
Chandani menarik nafasnya dalam-dalam, merentang kan tangannya dan menengadah kan kepalanya ke atas, memejamkan mata dan ... menyebut nama Allah. 'Ya, Allaah maaf kan hamba yang terlalu banyak mengeluh,' ucapnya dalam hati.
Lantas wanita itu membuka mata, menurunkan tangannya dan masuk ke dalam kamar yang seharian ini menjadi tempatnya. Menutup jendela yang menuju balkon dan niat Chandani akan kembali mengaji.
Menggelar sajadah dan duduk di atasnya setelah mengambil Al-Qur'an. Sudahlah, ia harus tenang. Dan ketenangan hatinya hanya ia yang dapat mencari juga mendapatkannya sendiri, tidak bisa ia dapatkan dari orang lain. Terkecuali oleh bantuan Allah SWT.
..._-_-_-_-_-_...
Ibra pulang saat sudah hampir pagi. Hampir pukul tiga, lelaki itu baru memakirkan mobilnya di halaman rumah. Malam ini ia benar-benar lelah, walaupun ia tidak minum-minuman beralkohol namun ia merasa pusing.
Setelah memakirkan mobilnya dengan benar, Ibra keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah yang tidak di kunci, karena bibi Titi tahu kalau bosnya pasti pulang malam. Lagi pula di depan sudah ada penjaga yang siap menjaga keamanan 24 jam, jadi boleh di katakan aman walaupun tidak di kunci.
Berjalan, melangkahkan kakinya memasuki rumah setelah menutup dan mengunci pintu. Dengan langkah pelan ia lantas menaiki tangga, hingga akhirnya sampailah ia di depan kamarnya. Ibra mengerutkan alisnya, sesaat setelah membuka pintu. Karena di jam segini kamarnya masih terang benderang. 'Apakah Chandani belum tidur?' tanyanya dalam hati.
Dengan pelan juga Ibra melangkah kan kaki, mendapati ranjangnya yang kosong melompong. Lantas berjalan beberapa langkah dan ... di sanalah, Chandani. Terduduk di atas sajadah, terlelap dengan posisi yang menyandarkan punggungnya di ujung kaki ranjang. Memeluk erat Al-Qur'an nya.
Apakah Ibra merasa bersalah? Tidak. Dia hanya menarik napas kasar dan meninggalkan sang istri. Ia lantas mengganti pakaian dan tiduran di sofa. Sampai akhirnya terlelap lah ia di sofa.
Di dalam kamar yang besar, ranjang besar itu tak terpakai. Satu tidur di lantai beralaskan permadani dan sajadah, sementara yang satu lagi tidur di sofa. Begitu kah pengantin baru, tidur?
..._-_-_-_-_...
Dari sehabis subuh, Chanda sudah sibuk, dari membantu mbak Titi menyapu lantai bagian atas, mengepel, belum lagi beres-beres dan mengelap segala hiasan yang ada.
Dan kini dirinya tengah membantu mbak Titi mencabuti rumput liar di taman. Jangan tanya baunya, kini bahkan dirinya sudah berkeringat, bahkan keringatnya bercucuran membasahi baju dan jilbabnya.
"Aduh, Non. Ini nanti kalau Ibu tahu, apa saya tidak di marahi Ibu, ya," ujar mbak Titi yang baru balik setelah membuang rumput ke tempat sampah di depan sana.
Chandani menoleh ke arah mbak Titi, lalu ia tersenyum, "tidak akan Mbak. Tenang saja, saya sudah biasa sibuk, jadi, kalau tidak sibuk saya bosan," jawab Chanda yang kini sudah selesai mencabuti rumput dan siap untuk menyiram tanaman.
Mbak Titi mengangguk, "Aden pasti seneng banget ya, Non. Mendapatkan seorang istri yang seperti Non, rajin ngaji, pinter ngurus rumah," kata mbak Titi.
Chandani hanya tersenyum simpul, ia tak bisa menjawab. Karena nyatanya, suaminya tidak merasa beruntung memiliki dirinya, justru Ibra malah sebaliknya padanya.Tidak merasa beruntung.
"Non, Aden Ibra tidak di bangunkan, nanti terlambat loh," kata mbak Titi lagi, mengingatkan. Karena kini matahari sudah terlihat tapi, sang majikan muda nya belum terlihat bangun.
Chandani menaruh kembali selang ke tempatnya, lantas mendekat ke arah mbak Titi. "Apa, biasanya, Mas Ibra pulang sangat larut?" tanyanya penasaran.
Mbak Titi menggeleng, "biasanya sih, tidak larut sekali Non. Paling malam, ya, jam dua belas," begitu jawab bibi Titi.
Chandani mengangguk, "berarti, baru kali ini ya? Mas Ibra kesiangan?" tanya wanita itu lagi.
Mbak Titi kembali mengangguk.
"Sarapan, biar saya saja yang buat Non. Non bantu Aden beres-beres saja, nanti pasti keteteran karena kesiangan," kata mbak Titi.
Chandani kembali mengangguk dan berlalu dari sana. Meninggalkan mbak Titi yang akhirnya ikut masuk untuk membuat sarapan.
..._-_-_-_-_...
Chandani dengan pelan membuka pintu kamar, terlihat di sofa, Ibra, suaminya itu masih terlelap. Tadi pagi, padahal dirinya sudah membangunkannya untuk subuh, namun, lelaki itu bahkan tak bergerak sama sekali. Yang akhirnya membuat ia kesal dan membiarkan begitu saja.
Tapi, kini sudah siang. Mau tak mau, Chandani pun harus membangunkan suaminya.
Di goyangkan dengan pelan lengan Ibra, lantas Chandani berkata lirih di telinga suaminya itu. "Mas, Ibra. Bangun. Sudah siang," ucap nya.
Namun tak ber-efek apa-apa.
Chandani menarik napas dan mengeluarkan nya dengan kesal. "Mas Ibra, sudah jam delapan lebih! Mau bangun tidak!" tanya Chandani setengah kesal.
"Astaghfirullah!" Ibra bangkit sembari mengusap telinganya. Menoleh ke arah Chanda yang jongkok di sebelah sofa. "Ngagetin aja sih!" kesal Ibra. Bagaimana tidak kesal, jika istrinya itu membangunkan dirinya dengan kencang persis ditelinga.
"Sudah siang, Mas mau bangun apa tidak?" tanya Chanda dengan nada datar.
Ibra lantas melihat jam dinding, kelopak matanya melebar dan langsung beranjak dari sofa dengan buru-buru. Bahkan ia sampai lupa tidak membawa handuk.
Chandani menggelengkan kepalanya, lalu wanita itu pun beranjak dari tempatnya. Menyiapkan baju, celana, berikut da la ma n juga kaos kaki untuk Ibra dan handuk yang ia pasang di gagang pintu. Setelah menyiapkan segalanya ia keluar ke arah balkon. Ia ingin menikmati suasana pagi dari sana. Menikmati sinar mentari yang sudah menghangatkan bumi.
Chanda melihat taman yang sudah segar di bawah sana, sudah cantik dan daunnya semua basah. Ah, terlihat begitu menyejukkan mata.
"Ah, ya ampun kenapa bisa kesiangan!" gerutu Ibra di dalam kamar.
Chandani menoleh ke arah dalam, mengembuskan napas dan masuk. "Makanya harus pintar, bagi waktu. Antara kesenangan dan kewajiban," kata Chandani.
Ibra yang sudah memakai bajunya itu hanya menoleh sebentar ke arah Chanda. Tak menjawab apapun. Ia bahkan tengah kesusahan memasang kancing di lengan kemejanya. Padahal, biasanya ia tak pernah kesusahan seperti ini.
Chandani mendekat dan membantu memasang kancing di lengan kemeja Ibra. Lelaki memperhatikan wajah sang istri yang menunduk.
"Maaf, ya, semalam pulang larut," ujar Ibra. Entahlah kenapa, yang jelas ada perasaan yang menyuruhnya untuk meminta maaf pada perempuan cantik di depannya ini. Yang sudah rela menjadi istrinya, rela dia pergi menemui sang kekasih asal dia di perhatikan layaknya istri sungguhan. Jika di pikir-pikir, harusnya Ibra senang bukan, dia menang banyak. Tapi, Ibra justru malah sebaliknya.
Chandani mendongak, "tidak apa, aku 'kan bukan siapa-siapa," kata nya. Wanita itu lantas mendorong Ibra agar duduk di ranjang. Mengambil kaos kaki dan memakai kan nya pada Ibra.
"Dik, tidak usah," ujar Ibra. Namun terlambat kedua kaos kaki sudah rapi menyelimuti kakinya.
"Sudah. Mari kita sarapan," ajak Chandani yang lantas di angguki oleh Ibra.