
Seorang gadis manis tengah bersenang-senang merayakan hari kelulusan, dengan hati penuh kebahagiaan ia kembali ke rumahnya.
"Mama...ayah...aku lulus..." kata gadis manis berhidung mungil itu pada kedua orangtuanya.
Merasa tidak ada jawaban dari kedua orangtuanya, ia menghampiri kedua orangtuanya yang duduk termenung di dinginnya lantai kontrakan petakkan di daerah terpencil.
"Mama...ayah...gak senang Mar lulus?" Tanyanya sedih.
"Bukan begitu nak, adik kamu juga lulus SD sedangkan kamu lulus SMP, ayah gak punya uang nak untuk menyekolahkan kalian berdua sekaligus" jawab sang ayah lirih, pria berumur 45 tahun itu merasa iba pada kedua putrinya, karena kesulitan ekonomi yang keluarganya alami memaksanya hanya bisa menyekolahkan salah satu putrinya.
Mendengar jawaban dari ayahnya gadis manis yang bernama Yani Maria ini tersenyum lalu berkata."Sekolahkan saja adikku ayah, biar aku kerja mencari uang untuk biaya adik sekolah"
"Tapi nak...di umur kamu yang baru saja 14 tahun mau kerja apa?" Ujar sang ayah seraya bertanya sedih.
"Bisa kerja dimana aja yah, pasti akan ada kerjaan untuk aku" jawab Yani tersenyum tulus sambil beranjak dari dinginnya lantai kemudian berlalu pergi keluar rumah.
Yani berjalan-jalan tak tentu arah, di saat ia berjalan melewati Perumahan yang letaknya ada di belakang Perkampungan tempat ia mengontrak, ia bertemu dengan seorang pemuda.
"Hai manis...mau kemana?" Tanya pemuda itu pada Yani.
Yani hanya melemparkan senyuman tipis pada pemuda itu tanpa mau menjawab pertanyaan darinya.
"Ets...sombong bener...kenalan dong!" Pemuda itu menghalangi langkah Yani yang hendak kembali ke jalan Perkampungan.
"Maaf kak...aku harus pulang!" Sahutnya dengan suara pelan.
Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang wanita muda yang menolongnya dari kegenitan pemuda komplek itu.
"Yono...sana lo! Jangan gangguin anak orang, gak lihat tuh anak masih bocah?" Tegurnya pada pemuda yang ternyata bernama Yono.
"Rese lo ian!" Sahut Yono berlenggang pergi.
Setelah kepergian pemuda yang bernama Yono, wanita muda itu menghampiri Yani yang berjalan menjauh.
"Hei...tunggu!!!" Teriak wanita itu memanggil Yani.
Yani menghentikan langkahnya berbalik menghadap wanita itu." Ada apa ya kak?" Tanya Yani menatap heran pada wanita muda itu.
"Aku Dian...kamu?" Wanita yang bernama Dian Lestari itu mengulurkan tangan kanannya pada Yani.
"Gue Yani kak, maaf kak, gue balik dulu ya!" Yani menyambut uluran tangan Dian seraya berpamitan.
"Tunggu...buru-buru amat sih! Kamu kelihatan kacau, kalau boleh aku tahu, kamu ada masalah apa?" Dian menghalangi Yani pergi seraya bertanya.
"Hiks...gue bingung kak, hiks...hiks"
Melihat Yani menangis, Dian merasa iba lalu membawa Yani ke rumahnya.
"Oh...jadi kamu lulusan SMP, mau kerja tapi bingung mau kerja apa? Belum ada KTP juga ya?" Sambil ber-oh ria, Dian berkicau tak karuan.
Yani mengangguk lemah lalu kembali menitikan airmata kesedihan.
"Hmm...kalau kamu mau, ikut kerja sama aku aja, kebetulan, di toko tempat aku kerja lagi mencari karyawati, tanpa surat lamaran tanpa KTP juga bisa masuk, gimana? Mau???"
"Mau kak...mau banget!" Sahut Yani kegirangan.
"Hmm...kalau gitu, besok kamu ikut aku, ke Pasar Pagi Mangga Dua, di Jakarta, bisa?"
"Bisa kak...makasih banyak kak"
***
***
***
Keesokan paginya Yani bersama dengan Dian pergi ke Pasar Pagi Mangga Dua, di sana Yani diperkenalkan pada pemilik Toko yang bernama Koh Alyong.
"Jadi lu olang balu lulus ya, hmm...lulusan apa?" Tanya Koh Alyong dengan logat chinesnya pada Yani.
"Iya koh, saya lulusan SMP!" Jawab Yani menunduk malu.
"Lu olang boleh kelja sama oe...tapi syalatnya lu olang halus bikin itu surat, bahwa lu olang berniat kelja tanpa paksaan!" Kata Koh Alyong pada Yani.
Yani tersenyum senang saat ia di terima bekerja.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, seorang gadis kecil yang bernama Yani Maria tumbuh menjadi remaja cantik nan menggoda.
Yani sehari-hari berangkat bekerja menggunakan transportasi kereta ekonomi, di tahun 2007 ia berkenalan dengan pemuda di sebuah Perkampungan di daerah bogor tak jauh dari tempat ia tinggal.
"Oek...oek..." Yani memuntahkan seisi perutnya karena merasakan mual yang amat sangat menyiksa.
"Kamu kenapa nak?" Tanya mama Nur pada putrinya.
Yani terdiam lalu menangis."Maafin Yani mah, Yani hamil" jawab Yani jujur pada sang mama.
Bagaikan di sambar petir, mama Nur melemas tubuhnya mendengar perkataan yang keluar dari mulut putrinya.
"Siapa laki-laki yang menghamili kamu???" Tanya mama Nur mengguncang kuat tubuh Yani yang tengah menangis sesegukkan.
"Namanya Roy mah...hiks...dia pacar aku" jawab Yani.
Setelah kejadian itu pernikahan dadakan digelar untuk Yani, ia dan mamanya sempat tak saling mengenal karena rasa kecewa yang amat dalam, membuat mama Nur seperti membatu hatinya.
Beberapa bulan kemudian, Yani yang kini tengah hamil 5 bulan mendadak ingin memakan buah, dengan manja ia meminta suaminya untuk membelikannya buah segar. Tapi bukannya buah segar yang ia dapatkan melainkan sepotong dark coklat dan sedikit gula.
"Loh...kok ini sih bang, aku kan mau buah...hiks..." protes Yani sambil menangis.
"Kamu kan tahu abang belum kerja, sementara ini aja dulu" sahut Roy menggertakkan giginya.
"Minta sama mama bang, kata mama kamu, kalau aku ngidam boleh minta uang sama mama kamu" kata Yani menitikan airmata berharap suaminya menurutinya, bukannya menuruti keinginan Yani. Roy malah menarik tangan Yani, menyeretnya keluar kamar yang berada di lantai dua rumah mertuanya.
"Pergi lo! Balik sono ke rumah orangtua lo! Nyusahin gue aja lo di sini!!!" Teriak Roy sambil menghempaskan tubuh Yani ke arah tangga, beruntung Yani berpegangan pada gagang tangga yang terbuat dari kayu.
Yani menangis sesegukkan mendapat perlakuan kasar dari suaminya.
"Hiks...kejam banget sih bang, aku kan hanya minta buah saja, aku mual bang...hiks..." ucap Yani menangis sesegukkan.
Bukannya iba dengan tangisan sang istri Roy justru mendorong Yani sampai hampir terjatuh dari tangga.
brakkk...
"Pulang ke rumah emak lo sono! Nyusahin gue lo!!!" Kembali Roy melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati Yani.
Mendengar keributan seluruh anggota Keluarga Molino berhamburan naik ke lantai dua.
"Ada apa sih Roy?" Tanya mama Roy ibu Reina pada putranya.
"Ini...perempuan sial minta buah segala! Tau Roy gak punya duit! Eneg katanya!" Jawab Roy.
Bagai tersayat sembilu hancur dan remuk hati Yani mendengar perkataan sang suami.
"Ya Allah...apa dia masih pria yang dulu mencintaiku???"
"Gini aja kalian ribut! Sudah beli nih buah untuk istri kamu!" Gerutu mama Reina memberikan selembar uang 100ribu pada Roy.
Dengan segera Roy membelikan buah apel untuk Yani. Tapi Yani tidak menyentuh sama sekali buah apel itu, ia tertidur sambil menangis dalam tidurnya.
Keesokan paginya, seluruh keluarga berkumpul di ruang televisi. Di saat Yani baru menuruni anak tangga, adik perempuan Roy yang bernama Riri menyeletuk menyindir Yani.
"Bang...bini lo kasih buahnya tuh, nanti eneg lagi!" Celetuk Riri tertawa kegirangan.
"Iya...ntar eneg, nangis lagi deh!" Timpal mama Reina ikut menertawakan Yani.
Yani hanya diam saja menanggapi sindiran kuat dari ibu mertuanya dan dari adik iparnya itu.
"Suatu hari nanti...kamu juga akan hamil Ri...teganya kamu menyindir aku..."
************
***Seorang menantu akan menjadi putri setelah di bawa ke rumah mertua...
Maka dari itu hai para ibu mertua...
Sayangi menantumu
Kasihi menantumu dengan sepenuh hati...
Jika kalian menyakiti hatinya...maka sama saja kalian menabur karat di besi baru...
Lama kelamaan besi baru itu akan berkarat dan patah...yang artinya kalian bisa mematahkan segala rasa di hatinya...
Rasa hormat
Rasa cintanya
Dan...rasa kagumnya...😥***