Chandani

Chandani
Bab 23 : Ke Rumah Mama



Baju untuk sang mama mertua akhirnya selesai dibuat, niatnya sore nanti akan ia bawa ke sana setelah sang suami pulang kerja. Jadi, sekarang dirinya tengah menyiapkan pola untuk membuat baju berikutnya. Yaitu, kemeja untuk lelaki yang beberapa hari ini sudah dekat dan baik padanya.


Hanya membayangkan saja, bibir Chandani bisa tersenyum lebar. Entah bagaimana nanti reaksi Ibra saat sudah selesai baju yang ia buat khusus untuk lelaki itu. Yang jelas, yang ada dipikirannya masih seputar cara untuknya mengatakan sebuah hadiah yang akan ia pinta.


Seharian full dia duduk di sana, didepan mesin jahit. Sesekali istirahat hanya untuk beribadah dan makan, karena nyatanya ia lebih semangat saat membuat baju untuk Ibra.


Entahlah, rasanya dia bisa sebahagia itu. Saking bahagianya ia sampai tak mendengar mobil Ibra sampai didepan rumah, dan bahkan sampai lelaki itu masuk rumah, ia masih sibuk tak mengetahui keberadaannya.


Ibra tersenyum, lelaki yang tengah menenteng kantong berisi makanan itu lantas berdehem, demi untuk menarik perhatian wanitanya. Tapi sayang, pada kenyataannya Chandani tetap sibuk ditempatnya. Mata dan tangannya sibuk mengerjakan pekerjaannya. Sampai suaminya mengembuskan napas kasar dan mendekat, lantas tiba-tiba saja, dia mencium sekilas pipi Chandani.


"Astaghfirullah!" teriak Chandani bersamaan dengan dirinya yang memukul keras seseorang yang tanpa izin menciumnya.


Ibra terdiam ditempatnya, tentu saja sembari memegangi wajahnya yang panas lantaran pukulan dari Chandani yang begitu keras.


"Ya Allaah, Mas Ibra, kenapa ngagetin. Maaf-maaf." kata perempuan itu seraya bangun dari duduknya dam mengusap serta meniup wajah tampan suaminya yang baru saja kena hantam oleh dirinya.


Ibra pura-pura kesal, sampai membuat Chandani tak enak hati. Perempuan itu mengusap dengan lembut dan tak berhenti meniup. Sedangakan suaminya, justru malah menikmati embusan napas yang berasal dari mulut istrinya.


"Masih sakit?" tanya Chandani, dan Ibra mengangguk.


"Maaf sekali lagi, Mas," ucap Chandani lagi seraya meniup terus wajah itu.


"Lagian kenapa harus mengagetkan?" ujar Chandani lagi tak mau salah. Maklum, perempuan.


"Siapa suruh, suami pulang bukan disambut malah dicuekin," ujar Ibra.


Usapan lembut itu berhenti, begitu juga dengan tiupan dari mulutnya. Netra Chanda lantas menatap serius netra sang suami. Lalu ... bibirnya tersenyum dengan manisnya. "Mau disembuhkan?" tanyanya. Ibra langsung mengangguk.


Kini giliran Ibra yang melebarkan kelopak mata dan tersenyum lebar, saat baru saja Chandani membalas ciuman dari nya dengan mencium pipinya. Memang hanya sebentar, tapi rasanya mampu menggetarkan hati lelaki itu.


Membuat perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ah, ya ampun, Ibra tak bisa mengatakan apapun selain, 'aku ingin lebih,' katanya dalam hati sembari menatap bahagia istrinya.


"Sudah sembuh?" tanya Chandani lagi. Ibra menggeleng.


"Ck, jangan minta lebih, belum saatnya," kata Chandani.


"Kapan saatnya?" tanya Ibra dengan antusias.


"Nanti, sebentar lagi," jawab wanita itu serius.


"Ok, dari pada menunggu sesuatu yang entah kapan, bagaimana kalau sekarang kita makan ini," Ibra menunjukan sebuah kantong yang berisi makanan.


"Apa itu?" tanya istrinya.


"Sesuatu, ayo kita makan, bikin bajunya nanti lagi." Ibra lagi-lagi merangkul pundak Chandani saat mengajak wanitanya itu untuk makan.


Ternyata, Ibra membeli bakmie favoritnya. Dia memberitahu Chandani kalau dia juga memiliki makanan kesukaan. Serta dimana tempatnya. Sampai katanya, baru istrinya itulah wanita yang ia beritahukan tentang makanan kesukaannya.


Tentu saja, itu semua membuat Chandani semakin bahagia. Apalagi saat Ibra dengan luwes nya menyuapi sang istri, sembari menceritakan siapa penjual bakmie tersebut sampai ke akar-akarnya. Karena ternyata, tempat itu sudah ada dari lama, dan favorit keluarganya.


Seusai shalat magrib, keduanya siap-siap untuk pergi ke rumah orangtua Ibra. Untuk apalagi, kalau bukan untuk mengantar baju yang sudah siap dibuat oleh Chandani. Dengan menggandeng tangan istrinya, Ibra berjalan dengan santai menuruni tangga.


"Ya Allaah, pasangan manis, pada mau ke mana?" tanya Bibi Titi yang saat ini berdiri disamping tangga.


Chandani tersenyum, "kita mau ke rumah mama, Mbak. Mau titip salam tidak buat--" belum selesai dia menjawab, bibi Titi sudah memangkasnya.


"Tidak perlu, Non. Wong saya baru saja teleponan," kata Bibi Titi.


"Oh gitu, ya sudah. Kita pergi dulu ya, Mbak," pamit Chandani.


"Iya, hati-hati Non, Den."


Ibra mengambilkan baju yang akan diberikan Chandani ke mamanya, yang memang masih ada di dalam paper bag di atas meja jahit. Lantas, Chandani menunggunya dari luar, karena dia memang jalan duluan.


Dengan dress panjang berwarna hitam dan jilbab panjang berwarna coklat susu, serta sneaker hitam putih membuatnya semakin terlihat muda. usianya yang sudah 25 tak terlihat, dia semakin terlihat seperti remaja. Yang mana membuat suaminya yang kini tengah memperhatikan dirinya dari samping tersenyum sendiri.


Entah ke mana dirinya selama ini, sampai baru menyadari keberadaan bidadari secantik Chandani.


"Ayo, kenapa bengong di sana?"


Pertanyaan Chandani sedikit mengangetkan dirinya yang tengah memandangi wanitanya itu. Namun, sedetik kemudian lelaki itu lantas mengangguk dan berjalan ke arah mobil. Jangan lupakan hal manis yang tengah dilakukan pria itu. Dia membukakan pintu untuk istrinya.


Chandani sampai harus tersenyum sembari menunduk, saking senang dan malu rasanya.


Begitu Chandani masuk, Ibra lantas menutup pintu dan memutari bagian depan mobil dan masuk ke sana.


Perjalanan menuju rumah mama Lili sedikit macet, kendati waktu sudah malam namun ternyata di ibukota tidak ada kata istirahatnya. Sampai Ibra harus memelankan laju mobilnya, apalagi di setiap jalan yang menuju tempat makan, pasti harus lambat karena banyak mobil yang masuk dan keluar.


Begitu sampai keduanya disambut hangat. Karena memang Chandani dan Ibra memberi kabar bahwa mereka akan datang.


Seperti saat berangkat, begitu sampai pun Ibra membukakan pintu untuk sang istri. Dan itu semua tak luput dari perhatian mama Lili dan suami.


Kedua paruh baya itu saling pandang dengan senyum yang merekah. Bayang-bayang cucu yang lucu-lucu lantas hadir begitu saja dalam angan dua manusia berusia senja itu.


"Assalamualaikum," ucap keduanya secara bersamaan.


"Wa'alaikumsallam, akhirnya sampai juga kalian," begitu ujar mama Lili saat kedua anak muda itu menyalami tangannya.


"Iya, mama kalian ini sudah di sini dari selesai shalat, sampai papa belum selesai berdoa sudah di tinggal," begitu tutur papa menjelaskan.


"Ini, buat Mama, semoga suka ya." Chandani memberikan paper bag untuk sang mama mertua.


"Terimakasih, pasti bagus," mama menerima bingkisan dari sang menantu.


"Ayo-ayo, kita masuk dulu. Kita coba bajunya di dalam ya," ajak sang papa. Lelaki usia senja itu heran sangat melihat istrinya yang begitu bahagia saat menerima baju dari sang menantu. Karena memang papa tidak mengerti, kalau baju yabg diberikan oleh Chandani adalah karyanya sendiri. Coba saja papa tahu, jelas ia pun pasti akan minta untuk di buatkan juga.


Ke-empat manusia itu lantas masuk dengan mama dan papa terlebih dulu, dibelakangnya di susul Ibra dan istri yang berjalan dengan bergandengan tangan.