Chandani

Chandani
Bab 29 : Pahit



Begitu mobil Ibra tak terlihat, Chandani lantas memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja ia memutar tumitnya, ia mendengar sebuah mobil yang berhenti di depan pagar sana. Wanita cantik itu lantas mengurungkan niatnya untuk masuk dan menunggu siapa kiranya yang datang, selain suami dan mertuanya itu.


"Permisi," begitu kata seseorang yang datang.


Chandani mendekat, dia tersenyum. "Iya, cari siapa ya?" tanyanya sopan.


Wanita cantik dengan memakai dress hitam di bawah lutut itu benar-benar terlihat cantik Rambutnya yang panjang di gerai, sehingga tiap helainya terurai bebas menutupi bahu.


"Saya cari Chandani," kata perempuan cantik itu.


"Saya," ucap Chandani. "Tapi ... Kakak siapa, ya, ada perlu apa," sambungnya bertanya. Maklum saja, dia tak memiliki teman. Jadi dia bingung dengan tamu yang mencarinya, apalagi di rumah suaminya itu.


Mata perempuan cantik itu berkaca-kaca, "kenapa kamu panggil aku, Kak?"


"Lalu, aku harus memanggil apa? Ya Allaah, jangan-jangan lebih tua saya ya," ucap Chandani tak enak. "Ya Allah, sampai lupa, ayo masuk." sambung Chandani tak enak hati, saat membiarkan tamunya tetap berdiri di sana.


"Ibu, panggil aku dengan sebutan ibu."


Senyum Chandani perlahan memudar. Apa yang ia dengar membuatnya bingung. "Maaf, saya tidak mengerti."


"Adelina Baskoro." tangan wanita itu terulur ke arah Chandani. "Wanita jahat, yang sudah membiarkan sinar rembulannya meredup, sampai cahaya lampu bahkan bisa lebih terang darinya."


Chandani menggelengkan kepalanya tak percaya. "Anda jangan mengarang cerita, ibu saya tidak mungkin se muda anda. Saya saja sudah hampir 26 tahun, tidak mungkin 'kan ...," ucapnya menggantung.


"Chandani, maafkan ibu, Nak." wanita cantik yang mengaku ibu dari Chandani lantas menekuk lutut. Namun Chandani segera ikut, ia memegangi kedua pundak wanita cantik itu agar tak berlutut padanya.


"Kenapa?" tanya Chandani. "Kenapa baru sekarang Ibu datang?" sambungnya.


Adelina tak kuasa untuk tidak memeluk putrinya itu, dengan air mata yang begitu deras. Dipeluknya wanita cantik berjilbab itu. Di ciumnya dengan sayang, anak yang sudah ia buang dan biarkan di tangan orang lain selama 25 tahun lamanya.


"Maaf, Nak," ucap Adelina lagi.


Chandani lantas mengurai pelukan itu, jujur saja ada sedikit rasa tak percaya jika pagi ini dia bisa didatangi oleh wanita yang mengaku adalah ibunya itu. Namun, ada rasa bahagia yang hadir begitu saja di dalam dadanya.


"Ayo masuk, jangan di sini. Tidak enak dilihatin orang." ajak Chandani seraya menarik pelan agar ibunya itu tak lagi berlutut di sana.


"Ini rumah suamimu?" tanya Adelina saat berjala ke arah rumah.


Chandani mengangguk. "Iya."


"Ibu duduk di sini, aku ambilkan minum ya." ujar Chandani saat dia dan Adelina sudah sampai di ruang tamu. Namun, tangan ibunya segera menghentikan langkahnya dengan mencekal lengannya.


"Bagaimana bisa, ibu masih sangat muda?" tanya Chandani saat dia begitu heran melihat ibunya yang benar-benar terlihat seperti masih remaja.


"Karena selisih kita tidak banyak." jawab Adelina. "Sudah lama ibu ingin menemui kamu, tapi kata Ibu Seruni, kamu sudah bahagia dan ibu tidak boleh mengganggu kehidupan bahagia kamu," sambung wanita yang saat ini tengah mengusap lembut wajah putrinya.


"Tapi, kemarin ibu Seruni memanggil ibu untuk datang kembali ke panti. Dan wanita yang tinggal di sana mengatakan hal lain, yang mana pastinya kehidupan rumah tangga kamu tidak baik-baik saja," kata Adelina lagi. Yang mana lantas membuat dahi Chandani berkerut.


"Maksudnya?" Chandani tak mengerti.


"Suami kamu tidak mencintai kamu, bukan. Dan dia masih memiliki kekasih?" tanya Adelina.


"Apa ini, setelah sekian lama ibu baru datang menemui diriku, dan saat bertemu ibu malah membicarakan hal ini."


"Ibu sedih jika kamu sedih, Chandani. Jika kamu tidak bahagia dengan suamimu, ayo ... pergi dengan ibu, seenggaknya ibu bisa sedikit saja menebus rasa bersalahku dengan menemanimu di sisa usiaku."


"Apa yang ibu katakan. Iya, sebelumnya Mas Ibra memang tidak mencintaiku, tapi Bu ... sekarang ini dia sudah mencintaiku, bahkan sekarang ini Mas Ibra tengah ke panti untuk menyelesaikan hubungannya dengan kekasihnya itu." jelas Chandani.


"Benarkah?"


Chandani mengangguk. "Jika ibu tidak percaya, ayo kita susul ke sana, sekalian aku kenalkan Mas Ibra denganmu," ucap Chandani.


Tentu saja dia tidak ingin sang ibu salah paham pada suaminya. Jadi, setelahnya kedua wanita yang memang mirip itu lantas memutuskan untuk pergi ke panti.


Dengan mobil mewah Adelina, keduanya pergi. Tentu saja dengan diantar supir. Chandani duduk di sebelah sang ibu dengan wajah bahagia. Biarlah rasa sakit nya dulu ia pendam, karena pada kenyataannya, saat sudah bertemu dengan wanita yang ia sebut ibu, rasa amarahnya pada wanita itu hilang seketika. Menguap begitu saja, tergantikan oleh rasa bahagia yang tidak terkira.


Hingga akhirnya saat mobil sudah sampai, dan Chandani serta Adelina pun turun. Namun keduanya harus terhenti saat tiba-tiba saja adegan yang tidak sepatutnya di lakukan di tempat terbuka itu terlihat.


Hati Chandani yang mulanya berbahagia, kini berubah dalam sekejap saja. Tangannya lantas menghentikan lengan sang ibu yang akan tetap mendekat. Sampai mana keduanya dapat melihat bahwa ibu Seruni datang melerai kegiatan itu.


Hati Chandani benar-benar hancur, ia pikir suaminya benar-benar ingin berubah dan menjalin rumah tangga seutuhnya dengan dirinya. Namun, jika sudah seperti ini, apa dia masih bisa percaya, saat apa yang ia lihat lebih bisa ia percayai.


"Bawa aku pergi dari sini, Bu," ucap Chandani pelan dengan mata yang kini berkaca-kaca.


"Tapi, Nak. Kita bisa mendekat terlebih dulu, kita cari tahu yang sebenarnya."


Chandani menggelengkan kepalanya. "Tolong," ucapnya memohon.


Tentu saja, keinginan sang putri langsung ia turuti. Dengan langkah gontai wanita cantik itu berjalan menuju mobil dan pergi dari sana. Meninggalkan lelaki yang tak melihat keberadaannya.