
Kehangatan di rumah ibu Lili langsung Chanda dapatkan. Ia bisa merasakan bagaimana sayang nya ibu Peri itu padanya. ibu Peri yang sudah sah menjadi ibu mertuanya.
Disambut hangat, dipeluk, disuguhi berbagai makanan yang enak. Ah, nikmati sekali bukan, sayangnya semua itu hanya ia dapatkan sebagai anak dan menantu, tidak ia dapatkan sebagai seorang istri.
Ibra ada di sisinya selalu, namun tetap sibuk dengan ponselnya. Sesekali hanya menjawab dengan kata "ya" dan "ok."
Kini, setelah di ajak makan, Chanda dan mertua serta suaminya duduk di sofa ruang keluarga. wanita itu duduk di sebelah Ibra.
Ibu Lili dan pak Ahmad tak henti-hentinya tersenyum pada Chandani. Berharap wanita cantik itu nyaman di sana, walaupun anaknya tak terlihat menginginkannya.
"Nak, Chanda. Jika membutuhkan sesuatu, nanti jangan sungkan-sungkan panggil bi Nunik ya," ucap Ibu Lili.
"Iya, Ma," jawab Chandani. Sesekali ia melirik Ibra yang ada di sebelahnya.
"Ib, ajak Chanda istirahat. Pasti dia lelah," kata papa Ahmad.
"Hah," Ibra sedikit kaget, karena dari tadi ia tengah membalas pesan yang masuk ke dalam ponselnya. "Iya. Ayo, Chand," ajak Ibra pada istrinya.
Chandani mengangguk, "Chanda tinggal dulu ya, Ma, Pa," pamitnya pada dua paruh baya.
"Iya, Nak. Istirahat lah," ibu Lili tersenyum lebar, ia menatap lembut kepergian anak dan menantunya menaiki tangga, menuju kamar mereka.
Pak Ahmad mengusap lengan sang istri, "menantu pilihan Mama memang top, Ma," ucap Papa.
Ibu Lili tersenyum lebar mengarah ke sang suami, "ya, pasti dong Pa. Padahal awalnya Mama takut, soalnya sudah banyak 'kan, lelaki yang di tolak secara halus oleh Chanda," ucap Ibu Lili.
"Itu, berarti, jodoh Chanda memang Ibra," kata pak Ahmad.
Sang istri mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Ibu Lili benar-benar merasa bahagia karena Chanda mau menerima Ibra.
..._-_-_-_-_...
Di kamar, Ibra langsung duduk di ranjang. Sedangkan Chanda masih berdiri di depan pintu yang sudah ia tutup.
"Masuk, Chand, saya tidak akan ngapa-ngapain kamu kok," ujar Ibra.
Wanita yang baru saja menjadi istri itu lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ibra, "aku tidak takut Mas ngapa-ngapain aku. Karena sekarang, aku adalah milik kamu, jadi terserah kamu mau apakan aku," jawab Chanda. Kini dirinya ikut duduk di ranjang, di sebelah Ibra, suaminya.
"Tapi, saya tidak akan ngapa-ngapain kamu. Sudah saya jelaskan 'kan, kalau saya_"
"Punya kekasih?" tanya Chandani yang langsung memotong kalimat yang akan di ucapkan Ibra.
Keduanya lantas saling menoleh, melihat satu sama lain.
Ibra mengangguk. Chanda tersenyum sinis, "kekasih Mas Ibra, tidak berhak atas Mas. Akulah yang lebih berhak," katanya pada suami yang kini sudah kembali melihat ke arah depan. Tak lagi menatap sang istri yang menatap dengan serius.
"Tapi, Chand. Saya sudah mengatakan segalanya bukan, kita bisa jadi suami istri yang ...," ucapan Ibra menggantung begitu saja. Kini justru Ibra bingung mengatakannya pada Chandani.
"Suami-istri yang apa Mas?" Chandani masih setia menatap Ibra yang masih setia menatap arah depannya. "Suami-istri bohongan, maksudmu Mas?" tanya wanita itu lagi.
Ibra menghela napas nya kasar, lantas menoleh kembali ke arah sang istri. "Iya, Chandani. Kamu tahu bukan, kalau cinta tidak bisa di paksa," katanya.
Ibra terdiam, menatap netra Chandani yang berkaca-kaca. Tidak bisa di sembunyikan kalau wanita itu kini tengah bersedih.
"Iya, itu semua terserah kamu Chand. Seenggaknya saya sudah memberi tahu segalanya padamu. Dan saya harap kamu tidak mempermasalahkan jika nanti saya pergi menemui nya." ucap Ibra. Ia lantas berdiri dan beranjak dari sana. Meninggalkan Chanda yang duduk di ranjang empuknya.
Ibra lantas ke balkon. Sungguh, jika di biarkan menatap Chandani yang berwajah cantik dan sendu itu, ia pasti akan luluh begitu saja.
Chandani menelan ludahnya kasar, menarik nafas panjang dan ... tes. Air matanya menetes.
Sakit di dalam hatinya begitu terasa. Sakit, sakit sekali. Kenapa? Hati Chandani bertanya-tanya. Rasanya ia ingin sekali kembali saja ke panti, meninggalkan suami yang sama sekali tidak menginginkan dirinya. Sekarang, untuk apa dia di sana? untuk menjadi menantu tanpa di harapkan sang suami untuk menjadi istri kah? Sungguh menyedihkan.
Chandani lantas menghapus dengan kasar air mata yang membasahi pipinya. Ia tersenyum, dalam hati berbicara, "tidak Chanda. Ibra itu suamimu, kamu berhak atas dirinya, tidak akan kami biarkan siapapun merebutnya."
Chandani mengangguk, lantas ia beranjak dari duduknya. Ia akan membereskan baju-bajunya ke dalam lemari. Tadi, bibi Nunik sudah mengatakan kalau satu ruangan di lemari Ibra sudah di kosongkan.
Dan benar saja, satu ruangan kosong. Cukup untuk menaruh baju-baju nya yang sedikit. Satu persatu baju dan jilbab, Chandani simpan. Dan kini semua sudah tertata rapi. Chanda lantas menaruh kopernya di samping lemari. Setelahnya ia beranjak dari sana. Menyusul suaminya yang masih setia di balkon.
Ibra terkejut saat tiba-tiba Chandani menyusulnya. Ia pikir wanita akan diam saja di kamar. Ibra menoleh sebentar, lalu membiarkan sang istri yang kini ikut berdiri menumpukan tangan nya di pembatas balkon.
"Aku akan membiarkan Mas Ibra menemui kekasih Mas," ucap wanita cantik itu. Ibra menoleh heran. "Tapi, dengan syarat," sambung Chandani.
"Apa, syaratnya?" tanya Ibra penasaran.
Chandani menelan ludahnya kasar, "yang pertama, Mas Ibra harus memanggilku dengan sebutan Dik, tidak boleh panggil nama," katanya. Netra nya serius menatap Ibra, sang suami yang baru menikahinya.
Ibra diam, dia tengah memikirkan permintaan Chandani, istri nya.
"Yang kedua, aku ingin tetap menjadi istri yang sesungguhnya, aku tidak ingin jadi istri bohongan," ujar Chandani lagi yang lantas membuat dahi Ibra berkerut bahkan alisnya hampir menyatu.
"Ta_" niatnya Ibra ingin menjawab, namun sang istri keburu mengatakan yang selanjutnya.
"Yang ke tiga! Mas Ibra harus memperlakukan aku dengan baik, memperlakukan aku layaknya istri. Tidak memperlakukan aku seperti teman. Tidak," ucap Chandani sembari menggelengkan kepalanya, tidak ingin di bantah.
"Maksudnya bagaimana, Chandani?" sungguh Ibra benar-benar tidak mengerti.
"Aku ingin kita tetap jalani hubungan suami istri ini, aku tidak ingin ada ke-pura-puraan. Terlepas Mas Ibra yang masih punya kekasih dan mau menemuinya, aku tidak perduli. Yang penting Mas Ibra benar-benar memperlakukan ku sebagai istri sesungguhnya," jelas Chandani lagi.
Ibra mengembuskan napas kasar," baiklah," jawab lelaki itu pasrah.
Chandani tersenyum, "sekarang, coba Mas Ibra panggil aku dengan sebutan Dik," perintahnya.
"Ck," Ibra berdecak kesal. Ada-ada saja istrinya ini. Ia pikir Chandani adalah wanita yang gampang untuk ia suruh dan penurut. Ternyata dia punya sifat yang keras kepala.
"Ayo, di coba!" perintah Chandani lagi.
Ibra mengembuskan napas kasar, "Dik!" panggil Ibra tidak ikhlas. Namun Chandani tersenyum puas.
Ini baru langkah awal, Chandani berjanji akan membuat Ibra mencintai nya dan melupakan kekasih nya.