
Ah, rasanya sangat bahagia. Senyumnya bahkan masih terpancar di bibir mungilnya. Netranya pun masih setia memandangi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depan mata. Rasa malunya bahkan sedikit terabaikan, yang terpenting baginya adalah detik ini ia merasa bahagia.
Tentu saja, rasa bahagia yang ia rasakan tidak lupa untuk diucapkannya bersama dengan rasa syukur. Ya, dia bersyukur sekali. Seandainya boleh meminta lebih, dia juga menyampaikan keinginan-keinginan dalam balutan doa.
Keinginan yang selalu membuatnya ingin menambah lagi dan lagi, ia mohon pada Yang Maha Kuasa. Meminta agar segala yang ia harapkan segera terwujud. Yaitu, sebuah rasa yang membuatnya merasa dianggap ada.
"Kenapa, belum puas melihat yang tampan?" goda Ibra pada Chandani yang saat ini tengah memandanginya lewat pantulan cermin.
"Kalau memandang yang halal, nggak akan ada puasnya, Mas," jawab Chandani.
Ibra tersenyum, lalu mengangguk. Ya, dia setuju dengan pendapat sang istri. Karena memang begitu adanya.
"Ya udahlah, terserah kamu." Ibra membalikkan badannya. "Ayo, sarapan," ajaknya sambil merangkul pundak sang istri yang sudah berdiri.
Hangat rasanya, bahkan Bibi Titi pun turut bahagia melihat keduanya. Berjalan dengan langkah yang sama menuruni tangga, mereka saling pandang dengan senyum yang begitu merekah. Ah, indahnya.
"Kamu masak apa?" tanya Ibra basa-basi saat dirinya baru saja duduk di kursi makan.
"Banyak, ada ayam goreng, kentang kari, sama capcay. Kesukaan Mas Ibra," jawab Chandani sambil mengambilkan nasi serta lauk-pauk untuk suaminya.
"Makasih," Ibra menerima piringnya.
"Sama-sama, jangan lupa berdoa," ingatkan Chandani.
Ibra sedikit tertawa, lalu mengangguk. Keduanya pun lalu berdoa dan memulai sarapan mereka.
Lagi-lagi lelaki itu terpana pada sang istri, masakannya benar-benar bisa membuat perutnya buncit saking enaknya, yang membuatnya ingin terus dan terus menambah. Jika saja tidak diingatkan kembali oleh wanita yang cantik itu, mungkin dia tidak akan berhenti makan.
"Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang, Mas." begitulah yang selalu diingatkan Chandani saat Ibra ingin menambah yang ketiga kalinya.
Kini keduanya tengah berada di teras. Chandani menyalami tangan suaminya itu. "Hati-hati, Mas. Jangan lupa shalat di manapun kamu berada," begitu selalu yang diucapkan wanita cantik yang pagi ini mengenakan baju biru muda dan jilbab warna hitam.
Ibra mengusap puncak kepala istrinya dan tak lupa mencium keningnya. "Iya, kirim pesan saja untuk memastikan," ujarnya.
"Siap," Chandani tersenyum lebar.
"Oh ya, nanti kalau sudah selesai membuat baju, kamu akan aku ajak ke kafe dan kenalkan dengan semua orang yang bekerja dengan aku."
"Beneran? Nyesel nggak nanti?" tanya Chandani serius.
"Tidak akan," jawab Ibra mantap.
"Alhamdulillah," Chandani mengusapkan telapak tangannya ke wajah, membuat Ibra tersenyum senang.
"Aku berangkat, eh salah, Mas berangkat, Dik Chanda... assalamu'alaikum," pamitnya dengan manis.
"Hati-hati, Mas Ibra. Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh."
Tangannya masih melambai ke arah mobil, sampai kendaraan yang membawa suaminya semakin jauh dan tak terlihat.
Rasanya dia semakin senang, saat Ibra semakin dekat dengannya. Ia bahkan ingin segera menyelesaikan baju untuk Mama Lili, agar segera bisa membuat baju untuk suaminya. Ia ingin meminta hadiah yang akan diberikan oleh lelaki itu, sesuai keinginannya.
Bibir wanita cantik itu tersenyum saat mengingat apa yang akan ia minta. Lantas, daripada membuang waktu dengan berdiam diri di sana, ia lalu memutar tubuh dan melangkahkan kakinya menuju tempat jahitnya. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai.
Kuah bakso masih mengepulkan asap, bau wanginya menusuk-nusuk indra penciuman. Rasanya seperti langsung membuat lambung kosong dan meminta agar segera diisi. Tapi, pada kenyataannya, wanita itu malah diam di tempat duduknya, tak kunjung memakan bakso tersebut.
"Kenapa, tidak dimakan?" tanya Ibra. Ya, sore ini ia sengaja pulang awal dan membelikan bakso kesukaan istrinya. Demi apa, kalau bukan agar wanita cantik yang tengah membuatnya dilema itu bahagia.
Ya, Ibra tengah merasa dilema. Karena dia semakin ingin bersama dengan Chandani, namun dia bingung, bagaimana dengan Jilana? Begitulah yang membuatnya belum bisa tegas dalam sebuah rasa.
"Kamu, mampir..." ucapan Chandani menggantung.
Ya ampun, sekarang Ibra mengerti kenapa istrinya itu diam. Ternyata dia cemburu, takut kalau dirinya menemui Jilana. Lelaki itu lantas tertawa. "Enggak, aku hanya beli bakso saja, aku tidak ke panti," katanya jujur.
"Mmmm, aku belum akan menemui Jilan. Aku akan membiarkan dia di sana terlebih dulu," sambung Ibra. Entahlah, rasanya masih sulit untuk mengatakan pada Chandani bahwa dia sudah mulai suka padanya, dan sulit untuk mengatakan pada Jilana bahwa dia ingin mengakhiri cinta mereka. Karena, itu jelas akan menyakiti Jilana, sedangkan saat ini, wanita itu tengah merasa kesepian.
Chandani tersenyum, entahlah ia langsung percaya begitu saja pada pria yang menjadi suaminya itu. Hanya dengan melihat raut wajahnya serta netranya saja, Chandani bisa tahu kalau sang suami tengah jujur.
Jadi, dia lantas memakan bakso favoritnya itu. Tentu saja seperti biasa, tanpa saus, tanpa kecap apalagi sambal.
Sama seperti saat itu, Chandani kembali menyuapi Ibra dengan sendok yang sudah dipakainya. Alih-alih tidak sukai, justru Ibra malah sangat menerima. Bahkan dia menyodorkan mangkuk bakso miliknya agar disuapi oleh wanita cantik itu.
"Enak aja, kalau disuapi tuh," ujar Ibra saat Chandani mengomelinya seperti anak kecil.
"Manja-manja sama yang halal boleh, 'kan," sambung Ibra yang lantas membuat Chandani diam dan menurut.
Lagipula, dia suka dengan Ibra yang saat ini. Manja dan menempel padanya. Rasanya dia seperti tengah hidup dalam angan-angan. Karena semua ini adalah seperti bayangannya dulu.
Setelah makan bersama, mereka berdua duduk di teras, menikmati angin sore yang sepoi-sepoi. Mereka menemani diri dengan teh hangat dan bolu keju buatan Chandani yang cantik. Tadi siang, ketika tangan, kaki, dan punggungnya lelah karena bekerja di depan mesin jahit selama berjam-jam, dia sempat membuat kue.
"Selain memasak, kamu juga bisa bikin kue," kata Ibra.
"Selama masih bisa terlihat, Insyaa Allah aku bisa," jawab Chandani.
"Bikin baju juga, dan semua itu tidak dengan belajar," tambah Ibra. Entah dia sedang bergumam atau memuji, tapi yang pasti ucapan tersebut membuat Chandani tersenyum ke arahnya.
"Semua itu butuh waktu dan meskipun tidak belajar secara khusus, aku selalu mempraktekkannya," jelas Chandani.
"Wah, praktek abal-abal yang menjanjikan," goda Ibra.
Chandani tertawa dan berkata, "Iya, untung yang jadi bahan praktek bukan manusia."
"Kalau ingin, aku bisa jadi bahan prakteknya," kata Ibra serius sambil menatap istri yang ada di sisinya. Chandani bingung dan balik menatap. Ibra kemudian melanjutkan, "Praktek menumbuhkan manusia, di dalam perut."
Mendengar itu, wajah cantik Chandani langsung merah membara. Senyum malu-malu pun terukir di wajahnya. Namun, Ibra justru senang menggoda Chandani seperti itu karena menurutnya, saat sedang digoda, dia terlihat lebih cantik.
"Nanti saja, kalau sudah waktunya," jawab Chandani masih tersenyum.
Ibra melebarkan matanya mendengar ucapan sang istri. "Aku akan menunggu waktu itu," katanya.
Senyum Chandani semakin lebar. "Di tunggu saja."
...------bersambung------...