Chandani

Chandani
Bab 28 : Memutuskan



Keduanya masih saling pandang dengan senyum aneh. Bagaimana tidak aneh, jika Ibra saat ini tengah menggoda sang istri dengan sebuah lengkungan dibibir yang membuat Chandani malu-malu sekaligus gemas.


Pagi ini, sepasang suami istri itu tengah duduk di kamar. Ibra baru saja selesai berganti pakaian, dan Chandani tengah duduk menunggunya di sofa. Lantas, seusai memakai pakaiannya, lelaki itu malah duduk disebelah sang istri dengan kedipan mata yang tidak ada hentinya.


"Jadi, Mas Ibra mau putuskan hubungan dengan Jilan, kapan?" tanya Chandani demi menghilangkan kekesalan yang ia rasa, saat dipandang terus-menerus oleh sang suami.


"Hari ini juga," jawab Ibra. "Mas nggak mau nunda hal baik," sambung pria itu.


"Mas nggak ke cafe?" tanya Chandani dengan dahi berkerut.


"Ke panti 'kan nggak akan lama, setelah semua beres, aku langsung ke cafe. Atau kamu mau ikut?" jawab Ibra seraya kembali bertanya. Mungkin saja istrinya mau menjadi saksi putusnya hubungan dia dengan wanita itu.


Chandani menggelengkan kepalanya, "enggak deh, aku tunggu di rumah saja ya," katanya.


Ibra mengangguk, "siap. Tunggu aku di rumah ya, aku bawakan makanan spesial untuk kamu," katanya lagi.


"Iya-iya. Yuk sarapan dulu, jangan sampai keburu lapar." ajak wanita itu seraya beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada sang suami.


Tentu saja uluran tangan itu di sambut antusias oleh sang suami tercinta. Lantas keduanya turun untuk sarapan. Setelahnya Ibra benar-benar pamit pergi, tentu saja dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Ya, Ibra memang sangat bersemangat untuk menyelesaikan hubungannya dengan Jilan. Demi bahagia antara dirinya dan istri yang kini sangat di cintai.


Dengan mobil kesayangannya, Ibra meninggalkan rumahnya menuju panti. Tak tahu bagaimana nanti, yang jelas ia ingin segera mengakhiri segalanya. Begitu sampai, dia langsung turun dari dalam mobilnya. Hal yang pertama ia lihat adalah wanita yang akan ia temui. Ya, Jilana terlihat terburu-buru menuju ke arahnya dengan senyum yang lebar.


Ada sedikit rasa tak enak di dalam hatinya, apalagi saat melihat wajah Jilana yang sepertinya sangat-sangat mengharapkan kedatangannya.


"Hai, akhirnya kamu datang juga," begitu kata Jilana yang terlihat kurus. Wanita itu bahkan menarik tangan Ibra dan mengajaknya duduk di depan panti.


"Aku kangen banget tahu, Ib," kata Jilana lagi.


"Mmm, ibu Runi, mana?" tanya Ibra sembari memanjangkan leher mencari wanita paruh baya itu.


"Ck, ngapain sih cari-cari dia. Ngeselin banget. Kamu ke sini mau bawa aku pergi 'kan?" tanya Jilana penuh harap.


Ibra menatap Jilana dengan wajah meringis tak enak. "Maaf Jilan, kedatangan aku ke sini, untuk ...," ucapnya terhenti. Sungguh, rasanya dia tidak tega. Tapi, dia lebih tidak tega lagi pada istrinya yang tengah menunggu kepastian darinya. Jadi, lelaki itu lalu mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang ke sana.


"Untuk apa, untuk bawa aku pergi 'kan?" tanya wanita itu lagi.


Ibra menggeleng, "sorry, kalau ini sangat menyakitkan. Tapi, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan hubunganku dengan Chandani sebagai suami-istri sesungguhnya. Dan kedatangan aku ke sini untuk mengakhiri hubungan aku sama kamu," ucap lelaki itu akhirnya.


Diam. Jilana tidak mengatakan apapun, wajahnya terlihat kesal. "Lalu, untuk apa aku pergi dari perjodohan ku Ibra?" tanyanya pelan meredam amarah.


"Aku nggak nyuruh kamu untuk kabur, Jilan. Aku hanya menolong kamu, karena saat itu aku juga tak rela jika kamu dengan pria lain."


"Terus, saat ini kamu sudah rela, kalau aku sama lelaki lain?" tanya wanita itu dengan wajah yang terlihat membenci lelaki yang kini duduk dengan kemeja lengan pendek di depannya.


Ibra diam, tak menjawab. Jilana tertawa sumbang, "haha, kamu pembohong tahu nggak Ib."


"Sorry, Ji."


"Its ok, nggak papa. Aku ngerti kalau kamu memang sudah nggak cinta sama aku lagi," ujar Jilana. Lalu wanita itu mengembuskan napas kasar. "Aku mau minta kamu atar aku pergi dari sini, sebelum aku ditemukan oleh bonyok gue." wanita itu langsung mengganti panggilan aku-kamu ke Ibra.


"Apa, nggak sebaiknya kamu pulang saja, Ji?" tanya Ibra.


"Ogah." kekesalan masih begitu terlihat di wajah Jilana.


"Ke rumah temen, agak jauh tapi. Sama ... gue mau perpisahan sama lo. Satu hal yang nggak pernah lo lakukan ke gue." kata wanita itu lagi.


"Apa?" tanya Ibra. "Jangan aneh-aneh ya, Ji. Aku nggak mau ada yang salah paham."


"Nggak aneh kok, aku cuma mau ciuman dari lo. Untuk tanda perpisahan."


Ucapan Jilan membuat Ibra menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ji. Maaf, kalau itu aku nggak bisa kasih."


"Ayolah, sebelum kita pisah dan nggak akan ketemu lagi. Sebentar doang." Jilana beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Ibra. Yang mana lantas membuat lelaki itu berdiri dengan terkejut.


"Jangan aneh-aneh, Jilan!" sentak Ibra.


Namun, Jilana tak peduli tangannya segera merangkul leher Ibra dan segera menyatukan wajahnya dengan wajah lelaki itu. Sekuat tenaga Ibra menoleh namun entah kenapa kekuatan Jilana terasa sangat kuat. Bahkan tangan yang ada di belakang lehernya susah sekali untuk dilepas.


"Astaghfirullahaladzim!" teriak Ibu Seruni yang entah datang dari mana. Wanita paruh baya itu menjatuhkan semua barang belanjaannya dan mendekat ke arah dua manusia itu.


"Ya Allaah, saya tidak menyangka. Ternyata apa yang dikatakan Nak Jilan benar, kalau kalian ini pacaran?" ujar Ibu Seruni yang saat ini sudah mendekat ke arah dua manusia yang saat ini sudah terlepas dari penyatuan wajah. Dia memandang kesal dua manusia itu satu persatu.


"Kamu Nak Ibra, apa-apaan ini?" Ibu Seruni tak habis pikir.


Sedangkan Jilana terlihat tersenyum puas. Karena ini memang rencananya. Tadi, saat ia ingin marah, namun keburu ia melihat ibu Seruni tengah berjalan ke arah panti. Jadi, dia sengaja memaksa Ibra agar wanita itu percaya dengan apa yang dikatakannya kemarin. Bahwa dia dan Ibra berstatus kekasih.


"Saya, bisa jelaskan bu," Ibra mencoba memberi penjelasan. Namun, Ibu Seruni menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, Nak Ibra. Sekarang silakan bawa wanita ini pergi dari sini. Saya tidak sudi menampung wanita perebut suami orang, dan suami yang tida tahu diri." kata Ibu Seruni.


"Semoga Nak Adelina sudah menemui Chandani dan membawanya pergi, tidak sudi rasanya kami memiliki menantu seperti dirimu."


"Bu, tolong dengarkan saya dulu. Saya ke sini memang untuk memutuskan hubungan saya dengan Jilan. Dan saya sudah bersatu dengan Chandani. Kami sudah menjadi suami-istri yang sebenarnya, tolong mengertilah Bu," Ibra masih membujuk Ibu Seruni agar mengerti apa yang ia sampaikan.


"Kalau ibu tidak percaya, ibu boleh tanya Chandani sekarang juga," sambung Ibra.


Ibu Seruni menggelengkan kepalanya, lantas pergi ke dalam panti setelah mendorong tubuh Ibra dan Jilan agar tak menghalangi jalannya. Tak perduli dirinya pada belanjaan yang kini berhamburan dan terabaikan.


"Jilan, apa maksudnya?" Ibra bertanya pada Jilana. "Kamu memberitahu Ibu Seruni?"


Jilana mengedikan bahu. "Iya, gue juga sudah ngasih tahu ke emaknya istri lo, haha ... ternyata dia anak haram, sok-sokan alim, nyatanya ana--"


"Cukup Jilan! Aku nggak pernah nyangka kamu seperti ini." Kini Ibra justru turut emosi. Selama beberapa tahun kenal perempuan itu, baru kali ini dia mengetahui sifat buruknya.


"Tunggu, kamu bilang emaknya istri ... maksudnya?" tanya Ibra lagi dengan bingung.


Dia sungguh kesal, apa maksudnya ini. Ia pikir hubungannya dengan Jilan akan selesai dan hubungannya dengan Chandani akan dimulai. Tapi ... kenapa jadi seperti ini. 'Sial' batin Ibra.


"Gue cabut." Jilana pergi meninggalkan Ibra dalam kebingungan. Yang mana membuatnya kesal sampai-sampai mengembuskan napas sangat kasar.


Lantas, pria itupun memutuskan untuk pulang. Tidak ada kata pergi kerja. Justru saat ini ia ingin segera bertemu dengan istrinya, biarkan Chandani yang akan menjelaskan segalanya pada ibu Seruni. Begitu yang ada didalam pikiran Ibra.


Tapi sayang, begitu sampai rumah ia mendapati sebuah kenyataan baru lagi. Yang mana kenyataan itu membuat lelaki itu jatuh terduduk di lantai, merosot bagai raga tak bernyawa setelah Bibi Titi mengatakan sesuatu.