
Beberapa bulan kemudian...
"Astagfirullah...kesiangan aku!" Terkejut Yani saat ia bangun sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dengan masih mencoba menetralkan rasa kantuknya ia berlari kecil menuju dapur. Saat itu ia melihat ibu mertuanya mama Reina tengah selesai mencuci piring.
"Maaf mah...Yani kesiangan..." ucap Yakin dengan suara rendah.
"Iya...gak apa-apa, namanya ibu hamil, wajar bangun kesiangan" sahut mama Reina tersenyum kecut pada Yani.
Yani hanya menunduk melihat respon ibu mertuanya itu.
Siang harinya Yani melakukan tugas rutinnya, ia menyapu, mengepel dan membereskan kamarnya dan juga kamar mertuanya itu. Setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, ia berniat berkabung dengan keluarga suaminya yang tengah asik menonton tv di ruang tamu.
Belum sempat kakinya menginjak ruangan itu. Adik iparnya Risma menegur Roy yang hendak menaruh piring kotor di dapur.
"Cuci piringnya bang! Jangan mama lagi yang nyuci piring!" Tegurnya sambil melirik tajam ke arah Yani.
Bagai teriris sembilu Yani memutar haluan kembali ke kamarnya.
"Ya Allah tabahkanlah hatiku..." ucapnya lirih.
Keesokkan harinya, ia meminjam laptop milik adik iparnya Risma untuk melihat akun facebook miliknya. Saat itu tanpa sengaja ia melihat berita seorang artis Indonesia yang sedang dalam kedukaan akibat di curigai anak yang di dalam kandungannya. Tanpa sadar ia berseru kesal.
"Jelas-jelas pacaran! Masa masih meragukan anaknya sih? Pakai minta tes DNA!"
Risma yang mendengar gerutuan dari Yani ikut berkomentar. "Abang Roy juga kalau banyak duit pasti minta tes DNA!"
Yani terdiam mematung, air mata nya nyaris tumpah, ia menahan diri agar tidak menangis, ia kemudian menutup akunnya dari laptop itu lalu ia berjalan pelan menuju kamarnya.
Di kamarnya ia menangis tanpa suara. Saat itu Roy masuk ke kamar setelah sebelumnya ia berada di kamar mandi. Roy melihat Yani menangis hanya melirik saja tanpa memperdulikan Yani, ia mengganti pakaian lalu keluar kamar.
Hati Yani semakin hancur karena Roy tak memperdulikan tangisannya. Yani menangis sampai tertidur.
"Bangun yank..." kejut Roy sambil membawa nasi dan lauk.
"Jam berapa bang?" Tanya Yani.
"Jam 7 malam, makan dulu ya" jawab Roy lembut memberikan makanan pada Yani.
Selesai makan Yani mencuci semua piring, setelahnya ia membersihkan diri lalu kembali ke kamar.
Tujuh bulan kemudian Yani dan Roy pindah dari rumah orangtuanya Roy. Di sinilah awal mulanya Roy menunjukkan sifat aslinya.
Rumah Roy dan Yani pukul 10:00 pagi. Yani dengan perut buncitnya tengah membereskan rumah kontrakan ia dan Roy, di saat itu Roy malah asik bermain dengan teman-temannya dan tak membantu Yani. Baru pukul 09:00 malam Roy kembali ke rumah kontrakannya. Dengan mulut berbau alkohol ia meminta Yani melayani kewajibannya.
"Sini jablay gue...layanin gue!" Seru Roy setengah mabuk.
Yani memundurkan langkahnya karena takut pada Roy. Namun ia kalah cepat karena Roy sudah mengukung tubuhnya. Tanpa belas kasih Roy melampiaskan nafsunya pada istrinya yang hamil besar.
Selesai melakukan hal kejam pada Yani. Roy tertidur pulas, dengan langkah tertatih Yani memakai kembali pakaiannya. Ia menangis sambil menatap Roy yang tertidur tanpa sehelai benang pun. Ia menyelimuti suaminya itu sambil menitikan airmata.
"Ya Allah...berilah hidayah pada suamiku ini..." ucapnya lirih.
Waktu yang di nantikan pun tiba, Yani sudah melahirkan anak perempuan yang cantik yang di beri nama Inayah Lestari. Nama itu ibu mertuanya yang berikan, alasan ia tak bisa memberikan nama pada putrinya karena ibu mertuanya merasa lebih berhak. Karena ia lah yang membiayai lahiran putri Yani dan Roy.
Tuhan menunjukkan tanda-tanda kebesarannya pada Yani. Pada kelahiran putri Yani bertubi-tubi rezeki datang pada keluarga besar suaminya. Putrinya Inayah mulai di sayangi karena di anggap membawa keberuntungan.
Setelah lima bulan kemudian...
Setengah jam kemudian Roy datang dengan raut wajah yang masam."Ngapain sih telepon-telepon?" Teriaknya marah.
"Inayah sakit bang! Ayo kita ke rumah mama pinjam mobil untuk bawa Inayah ke rumah sakit!" Jawab Yani cemas.
"Ya udah ayo!"
Sesampainya mereka di rumah mama Reina, mereka justru dapat respon di luar dugaan.
"Panasin dulu mobilnya nanti rusak!" Tegur Risma melirik tajam pada Yani dan bayi nya.
Yani tidak ingin ada keributan ia pun berlari pulang sambil menggendong putrinya. Usaha Yani menghindari keributan justru memancing amarah suaminya. Suaminya ribut besar dengan adik-adiknya.
Berawal dari sana pula kehidupan bak neraka di mulai. Yani di abaikan adik ipar dan mertuanya. Yani tetap sabar menghadapi keluarga dari suaminya karena rasa cintanya yang amat dalam pada suaminya.
"Ya Allah buka kanlah pintu hati keluarga suamiku agar benar-benar mau menerimaku..." ucap Yani dalam do'a saat menyelesaikan solat subuhnya.
Tahun berlalu dengan sangat cepat, Yani kini membantu usaha ibu mertuanya yang membuka catering, sedangkan Roy bertugas mengantar catering. Selama Roy bekerja pada ibunya ia tak pernah lagi memberikan Yani uang. Sedangkan Yani yang baru saja menerima uang dari hasil kerjanya dari mertuanya mengajak Inayah jalan-jalan. Yani bahagia melihat senyum manis putrinya yang bahagia di ajaknya jalan-jalan.
Sesampainya di rumah kontrakannya, Yani menidurkan putrinya. Tiba-tiba Roy datang dan meminta uang padanya.
"Habis gajian bagi duit dong!" Pinta Roy tersenyum pada Yani.
"Boleh...tapi buat apa? Kan kamu juga dapat gaji dari mama" sahut Yani.
"Buat tambahin beli minuman" kata Roy dengan santai menadahkan tangan pada Yani.
"Kalau buat itu aku gak mau ngasih!" Kata Yani tegas.
"Pelit amat sih lo!" Geram Roy marah.
"Kalau sekedar buat beli rokok aku kasih tapi gak buat beli minuman haram!" Sentak Yani marah.
Di sinilah awal mulanya Roy seperti ketagihan memainkan tangannya pada Yani, ia mendorong Yani ke kasur dimana putri mereka tengah terlelap, Roy menghajar Yani tanpa ampun sampai tetangga mereka memisahkan.
"Sudah bang! Kasihan istrinya!" Seru tetangga Yani itu memisahkan Yani yang sudah babak belur akibat ulah Roy. Bukannya cukup Roy malah melontarkan kata-kata pedas pada Yani.
"Perempuan sial lo! Belagu! ***** aja sengak gaya lo!" Umpat Roy marah lalu pergi meninggalkan rumah kontrakannya.
...*Bersambung......
*
*
*
*
*
Ini kisah nyata....bukan fiksi hanya saja karakter dan nama pemeran bukan yang sebenarnya...
sampai nanti ya...
jangan lupa vote dan like ya*...