Chandani

Chandani
Bab 34 : Tamat



"Afsa, lihat sini, Nak," ucap Chandani pada putrinya yang saat ini tengah duduk dengan Adelina, sang nenek cantik.


"Bu, ini Mas Ibra," ucap Chandani lagi pada ibunya. Adelina hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum.


Bocah kecil yang masih merasa kesal lantaran ibunya membuang sia-sia makanannya itu masih duduk dengan wajah yang ia benamkan di dada sang nenek. Tak perduli pada panggilan dari ibunya.


Adelina mengusap kepala Afsa yang kini sudah tak lagi mengenakan jilbab. "Sayang, ayo lihat dulu itu ada siapa," katanya membujuk.


Ibra masih tidak bisa menahan harunya. Rasanya ia ingin segera memeluk anak gadis yang ternyata anaknya itu.


Saat ini, mereka semua tengah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Kendati di rumah mewah itu apa saja ada. Tapi, Afsana memang paling suka di ajak jalan-jalan dan Jajan di sepanjang jalan dekat hotel. Katanya, dia suka sekali setiap melihat banyak makanan yang tidak boleh dia beli. Karena tidak boleh asal jajan. Padahal, anak 'kan paling cinta pada jajan.


"Afsa ingin jajan lagi, Nek," kata bocah itu.


"Afsa, mau ketemu Ayah tidak?" tanya Chandani, yang akhirnya membuat Afsa menoleh ke arah ibunya. "Apa ibu kali ini tidak, bohong?" tanyanya. Chandani menggelengkan kepalanya.


Lantas, Afsa melihat ke arah Ibra yang duduk tak terlalu dekat dengan ibunya. Anak itu menatap heran pada lelaki itu. "Paman, siapa? Kenapa paman ikut ke rumah Afsa?" tanyanya.


Ibra tersenyum. "Karena," jawabnya terhenti saat tangan Chandani mencegahnya.


"Ibu, jangan pegang. Tidak boleh," Afsa lantas turun dan melepaskan tangan ibunya dari lengan Ibra. "Jangan ibu!"


Ibra dan Chandani tersenyum. "Coba, Afsa lihat lagi Paman ini," tunjuk Chandani pada putrinya. "Dia ini, ayah Afsa. Afsa boleh panggil dengan sebutan ayah."


Bocah itu menjadi bingung. Sedangkan Ibra, dia mengangguk antusias. "Afsana Mayyasa Ibrahim. Ini Ibrahim, Nak. Ayahmu," katanya menjelaskan.


Chandani menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sayang. Kali ini ibu sangat jujur. Inilah ayah Afsa."


Netra bocah kecil itu langsung berbinar-binar, lantas, tanpa ba-bi-bu lagi, diapun memeluk pria yang duduk di sofa itu. "Ayah," begitu ucapnya.


"Kenapa Ayah baru datang menemui ku, apa Ayah tidak sayang padaku?"


Chandani dan Adelina tersenyum haru melihat bocah kecil bertanya. Apalagi saat melihat Ibra yang tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan anaknya. Ia hanya bisa mencium kepala anaknya itu dan memeluk erat. Menyakitkan rasa sayang, apalagi ia tak pernah memikirkan kalau sekali saja ia tancap gas pada istrinya, dan ternyata langsung jadi.


Terlebih lagi, dia tidak menemani saat kehamilan Chandani. Ah, ya ampun. Ibra merasa sangat bersalah sekali.


...----------------...


Kebahagiaan itu akhirnya tercipta. Manakala, Ibra selesai dari tugasnya di sana. Terlebih ibu Lili dan suami. Ia begitu sangat bahagia, setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka bisa bertemu kembali dengan menantu kesayangan mereka. Terlebih dengan dibawakan serta cucu yang imut-imut.


Sengaja, Ibra meminta ibu panti untuk datang. Dan saat itu, kejutan bukan hanya untuk kedua orangtuanya saja. Tapi untuk ibu Seruni juga.


Kini, kebahagiaan sudah hadir. Cerita Chandani telah usai. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Di akui keberadaan nya oleh sang ibu, dan sang suami.


Jangan tanya bagaimana Jilana. Karena setelah saat itu. Dia pasrah dan menikah dengan Ardan, sang anak ustad. Jangan heran dengan penampilannya sekarang yang memakai cadar serta sudah memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil.


Semua sudah bahagia.


...-Tamat-...