
Entah kenapa, masakan sederhana yang dibuat oleh para pria selalu enak. Begitu juga dengan nasi goreng ala Ibra saat ini. Walaupun membuat berantakan dapur cantiknya, tapi tak apa, saat sudah dibayar dengan rasa nasi goreng yang hm ... membuat Chandani rasanya ingin menghabiskan semuanya dan tidak ingin membagi ke yang lain, termasuk kepada suaminya.
"Ya ampun, seenak itu memangnya sampai aku nggak dibagi. Aku juga mau loh, Dik," ucap Ibra dengan herannya.
"Tunggulah, aku belum kenyang," jawab Chandani tak perduli.
Tentu saja Ibra tersenyum senang melihat istrinya menyukai makanan yang ia buat. Ia sampai menyangga dagu demi untuk melihat bagaimana senangnya sang istri memakan masakannya.
Ibra tidak pernah menyangka ternyata rasanya begitu bahagia saat melihat seseorang yang ada di dalam dada bahagia karena hal sederhana, seandainya saja dia bisa mengungkapkan segalanya, pasti akan dia ungkap sekarang juga bahwasanya dia sudah mencintai wanita yang saat ini tengah makan dengan lahap di depannya itu.
Akhirnya karena dilihatin terus-menerus tanpa berkedip sedetikpun, Chandani pun mulai menyuapi lelaki yang sudah capek-capek masak itu. Lantas, keduanya sarapan dalam satu piring berdua. Kendati hanya nasi goreng sederhana, namun rasanya begitu luar biasa.
Seusai makan, Chandani kembali melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya. Yaitu mencabuti rumput dan membersihkan segala tanaman yang sudah tidak bagus. Tentu saja dengan bantuan sang suami tercinta.
Lalu, selesai dari taman. Chandani membersihkan badan dan kembali menyelesaikan baju yang belum rampung. Ya, baju untuk Ibra belum selesai, hanya tinggal memasang kancing dan sedikit merapikan benang.
Saat ini, Ibra tengah di kamar, sedang Chandani sudah turun dan duduk di depan meja jahit. Sembari menunggu adzan dzuhur, ia sembari menyelesaikannya baju untuk suaminya itu.
Hingga akhirnya, saat suara muadzin mulai terdengar, dan saat itu juga kancing baju di kemeja lengan pendek milik Ibra selesai. Kemeja yang dibuat khusus untuk meminta sebuah hadiah itu sudah siap untuk dicoba oleh pemiliknya.
Chandani mengucap syukur, seraya memandangi kemeja yang saat ini tengah ia jembreng dan perhatikan. "Semoga Mas Ibra suka," begitu ujarnya.
Lantas, setelah siap. Ia melipat dan membawanya ke belakang. Sengaja ia cuci dulu, nanti jika sudah kering dan disetrika hingga rapi, barulah ia akan memberikannya pada lelakinya itu.
...----------------...
"Lagi ngapain?" tanya Chandani saat dia baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapati sang suami masih sibuk dengan ponselnya.
Ibra mendongak, menyunggingkan senyum pada istrinya. "Ini lagi ngobrolin menu baru," jawab lelaki itu.
Chandani mengangguk, "belum zuhur 'kan?" tanyanya. "Zuhur yuk," sambungnya mengajak sang suami.
"Ayo." Ibra lantas menaruh ponselnya di atas meja dan segera beranjak dari duduknya.
"Nanti kalau aku nggak buru-buru, Adik Cantik pasti bilang gini, dahulukan shalat, karena shalat adalah hal yang utama, pekerjaan 'kan bisa buat nanti lagi," begitu kata Ibra seraya menirukan seperti yang biasanya sang istri katakan.
Chandani melebarkan senyum, bahkan sampai memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Sudah hapal ternyata, sekarang."
Keduanya lantas shalat berjamaah, dengan Ibra sebagai imam, dan Chandani sebagai makmumnya. Setelahnya, sepasang suami-istri itu lantas pergi. Ya, siang ini Chandani di ajak sang suami untuk makan siang di luar. Dan 'Restoran Ayah' menjadi tempat yang dipilih oleh lelaki itu. (Restoran Ayah, milik Batari. Ada di Batari Turn Beautiful)
Restoran yang sangat nyaman untuk anak muda maupun orangtua, dan juga cocok untuk pasangan yang ingin menikmati makanan dengan gaya apapun. Sesuai request. Dan Chandani diajak duduk di bagian belakang, di mana di sana terdapat meja dan kursi yang terbuat dari kayu dengan dua tempat duduk saja. Cocok untuk mereka yang memang datang hanya berdua.
Tempat yang indah dan bertemakan taman itu membuat Chandani begitu kagum. Maklum saja, sekian banyak usianya, baru kali inilah dirinya di ajak makan di sebuah restoran. Biasanya, paling mentok dan istimewa bagi wanita itu hanya warung bakso favorit.
Kekaguman Chandani sampai membuat dirinya menatap ke sana ke mari, ia begitu terpesona dengan tema restoran yang membuatnya serasa berada di taman dengan suara gemericik air dari air mancur buatan.
"Bagus ya, tempatnya?" tanya Ibra.
"Masyaa Allah banget, makasih ya ... sudah ajak aku ke sini, seriusan ini kali pertamanya aku ke tempat seperti ini," kata Chandani jujur.
"Setelah ini, aku akan ajak kamu ke tempat yang lebih bagus lagi. Kalau perlu sampai ke luar negeri," ujar Ibra.
"Nggak perlu, ini juga udah lebih dari cukup," kata Chandani lagi.
"Ya, nggak bisa dong. Nanti, kapan-kapan kita ajak adik-adik dan ibu Runi ke tempat ini ya, pasti mereka seneng banget."
Netra Chandani semakin menunjukan binar bahagianya, "seriusan?" tanyanya. Ibra mengangguk.
"Makasih banyak ya, semoga rezeki kamu semakin berlimpah dan berkah," doa Chandani tulus.
"Aamiin, aamiin, aamiin ... Ya Allaah, semoga di kabulkan doa dari istri shalihah ini." kata Ibra seraya menjawil pipi Chandani sedikit.
Pipi wanita itu semakin merah, selayaknya tomat. Antara senang dan malu, karena di sana bukan hanya mereka berdua saja. Tapi ... kalau boleh jujur lebih banyak senangnya dari pada malunya.
Makanan pesanan Ibra pun datang, lalu keduanya makan dengan tenang dan pelan. Menikmati makanan serta waktu yang sangat indah saat ini.