Brother Zone

Brother Zone
Perjodohan



Tiara tersentak lalu mundur selangkah. Selain kaget karena berada sedekat itu dengan Dhika, ucapan Dhika barusan juga seperti setruman listrik yang merambat dari telinga ke hatinya. Cepat-cepat Tiara menguasai pikirannya sebelum berkelana lebih jauh. Hatinya ingin sekali berteriak bahwa itu bukan hanya mimpi Dhika, tapi mimpinya juga, dan dengan senang hati ia akan mewujudkannya. Namun, otak Tiara masih cukup sehat untuk berpikir. Dhika hanya menganggapnya sebagai seorang adik, mana mungkin Dhika punya impian seperti itu bersamanya. Dhika pasti hanya bercanda, batinnya meyakinkan.


"Apaan, sih. Udah sana, ganggu aja," ujar Tiara berusaha mengendalikan perasaan lalu melanjutkan kegiatan memasaknya. Berada di dekat Dhika sepertinya kurang baik untuk kesehatan hati dan otaknya sekarang.


Tak lama kemudian, Tiara sudah selesai membuat sarapan. Dengan sigap ia menghidangkan semuanya di meja. Setelah selesai, barulah ia memanggil Dhika dan bapaknya. Ketiganya makan tanpa banyak bicara. Terutama Tiara, ia lebih banyak diam, memilih larut dalam pemikirannya sendiri. Hanya Dhika dan Pak Anto yang sesekali mengobrol, saling menceritakan tentang keluarga masing-masing, yang hanya ditanggapi dengan senyuman dan anggukan oleh Tiara.


Setelah selesai, Dhika pun berpamitan pada Pak Anto dan Tiara untuk berangkat kerja. Tiara mendapatkan jatah libur hari ini, dan ia berencana untuk mengajak bapaknya jalan-jalan sekalian membeli oleh-oleh untuk keluarganya di Solo. Besok, Pak Anto berencana untuk pulang, jadi Tiara ingin menghabiskan hari itu bersama bapaknya.


Menjelang magrib, Tiara dan Pak Anto baru kembali ke kontrakan Dhika. Ia teringat bahan makanan yang tadi pagi dibawanya yang belum sempat ia masak, akhirnya ia putuskan untuk memasak. Kebetulan juga Dhika akan pulang cepat malam ini, jadi ia mengirimi Dhika pesan agar saat pulang nanti tidak usah makan di luar atau beli makanan, karena ia sudah masak untuk makan malam bersama di rumah.


Setelah selesai memasak dan menghidangkannya, Tiara duduk di ruang nonton. Sambil menunggu Dhika pulang, ia menyalakan TV walau sebenarnya ia tak tertarik untuk menonton. Daripada tidak ada kerjaan, pikirnya.


Tak lama kemudian, bapaknya menghampiri, masih menggunakan kain sarung, baju koko lengan panjang dan kopiah hitam di kepala, sepertinya baru saja selesai salat isya. Tiara masih "kedatangan tamu" jadi tidak ikut salat berjama'ah bersama bapaknya. Cukup lama mengobrol santai dengan bapaknya, suasana berubah jadi serius. Pak Anto menatap putrinya lembut, sementara Tiara merasa ada sesuatu yang tidak akan ia sukai yang akan dikatakan bapaknya.


"Nduk, Bapak boleh tanya sesuatu?" tanya Pak Anto lembut.


"Tanya apa, Pak?"


"Nak Dhika ... maksud Bapak, kamu sama dia itu seperti apa?" Pak Anto kesulitan menemukan pertanyaan yang tepat.


"Maksud Bapak, Ara punya hubungan sama Mas Dhika?" Tiara menebak.


Pak Anto mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi, "Bapak hanya menduga-duga," jawabnya pelan.


"Mas Dhika itu bos Ara. Dia memang baik, sama kayak Mbak Rena, mereka udah nganggap Ara kayak adik sendiri. Itu aja," jelas Tiara lembut.


Pak Anto mengangguk paham. Tiara sudah sering menceritakan tentang kedua bosnya itu dan bagaimana baiknya mereka. Ia juga yakin Tiara tidak akan berbohong padanya, itu bukan sifat Tiara. Ia hanya ingin tahu bagaimana hubungan anaknya dengan Dhika. Bagaimanapun juga ia bisa melihat sesuatu yang tidak biasa di antara mereka.


"Bapak percaya sama kamu, Nduk." Pak Anto tersenyum sambil mengusap pelan bahu Tiara.


Tiara tersenyum, merasa lega karena bapaknya tidak berpikir macam-macam. Alasan ia tidak langsung menerima tawaran Dhika juga karena takut bapaknya berpikir yang tidak-tidak.


"Oh iya, Nduk, kamu ingat Trisna?" tanya Pak Anto.


"Trisna ... Trisna anaknya Bude Sumi?" tebak Tiara, keningnya berkerut. Perasaannya semakin tidak enak.


Bapaknya mengangguk. "Iya."


"Ingat. Memangnya kenapa, Pak?"


Tiara mengingat-ingat, tubuhnya menegang, jangan-jangan ....


"Dia pikir itu pacar kamu." Pak Anto terkekeh


Ia ingat, beberapa hari yang lalu, ada orang tak dikenal yang menerornya, dan akhirnya Dhika berinisiatif untuk mengangkatnya. Tubuhnya semakin menegang, mengingat bagaimana Dhika bersikap mesra dengan memanggilnya sayang. Meski hanya pura-pura, orang pasti akan salah paham dan hal yang ditakutkannya adalah bapaknya akan berpikir kalau ia memang punya pacar, atau lebih parahnya bapaknya mengira ia memang punya hubungan dengan Dhika, makanya bapaknya bertanya demikian.


"Tungu, tunggu, Bapak jangan salah paham dulu," sela Tiara. "Waktu itu Ara kesal karena dia nggak mau ngaku dia siapa. Mana nelpon terus, Ara malas ngeladeninnya. Jadi, Mas Dhika yang ngangkat teleponnya terus pura-pura, biar dia nggak ganggu Ara lagi. Tapi jujur, Ara nggak punya pacar," jelas Tiara cepat sambil berpose swear.


Pak Anto terkekeh lagi. "Nduk, Nduk. Kamu itu ada-ada aja."


"Trus dia bilang apa lagi, Pak?"


Raut wajah Pak Anto kembali serius, kemudian berkata, "Tapi kamu jangan kaget, ya, Nduk."


Tiara mengangguk, tapi perasaannya semakin tidak enak.


"Dia bilang, kalau dia suka sama kamu. Bude Sumi juga berniat untuk menjodohkan kalian," lanjut Pak Anto.


Seperti petir di siang hari, ucapan bapaknya sungguh tidak ia bayangkan sebelumnya. Perasaannya benar, bahwa ia tidak akan suka dengan apa yang akan dikatakan bapaknya.


Ia ingat Trisna. Pemuda yang dua tahun lebih tua darinya. Sejak masih SMA, pemuda itu memang sudah menyukainya, tapi tak pernah digubrisnya, menganggapnya hanya angin lalu. Apalagi saat itu ia sedang kasmaran pada Bima, laki-laki yang akhirnya menghianatinya. Namun, sama sekali tak disangkanya, kalau pemuda itu masih menyukainya. Bahkan orang tuanya, yang sangat baik pada keluarganya, berniat menjodohkan mereka.


Tiara menghempaskan punggungnyanya ke sandaran kursi, tubuhnya lunglai, sedang dadanya naik turun menahan sesak. Perasaannya tak karuan, matanya memanas dan perlahan mulai mengabur oleh airmata yang mulai menitik.


"Nduk," Pak Anto mengusap bahu Tiara lembut, berusaha menenangkan, "Bapak tau, ini pasti bikin kamu kaget. Tapi, kamu ndak harus setuju, kalau kamu memang ndak suka."


Tiara mendongak, menatap dalam raut bapaknya. Mencari pembelaan di sana, dan ia menemukannya. Bapaknya tidak akan memaksakan sesuatu yang tidak disukainya.


"Bapak hanya menyampaikan niat baik Trisna dan Bude Sumi, keputusannya tetap sama kamu. Toh, yang mau menjalani itu kamu, Bapak hanya mengarahkan," lanjut Pak Anto.


Tiara masih terdiam. Ia tidak begitu mengenal Trisna, tapi pemuda itu baik, keluarganya pun demikian. Hanya saja, ini memang mengejutkan baginya.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kalau kamu bilang ndak, Bapak juga ndak. Biar bapak yang bicara sama Bude Sumi nanti." Pak Anto tersenyum, menepuk pelan kepala putrinya.


Tiara mengusap mata dan pipinya yang basah, kemudian tersenyum. Setelah tak ada pembicaraan lagi, Tiara bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Jangan sampai Dhika melihat wajahnya yang berantakan ini. Benar saja, sesaat setelah ia masuk ke kamar mandi, terdengar ketukan dari luar diiringi salam dari Dhika. Tanpa Tiara dan Pak Anto ketahui, Dhika sempat mendengar obrolan mereka tadi.


Bersambung.