal rasa yang kusebut cinta. Aku masih mencintaimu dari saat itu, sampai sekarang. Bahkan mungkin sampai nanti, saat tubuh ini tak lagi bernyawa."
Di jalan yang lumayan sepi itu. Chandani berdiri memunggungi Ibra dengan Afsana di gendongannya. Sedangkan Ibra, di belakang dengan memandang punggungnya.
Perlahan, Chandani memutar tubuhnya. Lalu, melihat lelaki itu. "Apa, maksud kamu?" tanyanya pelan.
Percayalah, saat ini Ibra senang sekali. Akhirnya, Chandani mau membalik badannya dan ngobrol dengannya. Semoga saja.
...----------------...
Di sana, di sebuah teras yang lebar. Dua manusia itu duduk. Dengan sama-sama menghadap ke depan dan berjauhan.
Tadi, sesuai memperhatikan dua orang dewasa terus saja berbicara. Afsa memaksa ibunya untuk pulang. Karena anak kecil itu sudah sangat mengantuk. Jadi, mau tidak mau Chandani mengajak Ibra ke rumah ibunya. Untuk membicarakan yang katanya adalah sebuah kesalahpahaman.
"Jadi, selama ini kamu tinggal di sini?" tanya Ibra, setelah hening begitu lama mengambil alih.
"Iya."
"Tadi, anak kamu?" tanya Ibra lagi.
"Hm," jawaban Chandani masih terdengar enggan.
"Mmm, suami kamu nggak marah, kalau aku ngobrol sama kamu?" Ibra menoleh ke arah Chandani. Dan perempuan itu lantas menjawab dengan mengedikan bahu.
"Huh!" Ibra terdengar mengembuskan napas kasar. Saat ini. Afsana, anak Chandani sudah berada dengan neneknya, Adelina. Sedangkan Ibra, ia tengah duduk dengan wanita cantik yang berpakaian panjang-panjang, bahkan serba hitam.
"Aku cuma mau jelaskan ini, kalau dulu ... sebelum kamu pergi, kamu melihat diriku dengan wanita sialan itu saling bercumbu. Kamu salah paham Chandani. Aku sudah serius, pergi ke sana untuk memutuskan hubunganku dengan dia, tapi sayangnya dia menolak dan tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba saja langsung menyambar bibir seksi ku. Ya, kamu tahu lah, pesona ku. Jadi, aku yakin sih siapa saja tidak akan mampu melepas diriku."
"Ya, mungkin hanya kamu saja yang mampu melepaskan lelaki sebaik dan setampan diriku."
"Kamu tahu, aku pikir. Setelah lama tidak bertemu, kita akan kembali seperti dulu. Tapi sayangnya, kehidupan kita ternyata sudah berbeda. Kamu bahkan sudah memiliki anak, haha," Ibra tertawa sumbang.
"Apa semudah itu, kamu melupakan segala yang pernah kita lewati?"
Chandani masih diam.
"Lima tahun. Padahal rasaku masih sama, tapi sayangnya, rasamu sudah berbeda. Padahal dalam hati ini, masih tersimpan indah namamu. Tidak ada yang mampu menggantikan namamu di dalam sini." nyatanya Ibra emosi saat menceritakan apa yang ia rasa.
"Ah, sudahlah. Aku hanya ingin mengatakan kalau dulu kamu salah paham dan terlalu gegabah, memutuskan pergi begitu saja."
"Entah kenapa, walau aku tau kamu sudah memiliki yang baru, tapi aku ingin tetap menjelaskan yang terjadi di masa lalu."
Ibra meneteskan air mata. Lantas, demi menghalau air matanya, lelaki itu lantas berdiri. Menarik napas dalam-dalam dam mengembuskan nya secara kasar.
"Maaf, kalau aku sudah mengganggu waktumu. Aku pamit, assalamu'alaikum." Ibra lantas melangkahkan kakinya. Meninggalkan wanita yang tengah memandangi punggungnya itu.
"Afsana Mayyasa Ibrahim. Itu nama anakku, juga anakmu."
Ibra menghentikan langkahnya dengan dahi yang berkerut. Lalu memutar tubuhnya menghadap kembali ke arah Chandani yang saat ini tengah menatapnya dengan air mata yang membasahi pipi.
"Artinya, cerita bintang yang bersinar," sambung Chandani dengan suara parau.
Ibra tak kuasa menahan haru, mulutnya mengaga, alisnya naik sebelah, lantas menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya kini komat-kamit seperti akan bertanya ataupun mengatakan apapun yang membuatnya bingung.
Chandani mengangguk, "iya. Aku sendiri selama ini. Hanya dengan ibu saja."
Ibra melangkahkan kakinya dengan cepat, lantas di pelukannya tubuh wanita yang ia rindukan itu. "Aku mencintaimu Chandani. Maafkan aku," ucapnya seraya memeluk erat wanita itu.