Chandani

Chandani
Bab 32 : Tunggu!



...Lima Tahun Kemudian....


Waktu berlalu, kabar Chandani tak bisa ia temukan. Bahkan orang yang ia perintahkan untuk mencari sampai menyerah. Entah ke mana perginya wanita itu, mengumpat di mana sampai bertahun-tahun lamanya tidak bisa ditemukan.


Chandani meninggalkan lelaki itu dalam kesendirian, kesepian, serta kegalauan di setiap saat. Namun, kendati hari-harinya selalu kelabu. Tapi tak lantas membuat Ibra jadi terpuruk. Justru dengan kesendiriannya, dia mulai merambah ke bisnis terbaru, yaitu bisnis fashion, dengan label nama 'Chandani Fashion.'


Yang mana ia bekerja sama dengan designer ternama di ibukota. Dan menjadi brand yang sekarang tengah di gandrungi para perempuan dari yang muda sampai yang tua. Karena koleksinya adalah pakaian tertutup yang sangat nyaman di kenakan, dan ramah di kantong. Jadi, pemburunya bukan hanya para orang kaya, orang kalangan bawah pun bisa membelinya. Jangan lupa, para artis yang mengenakan jilbab pun sudah mulai membeli dan sangat mengagumi.


Bukan tanpa alasan Ibra meluncurkan dengan nama Chandani, itu semua karena rasa rindunya pada perempuan yang mampu membuat dirinya mengerti apa itu rasa cinta yang sesungguhnya, dan apa itu obsesi untuk memiliki.


Saat ini pria itu baru saja keluar dari gedung dua lantai yang menjadi pusat keberadaan baju-baju yang ia jual. Tenang, dia tidak pernah muncul di media. Karena, tetap, yang muncul dan terkenal adalah designer nya. Dia hanya menjadi orang di balik layar saja.


Bibir pria itu tersenyum, pagi ini ia ada jadwal pergi ke sekolah TK yang lumayan jauh. Berada di Bandung sana, dan sedikit pelosok. Untuk membagikan beberapa seragam dan beberapa buku serta alat bermain. Karena di TK sana, permainannya masih sedikit, dan belum banyak anak-anak yang mau sekolah TK karena tempatnya yang tidak menyenangkan.


Dengan supir dan seorang temannya, pria itu pergi. lumayan lama perjalannya, bahkan saking lamanya pria tampan itu sampai tertidur di dalam mobil di perjalanan.


Akhirnya, dia sampai di sebuah hotel. Tempat yang menjadi tempat singgah bagi dirinya dan dua orang lainnya selama di desa itu. Walaupun hanya semalam saja. Tapi, jika tidak mencari tempat untuk menginap, Ibra jelas akan susah untuk istirahat. Jadilah, dia menginap di salah satu hotel bintang empat yang ada di sana.


Malam di sana sangat dingin, bahkan saking dinginnya. Ibra sampai mengenakan jaket tebal. "Seperti di kutub, ya," ujar Ibra pada Jason. Rekannya yang bekerja sama dengan dirinya. Bisnis Cafe.


"Iya, gue jadi keinget istri gue. Harusnya gue bawa dia," kata Jason yang lantas membuat Ibra memutar bola malas. Lelaki itu lantas pergi dari taman yang ada di depan hotel.


Ya, tadi keduanya tengah berdiri menikmati keindahan malam dari taman hotel. Dan saat ini, pria itu tengah berjalan di jalan yang lumayan ramai. Terbukti banyak sekali penjual di pinggir jalan. Dan yang menjadi pilihan lelaki itu adalah penjual sekoteng. Sepertinya cocok jika dingin-dingin seperti ini, memakan sekoteng. Begitu pikir pria itu.


"Tidak Ibu ... aku mau jagung bakal."


"Iya boleh, tapi sebentar. Ibu bayar dulu, sosis bakar yang kamu beli."


"Baiklah, Ibu. Afsa akan menunggu dengan diam di sini." anak kecil yang kira-kira berusia 4 tahun itu mengangguk. Namun pandangannya tetap pada penjual jagung bakar yang ada di sebelah tukang sekoteng.


"Anak pintar, sebentar, ya."


Lagi-lagi suara itu membuat Ibra ingin sekali melihat wajah wanita itu. Ia ingin sekali memastikan. Namun tentu saja dia tidak ingin gegabah. Jadi, ia hanya menunggu di kursinya. Sembari memberitahu pada tukang jagung bakar agar jangan dulu pergi. Karena ada anak kecil yang mau beli.


Dua wanita beda usia itu tak lepas dari pandangan Ibra. Lantas, bisa lelaki itu lihat kalau keduanya tengah menyebrangi jalan. Namun wajah wanita dewasa itu tetap tak terlihat. Karena ternyata, dia mengenakan masker.


"Ibu, aku mau dua." ujar anak kecil itu lagi, saat sudah berada tepat di depan tukang jagung bakar.


"Tidak. Itu kebanyakan, dan bisa mubazir. Satu saja," jawaban ibu dari anak kecil itu membuat anak itu menoleh ke arah lain dengan mata yang berkaca-kaca. Dan bersamaan dengan itu, pandangannya bertemu dengan Ibra.


Lelaki itu seolah bertanya, dengan memajukan dagunya. Dan anak cantik itu menjawab dengan mengedikan bahu. Lalu, Ibra tersenyum dan menaikan alisnya. Tanpa di duga, anak kecil itu justru mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menunjuk ibunya dan memberikan jempol ke bawah.


Ibra tersenyum lebar. Lantas menggelengkan kepalanya serta telunjuk yang di acungkan dan di gerakkan ke kanan dan kiri. Serta dengan mukit yang seolah mengucap. 'No, No.'


"Ayo, sudah ini. Jagungnya." wanita itu menoleh ke arah sang anak. Dan mengetahui kalau anaknya tengah saling memberi kode entah apa dengan pria dewasa yang ... lantas membuatnya diam.


Pandangan keduanya bahkan bertemu. Saat melihat mata itu, entah kenapa Ibra bisa yakin kalau dia adalah wanita yang ... sangat ia rindukan.


"Chandani, tunggu!" Ibra beranjak dari duduknya dan membayar asal tanpa perduli kembalian pada kang sekoteng. Ia segera berjalan dengan cepat mengejar wanita yang kini menggendong anaknya itu.


Berjalan cepat dengan susah payah. Karena tangan satu menggendong anaknya, dan satu lagi menenteng jajan anaknya.