
Ramainya kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya sama sekali tak mampu menyingkirkan bayangan Dhika dari kepala Tiara. Ingatan-ingatan tentang Dhika silih berganti mengisi otaknya. Suara Dhika yang memanggilnya sayang terus terngiang di telinganya bagai sebuah nyanyian. Meski hanya akting, tetap saja membuatnya resah. Mungkin, lelaki itu memang menyayanginya, tapi tak lebih dari seorang adik.
"Kamu tau, kamu itu sudah Mas anggap seperti adik sendiri. Salah, kalau Mas melakukan sesuatu sebagai wujud rasa sayang seorang kakak ke adiknya?"
Ucapan Dhika di hari ulang tahunnya tahun lalu masih jelas diingatannya. Bukan sekali dua kali Dhika mengakuinya sebagai seorang adik ketika orang menanyakan dirinya pada Dhika. Terasa konyol membayangkan Dhika menyayanginya sebagai sosok yang lain.
Andai tidak berpikir ia sedang berada di dalam angkutan umum, ia pasti sudah berteriak karena frustrasi. Baru kemarin ia berniat untuk menyerah dan melupakan perasaannya pada laki-laki itu, tapi kenapa getaran-getaran itu malah muncul lagi? Ia sudah cukup nyaman menjalani hari-harinya dengan status "kakak adik" yang dijalaninya bersama Dhika. Namun, kenapa aroma cinta itu seperti menguar kembali? Pohon-pohon cinta yang selalu berusaha ia bunuh kini seperti berputik kembali. Ia takut, kuntum-kuntum cinta ini pada akhirnya akan layu dan berguguran tanpa sempat merekah. Tiara tidak ingin kecewa lagi, untuk kedua kalinya pada orang yang sama.
Nada pertanda ada panggilan masuk membuyarkan lamunan Tiara. Setelah melihat nama si penelepon, Tiara mengabaikannya. Ia sedang malas bicara dengan laki-laki itu, walau kenyataannya laki-laki itu justru memenuhi kepalanya sejak sore tadi. Ia kira menghindar dari laki-laki itu sejenak akan membuatnya bisa berhenti memikirkannya, ternyata ia salah. Perdebatan kecil karena menolak di antar pulang tadi justru membuat Dhika terasa seperti hantu yang menerornya. Merasa bersalah karena menolak niat baik Dhika, tapi untuk sekarang, menghindar adalah pilihan yang tepat agar benih-benih cinta ini tidak bersemi kembali.
Bertepatan dengan angkutan umum yang ditumpanginya berhenti di depan lorong menuju kost-annya, nada panggilan masuk kembali terdengar. Kali ini bukan dari Dhika. Senyum Tiara merekah, wajahnya berubah ceria seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Setelah membayar ongkos, cepat-cepat Tiara turun dari angkot, dan berjalan cepat menuju kosannya yang berjarak 50 meter dari depan lorong.
"Halo, assalamu'alaikum, Pak." Tiara menjawab telepon setelah tiba di depan pintu kamarnya.
"Wa'alaikum salam." Terdengar suara bergetar di seberang sana.
Selanjutnya, tanpa bisa dicegah, airmata Tiara tumpah begitu saja. Air mata lelah dan kerinduan berbaur menjadi satu dan tumpah bersamaan. Ia baru sadar, ternyata ia begitu merindukan sosok penuh damai itu. Rasanya semua beban luruh begitu saja, ingatan tentang Dhika juga turut menguap seolah itu bukanlah hal penting.
Sementara itu, Dhika yang mencoba menghubungi Tiara kembali hanya menghela napas berat setelah mendengar jawaban operator yang mengatakan bahwa nomor yang ia tuju sedang sibuk.
"Kamu kenapa, sih, Ra?" gumamnya pelan.
***
Tiara menghirup napas dalam-dalam setelah tiba di dalam minimarket. Embusan udara sejuk dari pendingin ruangan menerpa kulitnya yang terasa seperti mau terbakar karena matahari yang menyengat di luar tadi. Bahkan jejak keringat tampak di beberapa bagian bajunya, untung saja bukan pakaian yang akan dipakai bekerja nanti.
"Tiara!" panggil Rani dari balik meja kasir. Gadis hitam manis itu melambaikan tangan.
Tiara mendekat, "Kenapa?" tanyanya setelah tiba di hadapan Rani.
"Kamu ada masalah apa sama Pak Dhika?" tanya Rani setengah berbisik.
Tiara berpikir sejenak, tapi tidak menemukan jawaban yang tepat. Ia memang punya sedikit masalah dengan Dhika, tapi bukan masalah besar dan penting.
"Nggak ada kayaknya," jawab Tiara ragu-ragu. "Kenapa emangnya?"
"Dari tadi Pak Dhika nungguin kamu. Udah tiga kali dia nanyain kamu udah datang apa belum. Dia bilang, kalau kamu datang disuruh langsung ke ruangannya," jawab Rani.
Tiara melirik jam tangannya, masih ada 20 menit sebelum jam kerjanya dimulai. Ia tidak terlambat, jadi untuk apa Dhika mencarinya? Apa karena tolakan diantar pulang tadi malam?
"Ya udahlah, aku temui dia dulu," balas Tiara akhirnya.
Tiara melangkah menuju ruangan Dhika, ragu-ragu Tiara mengetuk pintu lalu menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Mendadak ia merasa gugup, seperti saat ia pertama kali memasuki ruangan itu untuk interview. Di kepalanya berkecamuk tanda tanya, untuk apa Dhika memanggilnya?
"Masuk!" Terdengar sahutan dari dalam.
"Eh, Ra, ngapain berdiri di situ? Ayo, masuk!" Dhika melambaikan tangan.
Tiara mendekati Dhika. "Ada apa Mas nyari Ara?" tanyanya.
"Nggak ada apa-apa, kok. Cuma sedikit khawatir aja, kamu kenapa tiba-tiba aneh. Nggak mau diantar pulang, ditelepon nggak diangkat, dichat juga nggak dibalas," balas Dhika.
Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa. Apakah ia harus jujur kalau ia ingin menghindari Dhika?
"Nggak ada apa-apa, kok. Cuma lagi badmood aja," bohong Tiara.
Dhika manggut-manggut, seperti sudah paham dengan sifat Tiara yang satu itu. Jika badmood-nya sedang kumat, gadis itu seperti tidak punya semangat untuk melakukan apapun, bahkan untuk bicara.
"Oh, iya, kamu habis ngapain sampai keringatan begitu?" tanya Dhika mengalihkan topik.
"Habis keliling-keliling tadi. Di luar panas banget," jawab Tiara.
Ia mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah, keringat membasahi anak-anak rambut di sekitar kening dan pelipisnya, menggoda Dhika untuk mengusapnya, tapi Dhika menahannya, ia takut tindakannya akan membuat Tiara salah paham, walau sebenarnya ia ingin menunjukkan perhatian lebih dari itu. Akhirnya, Dhika hanya meraih kotak tisu di atas meja dan menyodorkannya pada Tiara lalu mengambil sebotol air mineral yang kebetulan belum dibukanya.
"Kamu ngapain keliling-keliling?" tanya Dhika lagi setelah Tiara selesai meneguk minumnya.
"Cari penginapan," jawab Tiara lalu meneguk kembali minumnya hingga tersisa seperempatnya. Ia baru sadar kalau kehausan.
"Penginapan? Ngapain nyari penginapan? Kamu ...." Alis Dhika bertaut.
"Pasti aneh-aneh tuh mikirnya," ujar Tiara. "Jadi gini, lusa bapaknya Ara mau datang. Nah, kost-annya Ara kan khusus perempuan, jadi nggak mungkin 'kan bapaknya Ara nginap di sana. Makanya mau cari penginapan," jelasnya sementara Dhika hanya manggut-manggut.
"Nggak usah cari penginapan. Kalau mau, bisa nginap di rumah Mas aja," tawar Dhika.
"Nggak usah, Mas, nanti ngerepotin," tolak Tiara.
"Apanya yang ngerepotin? Emang bapak kamu bayi, yang harus diurusin?"
Dhika menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kedua tangannya terlipat di dada, tatapan matanya seolah menegaskan bahwa ucapannya adalah perintah yang harus dipatuhi. Ia tahu, Tiara bukan orang yang suka merepotkan orang lain, tapi mau sampai kapan gadis itu terus menganggapnya seperti orang lain?
Keduanya akhirnya terlibat perdebatan yang tidak penting. Dhika kekeuh dengan tawarannya, Tiara bersikeras dengan penolakannya. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Tiara mengalah dan menerima tawaran Dhika.
"Ya udah, deh. Makasih," ucap Tiara akhirnya, tapi raut terpaksa masih terukir di wajahnya.
"Gitu dong. Nggak baik tau, menolak kebaikan orang lain. Itu sama aja dengan menolak rezeki," ujar Dhika diiringi senyum penuh kemenangan.
Tiara memaksakan seulas senyum. "Kalau kamu begini terus, bagaimana aku bisa menghindar dari kamu, Mas?" batinnya.
Bersambung