
Tiara memasuki Minimarket yang ramai oleh pengunjung. Biasanya sore-sore seperti ini memang selalu ramai. Ia menyapa Rani, kasir yang bertugas shift pagi, juga beberapa karyawati yang sedang menata barang-barang. Sementara Dhika, tak tampak batang hidungnya. Tiara menuju ruang khusus karyawan untuk merapikan diri sambil menunggu jam pergantian karyawan. Masih ada setengah jam menjelang jam kerjanya dimulai.
"Loh, Mbak Rena! Tumben ke sini?" seru Tiara kaget begitu mendapati Rena sedang duduk di sofa panjang sambil membolak-balik katalog fashion.
"Iya, Mbak mau ketemu kamu. Kemaren siang Mbak ke sini tapi ternyata kamu masuk sore. Dhika juga lagi keluar, jadi Mbak gantiin dia sebentar," jelas Rena sedang Tiara mengangguk paham.
Tiara mengurungkan niatnya untuk ke ruang khusus karyawan. Ia melangkah menuju sofa dan mengambil posisi duduk di sebelah Rena. Selanjutnya, kedua wanita itu sudah terlibat obrolan seru. Rena menunjukkan sebuah katalog dan meminta Tiara untuk membantunya memilih.
"Yang ini cantik, nih, Mbak. Cocok buat Mbak," kata Tiara sambil menunjukkan salah satu gaun yang sejak tadi paling menarik perhatiannya.
Rena menggeleng, "Modelnya terlalu muda buat Mbak, buat kamu baru cocok," jawab Rena sambil membolak-balik katalog tas.
"Cocok sih cocok, uangnya yang nggak cocok," kekeh Tiara setelah melihat harga yang tertera.
Rena hanya tertawa pelan mendengar jawaban Tiara. Tiara benar-benar gadis sederhana, harga setara dengan separuh gajinya tentu sangat mahal menurutnya. Rena menatap Tiara yang masih memandangi keindahan gaun berwarna navy tersebut.
"Eh, Ra, Mbak mau tanya sesuatu, tapi kamu jangan marah, ya?" ucap Rena ragu-ragu.
"Tanya apa, Mbak?"
"Kamu nggak kepikiran apa, buat cari pendamping, atau senggaknya ... pacar, gitu?" Sehati-hati mungkin ia bertanya agar tak menyinggung gadis itu.
Tiara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mimpi apa ia semalam, sampai disuguhi pertanyaan sensitif yang ia pun tak tahu jawabannya.
"Bukan nggak kepikiran atau nggak mau, sih, tapi belum ada aja yang kena di hati," jawab Tiara sembari tersenyum kecut.
Dalam hati Tiara mengeluh, sebenarnya ia juga ingin mencari. Hanya saja hatinya sudah telanjur terpikat pada seseorang dan sulit dilupakan. Namun sayangnya orang tersebut sama sekali tak tahu atau mungkin tak mau tahu dan tak peduli dengan perasaannya.
"Emang tipe idaman kamu yang kayak gimana, sih?" tanya Rena lagi.
"Nggak ada syarat khusus, sih. Ganteng atau kaya itu bonus, yang penting dia bisa diterima di keluarga Ara, dan Ara juga diterima di keluarganya. Ara takut punya mertua dan ipar kayak di sinetron-sinetron," jawab Tiara sembari terkekeh.
"Tiara, Tiara, kalau Azam udah gede, Mbak jodohin dia sama kamu, Ra. Kamu tuh type pacar idaman tau, nggak. Selain cantik, baik, kamu juga nggak neko-neko," gurau Rena.
"Ih, si Mbak. Keburu Ara jadi nenek-nenek dong, kalau nungguin Azam gede," balas Tiara. Merasa konyol, mengingat Azam, anak Rena yang baru berusia dua tahun.
Rena terkekeh, "Atau sama adik Mbak aja, gimana? Lumayan ganteng, sayang 'kan kalau dianggurin, daripada pusing-pusing nyari," lanjut Rena seraya menunjuk Dhika yang baru saja melintasi pintu kaca dengan isyarat mata.
Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk Rena. Dilihatnya Dhika berjalan santai ke arahnya. Masih dengan penampilannya yang selalu rapi, kemeja polos, celana chino dan sepatu yang mengkilap. Hampir setiap hari penampilannya selalu begitu, seolah menjadi ciri khas-nya. Penampilan yang sering ia sebut seperti bapak-bapak, tapi tak dipungkirinya, Dhika terlihat gagah dan berwibawa dengan penampilan itu.
"Ngomongin aku, ya!" seru Dhika setelah tiba di dekat Rena dan Tiara.
"Mbak Rena tuh, Ara nggak ikutan," tunjuk Tiara pada Rena.
"Nggak ngomongin apa-apa, kok. Kegeeran banget, sih," sahut Rena seraya menatap Tiara lalu mengedipkan mata.
Dhika menatap Rena dan Tiara bergantian, merasa ada sesuatu yang mereka rahasiakan. Ia yakin, kakaknya itu sedang merencanakan sesuatu. Atau jangan-jangan Rena bicara yang bukan-bukan tentangnya, atau malah membuka rahasianya. Pikiran Dhika jadi melantur ke mana-mana.
"Eh, jemputan Mbak udah datang, tuh, Mbak pulang dulu, ya," ujar Rena sambil menunjuk arah pintu.
Tiara dan Dhika serempak menoleh. Dilihatnya seorang cowok dengan penampilan bak model memasuki minimarket dan berjalan cepat ke arah mereka. Senyumnya menarik perhatian beberapa karyawan yang kebetulan ada di sana, termasuk Rani yang memandang penuh kekaguman di balik meja kassa. Tiara juga sama, diam-diam mengakui kalau cowok itu terlihat keren dengan rambut yang diselipkan di balik telinga, memamerkan anting yang bergantung di sana.
"Hai, Bro! Apa kabar lo?" Cowok itu mengulurkan tangan pada Dhika.
"Seperti yang lo lihat," cowok itu merentangkan kedua tangannya diiringi tawa renyah.
"Eh, Rian, tunggu sebentar, ya, Mbak mau ke toilet dulu," kata Rena menginterupsi obrolan Dhika dan cowok itu.
"Lama juga nggak apa-apa, Mbak. Aku juga mau ngobrol dulu sama Tiara," balas Rian sambil melirik Tiara yang sejak tadi hanya diam.
Dhika yang tak senang mendengar ucapan Rian akhirnya beranjak dari sana tanpa permisi lalu masuk ke ruangannya. Namun, samar-samar ia masih bisa mendengar obrolan Tiara dan Rian, dan itu membuat dadanya terasa bergemuruh.
"Eh, Ra, kamu kok nggak balas chat aku, sih?" tanya Rian.
"Emang kamu ada chat aku?" Tiara balik bertanya.
"Ada, tadi malam aku chat, jangankan dibalas, dibaca aja nggak," omel Rian.
Tiara mengeluarkan ponselnya lalu mengecek pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau.
"Ah, iya, maaf ya," ucap Tiara merasa tak enak. Ia memang tidak menyadari ada pesan masuk dari Rian.
"Kamu nggak baca karena takut pacar kamu marah, ya, kamu chat dengan cowok lain?" tanya Rian.
"Mana ada!" sergah Tiara cepat.
"Jadi, kamu nggak punya pacar?" todong Rian.
"Ih, bukan gitu!" Tiara bingung sendiri harus menjawab apa.
Rian tergelak, "Santai, aku bercanda, kok," ujar Rian.
"Nggak lucu," dengus Tiara.
"Eh, serius nih kamu nggak punya pacar? Berarti aku punya peluang, dong?" balas Rian.
Dhika yang mendengar Rian terus menggoda Tiara mendengus kesal. Ia melangkah keluar setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia bisa menggunakan alasan bahwa Tiara harus mulai bekerja untuk mengakhiri obrolan mereka. Namun, sebelum ia menyentuh gagang pintu, suara Rena terdengar menginterupsi.
"Rian, yuk, jalan," ajak Rena.
"Oke, Mbak," sahut Rian lalu beralih pada Tiara. "Oh iya, Tiara, aku pulang dulu. Bye!" pamitnya seraya melambaikan tangan dan melenggang pergi.
"Tiara, Mbak pulang dulu, ya. Oh iya, pikirin saran Mbak tadi, ya," kata Rena sambil melirik Dhika yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu ruangannya dengan tangan di dekap ke dada.
Setelah Rena dan Rian menghilang di balik pintu kaca, Dhika menghampiri Tiara. "Ngomongin apa, sih, sama Mbak Rena?" tanyanya.
"Mau tau aja," balas Tiara lalu melangkah cepat menuju ruang khusus karyawan untuk bersiap-siap. Lima menit lagi waktu kerjanya dimulai.
"Kamu suka sama Rian?" tanya Dhika tiba-tiba.
Pertanyaan Dhika membuat Tiara menghentikan langkahnya sebelum tiba di depan pintu ruang khusus karyawan. Ia tampak berpikir sejenak, lalu berbalik menatap Dhika dengan tatapan menantang.
"Kalau iya, kenapa emangnya?
Bersambung.