
Dhika menghampiri Tiara yang baru saja keluar dari ruang khusus karyawan. "Tiara, udah mau pulang? Ayo, biar Mas antar," tawarnya.
"Hm, nggak usah, deh, Mas. Lagian, Mas juga masih kerja, kan?" balas Tiara halus.
"Udah nggak apa-apa, sebentar doang," kata Dhika belum menyerah.
"Ara mau ke suatu tempat dulu soalnya," jawab Tiara beralasan, meski sebenarnya ia tidak ingin ke mana-mana.
"Iya, Mas antar, sudah itu baru pulang." Dhika mulai memaksa.
Tiara menggeleng, "Nggak usah, ngerepotin aja. Ya udah, Mas, Ara pulang dulu. Bye!" Tiara melambaikan tangan pada Dhika lalu berjalan cepat keluar minimarket.
Dhika mengikuti Tiara sampai di pintu, memandangi Tiara yang baru saja memasuki angkot dengan tatapan bingung. Sudah beberapa hari ini Tiara selalu menolak diantar pulang, ada saja alasannya. Walaupun biasanya Tiara memang pulang sendiri jika masuk shift pagi, jika masuk shift malam, barulah Dhika mengantar karena selain khawatir, angkutan umum juga jarang ada. Namun, kali ini Dhika merasa seperti Tiara sengaja menghindarinya.
Sementara itu, Tiara memandangi Dhika di balik kaca mobil sampai bayangan lelaki itu tak tampak lagi. Ia menggigit bibir, merasakan perih dihatinya. Ia tahu ini pasti berat, tapi ia harus melakukannya, atau hatinya akan lebih sakit dari ini.
"Maafin Ara, Mas. Sebaiknya kita harus mulai jaga jarak. Ara harus belajar untuk ngelepasin Mas," batin Tiara sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai berair.
***
Keesokan harinya, Dhika kembali menawarkan diri untuk mengantar Tiara pulang, dan lagi-lagi Tiara menolak. Dhika semakin yakin kalau Tiara sengaja menghindarinya. Bahkan mantra 'tak ada penolakan' sama sekali tidak mempan untuk membuat gadis itu menerima tawarannya.
"Ara udah ada janji, mau pulang sama ... teman," jawab Tiara setelah berpikir sejenak.
Ia memang sudah berjanji untuk pulang dengan seseorang. Hanya saja ia merasa tidak harus memberitahu Dhika. Namun, ia sudah kehabisan alasan untuk menolak tawaran Dhika, akhirnya ia menjawab jujur.
"Cowok?" tanya Dhika penuh selidik, dalam hati ia berharap Tiara menjawab bukan.
Tiara mengangguk pelan, membuat hati Dhika mencelos. Apakah ini artinya ia punya pesaing untuk mendapatkan hati gadis itu? Yang membuatnya dadanya seperti terbakar adalah; kemungkinan Tiara menjauhinya karena lelaki itu. Dhika menggeram dalam hati, siapakah lelaki yang dengan begitu mudahnya mampu menarik perhatian gadis itu?
"Siapa, sih?" tanya Dhika ingin tahu.
"Ada deh," jawab Tiara, tak berniat memberitahu. Ia rasa Dhika tak perlu tahu siapa saja yang dekat dengannya, toh setelah Dhika menikah nanti mereka akan menjalani hidup masing-masing.
"Oh, ya udah, hati-hati di jalan," pesan Dhika dengan senyum yang dipaksakan. Ia sadar, bukan haknya untuk mengatur dan melarang Tiara untuk dekat dengan siapapun.
"Eh, Mas. Ara duluan, ya. Tuh, orangnya udah datang," ujar Tiara begitu melihat mobil yang baru memasuki halaman minimarket.
"Iya, hati-hati," sahut Dhika tanpa menoleh, menyembunyikan gurat kecewa diwajahnya, pura-pura sibuk dengan gawai-nya lalu melangkah lesu menuju ruangannya.
Belum sempat Dhika mencapai pintu, Abdul --salah satu karyawan yang bekerja di bagian gudang-- sudah mencegatnya.
"Saya sudah pernah bilang, to? Jangan diam-diam wae, nanti keburu digaet orang. Nah, kejadian, to?" ujarnya dengan nada mengejek.
Pemuda kurus berumur 26 tahun dengan nada bicara dan logat jawa yang kental itu sudah bekerja di minimarket itu sejak awal dibuka. Keduanya cukup akrab dan Abdul sepertinya cukup pintar membaca perasaannya meski ia tak pernah menceritakannya.
"Apaan sih, Dul," balas Dhika malas.
"Ndak cemburu?" goda Abdul lagi.
"Ngomong apa, sih, Dul," sahut Dhika, pura-pura bodoh. Seperti pencuri yang sudah tertangkap basah pun masih belum mengaku.
"Ndak. Cuma mau bilang, adiknya Pak Bos itu jago juga deketin cewek. Baru kenal beberapa hari udah main antar jemput," sahut Abdul dengan nada memanas-manasi.
Bagai dihantam sebuah tinju tepat di dadanya, dilihatnya orang yang sangat dikenalnya memasuki mobil.
"Rian?" desis Dhika pelan.
"Yup! Mas Rian, adiknya Pak Bos," sahut Abdul sembari menepuk pelan pundak Dhika.
"Iya, tahu. Kamu bilang apa tadi? Diantar jemput?" tanya Dhika, Abdul mengangguk. "Sejak kapan?" lanjut Dhika.
"Sudah beberapa hari ini Mbak Tiara diantar terus sama Mas Rian, tapi kalau dijemput, baru hari ini," jelas Abdul.
Dhika hanya manggut-manggut. Tiara selalu datang lebih dulu dari Dhika, jadi wajar kalau Dhika tak pernah melihat Rian mengantar Tiara. Dhika kembali menatap parkiran, ia melihat siluet Tiara dari balik kaca mobil, sedang tertawa. Dhika tersenyum getir, dadanya perih, melihat senyum Tiara yang tampak bahagia, tapi sayang, senyum itu bukan untuk dirinya.
"Tapi, kenapa orang itu harus Rian!" teriaknya dalam hati.
***
Keesokan harinya, Dhika sengaja datang lebih awal hanya untuk memastikan apakah Tiara diantar Rian atau tidak. Kemunculan Rian lagi-lagi mengusik ketenangannya. Seharian ia tak bersemangat melakukan apapun. Menggoda Tiara pun hanya ditanggapi sekadarnya. Gadis itu benar-benar menghindarinya sekarang.
Dhika semakin gusar saat sore harinya ia melihat mobil yang mengantar Tiara tadi pagi memasuki halaman minimarket. Ia yakin itu Rian yang akan menjemput Tiara. Tak lama kemudian, Tiara keluar dari ruang khusus karyawan dengan senyum terkembang. Lagi-lagi dada Dhika terasa sesak melihat senyum itu. Senyum yang dulu selalu ia dapat dari bibir mungil itu, tapi kini seolah sirna.
"Udah mau pulang, Ra," tanya Dhika basa-basi.
"Eh, iya, Mas. Tuh jemputannya udah datang." Tiara menunjuk arah parkiran.
"Sejak kapan kamu kenal Rian?" tanya Dhika. Ia berusaha agar nada bicaranya terdengar biasa saja, meski dalam hatinya bergemuruh.
"Ya sejak di toko buku waktu itu," kata Tiara tanpa mau repot-repot menjelaskan, toh Dhika juga sudah tahu.
"Maksud Mas, sejak kapan kamu jadi akrab sama dia?" tanya Dhika lagi, tak puas dengan jawaban Tiara.
"Oh, waktu Mas ke luar kota, dia ke sini. Semenjak itu jadi sering komunikasi, udah gitu aja," jelas Tiara ogah-ogahan.
Tanpa sadar Dhika mengepalkan tangannya, merasa kesal karena Rian mendekati Tiara tanpa sepengetahuannya, tapi ia segera sadar, ia tak punya hak untuk marah.
"Jangan terlalu deket sama dia," kata Dhika, masih berusaha untuk tidak menunjukkan ketidaksukaannya.
"Loh, kenapa? Rian baik, kok," protes Tiara.
Tiara merasa ada yang aneh, Rian sering bercerita kalau ia dan Dhika dulu adalah sahabat, tapi kenapa Dhika selalu bersikap seperti tidak suka pada Rian? Ia ingat saat mereka tidak sengaja bertemu di warung es campur waktu itu, Dhika seperti sengaja menghindari Rian.
"Itu karena kamu belum sepenuhnya kenal sama dia."
Jika lelaki itu bukan Rian, mungkin ia tak akan merasa sekesal ini. Bagaimanapun juga ada masa lalu bersama Rian yang belum bisa ia maafkan. Ia takut, hal yang sama akan terjadi lagi, apalagi ini melibatkan Tiara, gadis yang sangat disayanginya.
"Emang Mas kenal banget siapa Rian?" selidik Tiara.
"Dia itu temen Mas waktu masih kerja di Jakarta. Mas cukup tahu sifat dia gimana. Mas cuma nggak mau kamu nyesel aja," kata Dhika, tanpa menjelaskan apa yang membuatnya tak menyukai Rian.
Tiara hanya tersenyum, tak peduli. "Ara duluan ya, Mas, nggak enak sama Rian kelamaan nungguin," kata Tiara lalu beranjak meninggalkan Dhika. Tak dihiraukannya Dhika yang menggeram marah.
Bersambung.